Rachel Dan Malvin

Rachel Dan Malvin
Berangkat ke Amerika


__ADS_3

Keesokan paginya, kebetulan Malvin lagi tidak ada kelas pagi, sehingga Rachel bisa mengajak Malvin mengunjungi tante Nindi di rumah sakit jiwa bersamanya.


Rachel yang telah berdandan rapi, gadis itu menunggu tunangannya didepan rumahnya.


"Neng mau kemana?" tanya pak Simon saudara pak mamang yang memang sekarang menjadi satpam rumah Rachel, perintah dari Malvin.


"Mau ngunjungin tante pak, masih nunggu Malvin" jawab Rachel.


"Den Malvin mah lama neng, ini masih belum ada tanda tanda den Malvin keluar, kalo keluar biasanya parfumnya dulu yang menyengat baru keliatan orangnya" timpal pak Mamang.


Rachel tertawa kecil, "mandi parfum" celetuknya.


"Oh iya neng, selamat ya sekarang udah jadi tunangannya den Malvin" ucap pak Mamang.


"Iya neng, selamat ya" imbuh pak Simon.


"Terimakasih, doain semoga langgeng ya hehe"


"Siap neng, yang terbaik buat neng Rachel sama den Malvin"


Bau menyengat parfum Malvin sudah tercium di area rumah Rachel yang menandakan kalau Malvin sudah keluar dari rumahnya dan hendak menuju rumah Rachel yang hanya berjarak 1 rumah saja.


"Ini bau khas nya den Malvin" celetuk pak Mamang.


Baru selesai berbicara, orangnya sudah berada didepan mata.


"Ayo hel berangkat, gue udah ganteng kan?" tanya Malvin sembari mengetipkan satu matanya.


"Elo mah selalu ganteng, kapan sih seorang Malvin ga ganteng?" jawab Rachel dengan senyum miringnya.


Malvin tersenyum manis menampakkan giginya dan matanya semakin sipit saat tersenyum, "ahh gue salting nih"


"Lebay, ya udah yuk berangkat!" seru Rachel sembari naik keatas motor Malvin dan menepuk pundaknya.


"Let's go!!!"


"Pak Mamang, pak Simon. Kita berangkat ya..."


"Iya neng, hati hati dijalan"


****


"Sayang.... please jangan nangis ya, kalo lo nangis gue juga ikut nangis, ga tega gue liat elo. Ntar kalo gue nangis dilihat orang kan jadi hilang kewibawaan gue.." bisik Malvin pada Rachel saat baru saja memasuki area rumah sakit jiwa.


"Iya tuan Valerie" balas Rachel.


Keduanya terus berjalan menyusuri rumah sakit itu, mencari keberadaan Nindi yang ternyata berada di taman, duduk sendiri, termenung sembari memeluk bonekanya.


"Tante..." panggil Rachel.

__ADS_1


Rachel menoleh ke sekitar, suasana sepi di taman, hanya ada tantenya seorang disana.


"Tante kok sendirian disini?" tanya Rachel. "Rachel bawain kue kesukaan tante, kue yang tante selalu ajarin ke Rachel" Rachel membuka kotak kue yang ia bawa lalu menyuapkan sepotong kue tersebut pada tantenya.


Anehnya, tantenya mau memakan kue tersebut namun tetap dengan keadaan diam, tak seperti biasanya yang akan memberontak jika didekati Rachel.


Rachel tersenyum senang, ia melihat Malvin yang masih berdiri dibelakang tantenya, cowok itu ikut tersenyum.


"Tante.... tau ga kalo Rachel udah tunangan? semalam adalah malam yang paling bahagia buat Rachel, Rachel bahagia banget bisa tunangan sama Malvin, orang yang Rachel cintai, tuhan menyiapkan hadiah yang terindah bagi Rachel, tapi sayangnya tante ga bisa liat pertunangan Rachel semalam, Rachel kangen tante.... Rachel pingin tante pulang kerumah, tinggal sama Rachel lagi ya, cepet sembuh..." terang Rachel panjang lebar, sembari memeluk tantenya dan mengelus punggungnya.


Nindi masih diam, namun menerima pelukan Rachel tanpa membalasnya, wanita itu terdiam dengan pandangan kosong menatap ke depan.


"Tante kenapa diem terus? ini Rachel... keponkan tante, Rachel udah pulang tante.... Rachel udah disini nemenin tante"


"Rach-hel" gumamnya.


Rachel melepas pelukannya perlahan lalu menatap tantenya sembari mengangguk berulang kali.


"Iya, ini Rachel" matanya mulai berkaca kaca.


Rachel kembali membuka kotak kue nya dan menunjukkan kue kue cantik itu pada tantenya, dan kembali menyuapinya.


"Enak kan? ini kue yang biasa tante ajarin ke Rachel...."


Nindi mengangguk, "enak" gumamnya dengan wajah ceria.


"Kayaknya tante Nindi masih belum terlalu parah, mungkin dia hanya depresi belum gila, masih bisa diselamatkan.... gue akan biayain semua pengobatan tante, nanti gue akan bicarain ke papa tentang pencarian psikiater terbaik didunia" ujar Malvin sembari mengelus lengan Rachel.


"Makasih banyak vin, tapi gue juga nyumbang uang yang udah gue kumpulin selama ini buat pengobatan tante juga, ga semuanya uang elo, gue ga mau jadi beban lo" jawab Rachel.


"Ga usah! gue tunangan lo, apapun masalah lo juga masalah gue, apapun beban yang lo tanggung maka gue juga harus menanggungnya, jadi.... tentang semua biaya pengobatan tante, biar gue aja yang bayar, dan uang lo lebih baik disimpan buat keperluan lainnya.... buat biaya kuliah atau buat buka cabang toko lo" omel Malvin.


Rachel menghela nafas, tak ada jalan lain, karena Malvin memaksa maka mau tak mau Rachel menurutinya.


"Lagian buat pengobatan tante aja ga bakal buat gue kere kok hel, gue udah tunangan sama elo dan pastinya bentar lagi kita nikah, ga usah selesain masalah lo sendirian, elo jangan anggap gue kayak ke orang asing" lanjutnya, Malvin terlihat kesal.


"Yaudah kalo itu mau lo, makasih banyak ya. Elo banyak membantu gue.." Rachel memeluk tubuh Malvin mencoba menenangkan lelakinya, Malvin pun membalas pelukan Rachel dan mencium keningnya cukup lama.


"Iya sama sama"


****


2 hari berlalu, setelah Malvin membahas tentang pengobatan tante Nindi pada papanya, kini mereka telah menemukan psikiater terbaik yang berasal dari Amerika, sehingga mengharuskan membawa tante Nindi ke Amerika.


Malvin telah berunding dengan Rachel dan papanya, keluarga Valerie akan membiayai keseluruhan pengobatan Nindi, di Amerika Rachel dan Silvia yang akan menunggu Nindi selama masa berobat.


"Makasih banyak, om dan tante. Keluarga kalian udah baik banget sama aku, Rachel berhutang banyak sama kalian" ucap Rachel merasa tak enak hati.


"Ga apa apa Rachel... kamu kan calon menantu kami, jadi kami juga harus bantu kamu disaat kamu kesusahan, anggap kita orang tua kandungmu, jangan terlalu sungkan" jawab Aiden.

__ADS_1


"Iya om, sekali lagi, Rachel berterimakasih banyak.."


Mengingat semua kebaikan yang dilakukan keluarga Valerie padanya, Rachel sangat beruntung telah mengenal dan berteman dekat dengan keluarga Valerie, toko kue milik tantenya berkembang itu juga berkat Silvia yang selalu mempromosikan di akun sosial medianya, dan sekarang semua biaya pengobatan tantenya akan dibayar tuntas oleh mereka, betapa dermaeannya keluarga itu.


Malvin telah menyiapkan tiket keberangkatan ke Amerika, ia hanya mengantarkan kekasihnya ke Amerika lalu kembali pulang ke Indonesia, karena masih belum waktunya liburan maka Malvin tidak bisa menemani Rachel selama di Amerika.


Rachel hanya ditemani oleh Silvia, dan Laura yang menyusul 2 hari lagi, karena waktu liburan Laura kurang 2 hari lagi.


****


Sesampainya di bandara, 30 menit lagi jadwal keberangkatan pesawat mereka. Rachel, Silvia, Nindi dan Malvin berpamitan pada Kevin dan yang lain. Ada Kevin, Rafa, Alya dan Laura yang ikut mengantar keberangkatan Rachel dan yang lain ke Amerika.


"Hati hati dijalan ya..." ucap Laura sembari memeluk Rachel sekilas.


"Iya"


"Rachel, jaga diri baik baik disana ya.... gue pasti kangen banget sama elo, gue doain semoga tante Nindi bisa sembuh total" ujar Alya sembari menggenggam tangan Rachel.


"Iya hel, dan masalah toko kue.... percayain sama kita bertiga, kita pasti ngurus toko lo dengan baik.." timpal Rafa.


"Terus... jangan terlalu berfikir keras, jangan mikirin tante terus ya, pikirin juga kesehatan lo, selama di Amerika lo harus seneng seneng juga ya, kan ini pertama kali nya lo keluar negeri jadi elo harus bahagia, jangan terlalu diambil pusing..." saut Kevin.


"Iya temen temen, gue sayang kalian, makasih banyak ya.." ucap Rachel memeluk ketiga sahabatnya.


Rachel tinggal di Amerika perkiraan sekitar 1 bulan karena pengobatan tante Nindi mungkin akan sangat lama, harus penuh ketelitian, mereka akan tinggal di apartemen dekat rumah sakit yang sudah disewa oleh Aiden.


"Mama, titip Rachel ya, jaga dia sama tantenya baik baik.." ucap Kevin.


"Iya sayang.... tenang aja" jawab Silvia.


"Heh! kok lo yang jadi perhatian sama Rachel, dia kan tunangan gue" Malvin mengernyit.


"Habisnya lo diem aja ga ada omongnya dari tadi, kasih perhatian gitu dong ke Rachel. Gue perhatian ke Rachel karena dia sahabat gue dari SMA" jawab Kevin.


"Tapi dia pacar gue dari SMA" jawab Malvin sontak membuat semua membelalak.


"Serius?" tanya mereka kompak.


Rachel menggeleng berulang kali, "enggak!" sangkalnya.


Plak! "Lo bullshit!" Rachel memukul lengan Malvin cukup keras.


Malvin menampilkan cengir kudanya sembari menggaruk rambutnya yang tak gatal, "cuma bercanda, tapi gue udah suka dia dari lama"


Rachel memutar bola matanya, "ya udah yuk berangkat, byee guys" Rachel melambaikan tangannya lalu menggandeng tantenya.


Rachel dll berpisah dengan Kevin dan kawan kawan saat sudah terdengar pengumuman jadwal keberangkatan mereka.


~•~

__ADS_1


__ADS_2