Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tujuh Puluh Delapan


__ADS_3

Angin senja meniup perlahan menerbangkan rambut atas Denis. Tatapannya jauh melintasi halaman belakang rumah mamanya yang menghampar dibawah sana. Dia sedang berdiri di balkon kamarnya. Menopangkan kedua tangannya pada pagar besi yang menjadi pembatas ditepinya.


Matanya buram. Nafasnya terasa berat. Beban didadanya semakin bertambah. Entah kapan dia akan merasakan kebahagiaan. Masalah demi masalah terus menghampirinya. Kadang dia berfikir, mungkin dia memang dilahirkan untuk tidak bahagia.


Flashback


Rasa penasaran Denis akan sosok yang telah menggantikan dirinya untuk memberikan ginjal pada nenek membuatnya mencari tahu sendiri informasi itu. Dia masih menunggu di depan ruang operasi setelah neneknya dipindahkan keruang rawat intensif dan semua orang ikut mengantar nenek kesana.


Seorang dokter bicara serius dengan polisi yang berjaga didepan ruangan itu.


Tidak lama kemudian sebuah brankar keluar dari ruang operasi membawa tubuh seorang pria yang terbaring tak sadarkan diri. Denis terpana. Matanya tak berkedip melihat siapa orang yang berada diatas brankar itu.


"Apakah dia yang telah mendonorkan ginjalnya pada nenek Aryanti?" Pertanyaaan itu dia lontarkan pada dokter yang mengiringi tubuh itu. Dokter mengiyakan. Denis terpaku menatap brankar yang semakin jauh dan nampak diujung lorong ada mobil ambulance yang sudah menunggu.


Rupanya pria itu akan dibawa ke sebuah rumah sakit lain. Disana dia akan mendapatkan perawatan dan penjagaan yang seharusnya karena dia adalah seorang narapidana.


Flashback off


Seseorang tiba-tiba berdiri disampingnya. Melakukan hal yang sama seperti yang Denis lakukan. Menopangkan tangannya dipagar pembatas dan menatap jauh sejauh Denis memandang. Helaan nafas terdengar setelah beberapa saat keduanya berdiri bersisian.


"Lo pasti sudah tahu siapa orang yang sudah mendonorkan ginjalnya buat nenek?" Denis bersuara setelah agak lama mereka hanya terdiam.


"Kamu tahu?" Pria yang berdiri disebelahnya bertanya. Siapa lagi kalau bukan Alex.


"Ya."


"Siapa?"


"Pria itu.."


"Pria itu?"


"Bisma.."


"Dia papamu."


Denis terdiam. Bibirnya bergerak pelan. Sepertinya dia sedang menahan rasa didalam dadanya.


Alex menunggu.


Tentu saja dia sudah tahu sejak sebelumnya kalau Bisma yang menggantikan Denis mendonorkan ginjalnya buat nenek. Pak Yunus sudah memberitahunya saat dia berada dirumah sakit. Tapi dia tidak ingin mengatakannya karena memang itu keinginan pendonor untuk merahasiakan identitasnya. Lagipula, dia tidak ingin mengacaukan proses operasi itu seandainya Denis tahu pada saat itu.


Sekarang Denis sudah tahu. Dan Alex menunggu apa reaksi gadis itu sekarang. Apakah dia akan marah?


"Kenapa pria itu melakukannya?" Denis menggeram pelan. Matanya yang kelam menatap lurus jauh kedepan. "Apa lo dibalik semua itu?" Tanpa menoleh kepada Alex.


Alex tercekat. Bagaimana bisa gadis itu langsung menuduhnya dengan telak seperti itu.


"Aku minta maaf." Ujar Alex ragu. "Sebenarnya, aku menemui dia beberapa hari yang lalu. Aku memberitahu dia bahwa kamu akan menjalani operasi untuk mendonorkan ginjal pada nenek."

__ADS_1


"Kenapa lo ngelakuin itu? Lo gak berhak mencampuri hidup gue." Mata gadis itu berkilat menatap Alex sekilas. Kemudian dia kembali membuang tatapannya. Nampak dia sangat marah kepada Alex.


"Aku mencintaimu. Aku khawatir sama kamu. Aku tidak rela sesuatu terjadi padamu setelah melakukan operasi itu."


"Tapi tidak dengan meminta pria itu untuk menggantikan gue. Lo tahu gue benci sama pria itu. Begitu juga sama mama dan nenek. Semua orang tidak ada yang suka sama pria itu." Nada suaranya sedikit meninggi.


"Aku tidak memintanya buat menjadi pendonor buat nenek. Aku hanya memberitahunya saja kalau kamu akan melakukan operasi. Dia papamu. Bagaimanapun juga dia berhak tahu tentang kamu."


"Dia gak punya hak apa-apa atas gue."


"Tapi dia peduli sama kamu. Buktinya dia mau menggantikan kamu buat memberikan ginjalnya buat nenek. Dia ingin menebus semua kesalahannya di masa lalu."


"Gak mungkin dia berpikir seperti itu." Denis tersenyum miring.


"Dia sangat merasa bersalah. Percayalah, dia sangat menyesal atas semua yang sudah dia lakukan padamu. Dia melakukan itu untuk menebus kesalahannya padamu."


Denis menggelengkan kepalanya.


"Kenapa lo menemui dia? Lo juga membencinya kan? Dia musuh lo."


"Aku memang sangat membencinya. Tapi dia sudah mendapatkan hukuman atas semua yang dia lakukan. Biarlah proses hukum tetap berjalan. Dia juga sudah menyesali semua perbuatannya. Itu sudah cukup bagiku."


Denis tersenyum kecut.


"Tidak mungkin. Dia tidak akan semudah itu menyesali perbuatannya."


Denis tersenyum miring. Kepalanya menggeleng pelan.


"Kenapa lo sangat peduli sama gue? Harusnya lo jauhin gue." Sekarang mata keduanya saling beradu. Dengan sorot yang berbeda. Namun mengandung luka yang sama.


"Tidak akan pernah." Alex memperdalam tatapannya. Meyakinkan gadis itu kalau dia tidak main-main dengan ucapannya. "Dan, jangan pernah memintaku untuk menjauh dari kamu."


"Gue gak pantes buat lo." Denis memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Alex.


"Biar aku yang menentukan itu."


"Gue.."


Alex menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Mendekapnya erat dan membenamkan wajah Denis dibahunya. Tangan kirinya mengelus kepala Denis dengan lembut


"Jangan mencari alasan untuk menjauh dariku." Bisiknya ditelinga gadis itu.


Denis memejamkan matanya. Kedua tangannya menggantung disisi tubuhnya. Jemarinya mengepal menahan dirinya sendiri untuk tidak membalas pelukan pria itu. Walaupun sebenarnya dia sangat ingin melakukannya.


*****


Malam ini Aryanti mengundang seluruh anggota keluarganya datang kerumahnya untuk makan malam bersama. Setelah menjalani perawatan yang intensif akhirnya dia dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah dengan berbagai peraturan yang harus dia patuhi selama masa pemulihan dan seterusnya.


Dia ingin mengumpulkan anak cucunya di rumah sebagai tanda syukur karena dia sudah bisa melewati operasi itu dengan lancar.

__ADS_1


Anak Aryanti hanya dua, yaitu Damian dan Rania. Damian memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Sedangkan Rania memiliki seorang putri dari Bisma yaitu Denis. Dan dari pernikahannya dengan Andres, dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang sekarang sedang kuliah diluar negeri. Sehingga pada acara makan malam kali ini putranya dari Andres itu tidak bisa hadir berkumpul bersama keluarga besar Adi Wijaya.


Rania memaksa Denis untuk pergi walaupun nampak gadis itu sangat enggan untuk menemani mamanya pergi ke rumah Aryanti.


Setelah dibujuk berkali-kali akhirnya dengan terpaksa Denis mau pergi bersama mamanya. Andres menyetir mobil dan Rania duduk disampingnya dengan anggun. Sedangkan Denis, dia menggunakan motor kesayangannya yang berjalan beriringan dengan mobil Andres.


Denis sangat mencolok diantara anggota keluarga yang lain. Penampilannya yang seadanya tak urung membuat dia menjadi pusat perhatian dari semua orang. Namun dia tidak peduli dengan tatapan aneh dari anggota keluarga yang lain, terutama putra putri Damian tentunya. Begitu juga dengan Rania. Dia tidak mempermasalahkan penampilan anaknya sama sekali. Mereka mengabaikan semua tatapan dari orang-orang yang ada.


"Terima kasih ibu ucapkan pada Damian dan Rania juga menantu ibu yang selama ini selalu mendukung ibu dan tetap memberikan semangat kepada ibu." Aryanti berucap sebelum acara makan malam dimulai. Suaranya pelan namun tegas menunjukkan bahwa posisinya tetap berada diurutan teratas dalam keluarga itu.


"Ibu meminta maaf pada kalian semua jika ibu selama ini memiliki salah pada kalian." Mata Aryanti menatap setiap anggota keluarganya. Untuk pertama kalinya dia melakukan ini. Sebagai seorang yang selalu bersikap tegas dan keras, hampir tidak pernah dia meminta maaf pada orang lain. Semua orang sudah tahu sifatnya itu.


Tentu saja Damian dan Rania merasa sedikit terkejut. Namun mereka hanya diam mendengarkan semua ucapan yang disampaikan oleh Aryanti.


"Kepada cucu-cucu nenek, hidup rukunlah kalian. Tetap saling mendukung satu sama lain. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi diwaktu yang akan datang. Dalam keadaan yang paling buruk sekalipun, keluarga akan selalu ada untuk bersama menghadapinya." Lanjut Aryanti. Kemudian matanya beralih kepada Denis.


"Denis, maafkan nenek yang selama ini selalu bersikap buruk kepadamu. Nenek tidak pernah membencimu. Nenek menyayangimu sama seperti nenek menyayangi cucu nenek yang lain." Tatapannya dalam memaku wajah Denis. Denis hanya diam dengan tatapannya jatuh diatas meja yang penuh dengan makanan. Tidak ada kata yang terucap sedikitpun dari bibirnya.


Acara makan malam berlangsung dengan tenang dan khidmat. Semua menikmati santap malam dalam keadaan yang sedikit canggung. Tidak ada keakraban yang berarti sesama anggota keluarga. Kedua anak Damian nampak tidak mempedulikan kehadiran Denis. Pun begitu sebaliknya. Tidak ada niat sedikitpun dihati Denis untuk bertegur sapa dengan kedua sepupunya. Walaupun Aryanti telah berkata agar mereka saling akrab satu sama lain, namun pada kenyataannya mereka sudah terbiasa saling menjauh.


Selesai makan malam, Aryanti masuk kekamarnya dibantu oleh perawatnya. Sebelumnya dia meminta Denis agar mengikutinya.


Tanpa banyak pertanyaan Denis mematuhi perintah neneknya. Dia mengikuti wanita itu masuk ke kamarnya.


Wanita itu sudah duduk ditepi pembaringan. Perawat yang selalu menjaganya keluar setelah melemparkan senyumannya kepada Denis.


Denis berdiri dihadapan wanita itu. Menunggu apa yang akan dikatakan Aryanti kepada dirinya.


"Kamu tahu, nenek pernah bilang kalau nenek tidak pernah membencimu." Aryanti membuka suara setelah pintu kamarnya menutup sempurna. "Nenek hanya tidak pernah suka kepada lelaki yang telah menghancurkan masa depan mamamu. Nenek sangat membencinya."


Denis masih mendengarkan semua perkataan wanita tua itu.


"Dan sekarang, dia telah memberikan ginjalnya untuk nenek. Dia bilang dia sangat menyesal atas semua perbuatannya dimasa lalu. Dia juga tidak ingin kalau kamu mengorbankan dirimu untuk nenek. Dia tidak ingin sesuatu terjadi padamu sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa untukmu. Dia bilang, setidaknya satu kali dalam hidupnya, dia ingin melakukan sesuatu untuk menebus kesalahannya."


Mata Denis mengerjap. Dia melarikan pandangannya keluar kamar Aryanti melalui jendela kaca besar yang ada diseberang tempatnya berdiri.


"Nenek tidak bisa menolak keinginannya. Nenek sangat membutuhkan ginjal itu. Nenek juga tidak bisa memaksamu untuk memberikan ginjalmu pada nenek karena sesungguhnya nenek tidak pernah tega melakukannya. Nenek tidak sungguh-sungguh akan melakukan itu. Nenek hanya ingin tahu saja sejauh mana kamu akan berkorban untuk nenek. Ternyata kamu setuju untuk melakukannya."


Wanita itu nampak mulai tersengal. Mungkin karena terlalu banyak bicara hingga dia nampak sangat kelelahan.


"Sudahlah. Nenek harus istirahat." Denis menatap wanita itu.


"Maafkan nenek. Apapun yang nenek lakukan, jangan pergi lagi meninggalkan keluarga ini. Kamu tetap cucu nenek, apapun yang terjadi."


Denis mengangguk. Dengan telaten dia membantu wanita itu membaringkan tubuhnya diatas pembaringan. Menarik selimut dan menutupkannya pada tubuh sang nenek.


"Tidurlah. Jangan terlalu banyak yang dipikirkan."


*******

__ADS_1


__ADS_2