Rahasia Denis

Rahasia Denis
Enam Puluh Delapan


__ADS_3

Sepeninggal Rania dan Denis bersama para pria yang membelanya, Aryanti sangat murka. Wajahnya memerah menahan amarah. Tangannya menggeletar dengan mata yang berkilat.


"Ibu.." Seorang pria memasuki ruangan dengan tergesa. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.


"Rania itu selalu menjadi anak yang membangkang. Sama seperti anaknya. Bahkan suaminya sekalipun." Suara wanita masih sama kerasnya seperti saat Rania masih berada dihadapannya. Tadi dia sempat tidak bersuara saat Rania pergi. Namun saat putranya datang, dia seakan seperti perapian yang kembali diberi kayu bakar.


"Ibu tenanglah. Tahan amarah ibu. Sekarang ayo ke kamar ibu. Ibu butuh istirahat." Pria itu adalah Damian Adiwijaya, putra pertama Aryanti bersama suaminya, Putu Adiwijaya. Dan merupakan kakak dari Rania. Dia lebih bisa mengendalikan dirinya dalam menghadapi ibunya dibandingkan dengan Rania.


Namun justru karena itulah Aryanti selalu membanding-bandingkan kedua anaknya itu. Damian walaupun laki-laki, namun dia lebih menurut kepada ibunya. Dia akan patuh walaupun dibelakang ibunya kadang dia mengutarakan ketidak setujuannya dengan sikap ibunya. Sedangkan Rania, dia tidak suka berpura-pura, dia akan mengatakan secara langsung apa yang tidak disukainya.


Sifatnya sangat menurun kepada Denis. Bahkan lebih parah lagi karena Denis tidak mendapatkan keadilan yang seharusnya dia dapatkan dalam keluarga itu. Dia lebih keras kepala dari Rania, ibunya.


Damian akhirnya berhasil membujuk ibunya untuk kembali kekamarnya. Dituntunnya ibunya untuk berbaring di tempat tidur.


"Damian, mungkin sebentar lagi ibu akan mati." Wanita tua itu mengerjapkan matanya yang mulai berkabutkan airmata. Airmata yang keluar karena amarah dan kesal yang belum terpuaskan.


"Ibu bicara apa. Percayalah, ibu akan panjang umur dan sehat kembali seperti biasa." Damian menarik selimut dan menutupkannya ke kaki ibunya. Setelah itu dia duduk disamping tubuh ibunya. Dipandanginya wajah tua yang nampak masih belum bisa meredam emosinya itu.


"Ibu tidak akan memberikan sedikitpun harta ibu kepada Rania dan anaknya yang tidak tahu diri itu. Kau panggillah pengacara kemari. Ibu mau bikin surat wasiat, karena umur ibu tidak akan lama lagi."


"Baik. Tapi sekarang ibu istirahat dulu. Jangan terlalu keras berpikir. Aku tidak mau kalau sampai ibu sakit lagi." Damian tahu ibunya sedang diliputi amarah. Dia hanya ingin membuat ibunya sedikit tenang.


"Tidak mungkin ibu tidak sakit, Damian. Bagaimana ibu bisa sembuh kalau pikiran ibu selalu terganggu dengan sikap adik kamu yang selalu bikin ibu marah. Ditambah anak itu yang selalu mendatangkan masalah." Aryanti masih mengomel panjang kali lebar dan Damian harus menebalkan cuping telinganya untuk mendengarkan itu semua.


"Ibu, ibu mau sembuh kan? Sekarang tenangkan pikiran ibu dan cobalah untuk tidur. Mau aku panggilkan seseorang untuk menemani ibu?" Diantara jeda ibunya.


"Tinggalkan ibu sendiri. Cepat panggil pengacara sekarang juga." Aryanti memejamkan matanya. Namun suaranya tegas tak terbantahkan.


Damian menghela nafas. Menatap ibunya dengan gelengan kecil dikepalanya. Tak ada gunanya ia membantah wanita itu. Dia akan tetap pada pendiriannya yang keras bagai batu.


Akhirnya Damian meninggalkan ibunya sendiri didalam kamar.


Diluar kamar, asisten pribadi ibunya sedang menunggu dengan setia. Dia segera bangkit dari tempat duduknya ketika melihat Damian keluar dari kamar Aryanti.


"Suruh perawat untuk selalu ada dekat ibu."


"Baik, Pak."


Damian segera berlalu dari rumah ibunya, untuk menuju kesuatu tempat.


*****


Kemarahan dan kebencian hanya akan menimbulkan luka bagi semua orang. Tidak ada yang bahagia setelah pertengkaran hebat dikediaman Aryanti. Semua merasa tersiksa dengan amarah dan kesedihan masing-masing.


Rania terpuruk didalam kamarnya. Setelah puas menangis dan mengeluarkan semua kata-kata yang terpendam dalam hatinya, dia menelepon Alex untuk menanyakan kabar Denis. Dia yakin, meskipun Denis nampak tegar dan tidak peduli, namun dia juga memiliki perasaan yang pastinya saat ini sedang sangat terluka. Dia pasti merasa sangat sedih.


Rania membaringkan tubuhnya sambil menenangkan pikirannya. Ditariknya nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan dari mulutnya.


Pintu kamarnya terbuka dan Andres masuk sambil membawa nampan berisi makan malam untuk istrinya.

__ADS_1


"Makanlah dulu. Kamu butuh ini sekarang."


Rania bangkit dan turun dari atas pembaringan. Dia mengikuti suaminya menuju sofa dan duduk disana.


Andres meletakkan makanan diatas meja.


"Terima kasih, sayang. Kamu sudah merawatku dengan baik. Kamu juga selalu menguatkan aku. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada kamu disisiku." Rania menatap sendu suaminya.


"Sudah seharusnya aku melakukan itu. Kamu adalah istriku. Aku harus selalu berada disampingmu dalam keadaan apapun dirimu."


"Aku sangat bahagia bisa selalu bersamamu. Tapi akan lebih bahagia lagi kalau Denis sudah mau memaafkanku." Kesedihannya belum berkurang sama sekali. "Setelah kejadian tadi, dia pasti semakin marah padaku."


"Jangan dulu memikirkan itu. Makanlah."


"Makanlah bersamaku." Rania menatap suaminya. Dia yakin Andres pun belum makan sejak siang tadi. Hari ini sangat buruk baginya dan keluarganya.


"Ayo." Andres tersenyum. Keduanya kemudian makan bersama didalam kamar yang hening. Mereka makan dalam diam. Hanya bunyi sendok yang beradu dengan piring terdengar nyaring. Pikiran keduanya masih dipenuhi oleh kejadian yang baru saja mereka alami.


"Aku ingin menemui Denis. Tapi aku takut dia akan menolakku." Ucap Rania setelah keduanya selesai makan. Dia masih nampak murung. Bahkan dia menyisakan banyak makanan dipiringnya.


"Aku akan bicara dengan Alex terlebih dahulu. Sepertinya dia bisa menjadi penghubung antara kita dan Denis."


"Ah, ya. Alex. Sepertinya dia sangat perhatian sama Denis. Dan ya, bagaimana acara pertunangannya waktu itu? Apakah dilanjutkan atau dibatalkan?"


" Aku tidak tahu.Tapi acara malam itu memang sangat kacau."


"Gadis itu pasti sangat sedih."


"Aku tidak mungkin melupakan kejadian malam itu. Melihat anakku terluka oleh ayah kandungnya sendiri."


"Ah..Ya.. Bisma pasti sangat menyesali kejadian itu."


"Sangat. Tapi tidak ada gunanya sama sekali."


"Apa Denis sudah menemuinya?"


"Sepertinya belum. Dan aku yakin, dia pasti tidak ingin menemui lelaki itu."


"Bagaimanapun juga, dia adalah ayahnya. Ayah kandungnya."


"Aku sangat benci jika mengingat dia adalah ayah dari anakku."


"Kita tidak bisa mengubah itu, sayang. Sebenci apapun kamu padanya, dia tetap ayah kandung Denis. Mereka berhak untuk saling mengenal satu sama lain."


Ketukan dipintu menghentikan pembicaraan mereka. Seorang asisten rumah tangga muncul dari balik pintu setelah mendengar sahutan dari Andres yang menyuruhnya untuk masuk.


"Ada Pak Damian dibawah." Asisten rumah tangga itu langsung memberikan informasi. Andres dan Rania saling melempar pandang.


"Ayo kita temui kakakmu." Andres berdiri lebih dahulu diikuti oleh istrinya. Beriringan keduanya keluar kamar menuju ruang tamu yang berada dilantai bawah.

__ADS_1


Damian telah duduk di sofa ruang tamu. Dia menoleh ke arah pasangan suami istri yang baru menuruni tangga. Dia berdiri dan menyambut tangan Andres yang terlebih dahulu menyalaminya.


"Damian, apa kabar?"


"Cukup baik."


Kemudian Damian merangkul Rania setelah tautan tangannya dengan tangan Andres terlepas.


Agak lama dia merangkul Rania seolah ingin menyampaikan sesuatu melalui pelukannya.


Mereka kemudian duduk dengan jarak berdekatan satu sama lain. Seorang asisten rumah tangga datang membawa tiga gelas minuman. Dia meletakannya diatas meja dan segera berlalu setelah pekerjaannya selesai.


"Aku baru saja dari rumah ibu dan langsung kemari. Aku mendapat telepon dari asisten pribadi ibu. Dia menceritakan kekacauan yang terjadi disana tadi siang." Ujar Damian tanpa basa-basi.


"Jadi kamu sudah tahu." Rania memalingkan wajahnya. Menyembunyikan rona kemarahan yang kembali mencuat mengingat kejadian tadi siang dirumah ibunya.


"Aku hanya merasa heran. Sebelum anak kamu datang, kamu sudah berbaikan dengan ibu. Tapi sekarang, dia datang malah kalian bertengkar lagi."


"Jangan coba-coba menyalahkan anakku dalam masalah ini, Damian. Masalahnya adalah ibu sudah menipuku. Dia berpura-pura memaafkan Icha dan menyuruhku untuk mencarinya. Ternyata ada maksud tertentu dibalik itu. Dia inginkan ginjal Icha. Aku tidak bisa terima itu, Damian." Rania menyeka kasar air mata yang bergulir dengan begitu saja dipipinya.


"Rania, apa kamu tidak tahu kalau ibu sedang sakit parah? Kamu mau kalau ibu meninggalkan kita semua?"


"Walaupun aku dan ibu tidak pernah akur, tapi aku selalu mendoakan kesehatan untuk ibu. Tentu saja aku ingin agar ibu panjang umur. Tapi tidak dengan cara seperti itu." Suara Rania mulai menaik. Andres menyentuh tangan istrinya dan mengusapnya lembut.


"Rania, ibu selalu bersemangat dalam menjalani hidup. Baru dalam beberapa bulan terakhir ini dia seperti mulai putus asa. Vonis dokter membuatnya panik dan mulai mencari cara untuk kesembuhannya."


"Dia bisa mencari orang lain untuk mendonorkan ginjalnya. Kenapa dia menginginkan milik Icha."


"Karena ada darah yang sama yang mengalir dalam tubuh anakmu. Itu akan lebih mudah daripada ibu harus mencari orang asing untuk mendonorkan ginjalnya."


"Darah yang tidak dia akui sebelumnya." Ketus Rania.


"Maafkanlah ibu, Rania. Bagaimanapun juga, dia adalah ibu kita satu-satunya. Tak akan terganti oleh yang lain. Mengertilah keadaannya saat ini. Ibu masih punya harapan hidup yang tinggi setelah mendapatkan ginjal baru untuknya."


"Jadi kamu kesini untuk membujukku menyerahkan Icha pada kalian? Begitu?"


Mata Rania berkilat menatap kakaknya.


Melihat suasana yang memanas, Andres waspada. Sepertinya pembicaraan mereka tidak akan berlangsung dengan damai.


"Aku tidak akan melakukan itu. Kau fikirlah sendiri. Cobalah untuk berada diposisi ibu."


"Kalau aku menjadi ibu, aku tidak akan tega untuk mengatakan hal itu kepada Icha."


Damian menghela nafas dengan gusar. Tidak akan pernah bisa menemukan titik temu jika berdebat dengan Rania. Bahkan walau mereka melakukannya selama tujuh hari tujuh malam.


"Temuilah ibu. Bicaralah baik-baik dengannya. Kalaupun kamu tidak setuju dengannya, katakanlah dengan halus. Jangan membuatnya marah seperti itu." Damian masih berusaha untuk melunakan hati adiknya.


"Aku tidak akan melakukan itu. Kecuali ibu mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Icha anakku." Hati Rania keras tidak tergoyahkan.

__ADS_1


"Setidaknya aku sudah mengingatkanmu." Ucap Damian sebelum meninggalkan rumah Rania.


*****


__ADS_2