
Denis dan Jack sedang menemui teman mereka yang bekerja disebuah klub malam setelah mengintai ruko yang kemarin didatangi oleh Denis. Dia menjadi penjaga keamanan ditempat itu dan merupakan orang kepercayaan Jack.
Saat sedang menemani Jack ngobrol dengan orang itu, mata Denis yang tajam melihat seseorang yang selama ini dia hindari. Disana, Alex sedang dipapah keluar dari klub malam itu oleh seorang pria. Seorang pria lainnya mengikuti dibelakangnya sambil terus menempelkan ponsel ditelinganya.
Sepertinya pria itu mabuk berat. Keadaannya benar-benar sangat berantakan. Denis menatap miris pria yang selama beberapa bulan terakhir bersama-sama dengannya menjalani hidup.
Awalnya Denis hanya memerhatikannya dari kejauhan. Namun ketika melihat pria yang memapah Alex mulai merogoh saku jaketnya, Denis mulai melangkah mendekati orang-orang itu. Dia menyangka orang-orang itu akan berbuat sesuatu kepada Alex.
Namun ternyata kedua pria itu sedang membantu Alex.
Ketika dilihatnya Alex ambruk tak sadarkan diri, segera Denis menghampiri orang-orang itu.
"Kenapa dia?"
Tanyanya sambil memperhatikan keadaan Alex yang benar-benar sudah tidak sadar. Pria itu nampak sangat memprihatinkan. Tidak ada lagi rambutnya yang selama ini selalu tertata rapi. Rahangnya yang kokoh ditumbuhi bulu halus yang biasanya selalu tercukur bersih.
"Kamu siapa?" Salah satu dari pria itu balik bertanya. Matanya menatap penuh selidik wajah Denis.
"Gue Denis..teman Alex."
"Denis..." Sontak ketiga orang itu menoleh ke arah Alex. Hanya ada gerakan kecil dari tubuh pria itu. Namun kelihatannya dia hanya mengigau saja, karena nyatanya, matanya masih terpejam.
Marvel dan Derry mengalihkan tatapannya pada Denis.
"Apa dia manggil nama kamu?" Tanya Derry ragu. Denis mengangkat kedua bahunya. Dia sendiri sangat terkejut mendengar Alex menyebut namanya dalam keadaan tidak sadar. Atau jangan-jangan dia tahu kalau ada Denis disana?
"Lo antar dia pulang, Den. Biar motor lo gue yang bawa." Jack sudah ada didekat mereka. Denis mengangguk setelah berpikir sebentar.
Tanpa menunggu komentar kedua teman Alex, Denis segera masuk kedalam mobil Alex dan menjalankan mobil itu meninggalkan tempat itu.
Sesekali Denis menatap pria yang tertidur disampingnya. Keadaannya sangat kacau. Denis tidak tahu apa yang membuat pria itu menjadi seperti itu. Apa kesedihannya karena ditinggal pergi sang papa yang menjadikannya sangat depresi sehingga dia berubah menjadi seorang pemabuk?
__ADS_1
Ketika sampai dikediaman Alex, Denis memanggil penjaga disana untuk membantunya membawa Alex kedalam rumah. Dua orang pria dengan sedikit kesusahan akhirnya bisa membawa Alex kedalam kamarnya. Denis mengikutinya hingga masuk kedalam kamar Alex.
Dibaringkannya tubuh Alex diatas tempat tidur. Denis membuka sepatu Alex dan menyelimuti tubuh pria itu. Menatapnya sesaat sebelum meninggalkan kamar itu.
Langkahnya terhenti ketika terdengar gumaman dari mulut pria yang tak sadarkan diri diatas tempat tidur. Samar Denis mendengar pria itu menyebut namanya. Denis tertegun dan menajamkan telinganya. Namun rupanya Alex tidak terbangun sedikitpun. Dia kembali terlelap tanpa mempedulikan keadaan disekitarnya.
*****
Pagi menjelang. Alex keluar dari kamarnya dengan keadaan yang sudah rapi. Bersiap untuk berangkat ke kantornya. Kepalanya masih sedikit pusing sisa mabuknya tadi malam. Namun dia merupakan orang yang sangat bertanggung jawab sehingga apapun keadaannya, dia harus tetap melaksanakan kewajibannya untuk mengurus perusahaan. Apalagi sekarang semua tanggung jawab ada di tangannya. Walaupun ada Reno sebagai adiknya, namun Alex tidak mau melibatkan adiknya itu selama masalah dengan Tania belum bisa diselesaikan.
Diujung tangga di lantai bawah, Faisal sudah berdiri menunggunya.
"Maaf tadi malam tidak menjawab telepon dari teman anda, Pak." Ujarnya setelah mengucapkan selamat pagi kepada Alex.
"Siapa meneleponmu?" Alex berjalan menuju meja makan diikuti Faisal dibelakangnya.
"Pak Derry. Dia bilang kalau anda sangat mabuk tadi malam." Faisal menarik kursi untuk Alex. "Maaf karena saya harus menyelesaikan beberapa hal hingga tidak bisa menjemput anda. Tapi Pak Derry bilang anda diantar pulang oleh Denis. Jadi saya merasa tenang."
"Begitulah yang disampaikan pak Derry. Denis ada di klub malam itu dan dia yang menawarkan diri untuk mengantar anda pulang." Faisal mengatakan informasi yang dia dapatkan dari Derry.
"Apa dia menginap disini?"
"Tidak. Dia langsung pulang."
Alex menggigit rotinya perlahan. Dia mengingat-ingat kejadian tadi malam. Yang dia ingat hanyalah Marvel yang membawanya masuk kedalam mobil. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa. Dan ketika dia terbangun tadi pagi, dia sudah ada didalam kamar dalam keadaan terbalut selimut dengan nyaman. Mungkinkah Denis yang telah menyelimutinya?
Alex meneguk segelas jus dihadapannya.
"Bagaimana persiapan untuk nanti malam?" Dia mengalihkan topik pembicaraan.
"Semuanya sudah siap, Pak. Anda hanya perlu datang pukul delapan malam. Jadwal anda untuk hari inipun tidak padat. Hanya pertemuan dengan Tuan Andres dari perusahaan Adijaya, untuk tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya."
__ADS_1
"Jam berapa?"
"Pukul dua siang, Pak."
Alex menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Ketika dia berjalan menuju keluar, dia berpapasan dengan Reno yang baru turun dari kamarnya.
"Jam sepuluh nanti aku menunggumu dikantor. Ada beberapa berkas yang harus ditandatangani. Pak Yunus juga akan hadir." Katanya kepada adiknya itu. Reno mengangguk tanda mengerti dengan apa yang diucapkan Alex.
"Oya, apa kamu sudah dapat kabar dari mamamu?" Tanya Alex kemudian.
"Belum." Jawab Reno singkat. Dia tidak berminat untuk bicara panjang lebar dengan Alex. Itu sebabnya dia selalu turun ketika Alex sudah berangkat ke kantor. Namun hari ini kelihatannya Alex bangun sedikit terlambat. Sehingga ketika Reno turun, Alex masih ada di rumah.
"Harusnya sudah. Bukankah kamu akan mendapatkan harta warisan yang banyak? Pasti mamamu akan sangat tertarik untuk mengetahui berapa banyak harta yang akan kamu dapatkan."
Reno terdiam. Rahangnya mengeras. Dia menahan diri untuk tidak memperlihatkan emosinya yang tertantang oleh ucapan Alex yang sangat sinis. Dia menarik napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya.
"Baiklah. Sampai jumpa nanti dikantor." Alex tersenyum dingin.
Alex segera meninggalkan Reno yang masih terdiam. Namun baru beberapa langkah dia meninggalkan Reno, dia kembali membalikkan tubuhnya.
"Oya, Reno. Aku akan melamar Viola nanti malam. Kalau kamu ada waktu, datanglah. Nanti Faisal akan memberikan alamatnya padamu."
Setelah mengatakan itu, dia kembali melangkah.
Reno menatap tajam sosok Alex yang telah keluar dari rumah. Dia menghempaskan tinjunya kedinding yang ada didekatnya.
"Dia sengaja ingin membuat aku sakit hati dengan mengatakan itu. Selama ini dia selalu menghindari Viola karena tahu aku menyukainya. Tapi sekarang, dengan sengaja dia pamer kalau dia mau melamar Viola. Tunggu saja pembalasanku, kakakku tercinta." Reno mendesis dengan wajah yang sudah merah padam. Kebenciannya kepada Alex semakin meningkat semenjak dia mengetahui yang sebenarnya.
Dia mengurungkan niatnya untuk menuju ruang makan. Langkahnya kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Ditutupnya pintu kamar rapat-rapat. Dia mengeluarkan ponselnya dan menekan satu angka yang langsung menghubungkannya dengan seseorang.
*****
__ADS_1