
Karena Malvin telah selesai kelas, mereka memutuskan untuk makan di taman kota. Sesampainya ditaman, mereka mencari tempat duduk yang nyaman, setelah menemukannya, keduanya duduk santai sambil menikmati suasana taman kota yang sedikit ramai. Lalu Rachel pun membuka kotak makan yang ia bawa dan mulai menyuapi Malvin, karena sesekali ingin bertingkah romantis.
Keduanya bergantian untuk saling menyuapi sampai makanan habis, dan hanya tersisa kue kesukaan Malvin saja. Mereka terlihat sangat bahagia, tertawa dan bercanda bersama, tak peduli dengan beberapa orang yang berlalu lalang, sesekali bergunjing iri pada mereka.
Dari kejauhan terlihat seorang lelaki bertopeng terus memantau mereka berdua dari balik pohon yang berjarak sekitar 20 meter dari mereka.
Lelaki itu mengeluarkan sebuah benda dari sakunya, benda genggam yang sering disebut sebagai senjata api yang membahayakan. Lelaki itu menodongkan senjata tersebut yang tak lain adalah pistol, ke arah Rachel kemudian menembakkannya, dengan cepat peluru melesat tepat dibagian perut Rachel.
Duar!!!
Sang pelaku pun kabur, setelah tembakannya telah tepat mengenai sasaran.
"Akhh..." pekik Rachel terus memegangi perutnya yang terasa amat sakit.
Darah mulai deras keluar dari perutnya, membuat Malvin membelalak panik.
"Rachel!!!" teriaknya, cowok itu pun langsung menggendong Rachel, dibawanya ke pinggir jalan untuk mencari taxi.
Rachel sudah tak sadarkan diri lagi, wajahnya sangat pucat, dan banyak darah yang keluar dari perutnya, jantung Malvin tak henti hentinya berdetak kencang, ia tak tau lagi harus bagaimana, pikirannya sangat kacau, ia masih tak sanggup jika tiba tiba Rachel meninggalkannya untuk selama lamanya.
'tuhan, selamatin Rachel' batin Malvin sembari terus menciumi tangan Rachel, air matanya pun mulai turun.
****
Sesampainya dirumah sakit.
"Sus!! tolongin pacar saya sus!! cepet bawa dia ke ruang operasi sus!!!" bentak Malvin sudah tak bisa dikendalikan lagi.
__ADS_1
Malvin benar benar terlihat panik, bahkan dia juga tidak bisa mengkondisikan amarahnya.
"Maaf mas, tolong isi administrasinya dulu baru kami tangani pasiennya" ucap suster.
"Tangani dulu pacar saya!! kamu ga tau siapa saya?!!" bentaknya.
"Maaf mas, tapi ini sudah ketentuannya"
"Saya anak dari Aiden Valerie! pemilik rumah sakit ini! saya bisa tuntut kamu kalau ga segera selamatin nyawa tunangan saya!!!" bentaknya lagi sembari menyuguhkan KTP nya.
Sang suster terdiam, dan langsung memperbolehkan menjalani operasi bagi Rachel.
"Berikan penanganan yang terbaik dok!" tegas Malvin.
Malvin masih belum memberitahukan pada kedua orang tuanya tentang kejadian yang menimpa Rachel, cowok itu masih bingung dan hanya ingin terus berdoa untuk keselamatan kekasihnya.
"Alhamdulillah operasi nona Rachel berlangsung lancar, pelurunya telah diambil yang tepat mengenai bagian diafragmanya, dia mungkin akan koma dengan selang waktu yang cukup lama" terang sang dokter.
"Syukurlah, terimakasih banyak dokter" ucap Malvin.
"Sebentar lagi, nona Rachel akan kami bawa ke ruang VVIP"
Malvin hanya mengangguk, disitulah ia dapat menghela nafas lega dan terus bersyukur, berterimakasih pada tuhan. Pikirannya pun sudah kembali tenang, barulah dia menelefon kedua orangtuanya, Kevin, Rafa, dan Alya tentang kejadian penembakan Rachel.
****
Malvin terlihat sendu, duduk dipinggir ranjang Rachel sembari menggenggam tangan kekasihnya.
__ADS_1
Sungguh tak terpikirkan baginya, kalau akan ada seseorang yang berniat membunuh Rachel, ia terus menyalahkan dirinya karena tidak bisa menyelamatkan Rachel.
'gue bodoh! harusnya gue aja yang ke tembak, kenapa harus Rachel' batinnya.
Silvia datang, membuka pintu dengan sangat hati hati, menatap iba pada putranya yang masih termenung tak sadar dengan kehadiran mamanya.
"Sayang.." Silvia memegang pundak putranya.
Malvin pun mendongak menatap sang mama, wajahnya terlihat benar benar lesu dan sepertinya Malvin habis menangis.
"Jangan bilang ke tante Nindi, Malvin ga mau tante Nindi tambah drop karena dia masih masa pemulihan" ucap Malvin.
"Iya sayang, ceritain ke mama kok bisa ini semua terjadi ke Rachel?"
"Kita diluar aja" gumam Malvin.
Keduanya pun keluar dari ruangan, terlihat Kevin, Rafa dan Alya yang berjalan cepat menuju ruangan Rachel berada.
Namun saat melihat Malvin dan mamanya diluar ruangan, mereka bertiga pun menghampiri mereka. Malvin pun menceritakannya pada mereka berempat.
Semua menganga menutup mulutnya, begitu terkejut mendengarkan cerita kejadian yang terjadi.
"Malvin mau, secepatnya pelaku harus ditemukan! dia harus dihukum mati!!!!" tegas Malvin penuh amarah.
"Ga boleh ada yang kasih tau kabar ini ke tante Nindi!" titah Malvin yang hanya diangguki oleh mereka.
~•~
__ADS_1