Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tujuh Puluh Lima


__ADS_3

Siang itu Alex mendapat telepon dari Viola. Gadis itu ingin bertemu dengannya sebelum pergi keluar negeri untuk melanjutkan pendidikannya di bidang Fashion.


Walaupun Alex tahu bukan itu sebenarnya tujuan utama gadis itu keluar negeri. Alex tahu gadis itu ingin menghindar darinya. Gadis itu sedang mencoba untuk melupakan rasa cinta yang terlalu dalam untuk dirinya. Oleh sebab itu Alex setuju untuk bertemu Viola siang ini. Hanya sekedar untuk menyenangkan gadis itu untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpisah.


Rasa kecewa karena pertunangan mereka yang gagal membuat Viola sangat sedih dan tidak bisa melupakan pria itu. Andai saja dia bisa melakukan sesuatu untuk mendapatkan hati pria itu, pasti akan dia lakukan. Sayang sekali, Viola sadar sesadar-sadarnya, bahwa apapun yang dia lakukan, tak akan mampu mengubah hati pria itu. Selama apapun dia mencoba menggoyahkan hati Alex, semuanya sia-sia saja. Dia sudah membuktikannya selama bertahun-tahun.


Saat ini yang dia lakukan hanyalah mengikuti keinginan pria itu. Menjadikannya teman seperti yang sudah dia lakukan selama ini. Menganggap tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Walau itu merupakan hal tersulit yang harus dia lakukan dalam hidupnya.


Viola mengajak Alex untuk bertemu di sebuah cafe. Dia memberikan alamat kafe itu kepada Alex dan berjanji untuk bertemu saat jam makan siang disana.


Alex sedikit terkejut saat tahu alamat yang diberikan oleh Viola merupakan cafe tempat Mariana bekerja. Rasa terkejutnya semakin bertambah saat dia melihat siapa yang sedang berada didalam cafe itu.


Awalnya dia mengira telah salah mengenali orang yang sedang duduk berhadapan dengan seorang pria. Namun saat dia mendekat untuk meyakinkan pandangannya, Alex benar-benar terkejut dan ada rasa aneh yang menyelinap ke dalam hatinya.


"Denis?"


Ditatapnya dengan tajam dua orang yang sedang asyik berbicara itu bergantian. Kelihatannya mereka sangat dekat dan Denis nampak sangat menikmati obrolannya dengan pria itu. Hal yang tak pernah dia lakukan jika sedang bicara dengan Alex. Selama ini dia selalu bersikap kaku dan cenderung kasar saat berhadapan dengan Alex. Namun saat berbicara dengan pria itu, kelihatan dia bersikap biasa saja dan sangat normal.


"Aku tidak tahu kamu ada disini." Alex duduk disamping Denis tanpa permisi. Matanya lekat menatap gadis tomboy itu, sesekali melirik Ricko yang sedang memperhatikannya. "Sama siapa ini?" Tanya Alex kemudian.


"Temen." Sahut Denis singkat.


"Gue Ricko." Ricko berinisiatif mengulurkan tangannya.


"Alex." Disambut dengan sedikit kaku oleh Alex. Ricko menggerakkan sedikit alisnya saat menatap Denis, seolah bertanya siapa pria yang baru saja datang mengganggu mereka. Denis hanya mengangkat bahunya tak menghiraukan keingintahuan pria itu.


"Kenapa kamu ada disini? Seharusnya kamu kan.."


"Alex!" Sebuah suara menginterupsi ucapan Alex. Serentak ketiga orang itu menoleh kearah datangnya suara.


Senyuman lebar Viola menyusut perlahan ketika melihat siapa yang sedang bersama Alex. Pun wajah Denis semakin mengeras melihat siapa yang baru saja datang.


"Hai.." Ragu Viola menyapa ketiga orang itu.


"Vio.."


"Sorry. Aku telat. Tadi macet banget." Mata indah Viola bergerak melirik Alex dan Denis.


"Denis? Kamu juga ada disini? Apa kalian..?"


"Enggak..Gue sama dia." Denis menunjuk Ricko dengan dagunya, mengerti arah ucapan Viola. "Kalau kalian mau ngobrol, silakan cari meja lain."


"Kayaknya lebih baik disini aja. Lagian kebetulan ada kamu disini. Jadi aku bisa sekalian pamitan sama kamu." Viola duduk diantara Denis dan Ricko sehingga posisinya berhadapan dengan Alex.


"Pamitan?"


"Iya.."


"Selamat siang.." Mariana datang menginterupsi. Senyuman manisnya melebar ketika melihat ada Alex disana.


"Hai mas Alex..Kok baru datang sih. Kenapa gak dari tadi sama mas Denis?" Tak menghiraukan keberadaan Viola disana.


"Hai Mariana. Apa kabar?" Alex tersenyum membalas sapaan Mariana. Viola mengerutkan keningnya melihat kedua orang itu yang kelihatannya sudah saling mengenal.

__ADS_1


"Kamu kenal sama pelayan ini?" Tanyanya dengan nada yang sedikit merendahkan Mariana. Matanya melirik sinis kearah Mariana.


Ucapan Viola tak urung membuat Mariana sedikit tersinggung saat mendengarnya.


Alex melirik Viola dengan tatapan tak suka saat mendengar ucapan gadis itu.


"Dia temanku. Juga teman Denis."


"Ouh..Aku baru tahu kalau kamu berteman dengan seorang pelayan."


"Sudahlah Viola. Itu gak penting buat kamu. Sekarang kamu mau pesan apa?"


Alex segera mengalihkan perhatian Viola. Dia tahu suasana memang sudah tidak bersahabat semenjak Viola melihat ada Denis disana.


"Oya. Gue sama Ricko sudah selesai. Jadi kita mau cabut sekarang."


Denis berdiri dari tempat duduknya. "Gue harus pergi."


Melihat Denis berdiri, Alex segera bangkit dari tempat duduknya.


"Tunggu! Kita bisa pulang bareng nanti."


Alex menahan tangan gadis itu.


Ricko mengerutkan keningnya melihat kejadian dihadapannya. Matanya melirik tangan Alex yang sedang memegang tangan Denis.


Menyadari tatapan Ricko, Denis segera menarik tangannya dengan kasar.


"Sorry. Gue harus pergi sekarang."


"Denis!"


"Denis!"


Denis membalikkan tubuhnya.


"Dengar, ya. Lo gak perlu ngomong apa-apa sama gue. Selesaikan masalah lo sama cewek lo itu."


Denis menaiki motornya dan memasang helm di kepalanya. Menghidupkan mesin motor dan langsung melesat meninggalkan Alex yang masih berdiri ditempatnya terpaku.


Ricko mengikuti jejak Denis meninggalkan tempat itu dengan menggunakan motornya. Ada beribu pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya setelah melihat interaksi Denis dan pria yang bernama Alex itu. Tanpa disadari oleh Denis, Ricko membuntuti Denis dari belakang.


*****


"Sorry, aku gak tahu kalau Denis akan ada ditempat ini." Viola menatap Alex dengan perasaan bersalah. Dia tahu sekarang Alex jadi tidak fokus kepada dirinya gara-gara Denis pergi begitu saja dari tempat itu. Padahal dia sudah membayangkan bisa makan siang berdua bersama Alex dengan tenang tanpa gangguan siapapun ditempat itu.


Awalnya dia ingin mengajak Alex untuk makan malam. Namun dia tidak mau kalau Alex salah mengartikan maksudnya itu. Viola tahu, Alex sangat menghindari dirinya. Bahkan dia harus membujuk Alex agar pria itu mau sekedar makan siang bersama dirinya hari ini. Sayang sekali, rupanya dia sudah salah memilih tempat sehingga malah bertemu dengan Denis di tempat itu. Yang akhirnya membuat Alex kehilangan moodnya.


"Vio, aku minta maaf. Sepertinya kita tidak bisa berlama-lama ditempat ini." Alex nampak gelisah. Hatinya tidak tenang karena membiarkan Denis pergi dengan begitu saja. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu saat melihat dia datang ke kafe untuk bertemu Viola.


"Ga papa. Aku bisa ngerti kok. Yang aku gak ngerti adalah...apa sih yang kamu suka dari Denis?"


"Vio, tolong jangan memulainya lagi. Kita tidak bisa membahas itu." Alex menukas cepat.

__ADS_1


"Tapi aku tidak bisa terima kalau aku.."


"Kalian tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Kalian memiliki nilai yang berbeda. Kamu sangat cantik. Hanya saja, cantik bukan jaminan untuk bisa mendapatkan semua yang kamu inginkan."


"Alex.."


"Kita disini bukan untuk membahas itu. Kita sudah berkali-kali membahas hal itu. Aku harap kamu bisa memahamiku."


"Oke. Aku tidak cukup menarik untukmu."


"Vio, please.."


Viola menghela nafas.


"Baiklah. Aku berada dipuncak rasa cintaku untukmu, Alex. Aku harus merelakan semuanya. Aku harus merelakan kamu dimiliki oleh orang lain. Aku harus merelakan untuk kehilangan kesempatan menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Hari ini, aku harus benar-benar meninggalkanmu. Aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu. Aku harap kamu bahagia dan tidak membenciku setelah ini."


"Aku tidak mungkin membencimu. Semua akan tetap sama seperti sebelumnya."


"Terima kasih Alex." Viola menatap sendu. Dengan susah payah dia menarik bibirnya untuk tersenyum.


"Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Aku yakin, kamu akan menemukan kebahagiaan sejatimu."


Alex menggenggam tangan Viola.


"Terima kasih, Alex."


*****


Motor yang dikendarai Denis melambat ketika mendekati sebuah kantor polisi. Memasuki pelataran halamannya yang masih ramai dengan lalu lalang masyarakat yang memerlukan pelayanan, juga orang-orang yang berseragam dengan gagah.


Denis memarkirkan motornya dan nampak sedikit ragu untuk turun dari atas motornya. Agak lama dia terdiam ditempat parkir dengan hanya duduk diatas motornya.


"Denis? Sedang apa disini?"


Seseorang menegurnya. Denis menoleh dan dia mendapati Pak Yunus berdiri sambil membawa tas yang mungkin berisis berkas-berkas.


"Pak Yunus?"


"Kamu mau menjenguk Bisma?"


"Tidak. Aku hanya kebetulan kesini aja."


Denis kembali memasang helmnya. Pak Yunus menatap gadis itu heran. Dia tidak percaya kalau Denis hanya kebetulan saja berada disana. Dia yakin kalau Denis sebenarnya ingin bertemu dengan Bisma. Untuk alasan yang hanya dia sendiri yang tahu.


"Bisma akan segera disidang."


Ujar Pak Yunus saat Denis mulai menghidupkan mesin motornya. Denis nampak tertegun sesaat dengan mata lurus kedepan tanpa ekspresi.


"Dia ingin bertemu denganmu."


Denis hanya menarik sedikit sudut bibirnya sambil menggerakkan kepalanya. Tanpa menyahut dia menjalankan motornya meninggalkan halaman kantor polisi itu.


Pak Yunus menghela nafas melihat gadis itu yang semakin jauh meninggalkan dirinya.

__ADS_1


"Kamu sangat ingin tahu keadaan papamu. Tapi kamu sudah membohongi dirimu sendiri." Gumam Pak Yunus sebelum melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.


*****


__ADS_2