Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan Puluh Tujuh


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Andres, polisi memanggil Alex untuk memberikan keterangan atas penculikan dan penganiayaan yang dilakukan Reno terhadap dirinya yang telah dilaporkan oleh pengacara Andres.


Dengan memakai masker untuk menutupi sedikit lagi memar diwajahnya, Alex ditemani Denis mendatangi kantor polisi. Awalnya Davin ingin ikut menemani mereka, namun Alex melarangnya.


"Aku hanya ingin berdua dengan Denis. Kamu hanya akan mengganggu saja." Kata Alex pada Davin. Davin mencibir mendengar itu namun dia menurut dengan tidak memaksa untuk ikut. Lagipula dia sudah janji pada papanya untuk datang ke kantor yang sudah tertunda akibat peristiwa yang menimpa Alex tempo hari.


Tiba di kantor polisi, Alex tidak langsung memenuhi panggilan polisi untuk memberikan keterangan. Dia meminta ijin kepada petugas untuk menemui Reno terlebih dahulu.


"Kamu tunggulah disini. Aku ingin bicara berdua dengan Reno. Lagipula pengacara papamu akan datang sebentar lagi." Kata Alex kepada Denis.


Denis mengangguk. Dia mengerti jika Alex mengatakan ingin bicara berdua dengan Reno. Dia pasti ingin mengatakan sesuatu yang bersifat privat mengingat mereka adalah saudara. Denis ingin memberi mereka waktu untuk menyelesaikan masalah diantara mereka.


Alex duduk dikursi tunggu yang disediakan didalam ruang tahanan polisi. Reno datang tidak lama kemudian dengan digiring oleh petugas.


Dia duduk dihadapan Alex dengan mata menyorot penuh dendam.


"Mau apa kamu kesini? Mau menertawakan aku karena sekarang aku berada disini? Ini kan yang kamu mau? Melihat aku dan mamaku berada dipenjara?" Reno berkata dengan tajam.


Alex menghela nafas.


"Aku tidak pernah ingin melihat kalian berada ditempat seperti ini. Kalian sendiri yang telah mengambil jalan ini. Pikirkanlah lagi dari awal bagaimana kalian bisa berada dititik ini. Apa ini semua salahku?" Alex menatap Reno dalam-dalam. Reno mendengus kasar. Dia memalingkan wajahnya kesamping.


"Kamu mungkin tidak akan merasakan kasih sayang aku dan papa kepadamu karena kamu tidak akan menghargai itu. Mamamu tidak pernah kekurangan apapun selama hidup bersama papa. Papa pun selalu memprioritaskan kamu dan menyayangi kamu sepenuh hati."


"Itu tidak benar. Papa hanya menyayangimu. Papa hanya mencintai mamamu. Dia tidak pernah mencintai mamaku. Itu sebabnya mama merasa nyaman dengan pria yang memberi dia perhatian. Kalau saja papa memberi sedikit saja cinta untuk mamaku, dia tidak akan pernah selingkuh." Reno menaikkan suaranya.


"Dan aku tidak akan pernah menyalahkan mamaku untuk semua yang pernah dia lakukan kepada papamu." Kata Reno kemudian.


Rahang Alex mengeras.


"Itu sebabnya aku tidak akan pernah membiarkan dia keluar dari penjara. Karena dia tidak pernah menyesali apa yang dia lakukan pada papaku dan aku. Begitu juga denganmu." Ujar Alex.


"Kecuali kalau kamu merasa menyesal dan meminta maaf padaku, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk membantumu keluar dari tempat ini. Walaupun ternyata kamu bukanlah adik kandungku, tapi kamu akan menjadi adik iparku. Karena aku akan menikah dengan kakakmu." Tambahnya kemudian.


Reno terdiam. Satu hal yang baru dia sadari adalah Bisma memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Berarti dia adalah saudara satu ayah dengannya, walaupun statusnya diatas kertas masih sebagai anak dari Arga Dinata, namun secara biologis dia adalah anak dari Bisma, sesuai dengan pengakuan dari mamanya dan juga Bisma sendiri.


Alex meninggalkan Reno yang masih terduduk dikursinya. Petugas kemudian kembali membawa Reno memasuki sel tahanan. Menunggu untuk keputusan selanjutnya.


Cukup lama Alex dan Denis berada di kantor polisi. Pengacara yang di tunjuk oleh Andres untuk membantu Alex datang mendampingi mereka. Walaupun Alex sudah menolak bantuan dari Andres, namun keputusan Andres tidak bisa dibantah lagi.


Mereka keluar dari kantor polisi setelah semua urusan dianggap selesai. Alex akan melanjutkan kasus itu hingga tuntas walaupun semua orang tahu bahwa Reno adalah adiknya sendiri.


Mungkin bagi yang tidak tahu duduk persoalannya akan menganggap Alex terlalu kejam karena memperkarakan adiknya sendiri juga sebelumnya mama tirinya. Namun bagi yang tahu masalahnya, mereka akan memakluminya. Bahkan akan menganggap wajar jika Alex memenjarakan kedua orang itu.


Denis dan Alex dalam perjalanan pulang sekeluarnya dari kantor polisi. Denis yang mengemudikan mobil menawarkan untuk makan siang diluar. Namun Alex menolak. Dia tidak percaya diri dengan wajahnya yang masih menyisakan memar.

__ADS_1


"Langsung pulang aja. Aku gak mau jadi pusat perhatian." Alex memperhatikan wajahnya dikaca depan.


"Bilang aja malu muka kamu masih bonyok begitu." Gumam Denis.


"Aku gak malu, Sayang. Justru aku takut kamu yang malu karena bersama lelaki yang gak bisa berkelahi dan gak bisa kamu andalkan. Aku selalu kalah dan selalu kamu yang jadi penyelamat aku."


"Kamu ngomong apa aku gak ngerti." Denis fokus dengan jalanan yang dilaluinya. Dengan lincah tangannya mengoperasikan steering kendaraannya.


"Aku merasa menjadi lelaki yang sangat lemah. Selalu berada dibalik punggungmu." Denis mengerutkan keningnya. Diliriknya sedikit pria yang sedang mengoceh tidak jelas itu. Sepertinya Alex sangat serius saat mengatakan itu.


"Kalau gitu, kamu cari cewek lain biar kamu menjadi merasa lebih kuat." Ujar Denis datar membuat Alex terkejut mendengar ucapan gadis itu, seolah dia baru tersadar dengan dirinya yang sedang meratapi diri sendiri.


"Maksudku bukan seperti itu.." Alex menukas dengan panik. Dia takut gadis itu salah faham.


"Lalu apa?" Bertanya tanpa menoleh.


"Aku.."


"Daripada ngomong gak jelas, baik kamu tidur." Denis memotong ucapan Alex, tidak memberi kesempatan kepada pria itu untuk melanjutkan ucapannya.


Alex membungkam mulutnya. Mengerti kalau gadis itu tidak ingin mendengar dia bicara yang melankolis. Akhirnya dia menurut dengan ucapan gadis itu untuk tidur saja. Dia memejamkan matanya.


Mobil terus melaju. Denis membawa mobilnya menuju rumah Alex. Alex mengerutkan keningnya saat mobil berhenti dan dia membuka matanya.


"Kenapa kesini?" Tanyanya dan belum mau membuka sabuk pengamannya.


"Tapi aku sedang tinggal dirumahmu kalau kamu lupa."


"Kenapa harus tinggal dirumahku kalau kamu punya rumah sendiri."


"Aku sedang sakit dan butuh perawatan. Aku tidak mau tinggal sendirian disini." Alex menyilangkan kedua tangan didadanya. Jelas sekali dia tidak mau turun dari mobil Denis.


"Kamu sudah cukup sehat. Berhentilah bersikap manja seperti anak perempuan."


"Aku hanya manja sama kamu, karena kamu calon istri aku." Memasang wajah datar karena tidak suka Denis mengantar dia pulang ke rumahnya sendiri.


"Atau..jangan-jangan kamu mau tinggal disini sama aku?" Senyum Alex tiba-tiba terbit seiring dengan pemikirannya barusan.


"Eh..enggak lah. Ngapain aku tinggal disini?" Denis melengoskan wajahnya.


"Sudahlah. Ngapain juga kamu malu-malu? Mama kamu pasti ngijinin kok kalau kamu memang mau tinggal disini nemenin aku." Jiwa nakal Alex keluar. Senyumannya melebar sambil memainkan alisnya.


"Kamu juga sudah pernah tinggal disini sebelumnya. Lagipula, sebentar lagi juga kamu bakalan jadi nyonya rumah ini. Hitung-hitung kamu belajar membiasakan diri jadi nyonya Alex Vinn Dinata."


Wajah Denis merah seperti tomat masak. Matanya melirik tajam pria yang masih berceloteh itu. Dengan kasar dia kembali memasang seatbelt dan menjalankan mobilnya tiba-tiba. Tubuh Alex sampai terhenyak akibat dari perbuatan Denis.

__ADS_1


Mobil kembali keluar dari halaman rumah Alex dan melaju dengan kecepatan cukup tinggi meninggalkan rumah itu.


"Hey, Denis! Pelan dong bawa mobilnya!" Alex menatap ngeri gadis yang nampaknya sangat kesal itu.


Tak membutuhkan waktu lama mereka sampai dirumah Denis. Tanpa mempedulikan Alex, Denis turun dari mobil dan berjalan cepat menuju ke dalam rumah.


"Denis? Ada apa? Kenapa Alexnya ditinggal?" Rania ternyata ada dirumah. Dia merasa heran melihat Denis yang masuk rumah dengan terburu-buru.


"Gak apa-apa." Denis menjawab tanpa menghentikan langkahnya. Dia terus berjalan menuju kamarnya dan tidak keluar hingga sore.


Alex mengetuk pintu kamar Denis setelah sekian lama gadis itu tidak menampakkan dirinya. Tak mendapat jawaban dari dalam kamar, Alex membuka pintu kamar.


Denis sedang bersandar diheadboard tempat tidurnya sambil memainkan ponsel. Mungkin sedang main game.


"Ngapain lo?"


"Hei. Kamu marah?" Alex duduk disamping Denis. Tangannya terangkat menyentuh rambut depan Denis.


"Kalau kamu tidak suka aku disini, aku akan pulang." Kata Alex beberapa saat kemudian sambil menatap wajah Denis yang masih mengacuhkan dirinya.


"Sekarang juga aku mau pulang, asal kamu jangan marah sama aku." Alex mengelus lembut kepala Denis. Gak bisa mengelus rambut sebab rambut Denis hanya sebatas telinganya saja. Sesaat Alex menatap telinga kiri Denis yang ditindik dua berbaris. Dia tersenyum. Lucu dengan dirinya yang menyukai gadis seperti Denis.


Denis diam. Membiarkan tangan pria itu dikepalanya.


"Aku gak marah." Katanya lirih. "Aku cuma gak enak aja sama mama dan papa kalau kamu lama-lama disini."


"Lho, kenapa kamu yang gak enak? Harusnya aku dong yang gak enak karena nyusahin kalian semua. Tapi aku enak-enak aja tuh." Alex terkekeh sendiri. Denis mendelikkan matanya tajam.


"Kamu memang gak tahu malu kan orangnya."


Alex semakin tertawa.


"Tuh kamu tahu. Jadi tenang saja, aku gak masalah kok lama-lama disini. Asal sama kamu." Alex menjawil dagu Denis. Denis menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan pria itu. Dipukulnya tangan nakal Alex dengan sedikit kuat.


"Awh, sakit sayang. Kamu KDRT sama aku nih."


"Kita belum menikah kalau kamu lupa."


"Bagaimana kalau kita percepat aja nikahnya? Besok, mau?"


"Apa sih. Makin ngaco aja otak kamu." Denis mencibir.


"Lah iya. Biar kamu merasa enak..."


"Alex!!" Pipi Denis sudah merah.

__ADS_1


"Apa? Tadi kamu bilang kan kamu gak enak sama mama papa kamu kalau aku lama-lama tinggal disini. Kalau kita udah nikah, kamu gak akan merasa seperti itu biarpun aku lama tinggal disini. Itu 'kan maksudnya? Tadi kamu mikir apa?"


*****


__ADS_2