Rahasia Denis

Rahasia Denis
Seratus Empat


__ADS_3

Motor Denis melaju membelah jalanan ibukota yang semakin malam malah semakin padat saja. Angin yang menerpa tubuh Denis terasa masih menyisakan sedikit kehangatan siang tadi. Tatapan Denis lurus menatap jalanan yang akan dilaluinya dari balik kaca helmnya yang full face.


Melajukan motornya tanpa terburu-buru, Denis dengan sabar mengantri dengan kendaraan lain di sebuah lampu merah.


Pikirannya masih memutar kejadian di rumah neneknya yang baru saja dia tinggalkan. Makan malam yang seharusnya menjadi ajang untuk bersilaturahmi antar anggota keluarga, berakhir dengan perang dingin antara dirinya dengan sang paman. Jauh sekali dari harapan sang nenek yang ingin mendekatkan seluruh anggota keluarganya.


Kalau saja dia tidak ingat untuk menghormati neneknya, tak ingin rasanya dia berlama-lama berada dirumah itu. Makanan yang harusnya terasa sedap, malah membuat tenggorokannya terasa perit dan selera makannya hilang entah kemana.


Dia hanya makan sedikit saja dan langsung pamit pulang kepada nenek dan mamanya. Dengan sangat menyesal, neneknya mengijinkan dia untuk pulang lebih awal. Mungkin neneknya mengerti suasana hati Denis. Dan dia tidak ingin memperburuk suasana di rumah itu. Lagipula, sepertinya Alex tidak akan datang untuk menyusulnya. Jadi tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama dirumah neneknya.


Denis tak habis pikir, kenapa Damian semakin hari semakin menunjukkan rasa tidak suka kepada dirinya. Apakah memang murni karena ketidaksukaannya kepada teman Denis, ataukah ada masalah lain yang membuatnya bersikap demikian?


Denis menggelengkan kepalanya pelan.


Matanya menyipit saat melihat sebuah mobil yang berada dibarisan sebelah kiri darinya. Dengan posisi mobil itu yang berada didepan, Denis dapat melihat flat nomor kendaraan tersebut dengan jelas karena tersorot lampu kendaraan di belakangnya.


Denis memajukan motornya dengan hati-hati.


Lampu didepan sana sudah berganti hijau, namun kendaraan masih berjalan pelan menunggu hingga yang didepan benar-benar bergerak.


Denis mendekatkan motornya dengan mobil itu, setelah merasa yakin kalau itu adalah mobil Alex. Dia tersenyum tipis membayangkan wajah Alex yang terkejut karena berjumpa dengan sang istri di jalanan.


Namun senyum Denis surut seketika manakala dilihatnya Alex tidak sendiri didalam mobil itu. Ada seseorang didalam sana yang nampak sedang tertawa bahagia di samping Alex. Walaupun tidak begitu jelas karena kaca mobil yang gelap, namun Denis sudah bisa menebak siapa yang sekarang sedang bersama dengan Alex di dalam mobil itu.


Dengan sengaja Denis mendahului mobil itu. Memelankan motornya dan berhenti tepat di depan mobil Alex saat laju lalu lintas kembali tersendat. Memainkan gas motornya hingga mengepulkan asap yang mengaburi pandangan Alex.


Didalam mobil, Alex menyipitkan matanya melihat sosok yang sangat dikenalnya itu. Walaupun asap knalpot menghalangi pandangannya, namun dia tidak salah lagi dalam mengenali sosok itu. Alex juga sangat hapal dengan flat nomor motor Denis.


Alex sangat terkejut melihat siapa yang berada didepannya saat ini. Seketika jantungnya berdetak tak beraturan setelah yakin kalau itu adalah Denis. Dia gelisah.


"Kenapa?" Wanita disampingnya dapat melihat kegelisahan Alex.


Alex tidak menyahut. Dia mengambil handphone-nya dan mulai menekan nomor Denis. Namun sepertinya Denis mengabaikan deringan teleponnya. Motornya malah melaju meninggalkan mobil Alex saat lalu lintas kembali bergerak. Sekejap saja motornya sudah menjauh menyelinap diantara kendaraan lain. Sedangkan Alex masih harus bersabar karena mobilnya masih terhalang oleh kendaraan lain.


"Ada apa sih?" Wanita disampingnya semakin penasaran melihat raut wajah Alex saat ini.


"Denis..."


"Denis? Mana?" Wanita itu adalah Viola. Dia sama terkejutnya dengan Alex saat mendengar nama Denis disebut oleh Alex.


"Sudah jauh ke depan. Itu, yang memakai motor warna merah." Alex menunjuk dengan dagunya. Jarinya sibuk menekan tombol ponselnya, terus mencoba menghubungi Denis. Namun, usahanya sia-sia. Denis mengabaikannya.


"Maafkan aku Vio, sepertinya aku harus cepat mengantar kamu pulang dan tidak bisa mampir."


Alex melajukan mobilnya, mencari celah agar bisa segera keluar dari antrian kendaraan yang masih mengular. Dia harus segera menyusul Denis.


Dia berharap Denis tidak melihatnya bersama Viola. Namun itu sangat tidak mungkin. Sepertinya Denis mengetahui keberadaannya bersama Viola, tadi.


Wanita cantik yang duduk disebelahnya hanya terdiam. Menatap jalanan dengan tatapan nanar. Senyuman kebahagiaan di wajahnya langsung memudar.


"Apa Denis melihatku?"


"Aku tidak tahu. Tapi kemungkinan besar, ya." Dengan lincah tangan Alex memutar kemudi mobil. Menambah kecepatan saat dia memiliki kesempatan untuk melaju lebih cepat. Dia ingin segera tiba ditujuan, yaitu rumah Viola. Dan sebisa mungkin segera pulang untuk menemui Denis.

__ADS_1


"Maafkan aku. Kalau sampai Denis salah paham dan marah, itu semua salahku." Viola melirik Alex yang nampak sangat panik. Ada sedikit rasa sakit didalam hati Viola melihat raut wajah Alex yang begitu mengkhawatirkan Denis.


"Tidak usah khawatir. Belum tentu Denis melihat kita tadi. Lagipula aku bisa menjelaskan semuanya pada Denis. Dia pasti bisa menerima penjelasanku." Sungguh, Alex sebenarnya merasa tidak yakin dengan ucapannya sendiri. Namun dia tidak mau membuat Viola merasa bersalah.


Yang salah di sini adalah dirinya. Kenapa dia tidak bisa menolak ajakan Viola untuk mencari hadiah ulang tahun untuk mamanya? Kalau saja dia menolak dengan tegas ajakan Viola, tentu semua ini tidak akan terjadi.


Di tempat lain, Denis membawa motornya ke tempat yang biasa dia gunakan buat nongkrong dengan teman-temannya. Memarkirkan motornya diantara beberapa motor yang sudah terparkir lebih dahulu disana dan melepas helm yang membalut kepalanya.


Sekelompok pemuda sedang berkumpul di pinggir jalan itu. Diantara mereka ada juga beberapa wanita.


Denis melangkahkan kakinya mendatangi orang-orang yang sudah sangat dia kenali bahkan hanya dari melihat kendaraannya. Salah satu diantaranya menyerukan nama Denis dan melambaikan tangan. Kedatangan Denis membuat suasana semakin riuh. Mereka menyambut Denis dengan hangat.


"Wow! Lihat siapa yang datang!"


"Pengantin baru ...."


"Hallo, Denis ..."


Denis tersenyum dan menyalami mereka satu per satu.


Denis mengerutkan keningnya saat melihat seorang gadis yang kehadirannya di tempat itu terasa sangat janggal.


"Lho? Mas Denis?" Gadis itu pun terkejut dengan kehadiran Denis disana. Matanya membulat menatap Denis.


"Lo ngapain disini?" Mata Denis menyipit.


"Mas Denis ngapain disini?"


"Dia sama gue," Ricko yang ada diantara orang-orang itu cepat menyela.


"Dia? Sama lo?" Denis mengerutkan keningnya. Matanya memicing menatap gadis itu penuh tanya.


"Iya. Jadi ..." Ricko melingkarkan tangannya di pundak gadis itu. "Mariana ini cewek gue sekarang."


"Apa?"


"Gak usah pura-pura budeg gitu. Lo gak salah denger."


"Lo pacaran sama dia?" Seolah Denis masih kurang yakin dengan informasi yang baru didapatnya. "Kok bisa?"


"Ya bisa lah." Ricko menyahut enteng.


"Tahu enggak lo, Den? Ricko sebenarnya demen sama lo. Tapi lo gak peka, jadinya dia cari cewek beneran. Bhahaha .... "


Ucapan seorang teman Denis membuat teman-temannya yang lain tertawa terbahak-bahak. Ricko melebarkan matanya menatap cowok yang baru saja bicara, memberi isyarat agar tidak melanjutkan ucapannya.


Mariana mendelik ke arah Ricko.


"Beneran kamu suka sama Mas Denis?" Bibirnya mengerucut dengan mata tajam menatap Ricko.


"Ya enggaklah. Masa aku suka sama cewek jadi-jadian kayak dia. Kamu aja panggil dia 'mas'. Aku sukanya sama cewek asli kayak kamu," Ricko menjawil dagu Mariana. Namun secepatnya gadis itu memalingkan wajahnya menghindari tangan pria itu.


"Siapa yang lo bilang cewek jadi-jadian? Maksud lo, gue?" Giliran Denis membelalakkan matanya ke arah Ricko.

__ADS_1


"Yaa, siapa lagi?" Ricko menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Asem lo," Denis mendelik kesal. "Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan kalian pacaran? Kok bisa lo berdua pacaran?" Denis masih penasaran dengan jawaban Ricko yang asal.


"Kepo lo. Gue, sama Mariana pacaran gak usah bikin lo heran. Yang aneh tuh elo, pengantin baru kelayapan nyampe sini. Napa lo? Berantem sama laki lo? Apa kangen sama kita?" Bukannya menjawab pertanyaan Denis, Ricko malah menggoda Denis dengan pertanyaannya.


"Gue kangen sama lo semua."


"Masih ingat Lo sama kita? Bukannya waktu Jack sama anak buahnya datang ke pesta Lo, mereka malah diusir tuh," Seseorang nyeletuk dengan nada sedikit sinis. Denis menoleh ke arah orang itu.


"Bukan gue yang ngusir bang Jack sama yang lain. Gue sudah minta maaf sama Bang Jack. Mereka memaklumi kejadian itu dan enggak nyalahin gue. Kenapa sekarang lo malah nyindir gue?"


"Gue enggak nyindir Lo. Itu kenyataannya 'kan? Lo dah beda sekarang. Lo enggak butuh orang kayak kita-kita."


"Maksud lo apa?" Suara Denis meninggi.


"Gue gak mau ya setelah ini ada masalah sama lo!"


"Dengan lo ngomong gitu ke gue, berarti Lo nyari masalah sama gue!"


"Sudah, sudah! Kenapa jadi bertengkar?" Ricko segera menengahi. Dia menatap bergantian Denis dan temannya yang bernama Juna.


"Bukan sehari dua hari gue kenal sama Denis. Lo gak perlu ngomong kayak gitu sama dia. Lo kayak gak kenal dia aja." Ucap Ricko kepada Juna. "Kita semua tahu Denis dari dulu. Enggak mungkin Denis seperti itu."


"Gak ada yang gak mungkin didunia ini, Rick. Dia dulu butuh kita karena gak dianggap di keluarganya. Sekarang dia sudah diterima di keluarganya bahkan sudah punya suami konglomerat. Bisa aja 'kan dia berubah?" Juna masih tetap ngotot dengan pendiriannya.


"Cukup!" Ricko menatap tajam Juna. "Gue harap Lo becanda ngomong gini sama Denis. Dia ini teman kita. Dia bisa menemui kita kapanpun dia mau."


"Gapapa, Rick. Gue tahu sudah mengganggu kalian. Sebaiknya gue pergi dari sini." Denis kembali ke motornya dan mengenakan helmnya. Tak digubrisnya panggilan Ricko yang mencoba menahannya agar tidak pergi. Motornya dengan cepat melaju meninggalkan tempat itu.


Denis memacu motornya dengan kecepatan tinggi membawa suasana hatinya yang semakin tidak menentu. Hari yang semakin beranjak menuju jantung malam, membuat jalanan agak sepi dari kendaraan di kawasan itu.


Disebuah tikungan yang agak gelap, tanpa diduganya seseorang menyeberang dari arah kiri saat motor Denis sudah cukup dekat. Denis terkejut bukan main. Spontan Denis mengerem motornya. Namun semuanya sudah terlambat.


Brakk!!


Hal yang tidak diinginkan pun terjadi.


.


.


.


.


.


.


.


*******

__ADS_1


__ADS_2