
Tak berhenti sampai disitu, Alya beserta kedua temannya mengompori murid yang lain untuk membenci dan semakin menjadi jadi untuk membully Rachel.
Selesai berbincang dengan Malvin, Rachel pun memutuskan untuk pergi ke toilet karena ia ingin membuang air kecil.
Sesampainya disana, toilet terlihat aman dan juga sepi, ia pun segera membuang hajatnya.
Merasa selesai, ia pun beranjak keluar namun diluar sudah terlihat seperti ada seseorang, dengan perasaan tenang ia pun keluar dari toilet.
Namun saat ia membuka pintunya, siapa sangka ada 5 siswi yang membawa gayung ditangan mereka masing masing, menyiram sekujur tubuh Rachel dengan air yang sudah diberi Sampo.
Sontak Rachel terkejut, matanya pun perih seketika terkena air sampo, ia pun meraba raba mencari keberadaan wastafel untuk membasuh wajahnya.
Sedangkan kelima siswi tadi segera berlari keluar dari toilet meninggalkan Rachel sendiri.
Masih ditempat yang sama, Rachel membasuh wajahnya dan rambutnya, ia menangis meratapi nasibnya berharap tahun akan berlalu dengan cepat.
Tinggal 1 tahun lagi ia berada disekolah ini, Rachel masih harus kuat mental dan raga.
"Gue harus gimana? baju gue basah semua, kenapa mereka jahat banget sama gue, gue salah apa ke mereka hiks.... hiks..." lirihnya.
Terpaksa, Rachel pun keluar dari toilet meskipun dalam keadaan seragam yang basah semua sekujur tubuh dari rambut sampai kakinya.
Ia berjalan menuju kelas sembari tangis yang masih keluar dari mata cantiknya.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, semua mata tertuju padanya, menatap jijik dan ada juga yang tertawa terbahak bahak melihat Rachel.
Bahkan banyak juga yang mencaci nya membuat hati Rachel semakin tertusuk.
Sedari jauh Malvin melihat Rachel dalam keadaan basah kuyup dan cacian dari murid yang melihatnya, lalu ia pun segera berlari menghampiri Rachel.
"Diem!!" bentak Malvin pada anak anak yang menertawai Rachel.
Malvin pun segera memasangkan jaket yang ia kenakan pada Rachel lalu membawanya menjauh dari mereka.
__ADS_1
"Lo kedinginan?" tanya lembut Malvin.
Rachel hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Ayo gue anterin pulang, ini udah jam 2 bentar lagi waktu pulang kok gapapa, daripada elo kedinginan gini ntar sakit" Malvin terlihat khawatir.
Rachel hanya menggeleng menolaknya.
"Ayo Rachel, nurut!"
"Gue ga mau!"
"Ntar Kevin yang bakal gue suruh izin, trus gue bakal suruh dia buat balas perbuatan mereka ke elo tadi, ini keterlaluan" ucap Malvin geram.
"Beneran kan Kevin yang izinin?"
Malvin hanya mengangguk, akhirnya Rachel pun mau menuruti perintah Malvin.
Ia masuk kedalam mobil keluarga Valerie yang sudah terparkir didepan sekolah dan juga sudah terdapat supir didalamnya, Malvin juga ikut, Malvin mengantarkan Rachel kerumahnya.
Badannya memeluk namun pandangannya masih menghadap kearah depan, detak jantungnya sungguh tak karuan.
Merasa badannya dipeluk, Rachel hanya diam tak menolaknya, ia memandangi wajah tampan Malvin, sangking dekatnya mereka sampai sampai Rachel bisa merasakan detak jantung Malvin yang sangat cepat.
"Vin, elo gapapa?" tanya Rachel.
Malvin beralih pandangan menatap Rachel seraya menautkan alisnya.
"Kenapa elo deg deg an?, trus kenapa elo meluk gue?" tanya nya lagi.
Malvin pun terdiam, apa yang harus ia jawab "aaaaa....... jangan berfikir yang macem macem, gue begini karena kasian liat lo kedinginan" jawab Malvin.
"Ohh gitu, gausah dipeluk juga gapapa kok, malu sama pak supir"
__ADS_1
Malvin yang baru menyadarinya pun, ia langsung melepas pelukannya pada Rachel, pak supir yang melihat mereka dari kaca, dia tertawa kecil melihat tingkah anak majikannya tersebut yang sudah mulai memasuki masa jatuh cinta.
Nampak dari wajah Malvin yang salah tingkah, ia membuang muka tak ingin Rachel melihatnya karena wajahnya memerah bagai udang rebus.
"Den Malvin kenapa? kok wajahnya merah?" goda pak supir.
"Hah!..... apa sih, jangan sok tau deh pak"
Malvin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang sukses membuat Rachel tertawa terbahak bahak.
"Lo lucu banget tau kalo gitu ahaha" ucap Rachel yang masih diiringi dengan tawa.
Malvin membelalakkan matanya, jantungnya berdetak lebih kencang lagi seperti mau copot, selama ini Malvin tak pernah merasakan hal yang seperti ini.
Merasa deg deg an jika didekat seseorang wanita, ia berfikiran apakah dia mencintai Rachel, namun ia segera menyangkal perasaan itu.
"Udah diem, ga usah ketawa" ucap Malvin jutek, kini ia mulai berani menunjukkan wajahnya lagi.
"Iya maaf"
Tak terasa mereka telah sampai dirumah Rachel, Rachel dan Malvin pun turun.
"ayo masuk dulu, maaf rumah gue jelek, ga sebagus rumah lo" ucap Rachel sedikit malu.
"Iya gapapa, gue langsung pulang aja ya mau istirahat, besok gue sekolah, elo yang sehat jangan sakit, cepet mandi trus ganti baju, badan lo bau sampo" ucap Malvin yang penuh perhatian.
"Eheh iya iya, makasih ya hati hati dijalan" Rachel melambaikan tangannya dan Malvin hanya mengangguk.
"Oh ya Vin, jangan lupa izinin ya"
"Iya" angguknya.
Malvin pun kembali masuk kedalam mobilnya, dan mobil pun segera meluncur menuju rumah mewah milik keluarga Valerie.
__ADS_1
~•~