
Setelah pemakaman Rachel telah selesai, Malvin enggan sekali untuk kembali ke rumah, tangisnya tak henti henti mengalir deras dipipinya, pernikahan yang seharusnya adalah sebuah kebahagiaan namun tidak bagi Malvin, hanya kebahagiaan sesaat dan kesedihan mendalam yang ia terima.
Mungkin ini adalah akhir dari cerita kisah cinta antara Rachel dan Malvin, betapa menyesalnya Malvin saat dulu ia selalu menyakiti dan menyianyiakan Rachel.
Malvin masih tetap diposisinya, memeluk batu nisan Rachel dengan tangis yang tiada hentinya.
"Ga akan ada orang baru yang hadir dikehidupanku hel, cukup kamu yang terakhir bagiku, sampai kapanpun... sekalipun ada yang mirip sama kamu, tapi dia bukan kamu" ujar Malvin.
"Semua itu takdir vin... people come and go, ga semua manusia akan selalu bersama dan menetap selamanya dibumi yang semakin tua ini... mungkin ini yang terbaik buat Rachel, dan kalaupun Rachel masih hidup, dia akan merasakan sakit, lebih baik gini, dia udah bahagia di surga, udah ga ngerasa sakit lagi..." timpal Kevin yang memang menunggu saudaranya sampai ia lega mencurahkan seluruh kesedihannya dimakam sang istri.
"Iya Rachel udah bahagia... tapi apa kabar sama gue? apakah gue bahagia seperti yang lo lihat? buka mata lo!! sehancur apa gue sekarang?!!!" bentak Malvin.
"Terus mau lo apa?! lo mau pergi kayak Rachel juga? dan ninggalin kita, masih banyak yang sayang sama lo vin, ada mama sama papa yang sepenuhnya sayang sama elo termasuk gue!" jawab Kevin sembari berlutut merangkul saudaranya.
"Rachel udah tenang dan bahagia disana... maka elo juga harus bahagia disini, Rachel bakal sedih kalo liat lo terus tangisin dia" imbuhnya mencoba menenangkan Malvin.
Laura hanya diam dengan air mata yang masih deras turun, menyimak pembicaraan mereka, dadanya sesak, merasa sangat kehilangan Rachel. Sosok seseorang yang baru ia jumpai 1 bulan yang lalu, namun rasanya seperti seorang saudari kandung, Laura juga merasa kasihan dan tak tega melihat Malvin.
"Yaudah yuk, kita pulang... lo tenangin diri dirumah, biar ga terlalu kepikiran Rachel" ajak Kevin.
__ADS_1
Malvin terdiam sejenak, "Aku pulang ya sayang.... besok aku kesini lagi" cowok itu pun mencium batu nisan milik istrinya, lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke mobil.
Laura dan Kevin berjalan mengekori Malvin sampai diparkiran, mereka bertiga pun bergegas pulang.
****
Sesampainya dirumah, Malvin langsung menuju ke kamar mandi, berendam dibathup dengan air hangat untuk menenangkan pikirannya yang masih terus terbayang bayang Rachel.
Matanya sembab, bahkan kantung matanya pun menghitam akibat beberapa hari terakhir selama menjaga Rachel dirumah sakit, ia hanya tertidur dengan jangka waktu yang hanya sebentar.
****
1 jam berlalu, Malvin keluar dari kamar mandi, melihat kamarnya yang telah dihias sebagus mungkin, dengan banyak kelopak mawar yang ditaburi diatas ranjang berbentuk love, lilin lilin yang terpajang dipinggir ranjang, dan semua pakaian baru telah disiapkan didalam lemari, yang nantinya akan diberikan pada istrinya, namun harapan itu semua telah sirna. Tak ada lagi malam pertama dan tak ada lagi istri yang menemaninya hingga tua.
Tiba tiba, Malvin teringat oleh seseorang yang sebagai penyebab utama kematian Rachel, yaitu ayah Rini.
"Rachel harus mendapatkan keadilan!" dendam Malvin.
Cowok itu pun segera berganti baju, dan bergegas menuju kantor polisi. Sesampainya disana, Malvin pun bertemu dengan kepala kepolisian.
__ADS_1
Dia menceritakan semuanya, meminta agar pelaku penembakan istrinya harus dihukum mati karena nyawa harus dibayar dengan nyawa, namun polisi tetap kekeh tidak ingin menghukum mati pelaku tersebut dengan alasan sang pelaku hanya melakukan percobaan pembunuhan, tidak sampai membunuh hingga nyawa korban hilang ditempat.
Dengan memanfaatkan uangnya, Malvin pun mencoba menyuap polisi tersebut dengan banyaknya tumpukan uang diatas meja, langsung didepan sang polisi. Malvin memang sengaja menyiapkannya, membawa se koper uang merah, yang isinya tak terhitung jumlahnya.
Karena godaan yang terlalu kuat, sang polisi pun menyetujuinya, kepala polisi tersebut pun memutuskan untuk menyatakan pelaku penembakan Rachel untuk dihukum mati, tepat didepan Rini dan Malvin, seperti yang Malvin mau.
Agar Malvin memastikan apakah eksekusi tersebut benar benar dilakukan, dan ingin melihat sehancur apa Rini melihat ayahnya dihukum mati didepan matanya, entah mengapa Malvin menjadi sekejam itu.
Keesokan harinya, tepat tanggal 12 November 2021 sang pelaku penembakan Rachel pun dihukum mati tepat dihadapan Rini dan Malvin, dengan cara ditembak diarea kepala dan perutnya sebanyak 4 peluru, 2 dikepala dan 2 diperut.
Namun hukuman mati tersebut tidak diberitakan disosial media, karena tak ingin menimbulkan banyak tanda tanya dari banyak reporter.
Melihat ayahnya yang dihukum mati didepan matanya, Rini begitu hancur, ia berteriak dan menangis sejadi jadinya saat mendengar suara tembakan pistol dari 6 orang polisi yang menutup wajahnya dengan topeng hitam.
"Ayah!!!" teriak Rini yang memberontak ingin menyelamatkan ayahnya, namun 2 orang polisi memegangi erat kedua tangan Rini.
Malvin memakai topengnya, duduk disebuah kursi, melihat pemandangan yang mengasikkan tersebut. Ia tersenyum smirk, perasaannya sangat puas melihat orang yang membunuh istrinya telah tewas, dan kesedihan yang dialami Rini sama seperti dirinya saat kehilangan Rachel.
Rini masih belum mengetahui siapa lelaki bertopeng yang duduk di kursi itu, tapi ia yakin kalau dia adalah salah satu dari anggota keluarga Valerie, membuat Rini memiliki dendam yang sangat kuat pada keluarga Valerie.
__ADS_1
"Selama gue masih hidup!! akan gue pastikan, semua keturunan dari keluarga Valerie akan musnah satu persatu!" tegasnya, kemaharannya sungguh memuncak.
~•~