
Suara mbak Fani yang terdengar panik membuat Alex ikutan panik. Dia menyuruh Faisal untuk menambah kecepatan mobilnya. Namun apa daya, kemacetan jalanan ibu kota memang benar-benar musuh yang nyata. Mobil Alex terasa berjalan seperti siput.
Barulah setelah melewati perpotongan jalan, lalu lintas sedikit lancar. Faisal memacu mobilnya seperti yang diperintahkan oleh atasannya. Itupun dia harus ekstra hati-hati karena jalanan tidak bisa dikatakan sepi.
"Bagaimana bisa dia sampai tidak ada dikamarnya, mbak?" Alex langsung memberondong mbak Fani dengan pertanyaan begitu tiba dirumah sakit. Nafasnya memburu karena berjalan sangat cepat dari tempat parkir ke kamar tempat Denis dirawat.
"Mbak hanya meninggalkannya sebentar. Saat kembali dia sudah tidak ada. Mbak tanya perawat, katanya dia dibawa pergi sama beberapa orang. Maafkan mbak, Alex. Mbak salah karena sudah lalai dalam menjaga dia." Suaranya penuh dengan sesalan.
Ingin rasanya Alex marah, namun demi melihat wajah mbak Fani yang nampak sangat panik dan khawatir membuat dia menekan kuat-kuat amarahnya.
"Apa ada yang tahu siapa yang sudah membawa Denis?"
"Mereka tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada yang berani melarang karena mereka kelihatan sangat garang. Begitu kata perawat yang sempat melihat mereka."
Alex memijat pelipisnya. Tiba-tiba dia teringat seseorang yang tadi meneleponnya untuk menanyakan Denis. Dia segera mendial nomor milik Andres.
"Sial!" Alex mengumpat keras saat panggilan teleponnya tidak tersambung. Dia menoleh ke arah Faisal yang berdiri tidak jauh darinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Cepat cari Denis sampai dapat!"
"Baik."
Tanpa menunggu disuruh untuk kedua kali, Faisal segera menghubungi beberapa orang dan memerintahkan untuk mencari Denis. Setelah itu dia meminta ijin kepada pihak security rumah sakit untuk melihat CCTV.
Dalam layar komputer nampak jelas Denis dibawa dengan paksa oleh dua orang berbadan tegap. Kondisi Denis yang masih lemah, nampaknya membuat Denis tidak berdaya melawan mereka.
Alex mengepalkan tangannya melihat tayangan dihadapannya.
Saat layar menunjukkan gambar ditempat parkir, Faisal segera mencatat nomor kendaraan orang-orang yang membawa Denis. Setelah itu dia kembali menghubungi orang kepercayaannya untuk melacak nomor kendaraan yang sudah dia dapatkan.
Alex sendiri terus berusaha menghubungi Andres. Namun lagi-lagi pria itu tidak dapat dia hubungi.
"Faisal, kamu tahu dimana rumah Andres?"
"Saya akan mencari tahu, Pak."
Dengan sigap Faisal kembali menghubungi seseorang.
Hanya dalam waktu yang singkat, Faisal mendapatkan alamat lengkap Andres. Tentu saja dia tidak akan mendapat kesulitan untuk mencari tahu alamat seorang pengusaha sukses seperti Andres. Dia sangat terkenal dikalangan pebisnis.
Dengan segera mereka meninggalkan rumah sakit menuju rumah Andres.
*****
Andres memasuki kamarnya setelah menelepon Alex. Sejak Denis memutuskan lebih memilih pergi bersama temannya, Rania terlihat sangat murung dan lebih memilih untuk mengurung diri didalam kamar. Rasa penyesalan karena telah mengabaikan Denis terus merasuki jiwanya. Dia berpikir bahwa seandainya dia bersikap baik sejak awal kepada putrinya itu, tentu Denis tidak akan memilih orang lain sebagai tempat dia berlindung.
Ketika memasuki kamar, nampak Rania sedang berbaring seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Matanya terpejam namun cairan bening mengalir dari kedua sudutnya.
Perlahan Andres duduk disisi tubuh istrinya. Melipat sebelah kakinya hingga lututnya menyentuh pinggang ramping sang istri.
"Sayang.." Disentuhnya lengan Rania.
__ADS_1
"Aku baru saja menelepon Alex. Denis sekarang sedang dirawat dirumah sakit. Apa kamu mau menjenguknya?"
Mendengar ucapan suaminya, Rania membuka matanya. Dia bangkit meluruskan tubuhnya dan menatap Andres.
"Dia di rumah sakit? Tapi kenapa?" Rania menghapus sisa air mata dipipinya.
"Dia demam. Tapi Alex bilang sekarang keadaannya sudah lebih baik."
Rania terdiam.
"Dia pasti akan menolak kehadiranku." Setelah agak lama.
"Apa kamu akan menyerah begitu saja? Justru sekarang adalah kesempatan kamu untuk menunjukkan sama dia kalau kamu benar-benar peduli sama dia. Terus tunjukkan kasih sayang kamu. Jangan sampai dia berpikir kalau kamu sudah tidak menginginkan dia lagi." Andres terus memberi semangat kepada istrinya. Demi apapun, dia rela melakukan apa saja asal istrinya bahagia. Dan saat ini, kebahagiaan istrinya adalah bisa bersama dengan putrinya.
Andres dapat melihat itu adalah hal yang sedikit sulit mengingat sifat Denis yang sangat keras. Tapi bukan tidak mungkin, Denis akan kembali bersatu bersama Rania dalam sebuah hubungan yang disebut sebagai keluarga. Hatinya pasti akan luluh suatu hari nanti.
"Dia sangat membenciku." Gumam Rania.
"Dia hanyalah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya. Dia sedang merajuk. Inginkan perhatian yang lebih dari mamanya. Aku yakin, dalam hatinya, dia juga sangat merindukanmu." Andres meremas jemari istrinya dengan lembut. Menatap kedalam mata Rania untuk memberinya keyakinan.
"Aku..aku sangat takut mendapat penolakan darinya. Aku juga tidak mau kalau dia akan semakin menjauh dariku. Biarlah dia membenciku, asal aku masih bisa melihat keberadaannya." Rania memejamkan matanya.
"Percayalah dengan kata-kataku, sayang. Dia akan segera menyadari semua ketulusanmu. Dia akan segera datang ke dalam pelukanmu. Kamu ingat bagaimana sikap kamu dulu kepada ibumu? Kamu juga sangat membencinya. Tapi dalam hati kamu, ada rasa sayang yang tersembunyi karena adanya ikatan batin antara ibu dan anak yang begitu kuat. Kamu pun pada akhirnya bisa memaafkan ibumu 'kan? Begitulah juga Denis."
"Aku harap ucapanmu benar. Aku sudah tidak sabar untuk bisa memeluknya dan membawa dia pulang kerumah."
"Jadi, sekarang kita temui dia?"
Baru saja Rania menurunkan kakinya dari tempat tidur, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
Andres membuka pintu dan seorang asisten rumah tangga berdiri didepan pintu kamarnya.
"Ada apa?"
"Maaf, Pak. Ada tamu dibawah ingin bertemu dengan Bapak." Perempuan setengah baya itu berkata dengan hati-hati.
"Tamu? Siapa?"
"Namanya Alex, Pak."
"Alex?"
Dengan hati penuh tanya, Andres bergegas menuruni anak tangga menuju ruang tamu tempat tamu yang disebutkan oleh asisten rumah tangganya berada. Hatinya mengatakan kalau ada hal yang sangat penting sehingga Alex datang ke rumahnya. Mungkinkah ini tentang Denis?
Diruang tamu nampak Alex berdiri dengan gelisah. Tak sabar untuk segera bertemu dengan Andres.
"Pak Alex?"
Andres menatap heran dua orang tamunya yang sangat tidak disangka akan berada dirumahnya saat ini.
Alex menoleh dan langsung mendekat kearah Andres. Tatapannya tajam dan nampak sangat serius.
__ADS_1
"Pak Andres, apa Denis bersama anda saat ini?"
"Denis? Bukankah pak Alex bilang dia sedang dirawat dirumah sakit?" Andres mengerutkan keningnya.
"Tapi saat ini dia tidak ada dirumah sakit. Beberapa orang membawanya keluar dari rumah sakit. Apa orang itu suruhan anda?" Tanpa basa-basi Alex menginterogasi Andres.
"Saya tidak menyuruh siapapun untuk membawa Denis dari rumah sakit. Saya tidak terlibat akan hal itu."
"Tolong jangan berbohong pada saya pak Andres. Anda tadi menelepon saya dan menanyakan tentang Denis. Saya memberitahu anda tentang dia dan ketika saya kembali ke rumah sakit, dia sudah tidak ada disana. Kalau memang anda yang membawa dia pergi dari sana, tentu saya tidak punya alasan untuk khawatir. Itu hak anda sebagai orang tuanya untuk membawa Denis pulang 'kan? Tapi tidak juga dengan cara seperti itu. Anda tahu Denis masih sangat lemah. Dia masih butuh perawatan dokter di rumah sakit. Seharusnya dia tidak boleh keluar dari rumah sakit."
"Saya tidak berbohong, Pak Alex. Saya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Setelah saya selesai menelepon pak Alex, saya bicara dengan istri saya dan membujuknya untuk menemui Denis. Dia baru saja setuju untuk menjenguk Denis dan baru akan bersiap untuk pergi ke rumah sakit."
Bertepatan dengan itu, Rania datang mendekati mereka. Dia nampak sudah siap dengan pakaiannya yang rapi. Matanya beralih diantara kedua orang yang sedang bersitegang itu.
"Ada apa? Kenapa kalian kelihatan sangat serius?"
Andres menarik nafas dalam-dalam sebelun menjawab pertanyaan istrinya.
"Sayang, Denis tidak ada dirumah sakit."
"Apa maksudmu tidak ada di rumah sakit?"
"Seseorang membawa Denis keluar dari rumah sakit. Dan Alex menyangka aku yang telah melakukannya."
Rania nampak sangat terkejut.
"Kamu tidak menyuruh anak buahmu buat membawa dia?"
"Tidak sama sekali. Aku bersumpah Rania. Untuk apa aku melakukannya? Aku tidak ingin memaksa Denis. Kalaupun dia pulang ke rumah, itu harus atas keinginan dia sendiri."
Ada sedikit rasa tidak suka dalam hati Andres saat mendapat tuduhan dari istrinya. Tapi dia sadar, Rania sedang dalam keadaan panik dan tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Lalu siapa yang sudah membawa Icha? Dimana dia sekarang?" Rania langsung panik. Matanya nanar menatap kedua orang pria dihadapannya silih berganti.
"Bagaimana kamu bisa tidak tahu Alex? Bukankah kamu sedang bersama dia?" Sekarang dia menyudutkan Alex.
"Tadi saya meninggalkannya karena saya harus ke kantor polisi untuk memberi keterangan tentang om Bisma. Saat pulang dia sudah tidak ada."
"Andres, bagaimana ini? Menurutmu siapa yang telah membawa putriku? Untuk apa orang itu membawa Icha?"
"Tenangkanlah diri kamu, sayang. Aku akan segera mencari tahu akan hal itu." Andres menepuk bahu istrinya. Kemudian dia beralih kepada Alex. "Pak Alex, apa ada sesuatu yang bisa kita jadikan petunjuk untuk mencari Denis?"
"Kami punya nomor mobil orang yang membawa Denis. Dan, tolong panggil saya dengan Alex saja."
"Baiklah, Alex."
Alex kemudian menoleh ke arah Faisal yang setia menemani dirinya. Mengerti maksud dari tatapan tuannya, Faisal segera menunjukkan nomor mobil yang dimaksud kepada Andres.
Andres menulis sesuatu di ponselnya dan mengirimkan pesan kepada anak buahnya untuk segera mencari tahu tentang nomor mobil yang baru saja dia dapatkan.
Rania nampak gelisah dan begitu khawatir. Baru saja dia bisa bertemu dengan putrinya, kini Denis malah menghilang entah kemana. Dia tidak bisa membayangkan seandainya dia harus benar-benar kehilangan putri yang belum sempat memberi kata maaf untuknya.
__ADS_1
******