
Di pagi hari, Rachel kembali membuka toko bersamaan dengan ketiga sahabatnya yang baru datang.
"Pagi hel" ucap Alya.
"Ehh, pagi juga temen temen"
Rachel dan kawan kawan pun masuk kedalam toko dan bekerja sesuai dengan pekerjaan masing masing. Toko masih belum ada pembeli, Rachel duduk dikursi tunggu pelanggan, wajahnya tampak murung, hanya diam dan melamun.
Kevin yang tidak nyaman dengan wajah murung Rachel, ia mencoba untuk membaca pikiran Rachel tanpa sepengetahuannya, ternyata Rachel memikirkan perjodohan Malvin dengan Laura.
Kevin menghela nafas berat lalu mengelus pundak Rachel dari belakang, "sabar.... gue yakin pasti Malvin ga akan terima perjodohan itu, gue akan coba rayu mama sama papa buat tukar perjodohan itu sama gue, gue ga mau misahin dua orang yang saling mencintai, apalagi itu saudara dan sahabat gue sendiri..." ujar Kevin, duduk disebelah Rachel.
Rachel menoleh, "tapi kalau Malvin terima juga gapapa kev, lagian gue bukan siapa siapanya dia, mungkin pilihan Malvin yang terbaik buat dia"
"Tapi dihati Malvin itu ada elo, dia sampe rela ga pulang kerumah selama sebulan cuma buat cari elo, dia juga pindah rumah karena buat jagain elo"
Rachel terdiam, 'segitu besarnya perjuangan dia buat gue' batin Rachel.
"Apa elo mau nyerah gitu aja? kejar Malvin hel, buat dia tolak perjodohan itu!" seru Kevin menyemangati sahabatnya.
Rachel tersenyum lalu mengangguk.
"Tapi gue ga yakin dia bakal tolak perjodohan itu, secara Laura jauh lebih daripada gue, dia cantik, badannya bagus, baik lagi.."
"Jangan overthinking hel, elo juga cantik. Bahkan menurut gue, elo lebih cantik daripada dia"
"Gu-"
Tring!!
Suara lonceng toko terdengar, dua orang masuk kedalam toko kue, sontak membuat Kevin dan Rachel mendongak lalu berdiri saat mengetahui siapa yang datang.
Ternyata Laura dan Malvin yang datang, ada apa dengan mereka berdua, apakah Malvin menerima perjodohan tersebut?
Kevin memutar bola matanya, malas sekali melihat Laura datang bersama Malvin yang nantinya akan membuat Rachel bertambah sedih.
"Mau pesen apa?" tanya Rachel langsung kembali ke meja kasir.
"Donat yang biasanya mama pesen, sama kue yang kemarin dibeli Laura..." ucap Malvin.
Rachel pun mengambil pesanan Malvin, dan Laura hanya duduk dikursi tunggu pelanggan sembari melihat lihat stok kue yang terpajang.
"Ikut gue!" titah Kevin pada Malvin.
__ADS_1
Malvin pun mengikuti Kevin keluar toko, sepertinya Kevin marah dan butuh penjelasan Malvin, kenapa pagi ini cowok itu pergi ke toko kue Rachel bersama Laura.
"Elo ngapain ngajak dia kesini?! jangan bilang elo udah terima perjodohan itu!" bentak Kevin.
"Gue dipaksa mama! dia nyuruh gue nganterin Laura beli kue kesukaannya, lagian gue ga akan terima perjodohan ini!" balas Malvin.
"Ohh bagus! gue mau ucapannya lo itu dibuktikan, elo harus nolak perjodohan ini ntar malam waktu dipertemuan!"
"Oke!" Malvin pun kembali masuk kedalam toko dan kembali mengantar Laura pulang.
Disaat Laura dan Malvin telah pergi, Rachel terduduk lemas, air matanya tak sanggup lagi ditahan.
"Elo liat sendiri kan? Malvin pasti akan terima perjodohan itu" ucap Rachel.
"Percaya sama gue, Malvin ga akan terima hel"
"Asal lo tau, apa yang Laura bilang ke gue barusan"
"Apa?"
"Malvin udah terima perjodohan itu tadi pagi! dia setuju..."
"Karena alasan apa dia mau terima?dihatinya masih ada elo hel! dia ga akan semudah itu ninggalin elo dan pilih cewek lain"
'gue harus move on' batin Rachel
Kevin pun menggebrak meja kemudian berjalan ke arah dapur menemui kedua sahabatnya yang asik meminum kopi, karena toko masih sepi, maka Alya dan Rafa dapat bersantai.
****
Disisi lain, Laura dan Malvin berboncengan menuju ke rumah Laura, Laura memegang pinggang Malvin namun Malvin menolak, melepas pegangan itu, namun Laura kembali memegang pinggang Malvin, dan untuk kedua kalinya Malvin tidak menolak.
'apaan sih nih cewek, gatel banget' batin Malvin.
Laura tersenyum, "kita ke restoran dulu yuk, aku laper" bisik Laura.
"Maaf gue sibuk, ga ada waktu. Elo makan aja dirumah" tolak Malvin.
"Ayolah, biar kita tambah akrab, luangin waktu sebentar" paksa Laura.
"Gue bilang sibuk! ya sibuk, ga ada waktu buat santai santai, jadi kalo lo mau santai santai ajak aja si Kevin"
"Yahh.... kan aku dijodohinnya sama kamu bukan Kevin"
__ADS_1
"...." Malvin hanya diam, Malvin terus melanjutkan perjalanan menuju rumah Laura.
****
Sesampainya dirumah Laura, keduanya membuka pintu rumah megah itu, Malvin sangat terkejut melihat lelaki paruh baya yang duduk dikursi roda dengan badan kurus dan wajah yang sangat pucat, rumah pun sangat sepi.
"Papa, Laura bawain kue kesukaan papa" ucap Laura sembari mencium punggung tangan lelaki itu, ternyata dia adalah ayah Laura.
Laura anak tunggal, dia yang mengurusi perusahaan papanya selama 3 tahun terakhir sejak papanya lumpuh dan difonis terkena leukimia, umurnya sudah tak lama lagi sehingga meminta agar putrinya dijodohkan dengan keluarga Valerie, karena papanya yakin kalau keturunan dari keluarga Valerie orangnya dapat dipercaya dan baik hati, dapat menjaga Laura dengan baik disaat dirinya telah tiada nanti.
Disamping itu, papanya Laura dan Aiden Valerie adalah sahabat sejak kecil, sehingga sulit untuk Aiden menolak perjodohan itu apalagi melihat keadaan sahabatnya yang sangat kritis.
Malvin menatap Laura kebingungan, ia masih tak mengerti kalau lelaki didepannya adalah papanya Laura.
"Ini papa aku" ucap Laura. Malvin pun mencium punggung tangan lelaki didepannya.
"Pa, keluarga Valerie menjodohkan aku dengan cowok ini, salah satu dari anak kembarnya, dia kakaknya, namanya Malvin" terang Laura.
"Sangat tampan, om titip Laura ya nak. Karena umur om sudah tidak lama lagi, jaga dia baik baik, tapi om yakin semua keturunan keluarga Valerie memiliki hati yang baik dan bertanggung jawab.." jawab sang papa, dia bernama Adnan Lorenzo.
"Dia putri semata wayang om, dia harta yang paling berharga bagi om, ibunya sudah meninggal sejak dia lahir. Sejak kecil, om selalu sibuk bekerja sampai sampai jarang sekali bermain bersama Laura, Laura hanya bermain bersama asisten rumah tangganya saja, tapi beruntungnya dia tumbuh menjadi gadis yang baik dan mau merawat ayahnya" terang Adnan.
Malvin hanya mengangguk dengan wajah datarnya seperti biasa, namun dihati kecilnya ada rasa iba dan bimbang untuk menolak perjodohan itu disaat melihat sisi kelam kehidupan Laura yang menyedihkan, apakah dia akan menyakiti gadis ini, semasa hidupnya dia juga sengsara namun disisi lain hatinya juga masih untuk Rachel, Rachel juga memiliki masa lalu yang menyedihkan, bisa dibilang keduanya sama.
'gue harus gimana? masa iya gue nikahin dua duanya, serakah banget, tapi gue ga cinta sama Laura' batin Malvin mengacak rambutnya frustasi.
"Ehm.... om maaf ga bisa lama lama, soalnya Malvin sibuk banget, pamit pulang om..." ucap Malvin sembari mencium punggung tangan Adnan kemudian keluar dari rumah Laura. Menaiki motornya lalu menuju ke toko kue milik Rachel.
"Dia terlihat anak yang baik" gumam Adnan sembari tersenyum.
"Iya pa"
'tapi sepertinya dihati Malvin bukan aku, aku ga mau memaksa Malvin, percuma raganya untuk aku tapi hatinya untuk orang lain, mungkin Rachel wanita yang cocok untuk Malvin' batin Laura sembari mendorong kursi roda papanya menuju ruang makan.
'tapi bagaimana aku menolak dijodohkan dengan Malvin? tante Silvia sudah memilihkannya untukku'
"Laura? ada apa?" sang ayah memegang lembut tangan sang putri saat melihatnya diam melamun.
Laura menatap sang ayah sembari tersenyum, "nggapapa kok pa, cuma kecapek an aja" jawab Laura jelas berbohong.
"Ya sudah, setelah makan kamu istirahat, sementara libur ke kantor dulu gapapa, jangan sampai sakit, nanti malam ada pertemuan keluarga membahas kelanjutan perjodohan kamu"
"Iya pa"
__ADS_1
~•~