Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tujuh Puluh Tiga


__ADS_3

"Ya ampun. Aku gak percaya ini. Kita menjadi tontonan banyak orang karena kelakuan anakmu ini, Rania." Damian menggelengkan kepalanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat dengan sinis menatap Denis dan Alex.


"Kita semua sedang membahas masalah yang serius dan kalian malah berciuman di taman. Oh my God. Benar-benar tidak bisa dipercaya." Mulutnya belum berhenti.


Wajah Denis memerah. Antara malu dan marah. Tatapannya tajam menusuk Alex seolah menyalahkan semuanya keatas pria itu. Alex menyeringai tipis membalas tatapan membunuh gadis itu. Matanya lembut membalas menentang sorot mata tajam milik Denis.


"Sudah. Gak usah diperpanjang. Ayo kita kembali ke kamar ibu." Rania memberi isyarat kepada Denis agar mengikutinya.


Mereka keluar dari ruangan sekuriti setelah meminta maaf beberapa kali atas kegaduhan yang terjadi.


"Kamu percaya kalau itu perempuan? Lihat cara jalannya juga gak ada perempuan-perempuannya sama sekali." Bisik seorang anggota sekuriti sambil memperhatikan Denis dari belakang.


"Iya. Kalau bukan ibunya yang bilang, aku juga gak nyangka kalau itu perempuan." Rekannya menyahut.


"Jangan-jangan mereka bohong ya. Bisa saja sebenarnya dia itu laki-laki. Cuma keluarganya malu karena punya anak penyuka sesama jenis."


"Ya sudahlah. Biarin aja, itu urusan mereka. Lagian sekarang jamannya jaman edan. Perempuan mirip laki. Laki mirip perempuan. Sudah gak aneh lagi." Sahut yang lainnya.


Sedangkan dilorong rumah sakit, Damian masih belum bisa diam.


"Aku gak percaya ini. Kupikir Denis tidak suka sama laki-laki." Tawa Damian masih tersisa. Denis hanya mendelik dengan sorot mata tajam kepada Alex.


"Kenapa memelototiku? Om kamu yang bicara lho." Bisik Alex dan dengan sengaja menyentuhkan bibirnya di telinga Denis. Senyuman di wajahnya langsung berubah menjadi ringisan ketika siku Denis dengan telak menusuk perutnya. Erangannya membuat tiga orang yang berjalan didepan mereka serentak menoleh.


"Kenapa Alex?" Rania bertanya saat melihat wajah Alex memerah menahan sakit yang cukup lumayan.


"Tidak ada apa-apa, bu Rania." Suaranya berat dan dalam.


"Oh ya Alex. Kayaknya lebih enak kalau kamu panggil tante sama saya."


"Baik, tante." Masih dengan ringisannya.


Mereka sudah berada didepan kamar Aryanti. Rania masuk terlebih dahulu ke dalam kamar ibunya. Sejak datang ke rumah sakit dia belum sempat melihat ibunya. Terhambat oleh perdebatannya dengan Damian yang belum menemukan titik temu dan ditambah lagi dengan sedikit kegaduhan yang disebabkan oleh Denis dan Alex.


Andres dan Damian mengikutinya dari belakang. Sedangkan Denis lebih memilih untuk duduk di kursi tunggu.


Alex duduk di samping Denis.


"Maaf sudah bikin kamu merasa malu." Ucap Alex tulus sambil menatap Denis. Denis hanya mendengus kesal dengan wajah yang masih memerah karena malu dan marah kepada Alex.


Alex menahan diri agar tidak banyak bicara kepada Denis. Dia tahu gadis itu sedang kesal. Dia tidak mau kalau sampai Denis semakin marah kepadanya dan kembali menjauh darinya.


Sedangkan didalam kamar, Rania sedang berdiri disamping pembaringan, menatap ibunya yang terbaring lemah. Aryanti masih belum sadar. Kondisinya sangat memprihatinkan.


Semarah apapun Rania terhadap ibunya, melihat keadaannya yang seperti itu membuat hatinya trenyuh juga. Pikirannya berkecamuk saat ini. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dia harus menyetujui keinginan ibunya untuk mengambil ginjal Denis? Kalau itu dilakukan, bagaimana dengan Denis?


Rania mendesah perlahan.


Kinanti, kakak iparnya dengan setia menjaga sang ibu mertua yang masih memejamkan matanya.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan keputusan? Dokter sudah menanyakan. Karena kondisi ibu yang semakin memburuk. Harus secepatnya kita mendapatkan pendonor untuk ibu?"


"Bagaimana kalau kita coba mencari dulu. Tak mungkin para dokter gak ada yang bisa membantu mendapatkan pendonor untuk ibu. Aku akan membayarnya berapapun yang harus aku bayarkan." Rania masih mencoba mempertahankan pendapatnya. Damian menghela nafas dengan kasar. Kepalanya terasa pusing. Dia tahu Rania tidak akan mengijinkan putrinya untuk mendonorkan ginjalnya. Namun itu adalah jalan terakhir bagi mereka. Sebab tidak ada yang mendonorkan ginjal untuk saat ini. Tidak ada yang cocok dengan ginjal ibunya.


Bukannya Damian tega kepada keponakannya sendiri. Namun itulah yang terbaik saat ini untuk kesembuhan ibunya.


"Rania, aku tidak akan memaksamu lagi untuk hal ini. Kita akan pasrahkan saja kepada Tuhan apa yang akan terjadi pada ibu. Aku tahu kamu tidak akan merelakan putrimu untuk mendonorkan ginjalnya. Akupun bukannya tidak berusaha untuk mencari pendonor yang lain. Kamu tahu, itu akan sulit kita dapatkan." Damian melembutkan suaranya. Tidak ada gunanya dia bersikap kasar kepada Rania. Dia tahu Rania akan semakin melawan kalau dia bersikap kasar.


Rania terdiam. Benar perkiraan Damian. Jika dikasari maka Rania akan semakin melawan. Namun jika diperlakukan dengan lembut, hati Rania juga akan lembut. Nampak adiknya itu menatap wajah Aryanti dengan tatapan yang sayu. Keraguan ada dimatanya.


"Aku..aku harus bicara dengan Denis."


Damian menghembuskan nafas lega. Setidaknya ada sedikit kemajuan. Dia mengangguk dan mempersilakan adiknya untuk keluar.


Rania keluar ruangan diikuti oleh Andres.


Melihat mamanya keluar, Denis bangkit dari duduknya.


"Bagaimana keadaan nenek?" Tanya Denis.


"Nenek..dia masih tak sadarkan diri." Rania menjawab lemah.


"Ijinkan aku buat membantu nenek." Gadis itu menatap Rania penuh harap.


"Kenapa kamu sangat ingin membantu nenek? Dia sudah jahat sama kamu?"


"Kalau dengan memberikan ginjalku pada nenek akan membuat nenek menerimaku, aku akan melakukannya."


"Percayalah. Aku akan baik-baik saja."


Rania menggelengkan kepalanya dengan bibir rapat menahan tangisannya.


"Maafin mama yang selalu mengabaikanmu. Maafin mama yang selalu bikin kamu sedih dan putus asa. Maafin mama yang bikin kamu seperti sekarang ini. Semua kesalahan itu mama yang menanggungnya. Tidak seharusnya kamu berpikir begitu hanya untuk mendapatkan nenekmu sendiri. Ini semua salah mama."


Denis menggelengkan kepalanya. Matanya menatap mata mamanya dengan airmata yang merabuninya. Tidak tahan dengan keadaannya, Rania memeluk erat tubuh putrinya itu. Menangis dibahu Denis.


Begitu juga dengan Denis. Walau tak ada isak yang keluar, namun basah dimatanya menunjukkan semua perasaannya.


Andres mengusap bahu istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu harus ikhlas, sayang. Percayalah, inilah yang terbaik untuk kita semua."


*****


Persiapan operasi pencangkokan ginjal sudah mulai dilakukan. Berbagai surat pernyataan telah dibuat dan ditandatangani oleh Denis dan mamanya. Walaupun yang menjadi penerimanya adalah neneknya sendiri, namun semua prosedur harus tetap dilaksanakan.


Aryanti tetap berada dirumah sakit selama beberapa hari ini. Dia juga harus melakukan berbagai prosedur sebelum operasi dilaksanakan.


"Aku ingin bertemu Denis sebentar."

__ADS_1


Pagi itu saat dia sedang menyantap sarapan paginya. Kinanti yang sedang menemani ibu mertuanya mengiyakan.


"Selesaikan dulu sarapan ibu, nanti aku akan memanggil Denis kemari." Sahutnya dengan sopan. Aryanti tidak bicara lagi. Dia menghabiskan makanannya setelah itu.


Pukul sepuluh pagi Denis datang. Dia hanya sendiri tanpa ditemani oleh siapapun.


"Duduklah." Aryanti memberi isyarat agar Denis duduk didekatnya. Tanpa bicara apa-apa, Denis menduduki kursi yang ada disebelah tempat tidur neneknya.


"Bagaimana kabar kamu?"


"Baik."


"Apa kamu sudah siap untuk mendonorkan ginjalmu pada nenek?" Tidak ada ekspresi yang berarti diwajah wanita itu saat menanyakan hal itu pada Denis.


"Aku siap."


"Baguslah. Asal kamu tahu. Saat ini pengacara sudah menyiapkan dokumen tentang pengalihan beberapa aset nenek menjadi atas namamu. Juga atas nama mamamu. Kamu akan memiliki saham juga diperusahaan dan beberapa harta nenek lainnya."


Denis terdiam. Tangannya mengepal diam-diam disisi tubuhnya. Wajahnya mengeras tanpa disadari wanita tua itu.


"Setelah kesembuhan nenek nanti, kita akan mengadakan pesta dan saat itu, nenek akan mengumumkan kepada semua orang kalau kamu adalah cucu nenek dan akan mendapatkan hak yang sama seperti cucu nenek yang lain."


Denis masih tak bergeming. Tatapannya lurus menembus dinding kamar yang diam membeku.


"Mamamu harus berterima kasih kepadamu karena dia juga akan mendapatkan warisan yang tidak sedikit dariku karena pengorbananmu ini."


"Apa nenek sudah selesai? Aku masih harus melakukan hal lain menjelang operasi besok."


Denis segera memotong ucapan Aryanti yang semakin melantur. Matanya yang tajam beralih menatap wanita itu.


"Permisi." Segera Denis bangkit dari tempat duduknya dan beranjak dari tempat itu tanpa mempedulikan Aryanti.


"Denis! Nenek belum selesai!"


Denis menutup pintu sedikit kasar. Kinanti yang menunggu diluar terkejut melihat Denis yang keluar dari dalam kamar dalam keadaan yang tidak baik.


"Pastikan nenek istirahat dengan benar. Jangan sampai pikirannya terganggu karena memikirkan operasinya besok." Ujarnya dihadapan Kinanti. Setelah itu dia membawa langkahnya lebar-lebar meninggalkan Kinanti yang masih terpaku ditempatnya berdiri. Dia menutup kembali mulutnya yang sempat terbuka untuk bertanya kepada Denis. Keponakan suaminya itu sudah menghilang masuk kedalam lift.


*****


Hai..


Terima kasih buat yang masih membaca Rahasia Denis hingga ke bab ini..Terima kasih buat yang sudah like, komen, dan memberikan votenya buat karya yang tidak seberapa ini.


Mohon maaf jika penyampaiannya kurang berkenan dihati readers semua. Maklumlah masih belajar menulis dan berusaha untuk terus membuat tulisan yang baik.


Saya berharap semoga readers semua tidak merasa bosan mengikuti cerita Rahasia Denis ini..


😍😍

__ADS_1


Sempatkan juga untuk membaca cerita saya yang lain "Hanya Kau Dihatiku"


__ADS_2