
Malam itu pembicaraan tiga orang diruang kerja Argadinata berlanjut hingga lewat tengah malam. Janji Reno untuk kembali ke klub malam ternyata tidak bisa ditepati. Lagipula Reno tidak berniat untuk kembali karena dia tahu Rinda menunggunya disana. Dimas memberitahunya melalui telepon.
"Kamu gak usah balik kesini, Ren. Rinda nungguin kamu dari tadi." Kata Dimas ketika Reno meneleponnya untuk minta maaf karena tidak bisa kembali ke klub malam. Dia sangat menyesal karena meninggalkan teman-temannya disana. Sedangkan pertemuan itu sudah mereka rencanakan sejak sehari sebelumnya. Maklumlah mereka sama-sama pengusaha muda yang penuh dengan kesibukan. Sehingga ketika ada kekosongan waktu, mereka akan gunakan sebaik mungkin untuk hangout bersama. Walaupun hanya sekedar ngobrol atau minum-minum.
"Lalu gimana dong? Apa dia nanyain gue?" Tanya Reno penasaran.
"Dia merengek terus dari tadi. Tapi lo tenang aja. Bian bisa ngehandle dia kok. Lo gak marah 'kan kalau Bian deketin dia?" Tanya Dimas untuk memastikan. Bagaimanapun juga, dia tidak mau ada kesalahfahaman di antara mereka. Persahabatan mereka lebih utama dibandingkan seorang wanita. Walaupun dia tahu Reno tidak menyukai Rinda, tapi ada baiknya dia menanyakan itu untuk memastikan.
"Gue malah senang kalau Bian bisa dapetin Rinda. Gue bakalan berterima kasih banget sama dia. Kalau mau, gue bakal kasih hadiah sama Bian kalau bisa dapetin Rinda." Jawab Reno mantap.
"Serius lo? Gila. Gue juga mau kalau gitu mah." Dimas terkekeh sebelum menutup sambungan telepon.
*****
Di ruang kerja itu, Reno, Tania dan Bisma melakukan pembicaraan tentang nasib perusahaan setelah kepergian Alex. Mereka merencanakan banyak hal terutama tentang posisi Reno yang sekarang harus bisa menggantikan posisi Alex yang ditinggalkan. Juga sikap mereka dalam menghadapi wartawan dan orang-orang yang akan menanyakan banyak hal tentang kasus kecelakaan yang menimpa Alex.
Rencana dewan direksi perusahaan yang akan mengadakan rapat paska kepergian Alex juga menjadi bahan pembahasan mereka. Ditambah kondisi kesehatan Argadinata sebagai pemegang saham tertinggi perusahaan yang belum ada tanda-tanda akan membaik, menjadi sebuah hal yang akan diangkat didalam rapat tersebut.
Reno keluar dari ruangan kerja mamanya dengan kantuk yang mendera setelah pembicaraan panjang. Kepalanya terasa pusing setelah tadi sedikit minum minuman beralkohol di klub. Ditambah perbincangan panjang dengan Tania dan Bisma membuat dia ingin segera berlabuh dipembaringan.
Dia segera naik kekamarnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Terlelap dalam seketika begitu kepalanya menempel diatas bantal yang empuk.
Diruangan kerja Argadinata, sepeninggal Reno dari ruangan itu, dua insan berbeda jenis masih melanjutkan obrolan. Tania pindah duduknya kesamping Bisma yang masih duduk disofa.
Bisma menatap intens wanita yang sudah sejak lama menjadi kekasih hatinya walau secara diam-diam. Tania membalas tatapan pria itu dengan senyuman yang merekah dibibirnya.
"Dari tadi kamu ngelihatin aku terus, Bis." Pipinya berona merah ketika Bisma masih terus menatapnya.
"Kamu tuh cantik banget. Kapanpun, dimanapun, dalam keadaan apapun." Bisma menyentuh rambut Tania dengan lembut. Mengusapkan punggung tangannya dipipi halus milik Tania yang bersemburat kemerahan. Tania menangkap tangan itu dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Hati-hati kalau sedang ada Reno. Kamu tuh makin gak bisa jaga sikap kamu." Ujar Tania dengan suara lembut. Bisma tersenyum.
"Aku minta maaf. Tapi aku memang gak bisa mengontrol perasaan aku jika dekat kamu. Aku gak tahan, sayang." Bisiknya dengan suara menggoda.
"Ya udah. Sekarang aku mau istirahat. Hari ini sangat melelahkan." Tania bangkit dari duduknya. Bisma menarik tangan wanita itu sehingga Tania kembali terduduk.
"Aku temani kamu ya, sayang?" Bisma menatap Tania penuh harap. Sebuah anggukan kecil disertai senyuman penuh arti membuat Bisma sumringah. Dia merangkul tubuh Tania dan mengecup bibir merah yang sejak tadi mengganggu fokusnya.
"Aku tidak sabar untuk dapatkan dirimu selamanya." bisiknya didepan bibir Tania dilanjutkan dengan satu kecupan lagi.
"Bersabarlah. Kita sudah melewati ini dengan susah payah dan ini hanya tinggal menunggu sebentar lagi." Bisik Tania. Kedua tangannya melingkar dileher Bisma. Bibir mereka kembali bertaut, bukan hanya kecupan, tapi sesuatu yang lebih dari itu.
"Kita lanjut dikamar?" Desah Tania. Matanya berkabut menatap Bisma. Pria itu mengangguk dan dengan tak sabar dia mengangkat tubuh Tania yang kemudian dibawanya ke sebuah kamar yang ada disebelah ruang kerja itu.
Malam semakin dingin dan sepi. Dikamar yang dimasuki dua manusia beda jenis itu terdengar desahan dua insan yang sedang menghangatkan malam yang semakin dingin.
*****
"Bian!"
"Hai sayang. Selamat pagi." Sapanya dengan suara serak khas bangun tidur. Kembali ia menjatuhkan tubuhnya dikasur dengan matanya yang kembali terpejam. Nampaknya dia masih sangat mengantuk.
"Bian!" suara gadis itu menggeletar. Bian kembali membuka matanya. Dia bangkit dan duduk menghadap gadis itu. Menarik sedikit selimut untuk menutup bagian bawah tubuhnya yang terekspose.
Gadis itu menatap Bian dengan sorot penuh kemarahan.
"Apa yang kamu lakukan sama aku, Bian? Kenapa kamu berbuat ini sama aku?" Cercanya dengan emosi. Matanya berkilat dan memupuk airmata dirongganya. Bian meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. Menatap lembut mata gadis itu lekat-lekat.
"Kita melakukannya, sayang. Kamu mengijinkanku untuk melakukannya. Tolong jangan menyalahkanku." Dikecupnya tangan halus Rinda. Gadis itu menarik tangannya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku benci sama kamu Bian. Kamu sudah memanfaatkan kelemahanku karena mabuk tadi malam." Rinda menyeka airmata yang luruh di kedua pipinya.
Bian merengkuh tubuh gadis itu. Membenamkkannya dalam pelukan.
"Aku minta maaf. Tapi aku benar-benar menginginkanmu tadi malam, sayang. Aku mencintaimu Rinda." Bisiknya ditelinga gadis itu. Rinda berusaha mendorong tubuh Bian, tapi Bian tak melepaskan pelukannya sedikitpun.
"Aku benci sama kamu, Bian. Kamu tahu aku mencintai Reno. Aku hanya inginkan Reno." Rinda memukul dada Bian dengan tangannya yang mungil. Bian membiarkan gadis itu melampiaskan kemarahan padanya. Pelukannya semakin erat.
"Marahlah, sayang. Aku akan menerima kemarahanmu." Bisiknya. Pukulan Rinda semakin lemah dan kemudian tangannya berhenti didada Bian yang kekar. Bahunya berguncang seiring tangisnya didada Bian.
Bian mengusap air mata gadis itu. Ditatapnya mata indah Rinda yang basah.
"Aku mencintaimu. Tidak peduli siapa yang kamu cintai. Aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu. Seperti aku sudah mendapatkan tubuhmu. Maka aku yakin, suatu saat nanti, hatimu juga akan jadi milikku." Dikecupnya bibir Rinda yang sedikit terbuka karena isak tangisnya. Menatap sesaat melihat reaksi gadis itu. Dan ketika Rinda hanya terdiam, Bian kembali mengecup gadis itu.
Rinda mendorong tubuh Bian. Dengan marah dia turun dari tempat tidur.
"Aku benci sama kamu. Jangan pernah berharap aku akan jatuh hati padamu Bian. Jangan pernah menyentuhku lagi setelah ini!" Tanpa mempedulikan tubuhnya yang telanjang, gadis itu masuk kekamar mandi. Membersihkan tubuhnya dengan singkat dan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh atasnya. Berpakaian dihadapan Bian dengan kemarahan yang masih ketara. Dia menyambar tas yang ada diatas sebuah meja kecil sebelum berlalu dari kamar itu dengan menghentakan kakinya.
Panggilan Bian tidak menghentikan langkahnya. Dia benar-benar marah dan kecewa kepada sahabat dari pria yang selama ini dia idamkan.
Bian menatap nanar kepergian Rinda dari kamar itu. Dia meremas rambutnya dan menjatuhkan kembali tubuhnya diatas pembaringan. Sedikitpun dia tidak menyesali apa yang telah dia lakukan pada gadis itu. Dia hanya kecewa karena Rinda tidak menganggapnya sama sekali.
.
.
.
.
__ADS_1
*****