Rahasia Denis

Rahasia Denis
Sebelas


__ADS_3

Denis POV


Aku begitu terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa Sisil telah diculik oleh para penjahat itu. Aku sangat marah. Ingin aku menyalahkan Alex. Karena kehadiran dialah semua ini terjadi. Tapi jika kuingat bahwa aku dan bang Theo-lah yang telah membawa Alex ke rumah ini, amarah itu mereda. Akulah yang bersalah disini karena telah lalai sehingga keselamatan Sisil dalam bahaya.


Seharusnya aku memprediksikan hal ini saat ada serangan terhadap Alex tadi malam. Aku lengah. Tak menyangka ini akan terjadi.


Sisil. Gadis manja putri kesayangan bang Theo. Orang yang telah memungutku dari jalanan. Orang yang tak mempedulikan darimana asal usulku namun dengan mudahnya menerimaku tinggal dirumahnya. Dia tak pernah menanyakan secara detil apapun tentang diriku. Siapa aku, siapa keluargaku, darimana asalku, itu semua tidak menjadi masalah baginya. Dia tidak menaruh prasangka sedikitpun padaku. Mungkin saja aku ini penjahat atau penipu.


Pria itu berhati mulia. Dia menolongku tanpa ada pamrih. Begitupun istrinya. Mbak Fani punya jiwa sosial yang tinggi. Sebagai seorang dokter, dia sudah terbiasa menolong orang. Mengamalkan ilmunya dengan ikhlas. Mereka adalah pasangan yang sempurna.


Pun ketika bang Theo menyuruhku untuk tinggal dirumahnya, mbak Fani tidak protes sama sekali. Dia malah mengatakan kalau dia merasa senang kalau dirumahnya banyak orang. Jadi dia tidak merasa kesepian. Padahal disana sudah ada mang Jana dan istrinya. Kadang anak mang Jana pun datang juga dan menginap disana. Selain mereka berdua ada juga Lukman. Pegawai bang Theo di bengkel.


Dia masih kerabat jauh mbak Fani. Dia sudah tidak memiliki ayah. Ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak memiliki penghasilan. Ayahnya meninggal dunia ketika dia duduk dibangku SMP. Sejak itu dia tinggal bersama keluarga bang Theo. Sekolahnya dibiayai oleh bang Theo. Anaknya juga rajin dan pandai membawa diri. Sepulang sekolah dia datang ke bengkel dan belajar pekerjaan di bengkel. Sehingga ketika lulus SMA dia langsung bekerja dibengkel bang Theo. Itu kisah Lukman yang diceritakan bang Theo kepadaku.


Sedangkan aku. Bang Theo tidak mengetahui apapun tentang aku. Dia tidak mengenalku sebelumnya. Pernah sekali dia menanyakan kartu identitasku. Kubilang saja kalau semuanya hilang karena ada yang mencopetku. Padahal aku masih memilikinya. Aku menyimpannya baik-baik agar tak ada orang yang mengetahuinya. Aku tak ingin ada yang tahu identitasku yang sebenarnya. Bang Theo tak pernah mempermasalahkan itu. Pernah juga dia menanyakan perihal keluargaku. Aku bilang saja kalau aku sudah tidak punya keluarga.


Memang begitu kenyataannya. Aku seperti orang yang tidak punya siapa-siapa didunia ini. Tak ada seorangpun mempedulikanku. Setahun sudah aku pergi dari rumah, tapi sepertinya tak ada yang merasa kehilangan sama sekali. Tak ada yang mencariku. Apalagi merindukanku. Mungkin bagi keluargaku, aku adalah anak yang sudah mati. Mungkin mereka malah merasa senang dengan kepergianku.


Aku juga tidak berusaha untuk menghubungi keluargaku atau teman-temanku. Biarlah aku terlepas dari masa laluku. Kalau Tuhan berkehendak, mungkin suatu saat nanti aku akan dipertemukan dengan mereka kembali.

__ADS_1


Sebenarnya dulu aku dalam perjalanan menuju kerumah mantan pegawai papaku yang berada di Solo. Aku melarikan diri dari rumah karena masalah yang sangat membuatku muak. Mantan pegawai papa itu seorang yang kukenal sejak aku kecil. Dia sangat menyayangiku karena beliaulah yang telah merawatku. Beliau berhenti bekerja karena sudah berusia lanjut dan merasa tidak bisa bekerja sebaik ketika beliau muda. Aku pikir tempat itu paling aman. Tak akan ada yang mencariku ke tempat itu.


Tapi takdir berkata lain. Takdirlah yang telah mempertemukanku dengan bang Theo. Motorku tiba-tiba mogok dan bengkel bang Theo lah yang saat itu berada paling dekat dengan posisiku berada. Beliau menolongku. Beliau menawarkanku tempat tinggal dan juga pekerjaan. Mulanya aku sangat terkejut. Tidak menyangka masih ada orang sebaik itu didunia ini. Sempat juga aku berpikir bahwa dia hanya baik pada awalnya saja. Tetapi ternyata dugaanku salah. Dia sangat baik. Hingga aku bisa berada disini selama ini. Aku merasa nyaman disini. Terlebih lagi gak ada seorangpun yang akan mengenalku disini.


Tapi kini keluarga bang Theo sedang mendapat masalah. Walaupun masalah itu bisa diselesaikan dengan cara menyerahkan Alex sebagai gantinya, tapi aku merasa masalahnya tidak akan semudah itu. Aku tidak tahu bagaimana para penjahat itu. Kalau memang benar mereka adalah yang membuat kekacauan di bengkel, aku bisa mengukur kemampuan mereka. Tapi bagaimana kalau ternyata tebakanku salah. Atau lebih parah lagi kalau ternyata komplotannya lebih dari empat orang yang telah kuketahui.


Bagaimana juga kalau ternyata mereka ingkar janji. Mereka itu penjahat. Orang yang tidak bisa dipercaya. Aku harus mengantisipasi kemungkinan itu. Aku juga tidak mengetahui kemampuan Alex. Tubuhnya memang kekar. Tapi dua kali diserang penjahat, dua kali pula dia tumbang. Bahkan akulah yang harus bersusah payah melawan penjahat itu. Aku tidak bisa menggantungkan harapan padanya seandainya nanti aku diserang oleh kawanan penjahat itu.


Aku juga tidak mungkin menyerahkan Alex begitu saja untuk mereka bunuh. Ya. Tentu saja mereka berniat membunuh Alex. Sebab itulah tujuan utama mereka. Setelah gagal dengan percobaan pembunuhan mereka yang pertama, pastinya mereka tidak ingin targetnya terlepas lagi begitu saja.


Bang Theo mengatakan akan mengikutiku untuk mengawasi dari kejauhan. Tapi aku menyuruhnya untuk menjaga jarak agar jangan terlalu dekat. Tadi aku memintanya untuk keluar dari rumah setidaknya setelah setengah jam dari saat aku pergi. Aku tidak mau kalau sampai penjahat itu tahu kami dibuntuti. Bisa-bisa itu membahayakan keselamatan Sisil.


Alex berada dibelakangku dan terasa tubuhnya menempel ditubuhku. Sekali-kali tangannya memegangi sisi jaket yang kupakai. Aku sangat risih sebenarnya. Tapi kuabaikan itu karena sekarang tujuan utamaku adalah menemukan Sisil secepatnya.


Aku juga sebenarnya merasa risih harus tidur satu kamar dengan dia. Apalagi tadi malam dia tidur diatas kasur yang sama denganku. Benar-benar itu membuatku merasa tidak tenang. Kalau saja dia tahu siapa aku mungkin dia tidak akan melakukan itu. Bahkan bang Theo pun tidak tahu siapa aku sebenarnya. Sehingga dengan begitu saja menyuruh Alex untuk tidur satu kamar denganku. Aku bukanlah berasal dari gender yang sama dengan mereka. Aku bukan laki-laki. Aku adalah seorang wanita dewasa berumur 20 tahun.


Kalau saja bang Theo melihat KTP-ku. Disana jelas tertera. Namaku adalah Denisha Nathania Adiwijaya. Dan aku adalah seorang perempuan.


Ya. Itu benar. Hanya saja semua orang menyangkaku seorang laki-laki. Melihat dari postur tubuhku dan juga penampilanku. Tak ada seorangpun yang menyangkaku seorang perempuan. Akupun membiarkan saja kekeliruan itu. Toh aku memang sedang tidak ingin diketahui oleh siapapun. Aku tidak berniat menipu siapapun. Tapi memang tidak ada yang menanyakan padaku apakah aku ini laki-laki atau perempuan.

__ADS_1


Ditambah lagi aku bekerja dibengkel. Dan juga kemampuanku bela diri semakin menonjolkan sisi maskulinku. Aku kadang merasa bersalah juga jika ada gadis yang coba mendekatiku. Itu sebabnya aku sangat menghindari interaksi dengan orang lain terutama perempuan. Biarlah mereka menganggapku laki-laki. Aku merasa aman berada dalam anggapan itu.


Kecuali ketika aku harus berada satu kamar dengan Alex. Entah mengapa aku merasa grogi. Padahal bukan kali ini saja aku berdekatan dengan laki-laki. Dulu aku punya teman laki-laki. Di tempat latihan karateku juga banyak laki-laki dan aku sudah terbiasa dianggap laki-laki. Jarang ada yang tahu aku ini perempuan. Kecuali teman sekolahku. Ditempat aku kuliah dulu pun kebanyakan menyangka aku laki-laki.


Sejak kecil aku telah tumbuh menjadi anak yang pemberani dan cenderung tomboy. Teman-temanku memanggilku Denis atau Nathan. Nama khas cowok. Mereka mengolok-olokku pada awalnya. Tapi kemudian nama itu jadi melekat padaku. Hampir semua temanku memanggilku begitu.


Dirumah aku dipanggil dengan panggilan yang amat girly dan manja. Icha. Mamaku dan keluarga terdekatku biasa memanggilku Icha. Selain itu tak ada yang memanggilku begitu. Bahkan sejak lebih dari satu tahun yang lalu.


Diluar rumah nama Denis semakin melekat. Hampir tak ada yang tahu nama asliku selain orang yang tahu asal usulku.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*****


__ADS_2