Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Satu Tahun Berlalu


__ADS_3

Tak terasa, sudah satu tahun telah berlalu namun perasaan Rachel tetap sama, yaitu untuk Malvin.


Rachel membulatkan matanya terkejut, saat mendapati nama dirinya yang berada didalam daftar penerimaan mahasiswa di universitas impiannya. Ia sudah menjalani ujian tulis dan wawancara, dan tentang masalah biaya, tante Nindi yang menanggungnya.


"Alhamdulillah tante, Rachel diterima!!" seru Rachel sangat antusias berlari kedalam rumah menghampiri tantenya.


"Beneran? coba liat!" tanya tantenya tak kalah antusias dikala mendengar keponakannya diterima di universitas impiannya.


"Ini" Rachel menyodorkan ponsel nya, karena data yang dikirim ada diponsel, zaman sudah canggih.


Tantenya melihat nama sang keponakan yang tertera didaftar tersebut, ia memeluk Rachel bangga. "Alhamdulillah, selamat ya Rachel. Tante doakan semoga kamu sukses, kuliah yang serius ya biar kerjanya ga susah kayak tante.." ujarnya mengelus rambut panjang Rachel.


"Iya tante, ini semua berkat tante. Makasih banyak" Rachel membalas pelukannya.


Hidup Rachel dan tantenya sekarang lebih membaik. Perekonomian mereka sudah cukup untuk membiayai hidup sehari hari. Satu tahun juga lamanya mereka mendiami rumah baru. Rumah lantai 2 dengan desain minimalis dan modern walaupun interiornya tidak terlalu mahal, rumah bercat biru tosca terlihat asri dengan pohon mangga didepan rumah dan juga bunga bunga yang terpajang dipinggiran pagar, terdapat gerbang dan garasi juga.


****

__ADS_1


"Malvin.... tempat kuliah kita sama kan?" tanyanya sambil mensejajarkan langkahnya bersama Malvin.


"Hmm" jawab Malvin sesingkat itu.


"Vin... udah setahun gue deketin elo, elo ga capek apa cuek mulu kayak gini? ayolah coba buka hati buat gue.." ujar Rachel.


"Males.." Malvin mendorong Rachel menyingkir dari mobilnya lalu menaikinya dan pergi pulang.


Rachel memanyunkan bibirnya kesal, selama ini tidak ada perubahan tentang hubungannya dengan Malvin meskipun Rachel sudah melakukan semua yang Malvin suka, bahkan kini Rachel juga telah merubah penampilannya.


Ia mengingat saat Alya menyebutkan ciri ciri cewek yang disukai oleh Malvin, hanya satu saja yang belum bisa ia kuasai, yaitu pintar bermain basket.


"Rachel!!" panggil seseorang.


Sontak Rachel menoleh, terlihat Rafa tersenyum padanya diatas motor, Rafa melambaikan tangannya agar Rachel mendekat, Rachel pun menghampiri Rafa.


"Kita kan udah selesai ngurusin semua keperluan masuk universitas.... btw elo udah diterima di universitas itu belum?" tanya Rafa.

__ADS_1


Rachel tersenyum dan mengangguk, "udah kok, gue ga nyangka kalau Malvin juga kuliah disana tau, kalo elo gimana?"


"Gue juga kuliah disana, dan gue diterima.." seru Rafa terlihat gembira. "Ehmmm... hel lo masih aja kejar si Malvin? jangan bilang kalo lo kuliah disana cuma buat kejar si Malvin?" terkanya.


Rachel tertawa, "ada ada aja pikiran lo, ya enggak lah. Gue emang udah niat kuliah disana dari dulu, impian gue.." jawabnya.


"Ohh gitu, semangat ya... emmm semangat juga deketin Malvin!" canda Rafa.


"Ehhem, kayaknya elo udah ga cemburu lagi ya hahaha" ledek Rachel dengan tertawa.


Rafa membalasnya dengan tawa kecil, "gue tau lo suka banget sama Malvin ngapain gue ngerebut kebahagiaan lo, lo bahagia sama Malvin gue juga ikut bahagia walau kita sebatas teman, bahkan selama ini gue udah lupa kalo gue pernah suka sama elo.." jelas Rafa.


"Oke, jadi kita teman ya?" goda Rachel.


"Ya iyalah, kan dari dulu" jawab Rafa dengan tertawa.


Lalu kemudian Rachel ikut tertawa dan ber'tos' ria bersama.

__ADS_1


~•~


__ADS_2