
Pertemuan dengan Davin ternyata membuat perasaan Denis semakin membaik. Davin yang sangat menerima baik dirinya dan bersikap apa adanya membuat Denis benar-benar merasa memiliki saudara. Sememangnya Davin adalah saudaranya. Namun Denis merasa seakan dia baru menemukan saudaranya itu seumur hidupnya. Kemana saja dia selama ini? Dia baru menyadari kalau Davin ternyata sangat menyenangkan.
Keakraban langsung terjalin diantara mereka. Davin akan menyukai apapun yang Denis lakukan. Dia juga banyak bertanya mengenai pengalaman Denis semasa pergi dari rumah. Dia juga sangat antusias membicarakan masalah otomitif yang memang sudah mendarah daging dengan Denis. Keduanya ternyata memiliki banyak persamaan yang membuat pembicaraan diantara keduanya mengalir begitu saja.
Mereka terus ngobrol berbagai hal selama dalam mobil, juga selama mereka makan siang di sebuah restoran.
Davin benar-benar memenuhi janjinya untuk mentraktir Denis makan. Semua dia yang bayar. Dia bilang selama berada di perantauan dia tidak melulu mengandalkan uang kiriman dari orangtuanya.
Dia ternyata bekerja part time di sebuah show room kendaraan roda empat. Dia lakukan itu bukan karena kekurangan uang, namun memang dia ingin belajar mandiri dan mencari pengalaman kerja. Menurutnya, itu sangat penting jika ia ingin memulai bisnis. Dia harus belajar dari bawah dulu sehingga nanti saat dia memiliki usaha sendiri, dia tahu apa saja yang harus dia lakukan.
Denis berdecak kagum saat mengetahui adiknya yang ternyata pekerja keras. Sangat kelihatan bakat bisnis mulai menurun dari papa dan mamanya. Dan yang membuat dia tambah bangga adalah, adiknya itu tidak menyia-nyiakan masa mudanya untuk hal-hal yang tidak berfaedah seperti kebanyakan anak muda lainnya.
"Lo keren banget ternyata. Hebat. Gue bangga banget sama lo." Denis memuji adiknya dengan tulus. Matanya berbinar saat menatap adiknya itu.
"Tapi gak usah bilang sama mama papa kalau gue ngelakuin itu. Apalagi mama. Bisa-bisa gue disuruh pulang ke Indonesia. Gue masih betah disana soalnya."
"Tenang aja. Gue gak bakalan bilang."
"Mmm.." Davin tiba-tiba berubah serius. "Gimana Nenek?"
"Nenek baik. Lo pasti tahu kalau nenek baru saja dioperasi ginjal."
"Yah..Mama udah cerita. Mama juga bilang kalau yang donor ginjal ternyata..papa lo."
"Yah..begitulah. Gue gak tahu harus bilang apa. Pria itu tiba-tiba aja muncul. Gue gak pernah kenal dia sebelumnya. Bahkan, lo tahu, dia hampir ngebunuh gue dua kali."
"Apa? Kok bisa?"
Denis menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya akibat ulah Bisma. Davin berdecak mendengar semua penuturan Denis.
"Pria itu benar-benar gak bisa dimaafkan." Ujar Davin saat Denis menyelesaikan ceritanya.
"Begitulah. Sangat sulit buat gue nerima kenyataan kalau dia itu papa gue." Denis menghela nafas dengan berat.
"Lo sabar ya." Davin menatap kakaknya itu dengan prihatin.
"Thanks."
*****
Keduanya keluar dari restoran itu setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk saling melepaskan kerinduan.
Saat hendak menjalankan mobilnya meninggalkan tempat parkir, mata Denis memicing melihat ke arah spion. Dibelakang mobilnya nampak sepasang muda mudi yng kelihatannya sedang bertengkar. Sang pria nampak menarik tangan sang gadis dan kelihatannya gadis itu menolak untuk mengikuti sang pria.
Denis mengerutkan keningnya. Sepertinya dia mengenal gadis itu.
Saat si pemuda memaksa gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya, Denis bergegas turun dari mobilnya. Davin mengikuti langkah kakaknya dengan tatapan heran. Kepalanya berputar untuk melihat apa yang akan dilakukan Denis.
"Lepasin tangan lo dari cewek ini!" Denis meraih tangan pemuda itu. Menahannya dengan kuat.
Pemuda itu menoleh dengan terkejut.
"Siapa lo? Jangan ikut campur urusan gue." Dia menatap Denis dengan marah. Disentakan tangannya dari genggaman tangan Denis.
"Kak Denis!!" Gadis itu segera meluru kearah Denis. Menyembunyikan tubuhnya dibelakang tubuh Denis. Wajahnya sudah penuh dengan airmata.
__ADS_1
"Lo dengar? Dia adik gue. Masih mau macam-macam lo?"
Pemuda itu nampak terkejut. Dia menatap gadis itu setengah tak percaya dengan ucapan Denis.
"Sylvia, kita harus bicara. Ayolah." Pemuda itu melembutkan suaranya. Menatap penuh harap kepada gadis itu. Dia ternyata Sisil, putri dari bang Theo. Entah sedang apa gadis itu disana bersama pemuda yang entah ada hubungan apa diantara mereka.
"Dia gak mau bicara sama lo. Dan dia akan pulang bareng gue." Denis segera memotong ucapan pemuda itu. "Ayo Sisil."
Denis segera menarik tangan Sisil untuk meninggalkan tempat itu.
Namun rupanya pemuda itu tidak terima Denis ikut campur urusannya. Dia belum selesai dengan Sisil.
Dengan tiba-tiba dia menarik tangan Sisil dan menyentakkannya hingga terlepas dari pegangan tangan Denis.
Sisil memekik karena terkejut dan juga nampak jelas kalau dia ketakutan karena ulah pemuda itu.
Denis membalikkan tubuhnya. Matanya menyorot tajam ke arah pemuda itu.
"Lepasin Sisil!"
"Gue pacarnya. Dia akan pulang bareng gue."
"Dia adik gue."
"Lo bohong! Gue tahu Sisil gak punya kakak!" Pemuda itu mengeratkan pegangan tangannya saat Sisil berusaha ingin melepaskan dirinya dari pemuda itu. Nampak wajahnya menunjukkan ketakutan yang teramat sangat.
Denis yakin. Saat ini Sisil sangat ketakutan. Dia pernah trauma akibat peristiwa di tepi jurang itu. Dan sekarang, kekerasan yang dilakukan pemuda itu bukan tidak mungkin akan membuat traumanya timbul kembali.
"Sisil, tenang ya. Ada aku disini. Katakan, kamu mau pulang sama siapa? Sama aku atau sama cowok itu?" Denis berusaha bersikap lembut kepada Sisil. Dia tidak mau kalau sampai psikologis Sisil terganggu kembali gara-gara kejadian ini.
"Lepasin Sisil. Atau.."
"Atau apa?"
"Atau, ini.."
Secepat kilat Denis menarik tangan Sisil dan melayangkan tinjunya ke arah wajah pemuda itu. Terkejut mendapat serangan tiba-tiba, pemuda itu tidak sempat menghindar. Pegangan tangannya terlepas dari Sisil.
Keluar umpatan kasar dari mulut pemuda itu. Hidungnya nampak memerah dan ada sedikit darah yang menetes dari lubang hidungnya.
Kemarahan pemuda itu semakin tersulut, dia membalas serangan Denis. Tangannya yang besar melayang mengarah ke wajah Denis. Dengan sigap Denis menghindar. Sedikit saja dia menggerakkan kepalanya kesamping dan tangannya menyongsong tangan pemuda itu. Menepisnya dan sekaligus dia mengirimkan tendangannya ke arah perut pemuda itu.
Pemuda itu terhuyung ke belakang. Api kemarahan semakin berkobar dimata pemuda itu.
Pemuda itu bersiap kembali untuk menyerang Denis. Belum sempat pemuda itu bergerak, dua orang petugas keamanan datang dengan tergopoh.
"Ada apa ini?" Tanya salah satu dari mereka.
"Cowok itu sudah mengganggu adik saya. Sekarang saya mau membawa dia pulang, tapi dia menghalangi saya." Denis meraih tangan Sisil yang sedang berjongkok dengan menutupkan tangannya di wajahnya. Dia menangis ketakutan.
"Ayo, Sisil!"
"Benar dia kakakmu?" Petugas keamanan bertanya kepada Sisil untuk meyakinkan kebenaran ucapan Denis.
Gadis itu mengangguk dan merapatkan tubuhnya kepada Denis.
__ADS_1
"Kalau begitu silakan bawa adik anda pulang. Dan tolong jangan membuat keributan di tempat ini lagi." Petugas keamanan itu menoleh kearah pemuda itu yang nampak masih sangat kesal kepada Denis.
Tanpa mempedulikan pemuda itu, Denis menarik tangan Sisil dan membawanya ke mobil. Membuka pintu belakang dan menyuruh Sisil segera masuk.
Dengan masih terisak Sisil masuk kedalam mobil Denis. Dia sedikit terkejut saat melihat ada orang lain di dalam mobil. Segera dia menghapus airmatanya dan menyembunyikan wajahnya yang sembab.
"Gila! Lo hebat banget lawan cowok tadi." Davin berdecak kagum saat Denis masuk kedalam mobil. Memasang seatbelt dan mulai menyalakan mesin mobil.
Denis hanya tersenyum tipis.
Denis menjalankan mobilnya setelah melihat Sisil duduk dengan tenang. Diliriknya kaca spion melihat reaksi pemuda itu setelah dia tinggalkan. Nampak pemuda itu masih berdiri ditempatnya sambil menatap mobil Denis yang bergerak semakin menjauh. Tangan pemuda itu masih terkepal kuat di sisi tubuhnya. Pastinya dia masih menyimpan amarah.
Selama perjalanan Denis tidak mengatakan apa-apa. Hanya sesekali dia melirik Sisil melalui spion atas.
"Mau kemana nih?" Davian melihat jalan yang dilalui mobilnya. Jelas tidak mengarah kearah rumah mereka.
"Nganter dia pulang."
"Lo tahu rumahnya?"
Denis tidak menyahut.
"Lo kenal dia?"
Davin masih penasaran. Denis mengangguk.
Terdengar bunyi telepon dari saku jaket Davin. Segera Davin mengambilnya.
Ternyata Rania, mamanya, yang menelepon. Dia merasa khawatir karena Denis dan Davin belum sampai kerumah. Dia sendiri sudah menunggu dirumah cukup lama dan menyiapkan penyambutan atas kedatangan Davin.
"Sebentar lagi kita sampai.." Davin menutup panggilan telepon dari mamanya.
Denis membawa mobilnya menuju rumah kediaman bang Theo. Davin hanya mengerutkan keningnya saat mobil yang dikendarai Denis memasuki halaman sebuah rumah.
"Kak Denis. Tolong jangan bilang papa sama mama tentang masalah ini." Sisil menunduk saat turun dari mobil.
"Maaf Sisil. Aku harus bilang ini sama papa kamu. Aku gak mau cowok tadi mengganggu kamu lagi."
Sisil kembali terisak.
"Dia beneran pacar kamu?"
Sisil tidak menjawab. Denis menghela nafas.
"Dengar. Jauhin cowok itu. Dia terlalu dewasa buat kamu. Dia juga sepertinya tidak baik buat kamu."
Setelah itu Denis menyuruh Sisil untuk masuk. Dia sendiri tidak berniat untuk ikut masuk karena yakin tidak ada siapa-siapa didalam. Mbak Fani dan Bang Theo pastinya masih berada ditempat kerja mereka masing-masing.
Setelah memastikan Sisil masuk ke dalam rumahnya, Denis kembali menuju mobilnya. Berhenti sebentar dipintu gerbang untuk bicara dengan penjaga keamanan rumah itu. Dia berpesan agar tidak mengijinkan pemuda tadi untuk menemui Sisil. Denis menyebutkan ciri-ciri pemuda itu kepada petugas keamanan. Pria setengah baya itu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Denis langsung melajukan mobilnya untuk pulang setelah memastikan pria itu mengerti akan arahan darinya.
"Siapa cewek tadi? Lo kayaknya kenal banget sama keluarganya?" Tanya Davin.
"Itu keluarga yang gue tumpangi waktu gue pergi dari rumah." Jawab Denis. "Cewek tadi Sisil, anaknya bang Theo, yang punya rumah itu. Mereka baru pindah kesini. Gue gak tahu siapa cowok tadi."
__ADS_1
*****