Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tujuh Puluh Sembilan


__ADS_3

Diruang kerja Alex, tiga orang pria duduk melingkar di sofa yang ada disana.


Pembicaraan tentang bisnis dan pekerjaan tidak pernah ada habisnya untuk mereka bahas. Apalagi sejak beberapa hari terakhir, waktu Alex banyak dia habiskan bersama Denis dan keluarganya. Banyak hal yang telah dia lewatkan dan pekerjaannya hanya diwakili oleh asisten pribadinya dan pengacaranya yang sangat dia percaya.


Malam ini Alex tidak pergi kerumah Denis karena dia tahu kalau keluarga itu akan menghadiri makan malam keluarga. Kesempatan ini dia manfaatkan untuk mengadakan rapat intern bersama sang asisten dan pengacara.


Setelah pembahasan tentang pekerjaan selesai, pembicaraan mereka berubah menjadi lebih santai dan akrab layaknya teman.


"Bagaimana perkembangan kasus om Bisma?" Tanya Alex lebih ditujukan kepada Pak Yunus yang memang telah dia serahi tugas untuk terus mengawasi kasus Bisma dan Tania.


"Dia akan segera disidang. Berkas-berkasnya semua sudah dilengkapi." Sahut Pak Yunus. "Begitu juga dengan Tania. Mereka hanya tinggal menunggu panggilan saja."


"Berapa lama mereka akan mendekam di penjara?"


"Untuk kasus yang kita ajukan adalah percobaan pembunuhan. Ancaman hukumannya seumur hidup atau paling lama dua puluh tahun penjara." Jelas Pak Yunus. Mendengar itu Alex terdiam.


"Apa pak Alex akan tetap ingin mereka diproses?"


"Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja mereka harus diproses. Setelah apa yang mereka lakukan padaku dan papa, tidak ada alasan untuk menunda proses hukum pada mereka."


"Setelah mengetahui kalau Pak Bisma itu papanya Denis, sepertinya Pak Alex agak sedikit ragu." Pak Yunus berkata tanpa basa-basi. Matanya dalam menatap Alex, mencoba menyelami apa yang tersirat dibalik wajah yang nampak datar itu.


Alex kembali terdiam.


"Kalau Pak Alex ragu.."


"Sedikitpun aku tidak ragu. Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Lagipula, Denis juga korban dari kebiadaban papanya. Sejak kecil dia diabaikan oleh pria itu. Setelah dewasa, nyawanya hampir melayang oleh tangan pria itu. Jadi, kurasa dia juga tidak keberatan kalau papanya kita jebloskan ke penjara."


Pak Yunus mengangguk.


Mereka kemudian terlibat dalam obrolan yang panjang untuk membahas masalah Bisma dan Tania. Hampir tengah malam mereka baru menyelesaikan obrolan mereka. Pak Yunus dan Faisal akhirnya pulang walaupun Alex sudah menyuruh mereka untuk menginap.


Setelah kepergian Pak Yunus dan Faisal, Alex beranjak menuju kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya di pembaringan dan memeriksa ponselnya. Semalaman ini dia tidak mengetahui kabar dari Denis. Pembicaraan yang panjang bersama Pak Yunus dan Faisal membuatnya sedikit melupakan gadis itu.


'Sedang apa dia?' Ingin sekali dia menelepon gadis itu, namun saat melihat jam yang sudah menunjukkan waktu melewati tengah malam, dia mengurungkan niatnya. Akhirnya Alex memejamkan matanya dan terlelap tidak lama kemudian.


******


Seperti pagi sebelumnya, Alex sudah berada di kediaman Rania tanpa merasa segan sedikitpun. Senyumannya menyapa semua orang yang sudah duduk dimeja makan.


"Selamat pagi." Matanya tertuju pada gadis satu-satunya yang ada disana. Walaupun tampilannya maskulin namun entah mengapa dimata Alex dia semakin terlihat menarik dari hari ke hari. Tak pernah bosan dia menatap gadis itu


"Alex! Ayo, duduklah." Rania menganggukkan kepalanya kepada Alex. Tanpa menunggu disuruh dua kali, Alex menarik kursi disebelah Denis.


"Hai!" Bisiknya. Denis tidak menggubris. Dia mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


"Nasi gorengnya kayaknya enak banget, Tante." Matanya masih terfokus pada Denis.


"Tentu saja. Ini nasi goreng favorit Denis." Rania tersenyum dengan bangga. "Sayang, kamu ambilkan nasi goreng untuk Alex dong." Ujar Rania kemudian kepada Denis. Mata Denis mendelik.


"Lo bisa ambil sendiri kan?" Geramnya pelan kepada Alex.


"Bisa. Bisa." Alex tersenyum manis. "Saya ambil sendiri aja, tante."

__ADS_1


"Sayang, kamu harus membiasakan diri melayani Alex makan. Lagipula, kenapa panggilannya masih lo-gue sih. Ubah dong, aku-kamu lebih bagus kedengarannya."


Denis hanya mengangkat bahunya sedikit. Dia melanjutkan makannya tanpa menghiraukan perkataan Rania.


Andres hanya menggelengkan kepalanya melihat drama dihadapannya.


"Alex, kapan kamu akan melamar Denis?" Pertanyaan Andres membuat Denis tersedak. Dengan sigap Alex menyodorkan gelas berisi air putih ke mulut Denis. Tangan kanannya menepuk punggung Denis pelan.


Rania membelalakan matanya kepada Andres. Yang dipelototinya hanya melebarkan kedua tangannya dengan bahunya yang bergerak naik.


"Secepatnya om. Kalau om dan tante mengijinkan, sekarang juga saya ingin melamar Denis." Tanpa mempedulikan Denis yang masih terbatuk, Alex menjawab pertanyaan Andres.


Dibawah meja, kaki Denis melayang menendang kaki Alex dengan keras. Alex meringis menahan sakit yang lumayan akibat benturan kaki Denis. Namun dia mengabaikan hal itu.


Rania nampak sangat terkejut dengan jawaban Alex.


"Kamu serius?"


Alex mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebentuk kotak kecil berwarna hitam. Dia membukanya, memperlihatkan isinya yaitu sepasang cincin platina dengan model sederhana namun terlihat sangat cantik.


"Ya, Tuhan..Kamu serius? So sweet, pagi-pagi sudah dilamar." Kedua mata Rania berbinar bahagia. Kedua tangannya bertautan didepan dadanya.


"Sayang, kamu lihat? Itu cincin yang sangat indah."


Wajah Denis memerah. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan begitu saja.


"Denis!!" Alex segera mengejar gadis itu setelah pamit terlebih dahulu kepada Rania dan Andres.


"Dia pasti sangat malu." Andres terkekeh.


"Percayalah, hatinya sedang berbunga-bunga sekarang." Andres melebarkan tawanya.


Sedangkan Alex sedang bergegas mengikuti langkah Denis yang menuju halaman samping. Tahu dirinya diikuti, Denis membalikkan tubuhnya begitu berada ditempat yang agak jauh. Langkah Alex pun terhenti dengan tiba-tiba.


"Kenapa lo masih saja membahas itu didepan gue?"


"Aku ingin menunjukkan sama kamu kalau aku sungguh-sungguh dengan ucapanku."


"Tapi tidak secepat ini, Alex."


Alex menyipitkan matanya. Bibirnya tersenyum. Rasanya jarang sekali Denis menyebut namanya. Dan ketika dia melakukannya, terasa sangat berbeda.


"Ok. Aku akan menunggu sampai kamu siap buat aku lamar. Kapanpun itu, katakan padaku terus terang. Dan aku akan selalu siap buat kamu."


"Kenapa sih kamu tuh gak pernah mau menyerah?"


"Kamu bilang apa? Katakan sekali lagi." Alex memiringkan kepalanya kearah Denis.


"Apa?"


"Kamu, tadi bilang apa sama aku? Aku kurang jelas dengernya."


Denis merotasi kedua bola matanya.

__ADS_1


"Cepat pergi dari sini. Lo bakal kesiangan kalau gak segera pergi."


Alex menghela nafas.


"Baiklah. Jaga hati kamu baik-baik. Aku pergi dulu ya."


Alex mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening gadis itu, namun dia mengurungkannya saat Denis mengangkat tinjunya.


Alex mengangkat kedua tangannya. Dia segera berlalu dari hadapan Denis yang sudah memasang wajah sangarnya.


*****


"Ada Pak Reno ingin bertemu dengan Bapak." Sekretaris cantik memberitahu Alex saat menjelang makan siang. Alex mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Reno datang menemuinya. Sejak kasus mamanya terungkap, Reno hampir tidak pernah menginjakkan kakinya ke kantor yang dulu hampir dia kuasai. Dia juga tidak lagi tinggal dirumah bersama Alex. Reno lebih memilih tinggal sendiri diapartemen miliknya. Dengan uang bulanan yang terus diberikan Alex sebagai bentuk tanggung jawabnya kepada Reno walau dia sangat membenci mamanya. Alex memastikan pria itu tidak kekurangan walau beberapa aset yang harusnya dia dapatkan, telah ditahan oleh Alex.


Reno muncul tidak lama kemudian. Tubuhnya nampak lebih kurus dengan wajahnya yang tirus. Penampilannya tidak serapi biasanya namun masih memperlihatkan ketampanannya yang hakiki.


Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan kebahagiaan. Sorot matanya dingin menghujam wajah Alex.


"Kamu masih akan memproses mama?" Tanyanya sambil menghenyakkan tubuhnya dikursi dihadapan Alex.


"Reno, apa kabar? Lama kamu tidak pulang ke rumah." Alex mengabaikan ucapan Reno.


"Kenapa aku harus pulang? Kamu membenci mamaku dan aku tidak bisa tinggal serumah dengan orang yang memusuhi mamaku." Ucap Reno sinis.


"Bagaimanapun juga kamu tetap adikku. Aku ini kakakmu satu-satunya. Kamu tetap tanggung jawabku."


"Kalau kamu menganggap aku sebagai adikmu, berikan semua hakku. Pembagian warisan yang tidak sesuai. Apa itu yang disebut sebagai tanggung jawab? Aku bisa saja menempuh jalur hukum untuk mendapatkan itu, tapi.."


"Tapi kamu tidak akan bisa karena kesalahan yang telah diperbuat oleh mamamu akan sangat menyulitkanmu." Alex memotong ucapan Reno. Dia menatap dalam-dalam mata pria muda dihadapannya.


Reno mengeraskan rahangnya. Dia membalas tatapan Alex dengan tak kalah tajamnya.


"Mama punya hak atas harta peninggalan papa.."


"Itu kalau mamamu tidak selingkuh."


"Tapi aku anak kandung papa. Aku punya hak yang sama seperti kamu."


"Kamu tidak punya hak yang sama, karena kamu anak dari istri yang selingkuh."


Reno bangkit dari kursinya dan memukul meja dengan kedua tangannya.


"Alex!!"


Alex berdiri dengan tenang.


"Apa uang yang kuberikan masih kurang? Kurasa itu cukup untuk kamu berfoya-foya setiap harinya."


"Alex, akan aku pastikan, aku akan dapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku." Reno menggeram dengan emosi yang dia tahan. Matanya berkobar api kemarahan.


Tanpa permisi dia keluar dari ruangan Alex. Didepan pintu, Faisal berdiri menunggu hingga Reno benar-benar pergi.


"Dia kelihatan sangat marah." Ucap Faisal saat memasuki ruangan Alex.

__ADS_1


"Kita lihat saja apa yang akan dia lakukan. Biarkan saja dia melakukan semaunya. Dan pada saat yang tepat, kita akan membongkar semua kebusukannya." Alex sudah kembali duduk di kursinya. Senyuman tipis membayang dibibirnya. Namun senyuman itu kian memudar saat dia mengingat gadis tomboy pujaan hatinya.


*****


__ADS_2