Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Bingung


__ADS_3

Masih dijam istirahat, Rafa menghampiri Rachel dikelasnya.


"Hel, ntar pulang sekolah lo mau ga temenin gue cari buku di perpustakaan kota?" tanya Rafa.


Rachel tersenyum sembari mengangguk, "iya mau kok"


Rafa tersenyum, "makasih" lalu ia kembali ke kelasnya lagi.


****


Hingga akhirnya di jam pulang, Rachel masih berkemas pulang memasukkan alat tulisnya kedalam tas, dan terlihat Malvin berjalan menghampirinya.


"Hel, gue anterin lo pulang ya?" tawar Malvin.


"Ehh.... maaf vin gue masih mau ke perpustakaan kota nganterin Rafa, ntar pulangnya juga dianter dia, salam buat tante Silvia ya" tolak Rachel dengan ramah.


Malvin hanya memutar bola matanya, sangat malas jika ia mendengar nama Rafa terucap dimulut Rachel, ia pun langsung berjalan pergi meninggalkan Rachel sendiri dikelas.


Tepat saat Malvin keluar kelas, Rafa pun datang hingga mereka berpapasan namun tak saling sapa. Rafa masuk kedalam kelas Rachel dan mengajaknya ke perpustakaan kota.


Sesampainya di sana, Rafa segera mencari buku sejarah yang ia cari cari, tak butuh waktu lama ia langsung menemukannya. Ia meminjam buku tersebut dan menulis data dirinya, Rafa dibolehkan pinjam buku di perpustakaan karena dirinya adalah cucu dari menteri pendidikan.


Setelah selesai menulis data diri, ia pun memasukkan buku tersebut kedalam tasnya, dan berjalan keluar dari perpustakaan besar nan megah tersebut.

__ADS_1


"Oh ya bentar hel" ucap Rafa sebelum naik keatas motornya, ia kembali membuka tasnya dan memberikan satu buku komik action yang sangat suka ia baca, dia berikan pada Rachel.


"Ini buat lo, jaga baik baik" Rafa menyodorkan buku tersebut, dan Rachel langsung mengambilnya lalu membaca judulnya.


"Makasih ya" jawab Rachel tersenyum.


"Iya sama sama" Rafa mengangguk, lalu keduanya naik keatas motor, namun sebelum berangkat Rafa menawarkan untuk makan lebih dulu, mau tak mau Rachel mengangguk menurutinya, kebetulan juga perut Rachel memang terasa lapar.


Mereka pun menuju ke rumah makan sederhana yang letaknya tak jauh dari perpustakaan tersebut.


****


Selesai makan.


"Ngomong aja lah, ga ada yang ngelarang" seru Rachel merasa penasaran.


Rafa menarik nafas dalam dalam, lalu ia mengambil kotak berwarna abu abu yang berada didalam saku jaketnya dan Rachel tak ketahui apa isinya.


"Ini buat lo, gue mau..... lo jadi pacar gue, lo mau kan?" tanya Rafa sembari memberikan kotak tersebut pada Rachel.


"Hah?!" Rachel membelalakkan matanya terkejut, ia sungguh kebingungan, apa yang harus ia jawab.


"Ini, dipake ya" Rafa memakaikan sebuah jam tangan yang sama dengan yang ia pakai sekarang, yaitu sebuah jam tangan couple yang terlihat mahal.

__ADS_1


Rachel masih terdiam, bingung apa yang harus ia jawab, ini sangat mendadak, bahkan ia tak menyangka kalau Rafa akan balik mencintainya, karena selama ini Rafa hanya menganggapnya sebagai teman.


Rachel masih terus diam, kini dirinya masih berfikir. Rachel memang seseorang yang tipe pemikir sebelum melakukan sesuatu.


Rafa tersenyum manis, "ga jawab sekarang juga gapapa hel, gue tunggu jawaban dari elo apapun itu gue terima, terserah elo mau jawab besok, lusa atau kapan ga usah buru buru, pikirin dulu ya dari lubuk hati lo, ga ada paksaan kok" ujar Rafa menenangkan Rachel yang masih berfikir keras.


Rachel hanya mengangguk.


"Mau pulang sekarang?"


Lagi lagi Rachel hanya mengangguk dengan jam tangan pemberian Rafa yang masih melekat ditangannya.


****


Sesampai rumah, tepatnya didalam kamar yang dikunci, selesai mandi ia merebahkan badannya sembari menatap langit langit kamarnya cukup lama, masih berfikir dengan ucapan yang Rafa lontarkan tadi, bingung dengan perasaannya sendiri, ia masih ragu.


Entah tiba tiba Rachel merasa galau, bingung dengan keputusannya, ia sudah menyukai Rafa sejak pertama kali masuk ke SMA, itu berarti sudah 2 tahun lamanya cinta Rachel memang benar benar setia. namun saat Rafa sudah mulai suka pada dirinya, ia malah bimbang untuk menjalin hubungan dengan Rafa seseorang yang ia cintai selama 2 tahun belakangan.


Rachel memejamkan matanya, mengusap wajahnya frustasi, ada sesuatu yang mengganjal dihatinya sehingga sulit untuk dirinya mengatakan 'IYA' atas tawaran Rafa, tetapi ia tak tau apa yang salah dengan dirinya, padahal dia sudah menunggu Rafa mengungkapkan perasaannya begitu lama.


Seharusnya dia senang karena cowok yang ia sukai selama ini menyukainya balik bahkan memintanya menjalin hubungan, Rafa adalah sosok cowok yang baik dan perhatian. Namun Rachel malah ragu untuk menerima Rafa, harus dengan siapa ia meminta tolong menyelesaikan permasalahan ini.


"Ahh!!!! gue kenapa sih!" teriak Rachel frustasi.

__ADS_1


~•~


__ADS_2