Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan


__ADS_3

Alex POV


Telepon dari asisten papa siang itu membuatku sangat terkejut. Aku sedang bertemu dengan dua orang temanku disebuah cafe saat itu. Segera aku bangkit dari tempat dudukku.


"Ada apa?" tanya Marvel melihatku panik. Dia adalah sahabatku yang juga rekan bisnis perusahaan papa.


"Papaku masuk rumah sakit. Aku harus segera kesana. Sorry." tanpa menunggu jawaban dari mereka, aku meninggalkan tempat itu dengan langkah tergesa.


Mengendarai mobilku dengan pikiran yang kalut. Rasanya mobil seperti siput, tak bergerak sama sekali. Kemacetan dimana-mana membuatku sedikit prustasi. Ingin rasanya kutinggalkan saja mobil ini dijalanan dan aku berlari menuju rumah sakit. Tapi untunglah nalarku masih bekerja dengan baik. Aku menarik nafas perlahan dan menghembuskannya melalui mulutku. Mencoba menenangkan diriku sendiri.


Kuambil ponselku dan mulai mencari kontak adikku. Kupasang wireless phone ditelingaku dan mulai menunggu panggilan tersambung. Hanya nada sambung yang kudengar. Dua kali aku dial dan masih belum diangkat.


Mobil didepanku bergerak sedikit. Aku memajukan mobilku. Stuck lagi. Shit!!


Kucoba menghubungi nomor mama. Hampir aku merejectnya tapi kemudian ada suara diseberang sana. Syukurlah.


"Hallo? Kak Alex?" itu suara Reno adikku.


"Aku nelpon kamu dari tadi gak diangkat." aku langsung menyemburkan kekesalanku. Rasa khawatir akan keadaan papa membuatku sedikit emosional.


"Aku habis ngurus papa dulu. Beliau sedang ditangani dokter sekarang. Sorry, handphoneku gak tahu dimana." Suara adikku nampak tenang. Sepertinya papa sudah ditangani dengan baik.


Mobil kembali bergerak. Sekarang agak lancar, walaupun jalan masih beriringan dan tak bisa menyalip. Aku harus ekstra sabar menghadapi jalanan ibu kota.


"Gimana keadaannya?" tanyaku. Tanganku memutar kemudi mobil mengarahkannya ke arah rumah sakit tempat papaku berada sekarang.


"Sekarang udah stabil. Kamu cepat aja kesini, lihat sendiri."


"Aku lagi dijalan nih. Bentar lagi sampai." aku memutuskan telepon setelah mengetahui informasi diruang mana papa dirawat. Fokusku kembali kejalanan yang semakin macet saja menjelang persimpangan menuju jalan ke rumah sakit. Aku sedikit bernafas lega ketika mobil mulai memasuki area parkir.


Setelah memarkirkan mobil, kuayun langkah lebar-lebar menuju lantai tiga tempat papa mendapat perawatan. Keluar dari lift, diujung koridor nampak Reno sedang berbicara dengan Om Bisma. Dia adalah asisten papa yang mengabarkan tentang papa pertama kali padaku tadi. Sedangkan Reno, dia adalah adik laki-lakiku yang berusia dua tahun lebih muda dariku. Aku sendiri berusia 27 tahun dan kini bekerja diperusahaan papaku sebagai direktur keuangan.


"Dimana papa?" tanyaku begitu sampai didekat mereka. Reno menolehkan wajahnya kepintu ruangan yang tertutup mengisyaratkan kalau papa berada didalam ruangan itu. Aku hampir menggapai handle pintu ketika suara Reno melarangku untuk masuk.


"Tunggu sampai mama keluar," katanya. Aku menurut. Dengan kesabaran yang hampir hilang, aku berdiri didepan pintu itu. Om Bisma menyuruhku duduk tapi tak kuhiraukan. Bagaimana aku bisa duduk tenang kalau aku belum melihat keadaan papa dengan mata kepalaku sendiri.

__ADS_1


Beberapa tahun belakangan ini memang papa sering sakit-sakitan. Beberapa kali juga beliau masuk ruang perawatan rumah sakit. Tapi beliau masih bisa bertahan. Aku selalu takut kalau sampai papa tidak kuat melawan penyakitnya. Walaupun kelihatannya papa cukup kuat namun akhirnya papa tumbang juga. Terhitung sejak satu bulan yang lalu, papa benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya yang dulu tinggi tegap sekarang telah berganti menjadi sosok yang kurus dan lemah. Beliau takluk pada penyakitnya.


Selama papa sakit, semua urusan ditangani oleh mama dibantu oleh om Bisma. Bahkan sejak beberapa tahun lalu, sebelum papa sakit parah, mama telah terjun langsung di perusahaan. Beliau telah belajar seluk beluk perusahaan langsung kepada papa. Dengan senang hati papa mengajarkan bagaimana cara berbisnis. Nampaknya mama sangat menyukai perannya sebagai wanita karir.


Sebenarnya papa sangat ingin aku yang menggantikan tugas beliau di perusahaan. Namun aku lihat mama masih mampu menangani semuanya. Beliau bilang, tongkat estafet kepemimpinan akan diberikan pada waktu yang tepat.


Setelah agak lama menunggu, akhirnya mama keluar dari ruangan itu. Seorang wanita yang cantik dan nampak masih sangat energik. Ada kesenduan di wajahnya walaupun tidak berlebihan. Mungkin karena sudah terbiasa menghadapi keadaan papa yang seringkali membuat panik semua orang, jadinya mama sudah kebal.


"Alex, masuklah." Titahnya ketika melihatku berada disitu. Aku mengangguk dan melangkah memasuki ruangan itu.


Didalam begitu hening. Aku menghampiri papa yang sedang terbaring dengan matanya terpejam. Selang oksigen masih terpasang diwajahnya. Kugapai tangan tuanya. Menggenggamnya dengan lembut. Takut akan menyakitinya.


Matanya terbuka perlahan. Menatapku dengan pancaran mata yang redup. Kelopak matanya seolah berat untuk disibakkan. Aku tersenyum memberi ketenangan padanya. Kubelai lembut rambutnya yang memutih. Mulutnya bergerak, kesulitan sekedar untuk mengeluarkan suara.


"Papa istirahat aja ya." Hatiku begitu trenyuh. Kalau perempuan mungkin aku sudah menangis. Berulangkali aku menyaksikan keadaan ini. Menyaksikan penderitaan dari orang yang telah berjuang untukku sejak aku dalam kandungan hingga aku bisa seperti sekarang ini.


Aku bertanya terus dalam diriku sendiri. Sampai berapa kali lagi aku melihat penderitaannya? Berapa lama lagikah papa akan bertahan? Aku tidak tega melihat papa dalam keadaan seperti ini. Tapi aku tidak ingin kehilangan orang yang paling berjasa dalam hidupku ini.


Kulihat papa sangat ingin berinteraksi denganku. Tapi apa daya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Akupun tidak bisa berbuat banyak. Hanya memberi sentuhan kepadanya untuk menunjukan perhatianku dan rasa sayangku.


Matanya yang redup terus tertuju padaku. Aku membalasnya. Menatapnya dan tersenyum padanya. Sebutir air bening meluncur dari sudut matanya. Aku mengusapnya dengan penuh kasih sayang. Mataku sendiri memanas. Bolehkah aku menangis? Rasanya aku tak tahan.


"Dokter bilang.." mama menghela nafas berat. Aku menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.


"...Papa baik-baik aja." Kurasa bukan itu yang ingin mama katakan. Mungkinkah sebaliknya? Aku tidak menyahut. Biarlah nanti aku tanyakan kepada mama jika sudah berada diluar. Aku tidak ingin papa mendengar kami membahas mengenai kesehatannya.


Jemari papa terasa mencengkeram jemariku. Tidak terlalu kuat namun dapat kurasakan. Matanya terpejam. Aku membiarkan tanganku berada dalam genggamannya hingga setelah agak lama terasa mengendur. Mungkin papa tertidur. Nampak dadanya turun naik dengan teratur.


Mama membetulkan selimutnya dengan hati-hati. Tidak mau gerakannya membuat papa terganggu. Aku bernafas lega. Pelan kutarik tanganku dari genggaman tangan papa. Mama memberiku isyarat agar mengikutinya keluar ruangan. Om Bisma dan Reno ada disana duduk dikursi yang ada didepan ruangan rawat inap.


Mama menempatkan dirinya disamping Reno. Aku kemudian duduk disebelahnya.


"Ini yang kesekian kalinya papa drop. Kata dokter, kalau sekali lagi papa kena, kita gak tahu apa yang akan terjadi." suara mama kedengaran sangat berat. Aku menunduk menatap lantai. Terdiam tak tahu harus mengatakan apa. Begitu juga Reno.


Aku pernah mengusulkan untuk membawa papa berobat ke luar negeri. Tapi mama tidak setuju. Beliau beralasan kalau berobat diluar negeri beliau tidak bisa jauh dariku dan juga Reno. Selain itu beliau akan kesulitan dalam memantau perusahaan. Walaupun ada om Bisma yang merupakan orang kepercayaan papa, tapi ada beberapa hal yang memang memerlukan mama sebagai istri dari presiden direktur.

__ADS_1


Aku menatap mama. Ada kesedihan yang mendalam diwajahnya. Aku kasihan juga melihat beliau seperti itu. Pasti sangat berat bagi mama menghadapi keadaan ini. Aku bisa merasakan kesedihan yang beliau rasakan. Beliau juga pasti merasa sangat lelah. Baik jiwa maupun raganya.


"Mama pulang saja. Istirahat di rumah. Biar aku dan Reno yang menjaga papa disini." Aku menyentuh tangan mama. Tangan yang selalu ada buat papa saat papa membutuhkannya. Tangan yang selalu menyentuh kepalaku dengan penuh kasih sayang.


"Gak apa-apa. Mama ingin nungguin papa disini." mama mengusap sudut matanya. Hidungnya nampak kemerahan. Aku merangkul bahunya. Mencoba menyalurkan kehangatan seorang anak kepada ibunya. Berharap beliau selalu tabah dan kuat dalam menghadapi semua yang terjadi.


"Kak Alex pulang aja. Aku akan menemani mama disini." Reno bersuara. Aku menatap mama dan Reno bergantian. Mereka mengangguk meyakinkanku. Akhirnya aku setuju untuk pulang. Terlebih dahulu aku masuk ke ruangan untuk melihat papa sebelum aku pulang. Beliau masih tidur. Aku membisikan kata pamit pada beliau sebelum akhirnya aku meninggalkan beliau disana.


Om Bisma mengantarku menuju lift.


"Besok rapat direksi untuk membahas kondisi papa kamu." kata om Bisma. "Kamu harus datang."


"Baik." Aku meninggalkan om Bisma yang masih berdiri di depan pintu lift.


*****^.^*****


Ini sudah malam. Aku bahkan tidak menyadarinya. Perutku pun baru kurasa ternyata sudah memberi tanda untuk segera diisi. Tadi aku tidak merasakannya karena terfokus pada keadaan papa. Aku akan makan dirumah saja. Pasti mbok Rasmi sudah menyiapkan makan malam.


Jalanan ibu kota yang selalu macet. Harus kulalui dengan kesabaran. Setelah masuk ke jalan yang menuju komplek perumahan yang kutinggali, barulah jalan mulai lengang. Jalan ini bukan jalan umum yang bisa sembarangan orang melaluinya. Hanya penghuni perumahan ini saja yang akan melalui jalan ini.


Pohon palm yang tinggi menjulang begitu anggun berdiri dikiri kanan jalan. Membuat kesan mewah sudah terasa bahkan dari jalan yang dilalui jauh sebelum sampai di komplek perumahan. Rumpun-rumpun bunga menghiasi sepanjang jalan.


Tiba-tiba dua buah motor besar dengan dua orang diatasnya menyalip kendaraanku. Aku yang berkendara sambil sedikit melamun sangat terkejut. Kurem mendadak mobilku karena dua motor itu sudah melintang didepan mobil sehingga menghalangi jalanku. Tempat ini sangat sepi. Tidak ada yang melintas selain mobilku. Ini masih sangat jauh menuju rumah yang terdekat.


Dua orang yang membonceng dimotor itu turun dan mendekati mobilku. Mengetuk kaca mobil menyuruhku turun. Wajah sangar dengan tatapan tajam dibalik topeng wajahnya. Aku menguatkan hatiku untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Nampak jelas mereka tidak beritikad baik. Aku melirik ke kaca spion. Ada sebuah mobil dibelakang mobilku. Mungkin itu masih teman mereka. Aku tidak tahu berapa orang yang berada didalam mobil itu.


Aku tidak punya pilihan lain selain membuka pintu dan turun dari mobil. Posisiku sudah dikurung orang-orang itu dengan jarak yang dekat.


"Ada apa ini?" tanyaku begitu menjejakkan kakiku diatas aspal jalanan.


Bugh! Sebuah hantaman ke perutku menjawab pertanyaanku. Aku terhuyung. Punggungku menabrak pintu mobil yang belum tertutup sempurna. Tubuhku sedikit membungkuk menahan rasa sakit diperutku akibat serangan dadakan tadi. Belum aku bersiap menghadapi mereka, serangan selanjutnya sudah orang itu layangkan menuju wajahku. Ujung bibirku terasa perih.


Aku berusaha mencari celah agar bisa mengantisipasi serangan mereka selanjutnya. Tapi sepertinya mereka tidak membiarkanku mendapat kesempatan untuk melawan. Dua orang temannya yang lain malah ikut mengeroyokku. Sepertinya mereka sedang terburu-buru. Ingin segera menyelesaikan urusan mereka.


Sialnya, tidak ada seorangpun yang lewat ke tempat ini. Aku semakin terdesak. Sakit disekujur tubuhku sudah tak tahu lagi seperti apa rasanya. Mereka terus menyerangku.

__ADS_1


Sebuah tangan dengan saputangan tiba-tiba membekap wajahku dari belakang. Aku berusaha memberontak namun usahaku sia-sia. Aku kehilangan tenagaku dan kemudian semuanya menjadi gelap.


*****^.^*****


__ADS_2