Rahasia Denis

Rahasia Denis
Sembilan Puluh Satu


__ADS_3

"Papa.." Rintihan pelan dari sela bibir Reno yang bergerak nyaris tak ketara. Denis bangkit dari posisi baringnya. Begitu juga Alex, dia segera bangkit dan mendekat kearah Reno yang ternyata tak bergerak sedikitpun.


Tangan Alex menyentuh satu tombol yang ada disebelah atas tempat tubuh Reno terbaring. Tidak lama kemudian dokter yang merawat Reno datang diikuti oleh seorang perawat dan pria berseragam polisi dibelakangnya.


"Anda menekan tombol emergency?" Tanya dokter saat tiba didalam ruangan.


Alex mengangguk cepat.


"Dia merintih tadi. Saya pikir dia sadar. Tapi kenapa sekarang dia kembali diam? Apa dia baik-baik saja?" Alex mengawasi Reno dengan khawatir. Denis sudah berdiri disampingnya dan menyimak apa yang diucapkan Alex. Matanya pun ikut memperhatikan Reno dengan serius.


Dokter mengangguk faham dengan penjelasan dari Alex.


"Tolong anda berdua keluar dulu. Saya akan memeriksanya." Dokter bicara dengan halus. Alex menoleh kearah Denis yang disahuti dengan anggukan oleh gadis itu. Tanpa banyak bicara keduanya keluar dari ruangan tempat Reno dirawat.


Denis duduk dikursi tunggu yang ada didepan ruangan Reno. Alex lebih memilih untuk berdiri. Sepertinya dia sangat resah mengingat keadaan Reno yang masih mengkhawatirkan.


"Duduklah." Denis memberi isyarat kepada pria itu untuk duduk disampingnya. Dia dapat melihat kegelisahan diwajah pria itu. Alex menurut. Dia menjatuhkan tubuhnya disamping Denis.


"Bagaimana kalau dia tidak bisa diselamatkan?" Ucapannya seperti orang yang sudah putus asa.


"Jangan bicara seperti itu. Dia pasti bisa melewati fase ini." Denis berusaha memberi harapan pada Alex walaupun dia sendiri merasa ragu dengan ucapan dia sendiri. "Tadi aku dengar dia panggil 'papa'. Dia pasti teringat dengan papamu yang telah tiada. Mungkin alam bawah sadarnya merindukan papa kalian."


"Mungkin." Alex menjawab singkat. Sesungguhnya dia tidak tahu siapa yang dipanggil Reno dalam igauannya. Apakah mungkin dia memanggil Arga Dinata? Ataukah dia memanggil papa biologisnya? Entahlah.


Bunyi telepon milik Denis mengalihkan perhatian mereka. Alex menoleh saat Denis mulai menjawab panggilan telepon.


"Ya, Ma?" Rupanya Rania yang menelepon.


"Kamu sedang ada dimana, sayang? Davin bilang kamu pergi terburu-buru bersama Alex."


"Aku lagi dirumah sakit. Reno mendapat luka tusuk serius diperutnya. Sekarang dia masih kritis." Dan Denis melewatkan perihal dia mendonorkan darahnya untuk Reno.


"Ya, Tuhan. Tapi Alex baik-baik saja 'kan?"


Rania malah mengkhawatirkan Alex. Padahal sangat jelas Denis mengatakan kalau yang sedang bermasalah adalah Reno, adiknya.


"Ya. Dia baik-baik saja."


"Syukurlah. Undangan sudah jadi dan mama sudah menyuruh orang buat menyebarkannya. Mama harap gak ada kejadian apapun yang akan menghambat acara pernikahan kalian. Mama sangat khawatir karena selalu saja ada kejadian yang menimpa Alex."


Rupanya itu yang membuat Rania sangat khawatir.


"Mama gak usah khawatir begitu. Semuanya pasti baik-baik saja. Terima kasih karena mama sudah menguruskan semuanya."


"Apa kalian tidak pulang malam ini?"


Denis melirik ke arah Alex sekilas.


"Belum tahu, Ma. Kita masih menunggu perkembangan Reno. Tadi dia sempat mengigau, tapi selebihnya dia masih belum bisa merespon apapun."


"Baiklah kalau begitu. Semoga dia cepat sadar dan sembuh. Kalian jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan. Atau perlu mama kirim makanan kesana?"


"Gak usah. Kita akan beli aja disini." Jawab Denis cepat.


Setelah itu Denis menutup teleponnya, bersamaan dengan pintu kamar Reno yang terbuka dan dokter keluar dari sana diikuti perawat dan anggota polisi yang terus mengawal kasus itu.


Alex dan Denis bangkit dari duduknya.


"Bagaimana dokter?"


"Sepertinya memang ada sedikit kemajuan. Kita masih punya harapan yang besar dia akan segera sadar. Berikan stimulasi pada otaknya dengan tetap berinteraksi dengannya. Walaupun dia tidak merespon, namun ada kemungkinan otaknya kembali aktif jika kita terus memberinya rangsangan."

__ADS_1


"Baiklah dokter. Terima kasih atas penjelasannya." Alex mengangguk mengerti dengan apa yang diucapkan dokter.


"Apa kami boleh menjaganya didalam?" Tanyanya kemudian.


"Ya. Silakan. Sangat penting untuk dia selalu ditemani oleh orang yang menyayanginya." Dokter tersenyum sebelum pamit kepada Alex dan Denis.


Kembali memasuki ruangan yang memiliki aroma yang khas. Alex dan Denis hanya mampu menatap Reno yang masih terbujur lemah. Peralatan yang masih tersambung dengan tubuhnya menimbulkan bunyi dari monitor yang ada disana. Menambah kesan dramatis suasana ruangan ICU.


"Kamu lapar? Bagaimana kalau kita pergi makan dulu?" Tanya Alex setelah agak lama mereka hanya terdiam dalam keheningan.


"Boleh." Denis mengangguk. Selain merasa jenuh karena hanya duduk diam disana, perut Denis juga sudah melilit minta diisi. Apalagi sejak dia mendonorkan darahnya dia belum mengkonsumsi apapun karena tadi dia merasa sedikit lemas dan pusing sebenarnya.


Keduanya memilih untuk memasuki sebuah cafetaria yang ada di dalam lingkungan rumah sakit. Memilih menu makanan dan membawanya ke sebuah meja.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Alex setelah mereka duduk berhadapan.


"Kenapa?"


"Darah kamu habis diambil."


"Aku gak apa-apa."


Keduanya mulai menyantap makanan dihadapan mereka.


"Sayang..." Alex memanggil ragu. Denis mengangkat tatapannya, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Alex. "Aku..ingin mengajak kamu menemui Om Bisma. Kamu mau?"


Denis mengambil gelas minumannya dan meneguk isinya untuk melancarkan tenggorokannya yang terasa seret setelah mendengar ucapan Alex.


"Untuk apa?" Dia kembali menyendok makanannya.


"Untuk..meminta restunya atas pernikahan kita."


Denis menghentikan gerakan tangannya dari menyendok makanannya. Dia tersenyum getir.


"Dia itu papamu. Apapun yang telah dia lakukan padaku dimasa lalu, aku harus tetap menghormatinya sebagai papamu. Calon papa mertua aku."


"Kamu tidak perlu melakukan itu." Denis meletakkan sendoknya diatas piring. Makanannya masih tersisa banyak. Alex menatap gadis itu dengan sedikit sesal.


"Habiskan makanan kamu."


"Gak. Kamu sudah bikin selera makanku hilang." Denis mendengus kesal. Alex segera meraih tangan gadis itu.


"Maafkan aku. Ayo habiskan dulu makananmu. Aku gak akan bicara lagi." Ucapnya lembut.


"Aku bilang aku sudah kehilangan selera makanku." Denis menarik tangannya dari genggaman tangan Alex.


"Ayolah, sayang. Maafkan aku. Tapi kamu harus makan. Aku suapi, ya?" Alex mengulurkan sendok berisi makanan ke mulut Denis.


"Alex!" Denis berseru pelan. Sekarang mereka sudah berhasil menjadi pusat perhatian dari pengunjung cafetaria itu. Berbagai macam tatapan dilayangkan kearah mereka dari para pengunjung yang mulai ramai berdatangan.


"Denis?" Seseorang tiba-tiba sudah ada didekat meja mereka. Denis menoleh cepat.


"Hai! Ricko!" Denis terlonjak kaget melihat siapa yang sedang berada disana. Sedangkan Alex menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan menggeleng pelan saat melihat siapa yang baru saja mengganggu kebersamaannya dengan Denis.


Alex menatap Denis lekat. Gadis itu nampak berbinar saat menyapa pria yang baru saja datang.


"Ngapain lo disini?" Tanya Denis setelah mengadukan tinjunya dengan Ricko.


"Lo ingat Fey?"


"Ya? Yang rambutnya gondrong teman lo satu club itu 'kan?

__ADS_1


"Iya. Dia kecelakaan kemaren malem..."


Kemudian Ricko menceritakan kronologi kecelakaan yang menimpa temannya itu. Rupanya mereka melakukan balapan ditempat biasa, dan naas menimpa temannya itu saat tiba-tiba motornya oleng dan hilang kendali hingga kecelakaan itu tidak bisa dihindari.


"Keadaannya kritis. Kepalanya terbentur aspal dan ada beberapa tulangnya yang patah." Ricko menarik nafas dalam-dalam. Nampak sangat sedih dengan keadaan temannya itu.


Denis berdecak. Turut bersimpati dengan apa yang menimpa temannya Ricko itu.


"Gimana itu bisa terjadi?"


"Gue juga gak tahu. Mungkin dia gak fokus atau ada sabotase gue gak ngerti."


"Gue mau jenguk dia. Di ruangan mana?"


Ricko menyebutkan nama ruangan tempat temannya dirawat.


"Kamu balik aja ke ruangan Reno. Nanti aku nyusul kesana." Kata Denis kepada Alex. Dia bangkit dari duduknya dan mengajak Ricko untuk segera meninggalkan tempat itu tanpa menunggu jawaban dari Alex.


Alex mematung sesaat melihat Denis yang sudah berjalan menjauh meninggalkannya bersama Ricko.


"Denis.." Dia memanggil, tapi gadis itu sudah keluar dari cafetaria dan menjauh meninggalkannya sendiri disana.


"Siapa cowok itu? Lo selalu sama dia tiap gue ketemu sama lo." Tanya Ricko sambil melangkahkan kakinya.


"Temen gue."


"Temen lo? Heh.." Ricko tersenyum miring. Nampak tidak percaya begitu saja dengan pengakuan Denis. Bukan sekali dia bertemu dengan Denis. Dan selama mengenal Denis, dia tidak pernah melihat Denis berinteraksi dengan teman pria seperti itu. Ini sangat jelas terlihat berbeda.


Ricko terkekeh pelan. Diliriknya Denis yang berjalan disebelahnya. Dia yakin ada sesuatu antara Denis dan pria itu. Tapi Ricko bukanlah emak-emak kepo yang akan menggoreng berita hoaks. Dia lebih baik menutup mulut dan menghormati apapun jalan yang diambil oleh temannya itu.


****


"Kamu dimana? Kenapa lama banget? Cepat kembali kesini." Alex menelepon Denis ketika hampir satu jam dia menunggu diruangan tempat Reno dirawat dan gadis itu belum juga kembali. Kegelisahannya semakin menjadi saat monitor yang tersambung ke tubuh Reno berbunyi cepat dan tidak beraturan.


Alex segera menekan tombol emergency untuk memanggil petugas yang menangani Reno. Tidak memerlukan waktu lama, dokter dan perawat sudah datang dengan langkah tergesa.


"Silakan tunggu diluar." Untuk kedua kalinya Alex diusir dari ruangan itu.


Dengan gelisah Alex menunggu didepan ruangan Reno. Sesekali dia meremas rambutnya dan mendesah kasar. Orang yang dia tunggu dari tadi tak kunjung datang. Alex benar-benar hampir kehilangan kesabarannya. Bayangan Denis yang sedang berduaan dengan Ricko membuat dia nyaris gila.


"Kenapa?" Denis datang tanpa merasa bersalah sama sekali.


Alex menatap dalam-dalam gadis yang baru datang itu.


"Kenapa lama?" Tanya Alex tajam.


"Ada bang Jack sama Nerrow disana. Kami ngobrol dulu. Lagian tempatnya ternyata gak jauh. Di atas sini." Denis menunjuk kearah atas. "Lagian kenapa sih? Kayak cewek lagi PMS aja." Denis mencebik melihat Alex yang nampak masih menunjukkan kekesalannya.


Alex menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menenangkan dirinya.


"Reno kritis lagi. Aku.."


"Dia kritis lagi?" Denis memotong dengan cepat.


"Ya.."


Denis terkejut. Dia segera duduk disamping Alex. Menatapnya dengan penuh sesal.


"Maaf. Aku tidak tahu."


Alex menghela nafas lagi. Bukan itu saja sebenarnya yang ingin dia katakan kepada gadis itu. Namun dia sadar, ini bukan waktu yang tepat.

__ADS_1


******


__ADS_2