
Jam istirahat makan siang Denis isi dengan memainkan ponselnya. Dia duduk dipojok ruangan karyawan dan fokus dengan gawainya. Suara kegaduhan diluar ruang memaksa dia menghentikan kegiatannya. Matanya menyorot keluar ruangan. Dia menutup aplikasi game diponselnya dan segera bangkit untuk mencari tahu sumber kegaduhan. Seorang lelaki nampak sedang bicara pada bang Theo dengan wajah sangar. Suaranya keras memancing perhatian setiap orang yang ada disekitar bengkel.
"Lo mau nipu pelanggan? Gue udah bayar mahal buat servis disini dan hasilnya apa? Cih." Lelaki kasar itu mendecih. Matanya tajam menatap bang Theo.
Denis dapat melihat kalau bang Theo sekuat hati menahan emosinya yang pasti mulai terpancing. Denis sendiri bergegas menghampiri orang itu. Dia dapat mengenali orang ini yang kemarin mengganti kanvas rem mobilnya. Dia yang mengerjakannya. Jadi kalau ada masalah apa-apa pastinya dialah yang harus bertanggung jawab.
"Ada apa bang?" matanya tajam menatap pria sangar itu. Dia berdiri diposisi dengan jarak aman. Mengantisipasi jika terjadi kejadian yang tidak diinginkan mengingat pria itu bicara dengan keadaan emosi.
"Oh. Lo kan yang kemaren nyervis mobil gue? Lo harus tanggung jawab sama kerjaan lo." lelaki itu beralih tatapannya kepada Denis. Nampak amarah begitu ketara dikedua matanya yang berapi-api.
"Ngomong biasa aja bang. Gak usah pakai emosi."
"Apa lo bilang? Lo nyuruh gue biasa aja? Lo hampir ngebunuh gue gara-gara spare part palsu yang lo pasang dimobil gue." lelaki itu semakin nyolot. Denis menautkan alisnya. Seingatnya dia sudah melakukan yang terbaik untuk mobil pria itu. Dia juga sudah konsultasi dengan pemilik mobil mengenai barang yang dia gunakan kemarin. Pria itu menyetujuinya. Dia tidak pernah sembarangan memasang spare part tanpa persetujuan pemilik kendaraan.
Tiba-tiba tangan pria itu melayang dengan tenaga penuh menghunjam ke wajah Denis. Denis yang selalu waspada segera menarik langkahnya kebelakang sehingga kepalan tangan pria itu menghantam ruang kosong. Pria itu agak terkejut karena gerakan cepatnya bisa diantisipasi oleh Denis. Dia nampak semakin emosi. Tangannya bersiap untuk dia angkat lagi.
"Sabar bang. Kita bisa ngomongin ini baik-baik." Denis masih mencoba mengajak pria itu bernegosiasi. Dia menahan diri untuk tidak membalas tindakan pria itu.
Bang Theo yang tak ingin ada keributan ditempat usahanya segera menengahi dua orang itu.
"Tolong jangan bikin keributan disini. Ini bisa kita omongin secara baik-baik." dia coba menurunkan emosi pria temperamental itu. Tangannya terentang kedada pria itu. Dengan kasar pria itu menepis tangan bang Theo. Hal itu membuat emosi Denis mulai terpancing.
"Lo sopan sedikit sama bos gue." Tangannya mengepal menunjukan tantangan untuk pria arogan itu. Dua orang teman pria itu merangsek maju. Bersiaga jika sewaktu-waktu temannya mendapat serangan. Denis mengedarkan tatapannya. Seorang pria bersiap didalam mobil warna silver. Menegang kemudi sambil mengawasi situasi diluar.
"Sudah. Sudah. Denis.." Bang Theo menggelengkan kepalanya. Memberi isyarat kepada Denis untuk tidak terprovokasi oleh orang itu.
"Katakan berapa gue harus ganti rugi?" tanyanya pada pria itu. Dia tidak ingin memperpanjang masalah yang dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang dipermasalahkan.
"Ini bukan masalah ganti rugi. Lo dan anak buah lo, sudah menipu pelanggan." Mulutnya menyeringai tajam. Nafas Denis memburu. Dia benar-benar tidak terima jika dituduh menipu. Apalagi itu melibatkan bang Theo. Jari-jarinya terkepal sempurna. Wajahnya yang terlalu putih untuk ukuran lelaki nampak memerah menandakan dia menahan amarah.
"******* lo," desisnya namun cukup didengar oleh pria itu.
"Kalo lo mau cari keributan sama gue, jangan disini tempatnya." desisnya tajam. Pria itu tertawa sumbang.
"Berani lo nantangin gue?" kedua bola matanya hampir keluar dari rongganya. Bang Theo menggelengkan kepalanya.
"Denis? please, oke?" dia menyimpan jari telunjuk didepan bibirnya ke arah Denis. Kemudian dia berbalik kepada pria sangar itu. "Tolong jangan bikin keributan disini atau gue bakal lapor polisi buat nyelesein masalah ini."
"Lo ngancam gue?" pria itu malah semakin emosi. Dadanya membusung kedepan siap untuk menyerang.
"Bukan begitu. Kalau lo gak mau bicara baik-baik, kita bisa cari jalan keluar yang lain." bang Theo masih bisa bicara dengan sesopan mungkin pada pria itu.
"Ada polisi!" seseorang terdengar dari luar kawasan bengkel. Cukup terdengar oleh pria itu sehingga dia segera menarik langkahnya dan menuju mobil yang memang dalam keadaan siap. Dua orang temannya mengikuti langkahnya dan masuk kedalam mobil dikursi belakang.
"Inget lo. Urusan kita belum selesai." Dia mengacungkan tinjunya pada Denis. Tatapan matanya tajam mengintimidasi. Denis membalas tatapan pria itu tak kalah sengit.
Dengan cepat mobil berwarna silver itu pergi meninggalkan area bengkel. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu akhirnya menarik nafas lega. Tadi mereka hanya diam mematung tak ada yang berani untuk bersuara. Setelah mobil itu menghilang baru mereka bergerak mendekati Denis.
Sebuah mobil patroli polisi melintas dijalan depan bengkel bang Theo. Suara sirinenya cukup memekakkan telinga. Semua orang disitu bersyukur karena mobil patroli itu akhirnya pria arogan tadi pergi.
Bang Theo masih terdiam memandangi bayangan mobil silver itu hingga hilang di sebuah tikungan.
"Ada yang nyatet nomer mobilnya?" tanyanya entah ditujukan pada siapa.
Semua orang saling melempar pandang. Tidak ada seorangpun yang ingat untuk mencatat plat nomer kendaraan tadi. Semua fokus pada keributan yang terjadi disana.
Lukman menepuk bahu Denis yang masih terdiam dengan wajah merah padam.
__ADS_1
"Gue gak nipu dia bang." suaranya terdengar lirih. Bang Theo yang sedang mengedarkan pandangannya pada semua orang menoleh ke arah Denis. Dia mendekati Denis dan menepuk bahunya beberapa kali.
"Gue percaya sama lo." Denis menggelengkan kepalanya.
"Dia sengaja bikin masalah sama gue." geramnya. Amarah masih jelas dimatanya.
"Sudahlah Denis. Semoga orang-orang itu tidak kembali kesini." Bang Theo mencoba menenangkan Denis.
"Mereka udah mencemarkan nama baik gue dan abang. Gimana kalau orang lain percaya kalau gue sudah menipu pelanggan?" Denis mendengus kesal. Ini menyangkut nama baik bengkel bang Theo. Dia tidak bisa membayangkan kalau semua orang percaya bahwa dia sudah menipu pelanggan dengan menggunakan spare part palsu. Tentu kelangsungan usaha milik bang Theo ini akan jadi pertaruhan.
"Jangan berfikir terlalu jauh Denis. Gue malah khawatir dengan keselamatan lo kalau lo harus ngeladeni orang tadi. Jelas sekali mereka bukan orang baik-baik."
"Sudah. Ayo semua kerja lagi." Bang Theo menggerakan tangannya. Semua menurut dengan instruksi dari bang Theo. Setiap orang kembali ke pekerjaan masing-masing yang tadi sempat ditinggalkan akibat insiden itu.
Beberapa orang masih berkumpul kasak kusuk membahas kejadian yang baru saja terjadi.
Denis nampak masih belum puas. Dia mengambil air minum dan meneguknya dengan kasar.
Disudut bengkel Alex terus mengikuti semua adegan yang terjadi. Dia mendekati Denis yang baru saja menghabiskan minumannya.
"Kamu berani banget nantangin orang tadi." katanya begitu berada didekat Denis. Denis meliriknya.
"Gue hanya membela diri gue sendiri." sahutnya ringan. Dia duduk dan mengatur nafasnya.
"Gimana kalau orang-orang itu datang lagi?"
"Gue bakal hadapin mereka."
Bang Theo datang menghampiri.
"Mereka seperti sengaja cari masalah sama kita, Den." cetusnya. Denis mengangguk setuju dengan pendapat bang Theo. Tapi apa untungnya orang itu tiba-tiba bikin keributan ditempat umum begini. Disiang bolong pula. Apa yang mereka inginkan sebenarnya. Kalau mereka mengincar uang, lalu mengapa mereka tidak menerima tawaran bang Theo tadi? Mereka malah pergi setelah mengancam Denis. Mereka bisa saja mendapatkan uang dengan mudah setelah bang Theo memberi mereka penawaran.
*****
"Kita harus hati-hati Den. Orang itu mungkin saja masih penasaran sama lo." kata bang Theo setelah menelan makanannya. Denis mengangguk. Dia mengunyah makanannya pelan, seolah sambil memikirkan sesuatu. Matanya fokus menatap isi piringnya.
"Bukan Denis aja, semua orang harus waspada. Lo Lukman. Jangan lengah saat berada dibengkel atau dimana aja. Bukan gue nakut-nakutin lo. Tapi gak ada salahnya kita waspada kan?" Bang Theo mengedarkan pandangannya pada semua yang ada disana. Giliran Lukman mengangguk. Sejujurnya dia agak takut juga kalau harus berurusan dengan orang tadi. Dia tak punya cukup keberanian untuk melawan orang seperti itu. Berbeda dengan Denis. Lukman sudah pernah melihat sendiri bagaimana Denis berhasil melawan penjahat ketika menyelamatkan bang Theo satu ketika dulu. Bahkan tadipun tanpa gentar Denis menghadapi pria arogan itu. Dia tidak kelihatan takut sama sekali walaupun jelas dia tidak hanya menghadapi satu orang pria sangar. Tapi tiga orang.
"Tolong jangan mengatakan masalah ini sama istri gue." Pesan bang Theo diakhir percakapan. Dia kemudian berlalu ke rumah utama. Dia meninggalkan putrinya sendirian disana. Sedangkan mbak Fani istrinya belum pulang karena hari ini dia ada jadwal praktek di klinik.
Meja makan dirumah belakang sudah dibereskan. Lukman pamit masuk ke kamarnya. Denis masih duduk disofa yang juga merupakan ruangan terbuka menghadap taman kecil. Semilir angin malam membawa wangi bunga menyusup masuk ke indra penciuman. Suara jangkrik bergantian dengan bunyi kendaraan yang meraung dijalan yang tidak jauh dari area rumah.
Denis memainkan handphonenya seperti biasa. Menunggu waktu sampai dia merasa benar-benar mengantuk. Tapi pikirannya masing melayang pada kejadian tadi siang. Kelebat mobil berwarna silver itu tiba-tiba mengingatkan dia akan sesuatu.
Dia menepuk keningnya tanpa sadar bersamaan dengan Alex yang menghempaskan tubuhnya disamping Denis. Denis terkejut dengan kehadiran Alex yang tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Alex. Matanya memindai wajah Denis dari samping. Seraut wajah yang terlalu manis untuk seorang lelaki. Hidung mancung bibir tipis dan berlekuk. Alis matanya berbaris rapi dengan mata indah dihiasi bulu mata yang lebat dan lentik. Kulit wajahnya halus seperti bayi. Hanya tatapannya yang tajam dan dingin membuat aura cowoknya keluar. Kalau perempuan dia pasti sangat cantik. Damn!!
Alex menepuk kepalanya dan menggeleng. Terkejut sendiri dengan apa yang terlintas dikepalanya.
Giliran Denis yang mengernyitkan alisnya heran. "Kenapa lo?"
"Aku yang nanya kan kenapa kamu tadi?" Alex mengalihkan pertanyaan Denis. Dia sedikit meringis tanpa disadari oleh Denis.
"Lo tadi lihat mobil pria brengsek itu?" Denis balik bertanya. Alex mengerutkan alisnya. Dia lihat hari ini Denis ingin bicara dengannya. Ini untuk pertama kalinya cowok itu berinisiatif untuk membuka pembicaraan. Mungkin karena dia menganggap ini penting. Atau mungkin sekarang Denis mulai percaya padanya.
"Mobil jenis SUV warna silver. Dibelakangnya ada stiker berwarna kuning. Aku tidak begitu jelas melihat stiker apa itu." Alex merinci apa yang dia ketahui.
__ADS_1
"Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Alex kemudian.
"Gue rasanya pernah lihat mobil itu."
"Dimana?" Alex bertanya penuh rasa penasaran.
"Gue gak tahu ini bener apa enggak. Tapi sepertinya ini berhubungan sama lo." Untuk pertama kalinya keduanya beradu tatap. Denis tidak main-main dengan ucapannya. Alex terkejut mendengarnya. Matanya terpaku dimata Denis dengan tatapan penuh tanya.
"Maksud kamu?"
"Mobil yang buang lo di jurang berwarna silver. Dibelakang sebelah kanannya ada stiker warna kuning. Itu keliatan jelas dari kejauhan."
Alex tertegun mendengar penuturan Denis. Wajahnya membeku. Suatu titik terang yang sangat luar biasa.
"Tapi gue gak yakin. Banyak juga mobil yang pake stiker kuning dibelakangnya." Denis tidak mau menarik kesimpulan secara gegabah. Tapi tidak ada salahnya kalau harus waspada dengan kemungkinan itu. Secara mobil itu berwarna sama dengan yang dia lihat ditepi jurang malam itu. Walaupun saat itu hujan dan gelap, tapi stiker kuning itu memang didesain untuk dapat dilihat dalam keadaan seperti itu. Bila tersorot oleh lampu akan nampak terang walau dari kejauhan. Dan tak dipungkiri bahwa bukan satu atau dua mobil saja yang memasang stiker kuning di sebelah kanan belakang mobil. Tentu masih banyak yang lainnya.
Denis tidak mau mengabaikan fakta bahwa orang-orang didalam mobil itu berwajah sangar. Bisa dikatakan kalau difilm-film biasanya wajah seperti itu cocok jadi penjahat. Lalu, mereka datang dengan sewenang-wenang cari keributan dengannya. Apakah ada hubungannya dengan keberadaan Alex di bengkel itu?
Denis tercenung. Matanya menyorot menatap Alex. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Kalau analisanya benar, maka kemungkinan besar target mereka sebenarnya adalah Alex.
"Kenapa?" tanya Alex ketika melihat Denis terdiam begitu lama.
"Apa mereka tahu ada lo dibengkel bang Theo?"
"Maksud kamu?"
"Mungkin mereka tahu kalau lo yang dibuang dijurang itu ada yang nolong." Denis mencetuskan isi pemikirannya.
"Dan mereka tahu yang menolongku itu adalah kamu dan bang Theo." Alex menyambungkan kemungkinan itu. Keduanya saling menatap. Tatapan mereka terputus ketika sebuah mobil memasuki halaman. Langsung masuk ke carfort dan seseorang turun dari pintu pengemudi. Mbak Fani nampak berjalan langsung menuju rumah utama.
Dia pasti melihat Denis dan Alex yang masih berbincang diruangan terbuka itu.
"Malam sekali dia pulang." Alex bergumam. Diliriknya jam yang ada di dinding ruangan. Sudah lewat dari pukul sepuluh malam.
"Sudah biasa." sahut Denis. Mereka diam sesaat sampai mbak Fani menutup pintu rumah utama.
"Jadi.." Alex berdehem mengalihkan kembali perhatian Denis."Menurutmu itu membahayakan bang Theo dan keluarganya?"
"Gue gak tahu."
Keduanya kembali terdiam. Alex menyandarkan punggungnya dengan kepala menengadah. Matanya terpejam diikuti helaan nafasnya.
"Aku akan pergi dari sini." ucapnya kemudian. Denis bergeming.
"Seharusnya sejak awal aku tahu ini bahaya buat kamu semua."
"Siapa lo sebenarnya?" tanya Denis akhirnya. Matanya memicing menunggu jawaban dari mulut Alex. Yang ditatap mengubah posisi duduknya. Kedua tangannya saling bertaut dengan siku berada dipahanya.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang membuat orang itu mencoba membunuhku. Aku merasa tidak punya musuh. Tidak ada yang ganjil selama ini."
"Mungkin lo gak peka." Denis mencibir. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Begitu pepatah mengatakan. Jadi tidak mungkin orang itu berusaha membunuh Alex kalau tidak ada sebab sama sekali. Kecuali orang itu telah salah sasaran. Itu mungkin saja terjadi. Tapi kemungkinannya sangat kecil. Dan orang itu akan segera menyadari kalau sudah salah sasaran.
Ini sudah beberapa hari terhitung sejak mereka membuang Alex dijurang itu. Tapi mereka sepertinya masih memburu Alex begitu tahu orang yang mereka buang dijurang telah ada yang menolong. Itupun kalau dugaan Denis benar.
"Apa lo ingat sesuatu tentang penculikan itu?" tanya Denis. Dia perlu tahu semua yang terjadi pada Alex. Bagaimanapun juga, sekarang dia terlibat dalam masalah yang dihadapi oleh pria itu.
Alex tercenung. Dia mengingat-ingat kejadian sebelum dia akhirnya terdampar di tempat ini. Mencoba menarik benang merah yang menghubungkan semua kejadian yang dia alami.
__ADS_1
*****^..^*****