
Denis duduk dibelakang Alex. Menempelkan handuk yang telah dibasahi dengan air hangat di tengkuk Alex. Warna ungu kehitaman melebar hingga kebagian bahu.
Alex sudah membuka bajunya. Memperlihatkan tubuhnya yang keras dengan ototnya. Kulitnya yang putih bersih membuat warna itu sangat ketara.
Desisan pelan tak kuasa dia tahan ketika Denis sedikit menekan handuk basah itu. Setelah dirasa cukup dan air hangat sudah berubah menjadi dingin, Denis menyudahi aktifitasnya. Meraih obat yang diberikan mbak Fani untuk dioleskan pada bagian yang memar.
"Terima kasih, Den." Alex masih meringis. Merasakan denyut nyeri dibagian tengkuknya. Dia coba untuk menegakkan lehernya, tapi masih terasa kaku.
"Kamu sudah menolongku dari para penjahat itu. Gak tahu gimana caranya aku membalas semua kebaikan kamu. Aku berhutang nyawa sama kamu."
"Jangan berlebihan. Gue gak ngelakuin apa-apa."
Denis bangkit dari duduknya. Membawa baskom dan handuk basah keluar dari kamar. Menyimpannya di dapur. Ada mang Jana yang masih sedang menghisap rokok dan Lukman yang meringkuk disofa dengan kain sarung membungkus tubuhnya.
"Kenapa gak tidur dikamar," Denis menggerakan dagunya ke arah Lukman.
"Bang Theo nyuruh kita jaga-jaga." sahut mang Jana sambil meniupkan asap rokoknya. Dia berani merokok disitu karena tempat itu merupakan area terbuka dengan pepohonan disekitarnya. Mbak Fani sudah memperingatkan agar tidak ada yang merokok didalam ruangan.
Denis cuma menyeringai tipis sambil berlalu meninggalkan mang Jana. Masuk kedalam kamarnya dan melihat Alex yang tidur sambil telungkup. Bagian punggungnya terbuka karena dia tidak memakai baju.
Denis membaringkan tubuhnya. Masih ada sedikit waktu untuk dia memejamkan mata sebelum pagi datang. Abaikan Alex yang tidur disebelahnya.
*****
Dikamar bang Theo, kedua suami istri itu baru saja membaringkan tubuh mereka bersisian. Mbak Fani menatap langit-langit kamar.
"Kita lapor polisi aja, bang." Jelas sekali suaranya menyerukan rasa cemas. Bang Theo terdiam. Tatapannya sama dengan istrinya. Sama-sama menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Bukan sekali istrinya mengungkapkan sarannya untuk melapor ke pihak kepolisian.
"Bang.."
"Besok kita bicarakan sama Denis. Sekarang tidurlah." bang Theo memiringkan tubuhnya. Menatap istrinya dengan tatapan yang menenangkan. Usapan lembut di rambut mbak Fani membuat wanita itu merasa nyaman.
"Aku khawatir kalau orang-orang itu akan kembali kesini dan mencelakai salah satu dari kita."
"Aku pun merasakan hal yang sama. Tentu saja aku tidak mau mempertaruhkan keluarga kita."
"Kalau gitu gak ada pilihan lain selain lapor ke polisi."
"Iya. Sekarang tidurlah." Bang Theo mengakhiri percakapan mereka. Membetulkan selimut yang menutupi tubuh istrinya. Mbak Fani tidak membantah ucapan suaminya. Dia memejamkan matanya walaupun sebenarnya dia sudah tidak mengantuk lagi.
__ADS_1
Pikirannya dipenuhi oleh hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Semua yang terjadi beberapa hari ini membuat dia semakin yakin bahwa membiarkan Alex tinggal lebih lama dirumahnya adalah suatu keputusan yang salah.
Bang Theo menatap wajah istrinya. Rasa kantuk telah lenyap sejak dia terjaga karena telepon dari Lukman yang memberitahunya tentang penyusup yang masuk kedalam rumahnya. Dia tahu mereka menginginkan Alex. Dia tidak menyangka para penjahat itu akan secepat ini mengetahui keberadaan Alex dirumahnya.
Dia bersyukur karena memiliki Denis sebagai benteng yang dapat menghalau para penjahat itu. Tapi bagaimana kalau mereka melakukan lagi terlebih kalau sedang tidak ada Denis. Bang Theo yakin, para penjahat itu tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yaitu Alex.
*****
Kepanikan terjadi pagi itu. Jeritan mbak Fani membuat semua berlari memasuki rumah utama untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tangisannya langsung pecah tak terbendung lagi.
"Ada apa?" Denis menatap bergiliran dua suami istri yang sudah dianggap keluarganya sendiri itu. Nampak amarah diwajah bang Theo yang mengeras dengan tangannya yang mengepal.
"Sisil!!" pekikan dari mulut mbak Fani disertai tangisan yang menyayat hati membuat Denis semakin penasaran.
"Ada apa dengan Sisil? Bang! Katakan ada apa ini?" Bang Theo menyerahkan secarik kertas. Denis menyambar kertas itu dari tangan bang Theo. Membacanya dengan mendapat tatapan dari semua orang. Mereka penasaran dengan apa yang tertulis di kertas tersebut.
Denis meremas kertas itu setelah selesai membacanya. Wajahnya mengeras dengan tatapan yang tajam dan berapi.
Alex mengambil kertas dari tangan Denis. Dia sangat terkejut begitu melihat tulisan yang ada diatas kertas tersebut.
"Anak kalian bersamaku !! Berikan pria itu sebagai gantinya. Jangan libatkan polisi kalau mau selamat !!"
Matanya menyapu semua orang yang ada disana. Mendekati bang Theo yang sedang mendekap istrinya. Dia mengerti yang maksud dalam tulisan itu adalah dirinya.
"Ya!! Semua gara-gara kamu!" suara mbak Fani menggelegar. Matanya yang basah menghujam wajah Alex. "Kembalikan Sisil padaku! Kembalikan anakku!!"
Alex tertunduk lemah. Matanya terpejam.
Bang Theo mengusap bahu istrinya. Mencoba menenangkan istrinya itu. Bahu mbak Fani semakin berguncang. Dia meraung memanggil nama anak semata wayangnya. Bi Nani ikut meneteskan airmata mengetahui kenyataan itu.
Semua terbungkam. Ikut larut dalam kesedihan yang dirasakan oleh mbak Fani.
"Gimana sekarang, bang?" Denis menatap bang Theo yang masih belum bersuara. Dia nampak sangat terpukul dengan kejadian yang tidak disangkanya itu. Putri kesayangannya kini berada dalam bahaya.
Sedari kejadian penyerangan terhadap Alex tak ada satupun yang mencari tahu keadaan Sisil di kamarnya. Semua menyangka Sisil aman dan baik-baik saja. Mereka semua hanya fokus pada Alex. Tak pernah menyangka kalau para penjahat itu punya rencana cadangan yang tidak diperkirakan sama sekali oleh semua orang setelah mereka gagal mendapatkan Alex.
Entah dengan cara bagaimana para penjahat itu bisa membawa Sisil pergi dari dalam rumah tanpa diketahui oleh siapapun.
"Tolong Denis. Bawa kembali Sisil!! Bawa dia pulang!!" mbak Fani masih belum bisa meredakan tangisannya. Dia menangkupkan kedua tangannya diwajahnya yang banjir dengan airmata. Suaranya sangat menyayat hati siapapun yang mendengar.
__ADS_1
Mang Jana dan Lukman saling berpandangan dengan tatapan iba dan juga heran dengan kejadian itu. Sampai pagi mereka berjaga diluar. Bahkan mang Jana tidak tidur sama sekali karena mendapat tugas untuk berjaga dari bang Theo. Tapi tak sedikitpun ia mendengar sesuatu yang mencurigakan apalagi kalau sampai ada yang masuk ke dalam rumah.
"Maafkan mang Jana mbak. Ini juga salah mang Jana yang sudah lalai dalam menjalankan tugas." suara mang Jana bergetar. Dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada anak majikannya ditangan para penjahat itu. Syukur-syukur kalau mereka masih memperlakukan Sisil dengan baik.
"Semoga dia baik-baik aja." Suara Denis memecah kebuntuan yang ada. "Yang mereka inginkan hanya Alex. Jadi pasti mereka tidak akan ngapa-ngapain Sisil." Kata-kata itu hanya seperti sebuah kalimat hiburan saja buat mbak Fani. Sebenarnya ia pun merasa sangat khawatir dengan keadaan Sisil saat ini. Otaknya terus memikirkan cara untuk bisa mendapatkan Sisil kembali.
"Selain ini gak ada petunjuk yang lain?" tanya Denis pada bang Theo.
"Gak ada."
"Kalau gitu kita hanya bisa nunggu. Mereka pasti akan segera menghubungi kita untuk negosiasi." Bang Theo mengangguk. Dia tahu yang dikatakan Denis betul. Tapi tidak dengan mbak Fani. Dia makin histeris mendengar ucapan Denis. Hati ibu mana yang bisa tenang menunggu sementara nasib anaknya tidak ada yang tahu. Satu yang pasti dia berada ditangan penjahat. Dia berada dimana tidak ada yang tahu.
"Kamu harus mencarinya Denis! Jangan diam aja!" Suara mbak Fani memelas. "Kamu harus tanggung jawab Alex!!"
"Tentu mbak. Aku akan tanggung jawab." sahut Alex lirih. Dia merasa sangat geram dengan apa yang dilakukan para penjahat itu. Kenapa mereka harus melibatkan keluarga bang Theo dalam urusan ini?
Alex memijit kepalanya dengan gusar. Dia bahkan tidak tahu siapa orang-orang itu. Mereka menyerangnya tiba-tiba dan tidak memberi sedikitpun petunjuk tentang siapa yang menyuruh mereka untuk melakukan itu.
Sekarang ditambah lagi dengan hilangnya Sisil yang tentu saja tidak ada kaitannya sama sekali dengan masalahnya. Dan sialnya, dia tidak tahu sama sekali harus mencari gadis itu dimana. Denis betul, mereka hanya bisa menunggu para penjahat itu menghubungi mereka terlebih dahulu.
*****
Deringan telepon ditengah keheningan menyentakkan kesadaran semua orang. Bang Theo hampir melompat menggapai telepon rumah yang ada diruang keluarga.
"Hallo." dia menempelkan rapat-rapat telepon itu ditelinganya. Mungki ini dari para penjahat itu. Dan tebakannya benar.
"Dengar baik-baik. Suruh pria itu datang ke batas kota sekarang juga. Harus dia sendiri. Kalau kau ingin anakmu selamat, turuti perintahku." Suara yang berat di seberang sana. Bang Theo mengeratkan kepalan tangannya.
"Siapa kalian?" teriaknya penuh emosi. Denis yang berdiri di depan bang Theo menatap penuh rasa keingintahuan. Alex tak kalah penasaran. Apalagi dia menjadi tokoh utama dalam masalah ini.
"Jangan banyak tanya. Jangan libatkan polisi. Suruh dia datang sendiri secepatnya. Jangan khawatirkan anakmu. Dia baik-baik saja."
Lelaki itu kemudian merinci tempat yang harus didatangi oleh Alex. Bang Theo mengatakan bahwa Alex tidak mengetahui tempat itu jadi harus ada yang mengantar kesana. Awalnya penjahat itu berkeras ingin Alex datang sendiri. Tapi akhirnya mereka setuju Alex datang dengan diantar mengingat memang Alex tidak mengetahui tempat manapun dikota ini. Lagipula, seseorang harus menjemput Sisil. Tidak mungkin Sisil dibiarkan sendiri disana. Orang yang bicara dengan bang Theo berbicara sebentar dengan temannya. Akhirnya ia mengatakan kalau mereka setuju Alex ditemani oleh salah satu dari keluarga bang Theo.
Setelah negosiasi selesai, mereka berkumpul dalam satu lingkaran untuk memberi dukungan pada Alex. Bang Theo mempercayakan Denis yang akan menemani Alex menemui para penjahat itu. Walaupun sebenarnya dia sangat ingin menjemput sendiri putri kesayangannya dari tangan penjahat.Tapi Denis punya rencana lain. Semua setuju dengan rencana yang diusulkan Denis.
Bang Theo menggenggam tangan Denis dengan harapan penuh. Matanya menyiratkan semua kepercayaan pada Denis untuk dapat segera membawa putrinya pulang dengan selamat.
"Pergilah. Abang yakin kamu pasti bisa. Abang akan mengikuti kalian dan tidak akan jauh dari kalian. Hubungi abang segera kalau ada sesuatu yang terjadi."
__ADS_1
Denis mengangguk. Tanggungjawab akan Sisil ada dibahunya sekarang. Tanpa membuang waktu, mereka segera meninggalkan rumah dengan menggunakan motor Denis.
*****