
Alex menggenggam tangan Arga Dinata dengan air mata yang terus menerus meleleh dipipinya. Hilang sudah kewibawaannya yang selama ini tersemat didirinya. Hatinya rapuh melihat penderitaan yang belum berakhir dirasakan oleh papanya.
"Maaf. Sebaiknya anda menunggu diluar. Kami akan memberikan tindakan kepada pasien." Dokter yang menangani Arga Dinata mengusir dia secara halus. Dengan berat hati Alex melepaskan genggaman di tangan papanya.
Viola menarik tangan Alex keluar dari ruangan itu. Membawanya duduk dikursi panjang didepan ruangan tempat Arga Dinata mendapat perawatan.
Alex mendongakkan wajahnya dengan mata terpejam. Menahan air mata agar berhenti mengalir. Namun usahanya sia-sia. Tetap saja air mata itu meleleh membasahi pipinya.
Viola mengusap tangan Alex sambil menatap pria itu.
"Sabar ya, Lex. Aku yakin, om Arga pasti bisa melewati ini semua." Lembut suara Viola didekat telinga Alex. Direngkuhnya bahu pria itu dan mendekapnya dalam pelukan. Alex hanya diam menerima perlakuan Viola kepada dirinya. Sesungguhnya dia memerlukan hal seperti itu saat ini. Hatinya terasa sedikit tenang berada dalam pelukan seseorang.
"Terima kasih, Vio. Kamu selalu ada saat aku membutuhkan. Terima kasih juga karena kamu selalu sabar menghadapi sikapku selama ini." Alex mengusap air mata yang masih saja meluncur dipipinya.
"Aku akan selalu menemani kamu saat suka dan duka. Kamu jangan pernah meragukan aku." Viola merebahkan kepalanya dibahu Alex. Memejamkan matanya menikmati satu rasa yang sangat luar biasa. Untuk pertama kalinya Alex tidak menolak apa yang dilakukannya. Alex menerima sentuhan darinya. Walaupun mungkin karena keadaan papanya yang sedang kritis hingga Alex membiarkan apapun yang dilakukan Viola saat ini. Pria itu seolah tidak memiliki energi lagi untuk menolak Viola.
"Terima kasih Vio." Alex menyentuh tangan Viola yang melingkari tubuhnya. Mengusap tangan itu seolah menegaskan kalau dia tidak masalah sama sekali dengan pelukan Viola saat ini.
Saat itu terlihat seseorang baru saja keluar dari pintu lift yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berada. Tanpa sengaja mata mereka beradu dan membuat Alex agak tersentak. Dia seperti baru tersadar dengan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Viola. Segera dia menghapus sisa air mata diwajahnya.
Dia bermaksud melepaskan pelukan Viola ditubuhnya. Namun gadis itu malah mengeratkan pelukannya ketika melihat siapa yang datang. Entah perasaan apa yang saat ini melingkupi hatinya. Seperti seorang yang kedapatan selingkuh atau apa, entahlah. Alex merasakan sesuatu yang membuat dia tak nyaman berhadapan dengan Denis.
Denis berjalan mendekat dengan sedikit ragu. Dia tidak menyangka akan menyaksikan pemandangan yang tidak dia harapkan untuk dilihat. Ada sedikit rasa sakit diulu hatinya saat melihat kedekatan Alex dan Viola.
"Denis." Alex melonggarkan tangan Viola. Entah mengapa dia jadi merasa sedikit canggung dihadapan Denis. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bahkan ketika Viola memeluknya tadi, jantungnya biasa-biasa saja.
"Gimana keadaan pak Arga?" Tanya Denis sebiasa mungkin.
"Dia sedang ditangani oleh dokter." Alex bangkit dari tempat duduknya, mengatur nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Denis. Dia sedikit menjauhkan dirinya dari Viola dan mendekati Denis.
"Gimana? Apa mereka berhasil ditangkap?" Tanyanya pada Denis dengan suara pelan.
Denis menggeleng.
"Sorry. Gue gak bisa ngejar mereka. Tapi anak buah lo sudah disebar buat terus mencari mereka."
Viola yang masih ditempat dia duduk menatap dua orang yang sedang bicara dengan suara pelan. Dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Hatinya sangat dongkol dengan kedatangan Denis disaat dia sedang menikmati kedekatannya dengan Alex.
Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruangan tempat Arga Dinata mendapat perawatan. Alex beranjak mendekati dokter itu.
"Bagaimana keadaan papa saya, Dokter?"
__ADS_1
"Pak Alex? Mari ikut saya.."
Dokter itu melanjutkan langkahnya diikuti Alex dibelakangnya. Suara langkah kaki mereka bergema menyusuri koridor rumah sakit yang sepi menuju ruangan kerja dokter itu.
Viola segera bangkit dan mendekati Denis.
"Kenapa kamu datang kesini?" Tanyanya sinis. Matanya tajam menatap Denis.
"Tentu saja untuk menemui Alex. Urusan gue hanya sama dia." Denis melengoskan wajah datarnya.
"Aku pernah bilang sama kamu buat ngejauhin Alex 'kan?"
"Kenapa gue harus nurut sama ucapan lo?"
"Kamu.." Viola menghempaskan nafasnya dengan gusar. "Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Alex. Kamu harus menjauhi dia."
Denis tersenyum sinis. Dia tidak menyahut ucapan Viola. Dikeluarkannya ponsel dari saku jaketnya. Dia duduk dan memeriksa beberapa pesan yang ada di ponselnya.
"Kamu dengar apa yang aku bilang tadi 'kan?" Viola menekankan suaranya. Rasanya dia tak tahan melihat Denis yang tak menghiraukan ucapannya. Denis hanya menggelengkan kepalanya pelan, merasa percuma melayani gadis itu yang marah padanya tanpa alasan yang jelas.
Untunglah Alex datang tidak lama kemudian. Wajahnya masih terlihat murung. Viola segera menghampiri pria itu.
"Untuk saat ini, aku hanya disuruh menunggu. Dokter bilang, harapannya sangat tipis, tapi aku tak akan berhenti berharap. Aku yakin papa akan baik-baik saja."
Ucapan Alex diaminkan oleh Viola dan Denis.
"Sekarang aku mau melihat keadaan papa." Tanpa menunggu jawaban dari Viola, Alex masuk kedalam ruangan tempat Arga Dinata dirawat. Viola mengikutinya di belakang tubuh pria itu.
Denis tak beranjak dari tempat duduknya, hanya memperhatikan melalui sudut matanya.
Deringan telepon ditangannya membuat dia segera mengalihkan perhatian.
"Hallo? Apa? Terus awasi dia. Jangan sampai terlepas lagi."
Denis beranjak dari tempat duduknya setelah panggilan telepon berakhir. Ditatapnya pintu kamar perawatan Arga Dinata yang didalamnya ada Alex dan Viola sesaat. Kemudian dia meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam lift sambil menelepon anak buah Alex agar naik dan berjaga didepan kamar.
*****
Disisi pembaringan Alex terdiam menatap papanya yang semakin mengkhawatirkan. Nafasnya yang pelan dan lemah membuat dada Alex terasa sesak.
"Sebaiknya kamu istirahat. Biar aku yang menjaga om Arga." Viola menyentuh bahu pria itu pelan.
__ADS_1
"Aku ingin terus berada didekat papaku. Aku ingin ketika dia membuka mata, akulah orang pertama yang dia lihat. Aku ingin dia tahu, bahwa aku tidak pernah meninggalkannya. Aku tidak pernah mengkhianatinya. Kamu tahu Vio, hanya aku yang dimiliki oleh papaku." Lirih suara Alex dengan mata yang tak lepas dari wajah damai Arga Dinata.
"Aku juga tidak pernah meninggalkan kalian. Kamu harus ingat itu. Kalian juga memiliki aku."
"Ya. Aku tak akan melupakan itu. Aku berterima kasih padamu."
Hening sesaat. Hanya bunyi peralatan medis yang tersambung ke tubuh Arga Dinata yang terdengar begitu nyaring didalam ruangan yang sunyi itu.
"Papa dan mamaku menelepon." Viola memecah keheningan diantara mereka. "Mereka turut bersimpati dengan semua yang terjadi. Mereka akan mengatur waktu agar bisa datang menjenguk om Arga."
"Terima kasih sebelumnya. Tapi kalau mereka sibuk, tidak apa kalau tidak datang."
"Mereka juga ingin bertemu sama kamu. Mereka sangat senang karena kamu ternyata masih hidup dan ada dalam keadaan baik."
"Yah..Tidak cukup baik untuk sekarang ini." Alex mendesah.
"Aku tahu.."
"Sebaiknya kamu pulang dan istirahatlah di rumah. Kamu pasti sangat lelah karena menjaga papaku."
"Aku tidak merasa lelah, aku malah senang melakukannya. Aku ingin membantu kamu."
"Jangan keras kepala, Vio. Aku juga khawatir dengan kesehatan kamu."
Viola tertegun. Matanya yang bening memancar kebahagiaan mendengar ucapan sederhana dari Alex. Hanya kata-kata yang tiada arti bagi Alex tapi sungguh sarat akan makna bagi Viola. Senyuman melebar di wajahnya.
"Baiklah. Aku akan pulang. Besok aku akan datang lagi untuk menjaga om Arga."
"Terserah kamu saja." Alex tidak memalingkan wajahnya dari papanya.
"Aku akan menyuruh orang untuk mengantar makanan buat kamu." Viola bangkit dari tempat duduknya. Mengambil tasnya dan menyampirkan dibahunya.
"Jangan khawatirkan hal itu. Aku bisa membelinya kalau aku lapar."
"Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu."
Berat rasanya meninggalkan pria itu sendirian dalam kesedihan. Kalau boleh, Viola ingin setiap waktu berada dekat dengan Alex. Namun dia tidak ingin membuat pria itu kembali ke sikap asalnya. Biarlah sekarang dia menurut dengan apa yang diinginkan oleh pria itu. Setidaknya, dia merasa sudah ada kemajuan dalam sikap Alex terhadap dirinya.
Viola meninggalkan kamar itu dengan senyuman yang terus tersungging dibibirnya.
*****
__ADS_1