
"Jangan menatapku seperti itu."
Mata indah itu mendelik tajam. Wajahnya mengeras. Menyembunyikan rasa malu dan kikuk karena terus menerus mendapatkan tatapan yang begitu dalam dari pria yang sudah resmi menyandang status sebagai suaminya itu.
Alex bersandar di dinding dengan kedua tangan menyilang di dada. Tatapannya tak lepas sedikit pun dari wajah Denis yang masih terpoles make up tipis namun nampak begitu memukau dipandangan matanya.
Hampir saja Alex tidak bisa mengenali pengantinnya itu tadi. Dia begitu cantik dengan gaun pengantin berwarna putih. Wajahnya yang tak pernah tersentuh riasan, tadi siang nampak begitu mempesona. Rambut cepaknya ditata sedemikian rupa sehingga menampilkan kesan gadis tomboy yang seksi. Alex begitu suka melihatnya.
Sekarang mereka sedang berada dikamar hotel tempat mereka istirahat menunggu resepsi nanti malam. Hanya berdua.
Denis sedang duduk didepan meja rias untuk menghapus riasan diwajahnya. Dia sebenarnya bingung dengan apa yang harus dia lakukan untuk menghapus riasan diwajahnya. Dia tidak pernah melakukan ini sebelumnya.
Dan dibelakangnya, pria itu begitu setia menatapnya dengan tatapan nakal dan senyuman menggoda yang terus tersungging dibibirnya. Membuat Denis sedikit salah tingkah dan semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Perlu bantuan?" tanya Alex saat melihat gadis itu kebingungan.
"Ga usah," jawab Denis sedikit ketus.
"Hmm. Masih galak aja," gumam Alex pelan, namun cukup terdengar jelas di telinga Denis.
Dari pantulan cermin Denis dapat melihat pria itu berjalan mendekat. Berdiri tepat dibelakangnya dan meletakkan kedua tangannya pada sandaran kursi di belakang punggung Denis. Perlahan wajahnya turun mensejajari wajah Denis.
"Apa aku sudah mengatakannya padamu?" bisiknya sambil memaku mata Denis dengan tatapannya di cermin.
"Apa?" Napas Denis terasa sedikit tertahan. Pria itu begitu dekat dengannya. Bahkan sekarang Alex merapatkan pipinya di pipi Denis. Napasnya yang hangat terasa menyapu pipi Denis.
"Kamu sangat cantik," bisik Alex
Pipi Denis memerah. Matanya mengerjap. Ada sedikit senyuman disudut bibirnya yang dapat dilihat oleh Alex.
"Lebih cantik lagi kalau tersenyum," bisik Alex lagi. Dia menyentuhkan bibirnya dirahang Denis dengan lembut.
Denis segera bangkit dari duduknya.
"A_aku mau ke kamar mandi." Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Denis segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Hei, Sayang .." Alex tersenyum melihat tingkah Denis yang nampak sangat gugup itu. Dia sendiri membuka kancing kemejanya, melonggarkannya di bagian leher dan menggulungkan lengan kemejanya hingga ke siku. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di sana dengan arah menghadap ke pintu kamar mandi. Menunggu kekasihnya keluar dari dalam sana dengan sabar.
__ADS_1
Didalam sana, Denis sedang bersandar dibalik pintu kamar mandi. Mengatur napasnya yang tadi sedikit tersendat. Kemudian dia melangkah kedepan wastafel. Menatap wajahnya dicermin dan mulai membersihkan wajahnya dari riasan yang memoles wajahnya.
Setelah selesai membersihkan wajahnya, Denis berniat untuk mengganti pakaiannya. Dan saat itu dia baru sadar kalau dia sedang ada dalam masalah besar.
******
Malam yang paling ditunggu oleh semua orang. Resepsi pernikahan Alex dan Denis digelar dengan sangat megah dan mewah di sebuah ballroom hotel.
Para tamu yang hadir bukanlah sembarang orang. Keluarga Denis bukanlah orang biasa. Mereka sudah sangat terkenal didunia bisnis. Terutama neneknya, yaitu Aryanti. Hampir semua orang mengenalnya. Dan dia sangat ingin mengenalkan cucunya itu kepada semua orang. Dia menepati janjinya untuk memperkenalkan Denis kepada para rekan bisnisnya sebagai cucunya.
Banyak tamu undangan yang tidak mengetahui tentang siapa Denis. Mereka mungkin mengenal Alex karena Alex juga bukanlah sembarang orang. Dia adalah seorang pebisnis muda yang sangat disegani. Bukan hanya karena kemampuan pribadinya, namun dia juga merupakan putra mendiang Arga Dinata yang sangat terkenal pada masa hidupnya.
Denis sendiri tidak mengenali para tamu yang datang. Dia tidak pernah sekali pun berurusan dengan mereka. Yang dia tunggu kehadirannya pada malam itu adalah teman-temannya yang selalu ada saat dia dalam kesulitan dulu. Orang-orang yang setia menemaninya dan menolongnya saat dia tersingkir dari keluarganya sendiri.
Denis sudah mengundang secara khusus semua teman-temannya. Keluarga Bang Theo yang paling utama diharuskan kedatangannya pada malam itu. Tentu saja yang dimaksud dengan keluarga bang Theo adalah termasuk semua pegawai bang Theo. Baik yang bekerja di rumah ataupun yang bekerja di bengkel.
Selain bang Theo, Jack dan anak buahnya merupakan tamu yang diharapkan kehadirannya oleh Denis, walaupun dia tidak yakin kalau orang-orang itu mau datang ke pestanya itu.
Malam itu Denis memakai gaun yang masih menonjolkan ketomboyannya. Dengan sangat luar biasa, MUA yang dipilih oleh Alex ternyata mampu memperlihatkan Denis yang sangat memukau pada malam itu tanpa mengurangi kesan maskulinnya.
Denis agak risih sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, pria itu benar-benar seperti lem yang terus menempel kepadanya.
"Kamu cantik banget, Sayang," Rania yang datang menghampiri tersenyum bahagia menatap putri tercintanya. Andres yang berada disampingnya tersenyum dan sedang menyalami Alex. Denis sedikit tersipu, namun dia segera dapat mengatur ekspresi wajahnya kembali biasa dan terkesan dingin. Tentu saja untuk menutupi rasa malunya karena harus tampil dengan dandanan yang sangat tidak dia sukai.
"Semoga kalian bahagia untuk selamanya. Semoga semua yang tidak pernah kamu dapatkan dimasa lalu, akan kamu dapatkan saat bersama Alex." Rania memberikan kecupan di kedua pipi Denis. Matanya berkaca-kaca saat menatap Denis. Mengingat semua yang pernah terjadi kepada putrinya itu.
"Terima kasih, Ma." Serak suara Denis. Dia sangat terharu. Apapun yang pernah terjadi dimasa lalu, dia berjanji akan menguburnya dalam-dalam. Mulai saat ini, dia akan menyambut masa depannya yang sangat indah berdua dengan Alex.
"Gaunmu sangat indah, Sayang." Rania mengusap punggung Denis dengan mata menyapu seluruh penampilan Denis malam itu. Gadisnya itu menggunakan gaun berwarna putih tulang dengan celana panjang pada bagian dalam roknya yang terbelah dibagian depan.
"Seseorang merekomendasikan ini. Dan aku merasa cocok." Denis tersenyum.
"Siapa?" Rania mengerutkan keningnya.
Belum sempat Denis menjawab, beberapa tamu datang menghampiri dan segera menyalami kedua pengantin. Untunglah ada Rania dan Andres disana sehingga para tamu segera mengalihkan perhatiannya dari kedua pengantin.
Diantara tamu yang datang, Damian dan Aryanti juga seolah menjadi magnet pada malam itu. Mereka menjadi pusat perhatian dan menerima banyak ucapan selamat dari para tamu yang kemudian mengetahui bahwa Denis merupakan salah satu cucu Aryanti. Dengan bangga Aryanti memperkenalkan Denis sebagai cucunya, tentu juga dengan membanggakannya karena menikah dengan seorang pengusaha terkenal, yaitu Alex.
__ADS_1
"Kak Denis..!" Satu suara membuat perhatian beberapa orang yang ada disekitar Denis dan Alex teralihkan. Sisil datang dengan tanpa rasa malu karena berhasil membuat semua orang menoleh padanya. Dia hampir saja memeluk Denis kalau tidak melihat isyarat dari Denis agar dia tidak melakukannya.
"Pengen peluk," Rengekkan khas ABG diperlihatkan gadis itu.
"Tidak boleh," Alex yang menyahut.
"Ihh, pelit," Sisil memanyunkan bibirnya. Semua yang ada disana tertawa. Bang Theo dan Mbak Fani segera menyalami kedua mempelai yang malam itu nampak sangat bahagia. Terutama Alex. Namun binar dimata Denis juga menunjukkan kebahagiannya atas kehadiran Bang Theo dan Mbak Fani.
"Terima kasih karena kalian sudah datang. Mana yang lain? Lukman, Bu Nani, Mang Jana?" Denis mengedarkan pandangannya mencari orang-orang yang baru saja dia sebutkan.
"Mereka gak bisa datang. Katanya malu kalau harus datang ke pesta kamu ini." Mbak Fani yang menyahut.
"Kenapa malu? Aku akan senang banget kalau mereka bisa datang kesini." Denis sedikit kecewa karena orang-orang yang dia harapkan kehadirannya malah tidak ada.
"Kita sudah mengajak mereka. Tetap mereka tidak mau. Katanya sih nanti saja mengucapkan selamatnya kalau kamu berkunjung ke rumah. Kita akan adakan pesta kecil buat kamu dan Alex," ujar Mbak Fani. Denis tersenyum senang mendengar penuturan wanita itu.
"Aku pasti akan datang menemui kalian," ujar Denis. Alex tersenyum dan mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Denis.
"Tentu saja. Itu adalah pesta untukmu." Mbak Fani tersenyum.
"Hai, kakak gue yang cantik." Seseorang tiba-tiba saja datang menyela. Tangannya langsung melingkar di bahu Denis. Sedangkan matanya langsung menyapu semua orang yang sedang berada disekitar Denis. Dan dia sedikit mengerutkan keningnya saat melihat siapa yang berada disana.
"Kalian pernah ketemu. Jangan pasang muka berlipat gitu juga kali." Denis menyiku pinggang Davin saat melihat mata Davin yang memicing menatap Sisil.
Sisil memutar bola matanya melihat kelakuan adik dari Denis itu.
"Kalian sudah saling kenal?" Mbak Fani melirik curiga.
"Jadi, Denis pernah mengajak adiknya ini ke bengkel beberapa waktu yang lalu. Dan kebetulan ada Sisil disana." Bang Theo yang menjawab setelah mendehem sedikit. Tentu saja dia tidak mengatakan yang sebenarnya tentang Sisil yang bermasalah dengan seorang pria dan saat itu ditolong oleh Denis yang sedang bersama dengan Davin.
"Oo .. begitu ya," Mbak Fani sepertinya kurang puas dengan penjelasan suaminya.
Mereka kemudian segera menyingkir dari dekat pasangan pengantin baru itu karena beberapa tamu yang baru datang ingin menyalami Alex dan Denis. Bang Theo dan Mbak Fani kemudian mendatangi meja tempat beraneka hidangan tertata rapi dan sangat menggiurkan. Begitu juga dengan Sisil. Dia segera memilih beberapa jenis makanan yang disukainya dan segelas minuman untuk dia nikmati ditengah pesta pernikahan Alex dan Denis.
Dari kejauhan, seseorang memperhatikan Sisil yang dengan riangnya menikmati pesta malam itu tanpa terlihat sungkan sedikitpun.
*******
__ADS_1