Rahasia Denis

Rahasia Denis
Duapuluh


__ADS_3

Denis duduk diatas batu besar dibawah pohon beringin tepi sungai. Matanya menatap takjub pemandangan dihadapannya. Air sungai yang mengalir tiada henti melalui bebatuan yang berbaris disepanjang alirannya. Suaranya gemuruh menggema dipenjuru lembah yang dalam. Denis ingat ketika berada diatas tebing, suara aliran sungai ini terdengar sampai diatas.


Angin lembah menyeruak menyapu tubuhnya yang bergeming sejak setengah jam yang lalu. Kedua tangannya dilipat didepan dadanya. Rambutnya mulai melewati telinganya karena sudah lebih seminggu tidak dipotong. Biasanya dia akan merasa geli jika rambut itu mengenai telinganya.


Denis menatap aliran air sungai tanpa jemu. Ada ketenangan tersendiri ketika ia menikmati ini sendirian disini. Tadi dia nekat pergi sendiri dari pondok karena merasa bosan setelah dilihatnya Alex yang malah tertidur membiarkan dia sendiri.


Sebenarnya dia tidak masalah kalau harus sendiri tak ada yang mengajaknya berbicara. Toh dia memang tidak terlalu suka banyak bicara. Namun berada sendiri ditempat asing ini rasanya berbeda.


Suara ranting patah membuat Denis terhenyak dari lamunannya. Dengan sigap dia merubah posisinya. Dia berbalik dan dengan mata tajam melihat siapa orang dibelakangnya.


Denis menghembuskan napas lega ketika melihat siapa orang yang sedang berjalan mendekatinya. Kembali ia membalikan tubuhnya menghadap sungai. Membiarkan orang itu mendekatinya dan berdiri disampingnya.


"Aku mencarimu disekitar pondok. Ternyata kamu ada disini."


Denis tidak menyahut. Alex mengambil batu kecil dan melemparkan mendatar kepermukaaan air. Batu itu melambung beberapa kali menyentuh permukaan air sebelum jatuh tenggelam kedalam air sungai.


Hal itu rupanya tak luput dari perhatian Denis. Dia nampak terpukau dengan yang dilakukan Alex. Denis menoleh kearah Alex dengan mata bersinar.


"Gimana lo bisa ngelakuin itu?"


"Kenapa? Kamu gak pernah ngelakuin ini?"


Denis mengangkat bahu. Alex tersenyum. Dia kembali mengambil sebuah kerikil. Melemparkan kembali dengan cara yang sama seperti tadi diikuti tatapan Denis.


"Dulu ketika aku kecil, keluargaku punya villa ditepi danau. Kami selalu menghabiskan hari libur disana. Berkumpul dengan keluarga kecil kami, rasanya sangat menyenangkan. Itu adalah kenangan terindah dalam hidupku. Aku belajar melakukan ini saat itu. Seorang teman kecilku mengajarkannya padaku dan aku mengingatnya sampai sekarang." Alex tersenyum tipis mengenang masa kecilnya. Dia menghela nafas dalam-dalam dan kemudian kembali melemparkan kerikil keatas permukaan air.


"Kamu coba Den."


Alex menyerahkan sebuah kerikil ke tangan Denis. Denis kemudian melakukan hal yang sama yang dilakukan Alex.


"Wow! Gue bisa Lex!" serunya senang. Dia kembali mencobanya dan berhasil. Denis tertawa lepas. Namun tawanya menyusut ketika menyadari sesuatu. Alex tidak meresponnya. Dia malah asik menatapnya. Ini pertama kalinya Alex melihat Denis tertawa, dan itu membuatnya kelihatan sangat berbeda.


Denis membali ke mode awal. Wajah datarnya dengan tatapan dingin.


"Ngapain lo cari gue?" tanyanya setelah sedikit mendehem. Alex mengerjapkan matanya tersadar dari apa yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya.


"Mmm..itu..ah ya. Aku pikir kamu kemana. Aku takut kamu kenapa-napa." Alex duduk disamping Denis membuat siku mereka beradu sesaat. Denis menggeser tubuhnya membuat sedikit jarak dengan Alex.


"Kenapa kamu kesini sendirian? Kamu bosan ya didalam pondok?"


Denis mengulas sedikit senyuman.


"Kenapa lo? Takut gue tinggal disini?"


"Ya enggak juga sih. Aku yakin kamu masih butuh aku buat keluar dari tempat ini."


"Apa gak kebalik tuh?"


Alex tertawa kecil. Tatapannya terpusat ketengah sungai. Melihat beberapa burung yang hinggap diatas bebatuan mencari makanan ditepian air yang dangkal.


"Aku kadang merasa heran dengan kehidupan ini. Semua berubah dengan tiba-tiba. Dan aku malah berada disini sekarang. Berada diantara orang-orang yang benar-benar tulus kepadaku. Orang yang aku percaya selama hidupku, justru dialah yang mencelakakanku. Dan kalian, orang yang baru kukenal, malah menjadi malaikat untukku."


Suara Alex lirih disela gemuruhnya suara air. Denis diam mendengarkan ucapan Alex. Tidak menyela atau menimpali. Namun Alex tahu, orang disampingnya itu mendengar kata-katanya dengan baik.


"Kamu sendiri gimana Den? Apa keluargamu masih ada? Kamu tidak ingin kembali pada mereka?" Lama Denis tidak menyahut. Alex menoleh melihat ekspresi wajah Denis. Nampak sorot mata yang muram disana.


"Kita senasib disini, Den. Kalau kamu ingin mengatakan sesuatu tentang keluargamu, aku siap untuk mendengarkan."


"Gue gak punya keluarga. Lo tahu itu kan?"


"Oke." Alex terdiam. Dia tidak bisa memaksa Denis untuk menceritakan kehidupan pribadinya. Sangat sulit ternyata mengorek walau sedikit saja tentang kehidupan pribadi Denis.


"Kamu tahu Den? Keluargaku sudah menganggap aku mati. Beritanya ada dikoran. Disitu dikatakan kalau aku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil."


"Darimana lo tahu?"


"Pak Darman menemukan sebuah koran ketika dikampung tadi. Koran itu memuat berita tentang kecelakaan mobil. Beliau menduga itu berita tentang aku karena nama yang tertera disana. Makanya beliau membawanya dan memperlihatkan padaku. Dan ternyata itu emang berita tentang aku."


Denis terpana sesaat.

__ADS_1


"Lalu sekarang apa rencana lo?"


"Aku belum tahu. Mungkin aku harus mencari tahu dulu kebenaran berita itu. Aku harus menghubungi keluargaku."


"Gimana kalau besok kita keluar dari lembah ini?"


"Tujuan kita kemana?"


"Kita temui bang Theo terlebih dahulu. Mungkin dia masih mau bantu kita."


Keduanya terdiam sesaat. Larut dengan pikiran masing-masing.


"Menurutmu, orang-orang itu sudah pergi dari kota ini?" tanya Alex setelah beberapa saat.


"Gue gak tahu. Mungkin saja mereka masih punya mata-mata disini untuk memantau perkembangan kita. Pastinya mereka tidak mau kejadian waktu lo ditolong sama bang Theo terulang lagi."


"Kamu benar. Kita harus lebih hati-hati."


Alex berjalan menuju tepian air. Meraup air yang dingin dengan kedua tangannya. Membasuhkan kewajahnya sampai mengenai bagian depan rambutnya.


"Airnya adem banget. Kita mandi air sungai dulu, Den." Alex berteriak kearah Denis yang masih setia duduk dibatu besar. Dia menarik baju kaosnya keatas memperlihatkan tubuh kekarnya yang berwarna putih. Meloloskan bajunya dan melemparkan sembarang keatas batu yang terdekat ditempat dia berdiri.


Denis yang hanya memperhatikan Alex dari jarak yang tidak terlalu jauh nampak sedikit tercekat melihat pemandangan itu. Tanpa diketahui Alex, jantungnya sedikit berdebar melihat tubuh kekar Alex yang polos. Andai saja Alex memperhatikan, dia akan melihat rona merah diwajah Denis.


"Sini, Den. Kita main air sungai dulu." Alex melambaikan tangannya pada Denis. Tangannya bersiap untuk membuka celana panjang yang dipakainya.


"Ngapain lo." Denis melemparkan sebuah kerikil hingga mengenai bagian belakang Alex.


"Awwh. Mau mandilah." Sahut Alex sedikit meringis ketika kerikil yang dilempar Denis mengenainya.


"Gak usah pake buka-bukaan segala kali."


"Kenapa? Aku gak mau celana aku yang cuma satu-satunya ini basah ya. Lagian mana ada orang mandi pakai baju lengkap." Tanpa mempedulikan Denis, Alex membuka kancing celana panjangnya.


"Lo mandi, gue pulang duluan." Denis melompat turun dari batu yang dia duduki sejak tadi. Bermaksud untuk pergi dari tempat itu. Mukanya sudah merah padam tanpa disadari oleh Alex.


Langkah Denis terhenti ketika tiba-tiba suara gemuruh terdengar membahana dari arah hulu sungai. Denis menajamkan penglihatannya kearah datangnya air. Warna hitam nampak dari kejauhan dan bergerak cepat makin mendekat dalam waktu yang hanya sekejap.


"Alex! Banjir!"


Alex menatap sesaat Denis yang nampak panik. Tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Denis.


"Naik cepat!" Denis berlari mendekati Alex dan menarik tangan Alex yang masih belum sadar dengan bahaya yang sedang memburunya.


Tangan Denis masih sempat menggapai baju Alex yang tergeletak diatas batu sebelum menyeret tubuh Alex menjauhi bibir sungai. Tepat ketika mereka mencapai tempat yang lebih tinggi, gelombang air sungai yang membawa bebatuan dan potongan kayu yang berwarna hitam pekat datang menggempur tempat mereka berada tadi. Dalam sekejap, batu besar tempat Denis duduk tadi sudah tidak terlihat lagi keberadaannya. Bahkan pohon beringin besar ditepi sungai itu kini hampir separuhnya tertutup air.


Denis terjatuh ketika melompat kedataran yang lebih tinggi mwnghindar dari air sungai yang sedang meluap itu. Hanya beberapa meter saja bahkan cipratan airnya mengenai pakaiannya. Alex yang tangannya masih dalam genggaman Denis ikut terjatuh dan menindih tubuh Denis dibawahnya.


Untuk kedua kalinya mereka berada dalam posisi ini. Keduanya tertegun, saling menatap untuk beberapa saat. Wajah mereka begitu dekat, hanya terpisah beberapa inchi saja. Denis menahan napas. Menatap Alex dengan gugup. Dia segera mendorong tubuh Alex dari atas tubuhnya.


Alex tidak merespon dorongan tangan Denis. Dia masih terdiam dan menatap Denis. Tatapannya turun kearah dada Denis. Disana dia dapat merasakan sesuatu yang berbeda dari dada seorang lelaki.


Tahu arah tatapan Alex, kembali Denis mendorong tubuh Alex.Kali ini lebih kuat hingga tubuh Alex terjungkal kebelakang dan hampir masuk ke dalam air yang sedang mengamuk.


"Alex!" Dengan sigap Denis kembali meraih tangan Alex dan menariknya. Alex meraih tubuh Denis, sehingga sekarang mereka seperti sedang berpelukan. Kembali mereka terpaku dalam diamnya tubuh mereka yang menyatu. Denis melepaskan pelukannya dan segera berdiri dengan gugup.


"Kalian gapapa?" Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Darman nampak tergopoh-gopoh datang mendekati Alex dan Denis yang masih diam terpaku.


Dengan panik Darman memeriksa keadaan dua orang yang selama beberapa hari ini menemani hari-harinya.


"Syukurlah kalian baik-baik saja." Darman mengerutkan keningnya ketika dua orang yang diajaknya bicara itu tidak meresponnya sama sekali.


Alex bangkit dari duduknya. Mengambil bajunya yang terjatuh dari genggaman Denis tadi.


"Apa hal ini sering terjadi?" Tanyanya pada Darman sambil memakai bajunya yang sedikit kotor.


"Tidak juga. Kamu lihat disebelah barat sana. Walaupun ditempat ini masih panas tapi disebelah sana nampak langit lebih gelap. Mungkin sedang hujan disebelah hulu sana. Seharusnya kita waspada karena banjir seperti ini bisa terjadi kapan saja. Untunglah kalian tidak terbawa banjir, kalau sampai terbawa hanyut, sudah dipastikan kalian gak akan selamat."


Denis dan Alex saling memandang dengan wajah penuh kengerian, tak dapat membayangkan kalau mereka terlambat sedikit saja menyingkir dari tepian air tadi.

__ADS_1


"Terima kasih, Den. Kalau kamu gak narik aku tadi, aku gak tahu apa yang akan terjadi dengan nasibku." Alex menatap Denis dengan tulus. Hatinya masih berdebar kencang membayangkan gumpalan air sungai membawa tubuhnya andai Denis tidak menyelamatkannya.


"Ayo kita pulang. Aku sangat khawatir dengan kalian tadi. Kupikir kalian pergi kemana tidak ada disekitar pondok. Ternyata kalian ada disini."


Mereka meninggalkan sungai yang masih dipenuhi gumpalan air yang menerjang apa saja yang menghalanginya. Matahari semakin condong kearah barat ketika mereka berjalan beriringan dengan Darman berada didepan. Semilir angin mengiringi langkah mereka disahuti suara riuh bebatuan yang menggelinding bertabrakan terbawa arus sungai di belakang mereka. Terdengar sangat mengerikan.


*****


Bulan menyembul dibalik rimbun pepohonan. Suara air sungai sudah kembali normal menandakan banjir bandang sudah berlalu. Kesunyian kembali menyergap tempat itu setelah tadi terdengar riuh oleh banjir yang menerjang aliran sungai. Dapat dipastikan, saat ini air sungai akan berwarna keruh, tidak sebening seperti sebelum banjir.


Darman sedang membakar singkong diperapian depan pondoknya. Alex jongkok dihadapannya memperhatikan bagaimana Darman melakukannya. Ini untuk pertama kalinya dia melihat singkong yang dibakar. Bahkan dia tidak pernah makan singkong sebelumnya. Denis duduk ditepi bale bambu tidak jauh dari mereka.


Angin yang meniup perlahan membawa rasa dingin yang menusuk. Kabut pekat sedikit menghalangi sinar bulan yang malu-malu menyembul dibalik pepohonan. Suara binatang malam tak henti bersahutan.


"Darimana pak Darman dapatkan singkong ini?" tanya Alex sambil terus memperhatikan Darman.


"Itu bapak tanam pohonnya disana." Darman menunjuk ke tempat pohon singkong berada. Tentu saja Alex tidak tahu kalau itu adalah pohon singkong. Dia meringis menyadari banyak hal yang tidak dia ketahui.


"Oya, pak. Bapak kan memasang bubu disungai. Kalau banjir begini, hanyut dong bubunya."


"Ya mau gimana lagi. Bapak pasrah aja. Besok pasang lagi aja mudah-mudahan tidak banjir lagi."


"Emang bapak masih punya bubunya?"


"Ada. Bapak kan tidak setiap hari pergi ke perkampungan. Kalau sedang dipondok, ya bapak bikin bubu biar masangnya tidak cuma satu. Jadi bisa dapat ikan lebih banyak."


"Oh."


"Ayo kita makan singkong bakarnya disana."


Darman membawa singkong bakar yang sudah matang keatas bale. Dua buah singkong bakar berukuran besar segera dihidangkan. Tiga cangkir teh panas menemani acara makan singkong bakar malam ini.


"Kami bermaksud untuk keluar dari sini pak. Saya sudah merasa sangat sehat sekarang. Saya rasa sudah waktunya saya pulang." Ujar Alex sambil memperhatikan cara Darman makan singkong bakar dihadapan mereka.


Sesaat Darman menghentikan aktifitasnya. Kembali dia memotong singkong dengan tangannya dan menyuapkan ke mulutnya.


"Ayo Denis. Dimakan singkongnya. Kalian pasti belum pernah makan ini sebelumnya." Denis tersenyum simpul. Dia meniru Darman memotong singkong. Dalam waktu bersamaan Alex mengulurkan tangannya untuk mengambil singkong yang sama yang akan diambil Denis. Sesaat keduanya saling memandang sampai akhirnya Denis mengambil singkong yang satunya lagi.


"Kalian mau pergi kemana? Apa kalian sudah punya tujuan yang jelas? Atau kalian sudah punya rencana?" Tanya Darman kemudian. Dia meneguk teh hangat yang nampak masih mengepul. Dinginnya malam membuat teh itu terasa pas, tidak terlalu panas.


Alex menatap Denis sesaat.


"Kami mau menemui orang yang dulu kami tinggal dirumahnya. Orang itu yang telah menolong saya pertama kali ketika mereka mencoba membunuh saya."


"Apa maksudmu?" Darman memusatkan perhatiannya pada Alex.


"Jadi begini, pak." Alex kemudian menceritakan semua kejadian yang menimpanya dari mulai dia diculik hingga tersadar sudah berada dirumah Theo. Dia menceritakan semuanya secara detil tak ada yang terlewat sedikitpun. Sesekali Denis menimpali untuk menguatkan ceritanya. Dia menceritakan sampai ketika dia ditembak ditepi jurang yang ternyata berada diatas pondok Darman.


"Jadi begitu ceritanya, pak. Saya sangat beruntung karena dua kali saya dicelakakan, dua kali pula saya diselamatkan. Saat ini, mereka mungkin tidak akan menyangka kalau saya kembali selamat. Bahkan mereka sudah mengumumkan kematian saya dimedia cetak." Alex mengakhiri ceritanya. Darman menanggapainya dengan sangat serius. Sesekali dia menggelengkan kepalanya, kadang dia manggut-manggut.


"Jadi kamu sudah tahu siapa yang melakukan itu padamu?"


"Ya. Dia orang kepercayaan keluarga kami. Dia yang diberi tanggung jawab untuk mengurus semua urusan perusahaan oleh papa saya." Suara Alex parau. Dia teringat bagaimana keadaan papanya sekarang. Tiba-tiba terlintas dibenaknya wajah yang nampak menyorotkana harapan padanya. Apakah papanya tahu tentang kebusukan orang kepercayaannya itu sehingga setiap kali bertemu Alex dia selalu menatap Alex dengan tatapan mengiba? Andai saja papanya bisa bicara.


Alex baru menyadari arti tatapan papanya itu sekarang. Ya. Pasti papanya tahu akan hal itu. Lalu bagaimana dengan mama dan adiknya? Bagaimana nasib mereka sekarang?


Alex mendesah. Rasanya tidak sabar untuk segera pulang dan membongkar semua rahasia yang tersimpan rapat selama ini. Orang itu begitu percaya diri ketika menodongkan senjata api padanya. Pasti dia berpikir bahwa tidak apa Alex mengetahui identitas pembunuhnya karena setelah itu Alex tak akan mati. Namun orang itu telah membuat kesalahan yang akan disesali seumur hidupnya, karena ternyata Alex masih hidup hingga hari ini.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*****


__ADS_2