Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tigapuluh


__ADS_3

Suasana track balapan liar malam itu lumayan ramai. Suara mesin motor meraung-raung di malam menuju ke jantungnya. Gadis-gadis abege nampak antusias memberi semangat para pria yang akan melakukan balapan malam itu.


Asap knalpot mengepul dimana-mana, tersorot lampu motor yang menyilaukan mata.


Alex terpaku menatap kemeriahan yang sangat aneh baginya. Pembicaraan vulgar dan cenderung kasar terdengar dari mulut orang-orang yang ada disana. Sangat janggal ditelinga Alex yang tidak terbiasa mendengar kata-kata seperti itu.


"Lu belum bisa ikut balapan malam ini. Gak papa kan?" Jack berkata dengan suara rendah disebelah Denis. Denis memainkan mesin motornya hingga menimbulkan suara meraung menandingi bunyi motor yang lainnya.


Seorang pria datang mendekati tempat Denis dan Jack berada. Langkahnya tegap dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Lama gak ketemu. Apa kabar lu?" Pria itu meninju bahu Denis. Denis mematikan mesin motornya. Dia mengadukan pandangannya pada pria itu.


"Baik." Denis menjawab singkat.


"Hai Denis.." Seorang gadis cantik datang menyapa Denis. Dia tersenyum manis dan mendaratkan tangannya dipinggang Denis. Menyandarkan kepalanya dibahu Denis.


"Kangen banget sama kamu." Suaranya manja menggoda. Pria disampingnya segera menarik tangan gadis itu. Sedikit menyentakan tangannya hingga gadis itu menabrak tubuh kekarnya.


"Selagi gue yang jadi juara disini, lu akan tetap jadi milik gue. Dan kalau lu ingin berpindah kesisi cowok ini, maka..." pria itu menatap tajam ke arah Denis. "..dia harus bisa ngalahin gue."


Gadis itu meringis karena cengkeraman tangan pria itu dipergelangan tangannya. Matanya menatap penuh harap kepada Denis.


Denis memalingkan wajahnya kearah lain. Senyum miring tercetak tipis disudut bibirnya.


"Denis gak akan ngelawan lo. Gua yang akan jadi lawan lo." Jack menatap tajam pria itu. Pria itu, Ricko, dia selalu menjadi saingan geng mereka sejak lama. Bahkan sejak sebelum Denis ikut bergabung dalam komunitas mereka, Ricko sudah mendominasi. Ketika Denis mulai menceburkan diri dalam arena balapan itu, Ricko mendapat lawan yang seimbang. Selalu dia dan Denis yang bersaing untuk mendapatkan yang terbaik.


"Kenapa lo gak mau lawan gua? Takut lo? Atau jangan-jangan, lo sudah kehilangan kemampuan lo. Haha.." Ricko tertawa lepas mengejek Denis.


Denis melayangkan tatapan mautnya kearah pria itu.


"Gue mau motor lo." Ujarnya tanpa basa-basi sekaligus menghentikan tawa Ricko.


"Apa?! Gue kurang denger." Ricko melengkungkan telapak tangan didekat telinganya sambil memiringkan sedikit kepalanya. Kelihatan betul kalau dia sangat meremehkan Denis. Jack sampai mengepalkan tangannya karena kesal dengan ulah pria itu. Sedangkan teman mereka yang lain hanya jadi pemerhati diam-diam sambil melakukan aktifitas masing-masing. Belum saatnya untuk mereka ikut campur.


Begitu juga dengan Alex. Semua kejadian dan dialog yang terjadi didepan matanya tak luput dari perhatiannya. Dia terus memperhatikan Denis yang nampaknya cukup terkenal diarena balapan liar itu.


"Lo udah denger apa yang dia mau. Dia mau motor lo sebagai jaminan. Bukan perempuan itu." Jack yang menjawab. Dagunya terangkat menunjuk perempuan yang masih berada dalam cekalan tangan Ricko dengan tatapan sinis. Aura persaingan menguar disekitar mereka dengan sangat jelas.


"Dan, kalau lo kalah, lo harus jadi kacung gua." Ricko menyeringai menunjukan senyum liciknya.


"Jangan mimpi lo." Jack mengeraskan rahangnya. Tinjunya sudah bulat sempurna disamping tubuhnya.


"Buktikan, kalau lo, bisa ngalahin gua." Telunjuk Ricko lurus kearah Denis sambil berjalan mundur menjauh dari hadapan Jack. Dia menjentikan jarinya sambil berbalik menuju ke arah gengnya yang terus memperhatikan dari jarak yang cukup jauh. Tangan kirinya menyeret gadis cantik itu yang berjalan mensejajari langkahnya dengan kepala memutar menatap penuh harap kepada Denis.


Denis tidak mempedulikan gadis itu sedikitpun. Dia kembali memainkan mesin motornya. Jack dan beberapa temannya mengerubungi Denis. Tidak ketinggalan Alex ikut mendekat. Dia ingin tahu apa tindakan Denis dan Jack selanjutnya.


Mereka berkumpul dan mengatur strategi untuk menghadapi Ricko.


"Kamu yakin mau nerima tantangan pria tadi?" Alex masih berdiri disamping Denis ketika yang lain sudah menyingkir ke pinggir arena. Denis memasang helmnya dan memastikan pengaitnya terpasang sempurna.


"Good luck, Den. Gua percaya lu pasti bisa ngalahin Ricko." Jack menepuk bahu Denis.

__ADS_1


Seorang pria memberi aba-aba dari tengah jalanan agar Denis dan Ricko bersiap ditempat start yang sudah mereka tentukan. Seorang lainnya memastikan Denis dan Ricko sudah berada ditempat yang semestinya.


Semua mata tertuju pada dua orang pembalap itu. Ini merupakan duel perdana setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Keriuhan terdengar dari arah pendukung masing-masing.


Denis menatap lurus kearah jalan yang akan menjadi lintasan balapnya. Suasana malam yang sudah berada ditengahnya membuat ujung sana terlihat samar. Namun Denis masih sangat ingat setiap sudut jalan itu. Dia sudah sangat hapal dan seakan sudah menyatu dengan track yang akan dilaluinya.


Ketika pria pemberi aba-aba itu mengibaskan bajunya yang dia copot dari tubuhnya, Motor Denis dan Ricko langsung melesat meninggalkan garis start.


Keduanya benar-benar lawan seimbang. Semua orang menunggu dengan penuh debaran. Menatap keujung jalan yang diselimuti kegelapan.


Beberapa menit kemudian nampak lampu menyorot dari arah ujung jalan itu. Semua bersiap menyambut sang pemenang malam itu. Dan, saat yang ditunggupun tiba. Dimana dua motor itu datang dengan kecepatan penuh saling berlomba untuk tiba yang pertama digaris finish.


Pendukung Denis bersorak gembira ketika pria tidak berbaju menunjuk kearah Denis. Jack nampak semringah. Senyumannya mengembang sambil berjalan menuju Denis.


Denis memutar motornya mendekati teman-temannya. Jack mengangkat tangannya melakukan highfive dengan Denis.


"Gila lo. Ternyata lo masih bisa diandelin. Gua sempet ragu tadi. Deg-degan banget, tahu gak lo." Jack menepuk bahu Denis berulangkali.


Nerrow datang menyalami Denis dan mengguncang tangan Denis penuh rasa bangga.


"Selamat Den. Lo dapetin yang lo mau."


Ricko datang dengan motornya. Wajahnya nampak sedikit memerah. Dia menghentikan motornya didepan Denis. Turun dari motornya dan melemparkan kunci motornya pada Denis. Dengan sigap Denis menangkap kunci motor itu.


"Gua cuma minjemin ni motor sama lo. Gak lama lagi gua bakal ambil balik motor ini." Senyum miring tercetak disudut bibirnya. Dengan angkuh dia berlalu dari hadapan Denis setelah mengucapkan kata-kata itu.


Teman-teman Denis bersorak setelah Ricko berlalu dari hadapan mereka. Bergantian mereka mengucapkan selamat pada Denis. Mereka sangat senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan Denis dan dapat mempertahankan gengsi mereka didepan Ricko dan gengnya.


Dengan mengendarai motor milik Ricko, Denis mengikuti iring-iringan kendaraan yang diketuai oleh Jack. Alex berada dibalik punggungnya membonceng dimotor besar milik Ricko. Sedangkan motor Jack yang digunakan Denis untuk balapan, dikendarai oleh anak buah Jack yang lain.


Jack mentraktir semua teman-temannya. Dia nampak sangat gembira malam itu. Begitu juga temannya yang lain.


Sebuah mobil berwarna hitam diseberang jalan menarik perhatian Nerrow.


"Lo lihat bang mobil itu, perasaan tadi ditrack juga ada tuh." Katanya pada Jack.


Jack mengikuti arah pandang Nerrow. Begitu juga Denis yang mendengar ucapan Nerrow. Matanya menyipit menajamkan penglihatannya pada mobil yang dimaksud oleh Nerrow.


"Lo yakin mobil itu ada didekat track tadi?" Jack masih memperhatikan mobil itu.


"Gue rasa begitu."


Jack bangkit dari duduknya dan bermaksud untuk menghampiri mobil itu. Matanya tajam menatap mobil berkaca gelap yang dia yakin ada orang didalamnya. Belum sempat Jack menyeberang, mobil itu bergerak pergi meninggalkan tempatnya parkir tadi.


"Sial." Jack mengumpat sambil terus memperhatikan kemana perginya mobil itu. Nerrow yang sudah berada disampingnya ikut mendengus.


"Lo lihat kan? Mobil itu pasti sedang memata-matai kita. Kalau enggak, kenapa mobil itu malah pergi ketika kita mau mendekatinya. Sangat mencurigakan."


"Siapa yang ada dalam mobil itu dan buat apa ngikutin kita?" Itu pertanyaan yang ada dibenak semua orang yang ada disitu.


"Semua harus hati-hati. Mungkin saja itu anak buah Ricko. Ingat, dia ingin mengambil kembali motornya yang diambil Denis." Ujar Jack sambil mengedarkan tatapannya pada semua yang ada disana.

__ADS_1


"Tapi gue yakin, yang dia maksud bukan dengan cara seperti ini. Gue tahu gimana Ricko." Denis menukas ucapan Jack.


"Yah. Lo benar. Tapi kita harus tetap waspada. Kita belum tahu siapa orang yang sudah membuntuti kita itu."


Semua mengangguk setuju.


Setelah dirasa cukup untuk malam itu, mereka kemudian membubarkan diri dan pulang ke tempat masing-masing. Ada empat motor yang masih berkonvoi karena memiliki tujuan yang sama. Motor Jack melaju paling depan menyeruak membelah jalanan yang mulai sedikit sepi karena ditinggalkan penggunanya.


Denis melajukan motornya dengan nyaman. Membuka kaca helmnya membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Matanya yang tajam menatap lurus jalanan yang akan dilaluinya.


"Aku baru tahu kalau kamu sangat disegani diantara anak buah Abang Jack." Alex bersuara setelah beberapa saat keheningan diantara mereka. Denis tidak menyahut. Tanpa bisa dilihat oleh Alex, ada senyum tipis disudut bibirnya.


"Kenapa kamu sangat ingin motor ini?"


"Ini motor kesayangan Ricko. Dia selalu balapan dengan motor ini."


"Dia bilang bakal ambil lagi motor ini."


"Dia bakal nantangin buat balapan lagi."


"Kapan?"


"Gak tahu. Pasti secepatnya."


Mereka tidak lagi berbicara sampai tiba didepan bengkel. Jack memasukkan motornya dari pintu samping diikuti oleh yang lainnya. Memarkirkan motor berjejer di bagian dalam gudang.


"Lo tidur sini aja Den."


"Gak bang. Gue pulang aja."


Denis memberi isyarat pada Alex untuk mengikutinya. Mereka keluar dari pintu kecil yang menghubungkan dengan lorong menuju tempat tinggal mereka.


Waktu sudah menunjukkan jam dua pagi ketika Denis dan Alex tiba di kamar mereka. Denis langsung merebahkan tubuhnya dikasur diikuti Alex yang nampak sudah sangat mengantuk.


******


Alex terbangun ketika dia merasa napasnya sedikit sesak. Matanya terbuka perlahan dan merasa ada yang menindih dibagian dadanya. Matanya langsung terbuka lebar ketika melihat tangan Denis melingkar didadanya. Tangan yang cukup keras dan berisi. Pantas saja jika terasa berat. Jangan lupakan wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Alex yang membuat napasnya terasa hangat menerpa leher Alex.


Sesaat Alex terpaku menatap wajah itu. Bulu mata yang lentik, hidung mancungnya, bibirnya yang seksi. Alex tertegun menatap tanpa berkedip. Jantungnya berdentum tak karuan. Kenapa wajah itu terlalu sempurna untuk seorang pria? Batin Alex berperang. Ada gelenyar aneh ketika tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Denis. Suatu sinyal yang biasa didapatkan oleh lelaki jika bersentuhan dengan wanita. Tapi Denis, dia...


Arghh!!


Alex menyentakkan tangan Denis dari tubuhnya. Dia bangkit dari tempat tidur dengan cepat. Bergegas masuk kedalam kamar mandi. Meremas rambutnya sendiri dengan frustasi. Ingin rasanya dia berteriak melepaskan kedongkolan dihatinya. Namun dia masih sadar. Jika dia melakukannya maka akan ada banyak pertanyaan dari Denis.


Bahkan sekarang pintu kamar mandi digedor dari luar. Denis yang terbangun tiba-tiba merasa heran dengan kelakuan Alex.


"Lo kenapa? Alex?"


"Aku gak apa-apa." Alex sedikit berteriak dari dalam kamar mandi. Dia menyalakan keran dan mulai mengguyur tubuhnya dimulai dari ujung kepalanya. Dia ingin membersihkan otaknya yang sudah berpikiran kotor. Bagaimana mungkin dia punya rasa pada Denis? Ini tak bisa dibiarkan. Pasti ada sesuatu yang salah!! Batin Alex terus menerus bermonolog.


******

__ADS_1


__ADS_2