
"Denis pergi? Sejak kapan?"
"Tidak lama setelah anda pergi."
"Apa?"
Alex terkesiap. Dia benar-benar telah melupakan Denis. Tidak. Bukan lupa. Tapi dia mengabaikannya. Bagaimana mungkin dia mengabaikan wanita yang baru saja dinikahinya beberapa waktu yang lalu.
Alex segera menelepon Denis.
Cukup lama dia menunggu sampai teleponnya diangkat.
"Ada apa?" tanya Denis dari seberang sana dengan suara datar.
"Kamu dimana?"
"Gak penting gue ada dimana. Lo tenang aja."
"Denis, please. Aku minta maaf. Tadi aku sangat panik hingga pergi begitu saja."
"Gapapa. Gak masalah."
"Katakan kamu ada dimana?"
"Yang jelas gue masih hidup dan lo gak perlu khawatirin gue."
Alex menghembuskan napas dengan gusar. Diremasnya rambutnya dengan putus asa.
"Sayang, katakan padaku kamu sedang berada dimana sekarang?"
"Alex ... " Viola menghampiri Alex.
Klik! Sambungan telepon terputus.
Disebuah cafe, dimeja yang berada paling sudut, Denis sedang menikmati makanannya tanpa ekspresi. Wajahnya menunduk tak menghiraukan keadaan disekitarnya.
Seorang gadis mendatangi tempatnya setelah mengantarkan pesanan dua orang pelanggan yang duduk di meja yang tidak jauh dari tempat duduk Denis.
Gadis itu meletakkan nampan kosong diatas meja dan menatap Denis dengan bibir tersenyum.
"Mas! Mas!" Dia memanggil dengan genit. Denis tidak menghiraukan gadis itu. Dia menyelesaikan makannya dan menyeruput minuman sampai tandas.
"Maaasss," Gadis itu semakin menggoda Denis.
"Berhenti manggil gue 'mas'." Denis mendelik tajam. Gadis itu tertawa geli. Kelihatan tidak takut sama sekali dengan kegarangan yang ditunjukkan Denis.
"Mas Denis lucu banget." Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Pengantin baru, bukannya honey moon. Ini malah galau begini."
"Apa mas Denis kabur lagi nih? Seharusnya kan sama mas Alex lagi anu.."
Denis menyipitkan matanya menatap tajam wajah Mariana, gadis yang sejak tadi terus saja menggodanya.
"Maksud aku tuh, lagi kangen kangenan gitu lho, Mas. Kalian baru kemaren nikah lho."
"Bukan urusan lo."
"Idihh galak banget." Mariana mengerucutkan bibirnya.
Seorang pemuda yang baru masuk kedalam cafe tersenyum saat melihat keberadaan Denis disana. Dia segera melangkahkan kakinya ke meja Denis.
"Denis!"
"Ricko?"
Tanpa basa basi Ricko menarik kursi disamping Denis dan mendudukkan dirinya disana. Matanya melirik sekilas ke arah Mariana. Namun yang menarik perhatiannya adalah Denis.
"Sangat mengejutkan melihat lo ada disini. Bukannya lo baru merit kemaren?"
"Jangan bahas itu sekarang, ok?"
__ADS_1
"Sorry."
Ricko beralih kepada Mariana. Menyebutkan beberapa makanan dan minuman untuk dirinya. Tak lupa dia menawari Denis karena dilihatnya Denis sudah menghabiskan makanannya. Namun Denis menolak.
"Sorry. Tapi, apa lo lagi ada masalah?" Ricko menatap Denis lekat, cewek tomboy yang selalu jadi rivalnya di arena balap.
"Gak ada. Gue cuma lagi suntuk aja."
"Laki lo?"
"Sibuk banyak kerjaan."
"Baru merit sudah ngurus kerjaan? Keterlaluan banget dia?" Ricko mendecak pelan. Denis hanya menyunggingkan senyum miring.
"Dan lo makan sendirian disini?"
Denis tidak menyahut.
"Apa lo yakin mau menjalani hidup sama cowok yang gak peduli sama lo?" Ricko memicingkan matanya. Meneliti ekspresi wajah Denis saat dia bertanya seperti itu.
"Maksud lo?"
"Ya, jelas banget dia enggak peduli sama lo. Gak seharusnya dia ninggalin lo untuk alasan apapun saat kalian baru aja nikah. Ini gak masuk akal banget." Ricko menggelengkan kepalanya.
"Gue gak masalahin itu."
"Tapi kalian baru saja merit. Kemaren lho. Ini aneh banget kalau menurut gue."
"Gak perlu merasa aneh. Denis saja bisa menerima keadaan ini. Kenapa kamu yang merasa repot?"
Seseorang tiba-tiba duduk dihadapan Denis. Matanya yang tajam menatap lekat wajah Denis yang nampak sangat terkejut dengan kehadirannya disana. Begitu juga dengan Ricko. Wajahnya menggelap setelah melihat siapa pria yang baru saja datang itu.
"Kamu tidak menungguku untuk makan. Aku belum makan sejak tadi." Tatapan Alex tak lepas dari wajah Denis.
"Gue pikir lo sudah makan sama 'teman' lo itu." Denis tersenyum sinis. Sangat kentara kalau dia menekankan kata teman kepada Alex.
"Kalau gitu, lo pesen makanan noh. Gue sudah selesai." Denis bangkit dari tempat duduknya. Melambai ke arah Mariana dan menyerahkan sejumlah uang untuk membayar makanannya. Tanpa permisi dia keluar dari tempat itu.
Denis tidak mempedulikan pria itu. Dia segera menjalankan mobilnya meninggalkan halaman cafe yang semakin ramai.
Didalam cafe, Ricko hanya menatap kepergian kedua orang itu dengan gelengan pelan kepalanya.
"Pengantin yang aneh. Pasti terjadi sesuatu sampai Denis marah begitu," gumamnya pelan.
"Aku rasa juga begitu. Sepertinya mereka lagi marahan." Mariana yang sedang menata makanan yang dipesan Ricko menimpali.
*****
Denis melajukan mobilnya dijalanan dengan kecepatan sedang. Matanya fokus ke jalanan yang dilaluinya, seolah dia tak menganggap ada orang lain disampingnya.
"Ada hubungan apa kamu sama cowok tadi?" Akhirnya Alex memecah kesunyian diantara keduanya.
"Dia temen gue. Lo tau itu, kenapa tanya."
"Kenapa kalian berduaan disana? Kamu sudah janjian buat ketemu sama dia?"
"Lo gak lihat disana banyak orang? Gue gak berduaan sama dia."
Alex mendengus kesal.
"Aku gak bercanda, Denis. Lagian kenapa kamu keluyuran sendirian begitu? Orang-orang pasti berpikir yang enggak-enggak tentang pernikahan kita."
"Tapi lo gak berpikir begitu ketika lo pergi sama cewek itu."
"Aku pergi karena keadaan memaksaku untuk pergi."
Denis mendecih dan melengoskan wajahnya.
"Apa harus pergi sama cewek itu?"
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau kamu tidak suka. Tapi aku sudah menganggap dia sebagai anggota keluargaku. Tunggu dulu ... apa kamu cemburu?"
Alex menatap wajah Denis dari samping. Lagi-lagi gadis itu membuang wajahnya.
"Cemburu? Enggaklah." Jawab Denis ketus.
"Kamu cemburu."
Denis tidak menyahut. Dia menatap jalanan didepannya pura-pura tidak mendengar pertanyaan dari Alex.
"Kamu memang cemburu." Alex tersenyum penuh kemenangan.
"Dengar, ya. Gue gak cemburu. Gue cuma merasa kalau lo enggak menghargai gue. Gitu aja."
"Aku sudah minta maaf."
Denis mendengus sambil memalingkan wajahnya.
"Mama Tania masuk rumah sakit. Kondisinya sangat memperihatinkan. Tadi Faisal meneleponku jadi aku langsung pergi ke sana. Dan Viola ingin ikut menemaniku. Aku tidak bisa menolaknya." Alex berkata dengan cukup serius.
"Baguslah. Dia itu memang wanita spesial buat lo."
"Denis. Saat ini, kamu seperti seorang istri yang sedang cemburu." Alex tersenyum sambil menyipitkan matanya menatap Denis dari samping.
"Gue, gak cemburu."
"Ya, ya, ya ..."
*****
Faisal datang mengantarkan mobil Alex yang dia tinggalkan di cafe.
"Menurut dokter, alangkah baiknya kalau pasien seperti itu berada bersama keluarganya," ujar Faisal saat Alex menanyakan kondisi Tania. Saat ini mereka sedang berada diruang kerja milik Alex. Denis yang berada disana hanya diam mendengarkan pembicaraan Alex dan asistennya itu.
"Apa sebaiknya dia berada di rumah sakit jiwa?" tanya Alex setelah terdiam beberapa saat.
"Keadaan kejiwaan Bu Tania masih bisa diperbaiki dengan diberikan perhatian dari orang terdekat. Menunjukkan kepadanya kalau kita sudah memaafkan kesalahannya dan sekaligus memberikan dukungan untuk kesembuhannya." Faisal mencoba menjelaskan.
"Tapi aku belum memaafkannya. Kamu tahu, sangat sulit bagiku untuk memaafkannya."
"Tapi saya rasa, anda sudah mulai memaafkannya. Anda peduli padanya. Saya dapat melihatnya."
"Gak mungkin. Aku tak mungkin bisa memaafkan wanita yang sudah menjadi penyebab meninggalnya papa dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Dia wanita biadab. Sudah sepantasnya dia mendapatkan hukuman atas apa yang telah dia perbuat dimasa lalu. Sepertinya, hukuman itu masih terlalu ringan baginya."
Sorot mata Alex menunjukkan kebenciannya pada wanita yang pernah menjadi ibu tirinya itu.
Faisal menghela napas pelan. Dia tidak mungkin memaksa Alex untuk menerima kembali Tania dalam hidupnya.
"Kalau dia dirawat disini, lalu bagaimana dengan status hukumnya?" Denis membuka suara melihat kebuntuan pembicaraan antara Alex dan Faisal.
"Bu Tania bisa melanjutkan proses hukumnya jika keadaannya sudah memungkinkan dengan pernyataan sembuh dari dokter."
Denis terdiam. Matanya menatap Alex mencoba menyelami apa yang ada dalam pikiran pria itu.
"Dengar," Alex membalas tatapan Denis. Begitu lekat dan dalam. Namun ucapannya ditujukan kepada Faisal. "Kamu urus masalah itu. Aku mau membawa istriku ke suatu tempat dan aku tidak mau ada yang mengganggu."
"Apa? Mau pergi kemana?" Denis melebarkan matanya.
"Kamu lupa? Kita baru saja menikah. Dan pasangan pengantin baru biasanya akan berbulan madu."
"Enggak," Denis memotong dengan cepat. "Masalah Tante Tania lebih penting saat ini. Lagian siapa juga yang mau bulan madu?" pipi Denis berona merah.
Faisal tersenyum melihat gelagat kedua orang didepannya itu.
"Kalau Pak Alex mau pergi, silakan. Saya akan mengurus semuanya. Anda berdua tidak usah khawatir."
"Enggak. Gue gak mau pergi."
"Baiklah. Faisal, dia tidak mau pergi kemana-mana. Dia mau dirumah saja." Alex melangkahkan kakinya mendekati Denis. Matanya lekat menatap manik mata Denis.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi," Faisal yang tahu diri segera pamit. Walaupun tak ada jawaban dari kedua orang itu, dia segera keluar dari ruang kerja Alex dan menutup pintunya rapat-rapat.
*****