
2 Minggu berlalu. Sepulang dari kampus, Alya dan Rachel mampir ke salah satu kafe dari banyaknya jejeran kafe depan kampus, mereka hanya mampir untuk sekedar minum kopi dan mengobrol, kali ini Rafa tidak ikut karena ia harus pergi keluar kota dadakan bersama ayahnya.
Setelah memesan kopi, Alya dan Rachel duduk dibangku kosong paling belakang untuk menghindari keramaian yang ada dibangku depan.
"Bang Dika sakit.." ujar Alya terlihat sedih.
"Sakit apa? sekarang di ada dirumah sakit apa di rumah?" tanya Rachel.
"Di rumah, gue khawatir banget sama dia. Gue juga kasihan sama tante gue, udah 2 hari ini tapi dia maksa ga mau dibawa ke rumah sakit, padahal badannya panas banget sampe terkadang kejang kejang, ga mau makan, setiap disuruh makan dia selalu muntah" curhat Alya.
"Ya ampun, sabar ya. Bentar lagi pasti sembuh kok, terus doain dia.... oh ya, gue boleh jenguk dia?" balas Rachel.
"Boleh kok" jawab Alya mengangguk sambil tersenyum.
"Rachel," panggil seseorang.
Rachel menoleh lalu memasang wajah datarnya saat melihat seseorang yang memanggilnya adalah Rini yang menghampirinya dengan wajah sok sedih lalu duduk didepannya.
"Rachel.... bantuin gue ya pliss, elo kan baik pasti mau ya, gue minta tolong bujuk Malvin biar mau balikan sama gue ya? buat Malvin percaya kalo gue cewek baik baik..." pinta Rini merengek.
Rachel tetap diam tak menjawab, bahkan melihat wajah Rini pun tidak.
"Besok gue dikeluarin dari kampus, tapi gue ga mau kehilangan Malvin hel. Gue sayang banget sama dia, gue mohon bantuin gue..." lanjutnya.
Rachel tetap mendiamkannya. 'dasar ga tau malu' batin Rachel.
"Lo itu ga tau diri banget sih! ga punya urat malu ya?! dulu aja rebut Malvin dari Rachel padahal lo tau kalo Rachel cinta banget sama dia, dan bilang kalo lo ga mau temenan lagi sama Rachel! udah buat salah ga mau minta maaf lagi. Lah sekarang, malah minta pertolongan sama Rachel.... gue jijik banget liat muka l*nte lo itu" caci Alya tepat didepan muka Rini, ucapannya sangatlah pedas dan menusuk. "Pergi sekarang atau gue main kasar ke elo?!" ancam Alya.
Rini pun menatap tajam Alya kemudian berlalu pergi dari hadapan mereka berdua.
"Ganggu mood baik gue aja!" oceh Alya mengerutkan keningnya.
Berita tentang Rini yang berduaan dengan om om itu memang sudah tersebar kemana mana namun video tetap aman dan tidak tersebar, kehebohan itu membuat tidak nyaman para mahasiswa dan mahasiswi. Banyak dari mereka yang menuntut Rini untuk dikeluarkan dari kampus karena mereka berfikir dengan adanya dia, mungkin nama kampus yang terkenal bagus dan terfavorit itu akan ikut jelek ketika orang luar tau kalau kelakuan salah satu mahasiswinya yang sangat buruk.
Malvin sangat lega jika Rini sebentar lagi dikeluarkan dari kampus, karena cewek itu tidak akan lagi mengganggunya seperti seekor lalat.
****
"Rini dikeluarin dari kampus, tadi dosen gue bilang waktu dikelas" ucap Kevin menghampiri saudara kembarnya dikelasnya.
__ADS_1
Malvin hanya diam tidak merespon, sepertinya cowok itu tidak tertarik dengan pembicaraan Kevin tentang mantan kekasihnya itu. Rini memang dikeluarkan dari kampus, tapi belum tentu dia keluar dari kehidupan Malvin.
Ponsel Malvin terus bergetar, dengan malas dan muak Malvin membuka ponselnya dan terlihat banyak pesan dari Rini yang ia abaikan sedari tadi.
Rini
Malvin, aku pingin balikan. please aku butuh bicara sama kamu, kita ketemuan di kafe depan kampus ya?, percaya sama aku kalau aku bukan cewek yang kayak gitu, aku cewek baik baik vin...
Malvin hanya membaca pesan itu namun tidak membalasnya, ia sangat kesal dan membenci Rini saat ini. Cewek itu tak henti hentinya menganggu kehidupan Malvin, membuat Malvin risih dan muak dengan berbagai alasan yang Rini lontarkan.
Malvin memutar bola matanya malas, kemudian menelfon nomor Rini, tak butuh waktu lama Rini langsung mengangkatnya.
π Gue ga bisa. Mau ngomong apa cepet? gue ga punya banyak waktu buat ngobrol sama elo
π Malvin, aku bukan cewek yang kayak gitu, aku beneran tulus sama kamu
π ck.... udah ketahuan masih aja alasan, orang gue liat dengan mata gue sendiri jadi ga usah banyak alasan!! kalo lo tulus kenapa elo selalu minta belanja setiap hari ke mall?!
π bukan gitu, aku cuma mau jalan berdua sama kamu, masa kamu ga percaya sih sama aku? kamu masih sayang kan sama aku?
π ngarep! setitik pun gue ga ada rasa sayang ke elo! jadi stop ganggu gue mulai detik ini!
π Tapi vin.... yang kamu liat itu salah, itu om aku. Aku masih sayang banget sama kamu, aku mau kita balikan ya...
Malvin pun langsung mematikan sambungan telfon dan memblokir nomor Rini lantas langsung menghapusnya termasuk pesan pesannya.
"Nih dari Rachel, pesenan dari mama lo katanya"
Malvin pun langsung menoleh, rupanya Alya yang datang memberikan sekotak kue kemudian di letakkan diatas meja Malvin.
Malvin hanya mengangguk dan memasukkan kotak kue itu kedalam lacinya, mamanya sangat suka dengan kue kue buatan tantenya Rachel.
Alya tersenyum sinis menatap Malvin tak suka, "kasihan. ini semua karma buat elo karena elo udah mengabaikan Rachel selama ini dan yang lebih parahnya, lo udah bikin Rachel sakit hati dengan berpacaran sama temen baiknya yaitu si Rini, padahal Rachel tulus cinta sama elo. Kenapa sih elo bisa berubah gitu, padahal di SMA elo deket banget sama Rachel, kemana mana selalu bareng. Sekarang lo nyesel kan udah pacaran sama simpenan om om itu?" sindir Alya, ucapannya sangat pedas membuat Malvin kesal.
"Ya... namanya cinta, ga bisa disalahkan sekalipun dia seseorang yang buruk, tapi dimata kita dia itu sosok yang baik. Tapi ya, kalo gue pribadi sih lebih milih orang yang tulus mencintai gue daripada yang cuma baik didepan ternyata dibelakang busuk, cuma manfaatin harta atau cuma suka karena fisik, yang tulus itu setidaknya kalo kita lagi terpuruk, dia akan selalu ada tulus disamping kita..." lanjutnya, terus menceramahi Malvin.
Tadinya Malvin memilih diam dan tak peduli dengan ucapan Alya tetapi saat mendengar ucapan Alya yang barusan, ia membalas ucapan Alya dengan sindiran.
"Lo milih orang yang mencintai lo dengan tulus?" tanya Malvin mengulangi ucapan Alya.
__ADS_1
Alya mengangguk. Kevin menyimak pembicaraan mereka yang termasuk kedalam debat ringan.
Malvin tertawa mengejek, "tapi kenapa lo dulu kejar kejar gue? padahal gue ga pernah lirik lo sekalipun, ada rasa pun enggak.." sindirnya.
Alya mengepalkan tangannya erat, ingin sekali rasanya menamparnya saat ini juga, "itu kan dulu!" balasnya kesal.
"Yahh gue serasa pajangan disini" sela Kevin yang hanya didiamkan sedari tadi.
"Ya udahlah, gue balik ke kelas. Nanti lo langsung kasih uangnya ke Rachel aja, ntar gue alasan kalo gue lupa sekalian ambil uangnya ke elo. Kurang baik apa gue coba? udah bantuin elo biar deket sama Rachel" ucap Alya kemudian keluar dari kelas Malvin, lalu Kevin pun menyusul keluar dari kelas Malvin.
Rachel, Rafa dan Alya memilih jurusan Ekonomi. Sedangkan Malvin memilih jurusan kedokteran, dan Kevin memilih jurusan hukum.
****
Malam ini, Rachel dan tantenya di undang makan bersama di rumah keluarga Valerie oleh Silvia. Hal ini memang sering dilakukan oleh keluarga Valerie, biasanya sekitar sebulan sekali mereka mengadakan makan bersama, dan dengan terpaksa Rachel menghadirinya bersama tantenya, karena ia tak bisa menolak lagi, beberapa bulan lalu Rachel terus menolak namun untuk bulan ini tidak dikarena ia merasa tidak enak karena sudah 3 kali ia menolaknya.
Malam ini, tante Nindi membawakan rendang, disana mereka saling bertukar lauk pauk buatan keduanya. Tak heran jika Silvia dan Nindi sangat dekat, karena memang mereka teman satu SMP dan SMA, umur mereka sama.
"Ini enak banget ayam opornya!" puji Nindi yang memang rasa ayam opor buatan Silvia sangat enak.
"Rendangnya juga enak tau, kok bisa sih dagingnya se lembut ini, ajarin dong gimana bikinnya, berbagi resep itu indah loh hahaha..." jawab Silvia heboh diiringi dengan tawa kecil.
Kini ruang makan yang selalu hening berubah menjadi berisik dengan kedatangan keluarga Rachel, celoteh ibu ibu yang saling ngerumpi dan bertukar resep makanan. Terkadang Aiden, papanya si kembar juga ikut nimbrung, Kevin juga ikut membalasnya sesekali agar suasana menjadi asik, namun tidak untuk Rachel dan Malvin yang saling diam.
Malvin duduk disebelah Kevin, tepat didepan Rachel, duduk dengan tenang tak memperdulikan obrolan mamanya dengan tantenya Rachel.
"Rachel kok jadi jarang sih main ke sini?" tanya Silvia cemberut karena saking sayangnya pada Rachel, ia telah menganggap Rachel seperti anaknya sendiri, ia sangat sedih jika Rachel tak pernah bermain kerumahnya.
"Rachel sibuk belajar tante... maaf" jawab Rachel selalu dengan alasan yang sama, karena ia rasa itu adalah alasan yang tepat.
"Rachel. Om mau tanya nih, apa kedua anak om ini sering bikin masalah dikampus?" tanya Aiden. Sontak membuat Malvin mendongak dan menatap Rachel dengan tatapan seperti kode, ia takut jika Rachel membicarakan tentang masalahnya dengan Rini saat ini.
Sedangkan Kevin bersikap biasa saja, ia bahkan tau dengan pikiran Malvin dan Rachel, Malvin terlihat sangat takut dan Rachel terlihat santai karena memilih tidak menceritakan apa apa pada papanya, bahkan tentang Malvin yang berpacaran dengan cewek yang tidak baik pun ia mencoba menutupinya, karena ia rasa itu adalah aib bagi Malvin.
Rachel tersenyum lalu menggeleng, "enggak kok om, mereka ga pernah bikin masalah. Keduanya baik.." jawab Rachel.
Malvin dibuat terdiam oleh Rachel, lagi lagi Rachel menutupi kelakuan buruknya pada kedua orangtuanya. Kevin melirik wajah saudaranya, ia tau kalau Malvin merasa sangat menyesal dan bersalah telah berbuat jahat pada Rachel.
Aiden tersenyum lega, "kalo Rachel yang bilang, om percaya. pokoknya kalo diantara si kembar ini bikin masalah atau jahatin kamu, kamu bilang ya sama om" ujar Aiden.
__ADS_1
"Siap om" jawab Rachel mengangguk tersenyum menampakkan giginya, sedari tadi pandangan Rachel tak pernah mengarah ke Malvin, seolah ia enggan menatap wajah tampan lelaki yang duduk didepannya itu.
~β’~