
"Rachel..." panggil Rafa ketika Rachel membuka matanya dengan perlahan.
Terulas senyum dibibir Rafa.
"Rafa gue kenapa?" tanya Rachel kebingungan, mencoba untuk bangun.
"Lo pingsan hel, sekarang ada di UKS. Gue sama Alya yang bawa lo kesini, tadi kita liat elo udah tergeletak aja dijalan dekat kantin" terang Rafa sembari menyodorkan air minuman kepada Rachel.
Rachel langsung ingat kejadiannya, hatinya kembali pilu namun mencoba untuk tidak menangis dihadapan kedua sahabatnya. Ia pun menegak air minum pemberian Rafa sampai habis, mencoba menenangkan pikiran dan hatinya yang sakit.
"Oh... gue pingsan karena belum makan aja dari tadi pagi" ucap Rachel jelas berbohong.
"Ya ampun Rachel, harusnya sebelum berangkat lo makan dulu demi kesehatan, trus lo kan kuliah mikir jadi harus ada energi" ujar Alya yang terlihat sangat mengkhawatirkan Rachel.
"Iya iya Alya" jawab Rachel tersenyum. "Oh ya, makasih banyak ya kalian udah nolongin gue"
"Iya hel sama sama" jawab keduanya seraya mengangguk bersamaan.
__ADS_1
Rachel merasa ada yang sakit dibagian dahinya, ia lupa kalau tadi sempat terbentur ke pilar, ia meraba raba dahinya yang terasa sakit, lalu terkejut.
"Kenapa dahi gue diperban?" tanyanya kebingungan.
"Tadi kita liat dahi lo penuh darah sampai ke pipi, yaudah gue perban.." jawab Alya.
"Oh gitu ya"
****
Sepulang kuliah, hari sudah terlihat petang, Rachel melirik Rini yang tengah memasukkan alat tulisnya kedalam tas.
Rini menoleh dengan wajah datar seperti tak tertarik sama sekali dengan pembicaraan Rachel. "Emangnya gue salah suka sama Malvin? lagian ya Malvin juga suka sama gue, dan kita saling suka kok. Sedangkan elo? elo itu terlalu berharap yang tidak akan mungkin terwujud, Malvin itu ga tertarik sama sekali ke elo, meskipun elo udah berjuang kayak apa pun. Udah deh jangan caper, dia pacar gue, elo harus tau malu" jawab Rini dengan sinis.
Rachel mengepalkan tangannya, "elo itu sahabat gue rin, gue udah percaya sepenuhnya ke elo, tapi elo malah gini ke gue? apa salah gue!!! teganya elo lakuin itu ke gue, penghianat!!" bentak Rachel.
Rini tersenyum smirk melihat Rachel yang sudah berkaca kaca, "lagian, salah lo sendiri ceritain tentang Malvin ke gue, ya jadinya gue naksir ke dia. Ini bukan salah gue kan? elo sendiri yang cerita. Dan gue mau pertegas perkataan ini, MULAI SEKARANG KITA BUKAN SAHABAT ATAU TEMAN LAGI!! GUE AKAN HAPUS SEMUA INGATAN GUE TENTANG LO! GUE GA AKAN MENGENAL LO LAGI SAMA SEPERTI AWAL KETEMU, ASING!" tegas Rini lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Mendengar perkataan Rini, sontak seisi kelas terdiam menyaksikan keributan antara mereka berdua, mereka menatap iba pada Rachel. Selama ini Rachel adalah mahasiswi yang baik, ramah, humoris dan sopan, ia mudah bergaul dengan teman seangkatannya meskipun beda jurusan, tentu saja ia memiliki banyak teman.
Berbeda saat dimasa SD, SMP dan SMA yang tidak memiliki teman sediktpun. Beruntung saat SMA ia memiliki Alya, Rafa dan Kevin yang sudah 1 tahun ini tidak bertemu.
"Rini jahat banget sih, bisa bisanya dia ngerebut Malvin dari Rachel, padahal mereka kan sahabatan, Rachel udah baik banget sama dia" bisik salah satu mahasiswi.
"Rini kan seorang cewek juga, harusnya dia tau betapa sakitnya dihianati seperti itu, gak tega gue liat Rachel..." balas lainnya.
"Iya tuh, parah si. Padahal kan dia udah tau kalo si Rachel suka banget sama Malvin, kok dia malah ngerebut gitu"
"Gue kok jadi ikutan emosi ya sama si Rini, udah orangnya sombong, ga pernah senyum, jutek, tukang caper lagi!"
"Gimana kalo kita balas dendam ama dia?! demi si Rachel, dia udah baik sama kita" usul salah satunya.
Rachel yang masih didalam ruang kelas, ia merasa panas kupingnya mendengar bisikan teman temannya.
"Udah guys biarin aja! kalian jangan ikut ikutan ya, ini masalah gue kok tenang aja gue bisa selesain sendiri" seru Rachel mencoba tenang.
__ADS_1
Teman temannya pun mengangguk, lalu Rachel keluar dari ruang kelasnya dan pulang kerumah.
~•~