
Flashback
"Kamu masih mengawasinya?"
"Masih, Pak. Nona sekarang berada dirumah Tuan Arga Dinata."
"Apa? Rumah Arga Dinata?"
"Betul, Pak. Kami sudah memastikan kalau ini adalah rumah Tuan Arga Dinata almarhum."
"Bagaimana bisa dia ada disana?"
"Nona berteman baik dengan Tuan Alex, putranya Tuan Arga Dinata..."
Ferdi kemudian memberikan semua informasi yang ingin diketahui oleh Andres, majikannya. Semua yang telah dia ketahui, dia jelaskan kepada pria yang sudah menyuruhnya untuk mencari tahu tentang keberadaan Denis sejak beberapa bulan yang lalu.
Setelah pencarian yang memakan waktu tidak sebentar, akhirnya dia melihat Denis di arena balapan liar tadi malam. Dia terus mengikuti Denis karena takut kehilangan jejak untuk kesekian kalinya.
Sebetulnya itu bukan pertama kalinya dia mendapatkan jejak Denis. Dia sudah menelusuri jejak Denis sejak dari rumah pak Mijan. Namun dia terlambat mengetahui keberadaan Denis disana. Saat itu Denis sudah pergi bersama Mariana dan Alex.
Berdasar informasi yang didapat dari Anwar saat itu, Ferdi dapat dengan mudah menemukan alamat rumah Mariana. Namun lagi-lagi keberuntungan belum berpihak padanya. Saat itu Denis telah berpindah tempat tanpa diketahui oleh Mariana. Sehingga untuk beberapa waktu, mereka kembali kehilangan jejak Denis.
Ferdi dan teman-temannya terus menelusuri keberadaan Denis hingga akhirnya tadi malam dewi keberuntungan berpihak padanya. Dia melihat Denis ditempat balapan liar. Tempat yang memang telah mereka awasi setelah mendapat informasi siapa saja yang menjadi teman Denis.
Awalnya Ferdi merasa ragu ketika melihat Denis. Namun dia tidak mau mengabaikan begitu saja kemungkinan yang ada. Dia terus mengikutinya hingga ke markas Jack. Dia semakin yakin kalau itu Denis setelah melihat siapa orang-orang yang berada disekitarnya. Beruntunglah dia karena tidak melepaskan pandangannya dari Denis walaupun tadi malam terjadi sedikit kekacauan ditempat balapan.
Setelah semalaman dia menunggu Denis keluar dari markas Jack, akhirnya pada jam sebelas siang Denis kembali terlihat oleh Ferdi dan temannya. Hampir saja mereka frustasi dan meninggalkan tempat itu karena berfikir kalau Denis sudah pergi dari sana. Untung saja mereka sedikit bersabar untuk menunggu Denis keluar sambil terus mencari informasi tentang anak dari majikannya itu.
Mereka terus mengikuti Denis tanpa disadari oleh Denis. Mereka menunggu tidak jauh dari rumah Alex ketika Denis memasuki rumah itu untuk terus mengawasi keberadaan Denis disana. Saat itu Ferdi langsung menelepon Andres untuk memberikan informasi terbaru tentang Denis.
"Aku akan segera kesana untuk memastikan. Terus awasi jangan sampai lengah."
"Baik, Bos."
__ADS_1
Belum sempat Andres datang ketempat itu, Ferdi melihat Denis keluar dari sana dengan motornya. Sebuah tas ransel berada dipunggungnya menandakan dia akan pergi dari rumah itu. Ferdi segera mengabarkan hal itu kepada Andres.
"Aku dapat melihatnya. Kalian terus awasi jangan sampai kehilangan dia."
Andres dan anak buahnya terus saling berkomunikasi sambil mengikuti motor Denis. Barulah ketika di lampu merah itu Denis menyadari ada Andres didekatnya. Dia berusaha untuk menghindari pria yang merupakan ayah tirinya itu. Namun tanpa disadarinya, anak buah Andres yang selalu siap siaga tak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Denis. Dengan kendaraan berbeda yang tidak diketahui oleh Denis, anak buah Andres terus mengikuti Denis.
"Nona memasuki sebuah kafe, Bos." Ferdi kembali memberikan informasi kepada bosnya. Dengan rinci dia memberitahukan tentang kafe yang didatangi Denis.
Andres tersenyum puas ketika mendengar informasi yang diberikan anak buahnya.
"Rania pasti akan sangat senang mendapat kabar ini." Gumamnya. Tanpa menunggu lama dia langsung menelepon istrinya.
"Aku akan segera menemui putriku." Rania begitu antusias ketika mendapat telepon dari suaminya. Setelah mendapat alamat kafe yang sekarang sedang didatangi Denis, dia segera berangkat dengan ditemani oleh seorang sopir pribadinya.
*****
Disinilah dia sekarang. Berada dihadapan seorang yang sangat dirindukannya selama satu tahun ini. Sesosok tubuh yang tinggi melebihi ketinggian tubuhnya. Sosok yang tegap berbalut jaket kulit dan celana jeans lusuh kesukaannya.
Hampir saja dia terlambat datang. Karena ketika tiba disana, bersamaan dengan keluarnya Denis dari kafe itu.
Hatinya terasa perih melihat putri yang selama ini diabaikannya kini berdiri dihadapannya dengan tatapan dingin dan datar. Hanya terlihat sedikit terkejut ketika melihat ada Rania diluar kafe itu. Namun selanjutnya, tatapan itu begitu dingin. Tidak ada kerinduan sedikitpun disana.
Rania melangkahkan kakinya perlahan, mengikis jarak antara dirinya dan Denis.
"Icha, sayang.." Suaranya bergetar. Begitu juga dengan kedua bola matanya. Kaca-kaca telah memenuhi rongga matanya. Jemarinya mengepal dan saling meremas, menahan diri untuk tidak langsung memeluk sosok dihadapannya.
"Maaf. Nama saya bukan Icha." Sangat datar suara Denis dan tatapannya dalam menusuk.
Denis melangkahkan kakinya kesamping untuk menghindari Rania yang menghalangi jalannya. Kemudian segera berlalu dari sana tanpa mempedulikan wanita itu.
"Sayang, tolong beri mama waktu untuk bicara denganmu." Rania mengikuti langkah Denis menuju motornya.
Denis tak menyahut. Dia memasang helmnya dengan tergesa sambil berjalan. Ketika sampai dimotornya dia langsung menghidupkannya dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Rania memegangi tangan Denis yang sudah siap untuk melajukan motornya.
"Denis." Dia memanggil dengan nama itu. "Bicaralah dengan mama sebentar saja. Mama sangat rindu sama kamu." Airmatanya sudah menetes membasahi pipinya. Namun belum cukup untuk menggoyahkan hati Denis yang beku.
Denis tersenyum miring mendengar ucapan wanita itu. Sebuah dengusan terdengar keluar dari hidungnya.
"Pulanglah ke rumah, sayang. Kami semua menunggumu." Ucap Rania memelas. Masih mencoba untuk menarik simpati dari putrinya itu.
"Maaf. Anda salah orang." Balasan dari Denis begitu dingin dan terdengar sangat kejam ditelinga Rania. Namun dia harus menguatkan hatinya untuk menerima semua sikap Denis kepada dirinya.
Denis memundurkan motornya. Tanpa menghiraukan Rania yang memanggil namanya, dia melajukan motornya meninggalkan tempat itu. Sekilas dia dapat melihat ada Andres tidak jauh dari sana. Melalui spion dia dapat melihat Andres segera menghampiri Rania yang berusaha mengejarnya dan memanggil namanya.
Denis merapatkan bibirnya. Hatinya berdenyut. Tanpa diketahui siapapun, dia merasa sakit karena telah bertindak kejam kepada wanita itu. Apakah benar yang mamanya katakan tadi bahwa dia merindukannya? Hhh, itu sangat tidak mungkin. Mungkin tadi dia salah dengar.
Denis menaikkan kaca helmnya. Mengusap matanya yang terasa perih. Namun dia tidak menghentikan motornya. Dia terus melaju, membelah jalanan yang tak pernah sepi dari kendaraan.
Di tempat parkir yang ditinggalkan Denis, Rania menangis didalam pelukan suaminya. Dia ingin mengejar Denis, namun Andres menahannya.
"Dia tidak mau bicara denganku. Dia sangat membenciku." Dia terisak didada suaminya.
"Beri dia sedikit waktu. Dia pasti hanya terkejut karena tidak menyangka akan bertemu denganmu disini." Andres mengusap lembut punggung istrinya. Kemudian dia membawa istrinya memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.
Andres memerintahkan sopir untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Aku tidak mau kehilangan dia lagi, Andres." Rania masih terisak dalam pelukan Andres.
"Tenanglah. Anak buah kita terus mengawasinya. Kita tidak akan kehilangan dia lagi."
Andres berusaha untuk membuat istrinya lebih tenang. Dia terus berusaha menghibur istrinya. Dia tidak mau melihat istrinya terus sedih karena selalu memikirkan Denis.
"Aku memang ibu yang tidak berguna. Anakku sendiri bahkan sangat membenciku." Rania masih belum puas mengeluarkan isi hatinya.
"Jangan bicara seperti itu. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu adalah wanita yang hebat."
__ADS_1
Andres kemudian menelepon Ferdi untuk mengetahui posisi Denis saat ini. Setelah mendengar jawaban dari anak buahnya bahwa mereka masih mengikuti Denis dijalan, dia mengarahkan sopir agar membawa mereka pulang. Awalnya Rania menolak untuk pulang. Dia bersikeras untuk mencari Denis saat itu. Namun setelah dibujuk oleh Andres, akhirnya dia pasrah ketika mobil kemudian mengarah ke kediaman mereka.
*****