Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapanbelas


__ADS_3

Suara burung berkicau bersahutan diatas dahan. Desau angin meniup disela dedaunan diiringi gemuruh suara air sungai dibagian dasar lembah. Sesekali bunyi pohon bambu yang saling bergesekan dengan ujungnya yang meliuk-liuk diterpa angin.


Denis menatap keindahan alam yang nyata didepan matanya. Dari tebing dekat rumah panggung milik Darman, dia dapat melihat ke tebing yang ada di seberang. Hamparan warna hijau menyelimuti seluas panorama. Rimbun pepohonan membuat dia tak dapat melihat apa yang ada disebaliknya. Mungkin juga jika ada orang ditempat lain yang melihat kearahnya, maka mereka tidak akan dapat melihat keberadaan rumah atau lebih tepatnya saung milik Darman.


Tak jemu Denis mengagumi ciptaan Sang Pemilik Alam. Sungai yang melingkar dibawah sana. Pepohonan yang berbaris disepanjangnya. Dedaunan hijau bagaikan karpet yang menghampar dimerata lembah. Matanya yang bening terus menelusuri setiap tempat yang terjangkau dengan netranya. Begitu segar dalam pandangan.


Suara erangan samar-samar terdengar dari dalam rumah Darman mengaburkan lamunannya. Dia segera membalikan badannya memasuki ruangan sederhana yang menyimpan sosok tubuh tak berdaya yang hanya terbujur selama beberapa hari terakhir.


Denis duduk bersimpuh disebelah tubuh Alex. Matanya berbinar melihat gerakan mengernyit diwajah Alex yang mulai ditumbuhi bulu halus disisi tegasnya.


"Alex." Panggilnya pelan. Matanya tak lepas dari wajah pria yang sejak beberapa hari yang lalu dia rawat dengan telaten tanpa diketahui oleh sang pemilik raga.


Mata itu masih terpejam. Tapi ketap bibirnya dan lidah yang bergerak lemah membuat Denis segera mengambil secangkir air yang ada tidak jauh dari tempat tubuh itu terbaring. Disendoknya sedikit air dan ditempelkan ke bibir yang nampak kering itu. Sesaat nampak jakun pria itu bergerak. Tanda ada respon dari tubuh Alex.


Denis tersenyum senang. Dengan semangat dia kembali menyendokkan sedikit air dan mengulangi apa yang dia lakukan tadi.


"Sedikit saja, Den. Jangan terlalu banyak." Suara Darman membuat Denis menoleh ke arah pintu masuk. Darman berdiri di sana sambil memperhatikan Alex.


"Sepertinya dia sudah sadar, Pak Darman." Mata Denis berbinar.


"Sepertinya begitu." Darman mendekat. Duduk berseberangan dengn Denis. Perhatiannya tertuju pada Alex. Tangannya menyentuh nadi dipergelangan tangan Alex. Mengangkat tatapannya kearah Denis.


"Dia sepertinya baik-baik saja. Kita hanya tinggal menunggu dia benar-benar sadar."


"Bapak yakin?"


"Kita harus yakin. Alex pasti akan bisa melewati ini."


Denis mengangguk. Memperhatikan Darman yang memeriksa luka didada Alex. Nampak sudah mengering dan tidak memerlukan penambahan obat lagi. Setiap hari pria itu membuat ramuan herbal yang dia racik dari dedaunan yang dia dapat dihutan sekitar rumahnya. Denis membantu pria itu menempelkan obat racikannya pada luka bekas peluru bersarang.


Ternyata obat yang diracik Darman bekerja dengan baik.


"Darimana bapak tahu ramuan obat herbal ini?" Pernah Denis menanyakan itu pada Darman. "Bapak juga berhasil mengeluarkan peluru dari dada Alex. Bagaimana bapak bisa melakukan ini?"


"Siapa bapak sebenarnya? Kenapa tinggal ditempat terpencil ini sendirian? Dimana keluarga bapak?"


Banyak pertanyaan yang bergelayut dipikiran Denis. Dia ungkapkan kepada pria itu disela-sela mereka merawat Alex.


Lalu mengalirlah cerita dari pria tua itu. Ternyata dia seorang dokter bedah disebuah rumah sakit ternama dikota. Suatu hari dia melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru dari seorang anak yang menderita luka tembak. Anak itu tertembak oleh peluru nyasar yang tidak diketahui dari mana asalnya. Itu menurut cerita ayah anak itu.


Orangtua anak itu sangat menggantungkan harapan pada Darman yang berperan sebagai dokter kepala yang menangani operasi saat itu. Sayang sekali, takdir berkehendak lain. Anak itu meninggal di meja operasi. Ayah dari anak itu sangat histeris dan marah pada Darman. Dia menyalahkan Darman sebagai penyebab kematian putranya.


Dia sangat dendam. Dia melaporkan Darman ke polisi. Ternyata dia seorang yang berkuasa. Dalam sekejap Darman telah kehilangan pekerjaannya dan berpindah ke dalam terali besi. Dia dipenjara untuk waktu yang lama tanpa bisa melakukan pembelaan.


Didalam penjara dia mendapat berbagai kekerasan dari sesama napi. Darman harus melewati hari-harinya dengan begitu berat. Pernah sekali dia hampir meregang nyawa ketika dia mendapat luka tusuk diperutnya pada sebuah perkelahian. Tapi Tuhan masih melindunginya. Dia bisa bertahan dalam peristiwa itu. Kemudian dia dipindah kepenjara lain setelah peristiwa itu.


Penderitaannya bukan itu saja. Istri yang diharapkan bisa menjadi penyemangat hidupnya malah meminta perceraiaan saat itu. Membuat Darman berada dititik terendah dalam hidupnya.


Ketika ia keluar dari penjara, ia sudah tidak bisa menemukan istri dan seorang putra yang ditinggalkannya dulu. Dia juga harus terus menghindari anak buah dari pria yang telah memasukannya ke dalam penjara. Sepertinya pria itu masih sangat dendam pada Darman. Dia terus memburu Darman melalui anak buahnya.


Darman terus menghindari orang-orang yang berniat mencelakakannya. Sehingga akhirnya dia memilih untuk mengasingkan diri ditempat terpencil dan sendiri.


Dia membangun saung untuk dia tinggali disebuah tebing yang jauh dari jangkauan orang-orang. Terlindung dalam lebatnya dedaunan. Dia memulai aktifitasnya dengan mencari ikan disungai. Awalnya dia mencari ikan untuk konsumsi sendiri sebagai sarana untuk bertahan hidup. Tapi lama kelamaan, dia menjualnya dipemukiman penduduk dan menukarkannya dengan kebutuhannya yang lain.

__ADS_1


Begitulah kisah Darman yang diceritakannya pada Denis. Hanya decakan dan gelengan kepala yang menyertai Denis ketika mendengar penuturan dari pria yang nampak lebih tua dari usia sebenarnya. Dengan janggut yang dibiarkan menutupi rahangnya, dan rambut yang panjang dan lusuh, dia menutupi identitas aslinya. Bahkan Denis tidak tahu, apakah Darman itu nama aslinya atau bukan.


Mengenai pengobatan herbal yang dikuasainya, Darman mengatakan bahwa dia memang pernah mempelajari hal itu. Dan dia sebenarnya lebih menyukai pengobatan herbal daripada pengobatan secara kimia.


*****


Pagi itu seperti biasa, Darman pergi ke perkampungan penduduk yang ada dibagian atas lembah. Dia memasang perangkap ikan disore hari kemarin dan mengangkatnya dipagi hari. Ketika mendapat hasil yang banyak, dia akan membawanya untuk dijual dan hasilnya akan dia belikan beras atau benda yang sekiranya dia perlukan untuk bertahan hidup.


Denis duduk diambang pintu sambil menatap sungai dibawah sana dari sela-sela pepohonan.


"Denis." Sebuah suara lemah samar menerpa gendang telinganya. Denis tersentak. Dia menajamkan pendengarannya. Takut itu hanya sebuah halusinasi.


"Denis." Suara itu kembali terdengar.


Denis membalikan tubuhnya. Menatap Alex yang terbaring dibelakangnya. Mata itu, mata yang sudah beberapa hari ini selalu terpejam, nampak berkilauan tertimpa cahaya dari luar. Denis segera menyeret tubuhnya mendekati Alex.


"Alex?"


Segurat senyum tipis membayang dibibir Alex yang kering. Denis segera memberinya minum menggunakan sendok seperti yang biasa dia lakukan. Tapi Alex menolaknya. Dia berusaha untuk bangkit. Denis merengkuh bahu pria itu, membantunya bangkit dari posisinya. Menyandarkan tubuhnya ditiang rumah, Alex memejamkan matanya sesaat.


Membukanya kembali dan mendapati Denis yang tak melepaskan tatapannya dari wajah pria itu.


"Gimana perasaan lo? Apa yang lo rasa?" Denis langsung memberondongnya dengan pertanyaan ketika mata Alex terbuka.


"Aku merasa lebih baik." Sahut Alex dengan suara lemah. "Apa aku masih hidup?" Pertanyaan yang membuat Denis menyungging senyum.


"Sayang sekali. Lo masih hidup, harusnya lo mati kan? Begitu juga gue."


Alex tersenyum lemah mendengar ucapan Denis. Matanya mengitari tempat dimana dia berada sekarang.


"Kamu sudah sadar?" suara Darman menginterupsi pertanyaan Alex. Dia masuk dan segera duduk dihadapan Alex.


Alex menatap pria itu kemudian dengan tatapan penuh tanya melihat kearah Denis.


"Ini pak Darman. Dia yang sudah menolong kita berdua." Denis menjawab rasa penasaran Alex yang belum terucap.


"Terima kasih banyak Pak Darman. Saya tidak tahu, bagaimana caranya membalas budi baik bapak kepada saya." Alex menatap pria tua itu. Ucapan tulus terlontar dari bibirnya.


"Tak perlu dipikirkan. Sekarang yang penting kamu harus pulih terlebih dahulu. Istirahatlah."


*****


Alex menyuapkan nasi ke mulutnya dengan tangan gemetar. Beberapa hari tubuhnya tidak bergerak membuat ototnya terasa kaku dan tak bertenaga. Tangannya terkulai jatuh disisi tubuhnya. Melihat hal itu Denis merasa tak tega.


"Gue akan nyuapin lo."


Denis mengambil alih piring plastik yang ada dihadapan Alex. Dia mulai mengambil sedikit nasi dan menyuapkannya ke mulut Alex. Dengan pelan Alex mengunyah nasi yang masuk ke mulutnya. Menatap Denis yang nampak risih karena menyuapinya menggunakan tangan langsung. Jarak mereka yang dekat membuat Alex dapat melihat ada rona kemerahan diwajah Denis. Baru Alex sadari, wajah Denis terlalu mulus untuk seorang laki-laki.


"Biar aku saja." Alex menarik piring dari tangan Denis. Kembali mencoba untuk mengaktifkan anggota tubuhnya. Dia harus segera pulih. Banyak hal yang harus dia selesaikan dengan segera.


Denis meninggalkan Alex dan kembali dengan membawa air minum untuk Alex. Meletakannya disamping pria itu dan memilih duduk diambang pintu menghadap keluar membelakangi Alex. Rambutnya yang semakin memanjang berkibar ditiup angin lembah.


Tanpa disadarinya, Alex memperhatikan Denis dari arah belakang. Ada suatu pertanyaan yang selama ini tak pernah terpikirkan oleh Alex. Siapa Denis itu sebenarnya? Kenapa dia..sekilas seperti..seorang..perempuan?

__ADS_1


Alex menggoyangkan kepalanya dengan mata terpejam. Mengenyahkan pikiran gila yang tiba-tiba melintas begitu saja.


Apa aku sudah tidak waras, kenapa membayangkan Denis menjadi seorang perempuan? Apa aku sudah berubah menjadi pria penyuka sesama jenis karena terlalu lama bersama Denis?


Alex menghabiskan nasinya dengan pelan. Dia memaksakan makanan itu dapat masuk kedalam perutnya walau rasanya masih sangat aneh dilidahnya. Keinginan untuk segera pulih membuat dia mengabaikan semua itu.


"Syukurlah kamu sudah bisa makan. Semoga aja kamu bisa segera pulih." Darman melewati tubuh Denis yang ada dipintu.


"Ini pakaian kamu. Maaf hanya baju bekas. Tapi kurasa akan cocok jika kamu pakai." Darman meletakan sebuah baju dan celana panjang didekat Alex.


"Terima kasih. Bapak sudah banyak melakukan kebaikan untuk saya."


"Bapak senang bisa menolong kalian. Tiada yang lebih membahagiakan selain ketika melihat manfaat dari apa yang kita kerjakan."


Darman tersenyum tulus. Sebuah senyuman yang menular ke wajah Alex.


*****


Dengan langkah tertatih Alex keluar dari sebuah tempat yang menjadi pemandian dibelakang rumah panggung Darman. Sebuah tempat yang dialasi batu gunung yang rata dan berwarna hitam. Air memancar tak hentinya dari sebuah pancuran dari dinding tebing. Warnanya yang jernih dan sangat dingin ketika menyentuh kulit jatuh menimpa batu gunung.


Pemandian itu ditutupi dinding dari daun kelapa yang disusun disekelilingnya. Tidak cukup rapat namun tidak juga terlalu terbuka.


Denis sempat ragu ketika akan menggunakan pemandian itu untuk pertama kali. Tapi Darman meyakinkan bahwa disana aman karena tidak ada orang lain yang akan mengintip kedalam pemandian. Lagipula Darman berpikir bahwa Denis adalah seorang laki-laki sehingga tidak masalah jika mandi ditempat terbuka.


Alex nampak lebih segar setelah mandi dengan air pegunungan. Dia sedikit menggigil ketika tubuhnya tertiup angin yang datang dari arah lembah. Baju yang diberikan Darman ternyata sangat pas dengan tubuhnya.


Dia duduk ditangga rumah. Sudah ada Denis disana. Sedangkan Darman nampak sedang membakar ikan ditungku yang ada dibagian depan rumahnya.


"Apa pak Darman tinggal sendirian disini?" Tanya Alex sambil memperhatikan pria itu.


"Begitulah." Darman kembali menceritakan sejarah singkat dirinya sehingga berada ditempat itu sama seperti yang dia ceritakan pada Denis. Dengan cekatan tangannya membolak-balik ikan diatas arang sambil tangan kirinya mengipasi arang agar tetap membara.


"Apa bapak tidak takut sendirian disini?" Alex kembali bertanya setelah Darman selesai bercerita.


"Tidak. Disini rasanya sangat damai. Hanya ada ketenangan dan keindahan alam yang menenangkan jiwa." Pria itu tersenyum.


"Apa tak pernah ada orang yang datang ke tempat ini?"


"Sejauh ini tidak ada. Kalau dibawah dekat sungai kadang ada orang dari perkampungan yang datang untuk memancing ikan. Sebelah sana itu ada persawahan penduduk." Darman menunjuk kearah bawah. Alex dan Denis mengikuti arah telunjuk Darman. Tempat itu lumayan jauh dari tempat mereka berada saat ini. "Katanya dulu ditebing-tebing ini merupakan kebun-kebun penduduk. Tapi sekarang tidak ada lagi yang mau merawatnya jadinya dibiarkan terbengkalai seperti ini. Jadi hutan belantara. Tapi untungnya disini tidak ada binatang buas. Paling ular sanca atau **** hutan yang tersesat."


Darman panjang lebar memberikan informasi kepada dua orang tamunya. Tak terasa percakapan mereka sehingga ikan-ikan sudah selesai dibakar. Darman menyuruh Denis untuk mengangkat tempat yang dipakai untuk memasak nasi. Sementara dia membawa ikan yang sudah dibakar keatas bale yang ada didepan rumah panggungnya.


Mereka duduk diatas bale bambu dengan nasi yang mengepul ditengah mereka. Wangi ikan bakar menyeruak masuk kedalam indera penciuman memberi sinyal ke otak untuk membuat perut melilit minta segera diisi.


Tak menunggu lama, ketiga orang itu segera menyantap makanan yang ada dihadapan mereka. Alex nampak sudah mulai bisa makan dengan porsi yang normal. Darman nampak senang ketika melihat Alex yang lahap menyantap makanannya. Suara Darman dan Alex silih berganti terdengar disela-sela suapan mereka. Denis hanya sesekali saja menimpali. Dia lebih sering menjadi pendengar daripada menjadi pembicara.


Angin senja membawa rasa dingin yang mulai terasa menusuk kulit. Semburat sinar mentari menerobos sela dedaunan dan semakin tenggelam disebalik tebing yang menjulang. Binatang malam mulai keluar dari persembunyiannya, menunggu giliran untuk berkelana dihutan belantara yang tak terjamah manusia.


.


.


.

__ADS_1


.


*****


__ADS_2