
Mariana baru saja memakai baju setelah menyelesaikan mandinya ketika ketukan dipintu terdengar berulangkali. Susah payah dia memasukkan tangan ke lubang lengan bajunya.
Dia mengintip dari balik tirai kaca sebelum membuka daun pintu. Dua orang pria bertubuh tegap berdiri menghadap kearah pintu. Salah satu diantaranya menyadari gerakan tirai yang sedikit tersingkap. Matanya beradu tatap dengan mata Mariana.
Gadis itu terkesiap. Segera ditutupnya kembali tirai rapat-rapat. Jantungnya sedikit berdetak lebih cepat. Pemikiran buruk melintas begitu saja demi melihat dua orang itu. Pakaiannya memang sopan dan nampak sangat perlente. Namun wajah datar mereka menciutkan nyali siapa saja yang melihatnya.
Mariana juga merasa heran dengan kehadiran orang-orang itu. Dia merasa tidak punya utang sehingga harus didatangi oleh debt collector.
Ketukan dipintu terdengar lagi. Mariana terdiam disudut ruangan. Apa yang harus dia lakukan. Dia sendirian didalam rumah. Janet teman serumahnya belum pulang kerja. Kamar sebelah juga masih sepi. Berarti pemiliknya belum pulang.
"Permisi. Mariana! Tolong buka pintunya!" Pria didepan pintu memanggil namanya. Mata Mariana terbuka lebar. Apa? Orang itu tahu namanya? Siapa mereka?
"Kami tahu kamu ada didalam! Buka pintunya!"
"Kalian siapa?" Mariana berteriak dari arah dalam.
"Buka dulu pintunya!"
Mariana menyibakkan kembali tirai dengan ragu. Dua orang itu langsung mengarahkan pandangannya pada wajah Mariana yang tersembul dari balik tirai. Wajah dingin mereka membuat Mariana takut untuk menampakkan dirinya.
"Permisi. Anda siapa ya?"
Mata Mariana terbeliak mendengar suara Janet diluar. Tanpa sadar tangannya menepuk jidat dengan cukup keras.
Dan dua orang itu akhirnya berhasil memaksa Mariana keluar setelah Janet membuka pintu. Mau tidak mau Mariana harus menghadapi mereka. Tanpa rasa bersalah Janet masuk kedalam kamarnya. Membiarkan Mariana menghadapi dua orang yang mengaku memiliki kepentingan pada Mariana.
"Anda berdua ini siapa? Dari mana anda tahu nama saya?" Mariana memberanikan diri bertanya kepada dua orang itu. Mereka berbicara diluar. Mariana tidak mau mengambil resiko dengan mengajak dua orang asing itu untuk masuk kedalam rumah. Dia benar-benar tidak mengenal orang itu. Dia juga tidak tahu niat dari orang itu. Apakah berniat baik atau sebaliknya.
"Kami tahu kamu baru datang dari kampung bersama dua orang lainnya. Dimana mereka sekarang?" Dua orang itu bertanya tanpa basa basi dengan nada yang tegas. Tatapan tajam mengintimidasi membuat Mariana agak gentar. Namun dia ingat pesan Denis dan Alex untuk merahasiakan keberadaan mereka. Mariana menguatkan hatinya. Mengatur detak jantungnya agar sedikit lebih tenang.
"Saya tidak mengerti apa maksud anda. Saya tidak bersama siapa-siapa. Saya datang sendiri." Sekuat tenaga dia menahan agar suaranya tidak gemetar.
"Katakan atau..." Pria itu menggantung kalimatnya. Matanya tajam menatap Mariana. "Kami akan melakukan sesuatu sama kamu." Pria itu merendahkan suaranya.
"Kalian tidak bisa memaksaku. Aku akan berteriak dan bilang kalau kalian adalah penjahat.." Belum selesai kalimat yang keluar dari mulut Mariana, salah satu dari orang itu menarik tangan Mariana dengan kasar hingga tubuh Mariana tersentak dan menubruk tubuh kekar pria itu. Terasa dada pria itu sangat keras. Pria itu membekap mulut Mariana dan memeluk erat tubuh gadis itu. Mariana meronta. Namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria itu.
"Coba saja kalau kamu berani." Mata pria itu berkilat menatap Mariana. Tubuh Mariana bergetar. Akhirnya runtuh juga keberaniannya yang dia susun sejak tadi. Sekarang dia benar-benar tidak memiliki daya lagi untuk melawan pria itu.
Orang itu mencekal pergelangan tangan Mariana dengan kuat. Membuat gadis itu meringis kesakitan. Sepertinya dua orang itu tidak main-main.
Mariana terus mencoba melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan pria itu. Namun tangan kekar pria itu tak bergeming sedikitpun.
"Jangan memaksaku berbuat lebih kasar sama kamu. Katakan dimana mereka?"
Mariana menggelengkan kepalanya sambil berusaha untuk berteriak. Namun telapak tangan pria itu begitu lebar hingga menutup rapat seluruh mulut Mariana.
"Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu masih tidak mau memberi tahu dimana temanmu itu, aku akan...Aww!!" Pria itu menjengit ketika kakinya diinjak dengan keras oleh Mariana. Tangan lebarnya terlepas dari mulut Mariana.
Gadis itu mengatur nafasnya yang hampir putus karena bekapan pria itu. Matanya mendelik dengan dadanya turun naik dengan cepat.
"Gimana..aku bisa ngomong..kalau kamu nutup..mulut..aku.." Mariana terengah-engah. Pria itu meringis menyadari kebodohannya. Temannya membuka lebar matanya menyorot kearah temannya itu.
Dia segera menarik Mariana ke arah mobil yang sejak tadi terparkir dipinggir jalan. Dengan paksa dia memasukkan Mariana ke dalam mobil. Satu diantara mereka ikut masuk dan duduk di samping Mariana. Pria satunya lagi masuk dari pintu pengemudi.
__ADS_1
"Kalian mau membawaku kemana? Lepaskan aku! Tolo....Mmph!!" Kembali pria itu membekap mulut Mariana.
"Kalau kau tidak mau diam, aku akan menciummu. Mau??" Pria itu mendekatkan wajahnya kewajah Mariana. Gadis itu bergidik ngeri. Dia segera menarik mundur wajahnya. Menjauhkan diri dari pria itu. Pria pengemudi hanya melirik dari kaca spion tanpa ekspresi yang berarti.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan kediaman Mariana. Sepertinya mereka tidak main-main dengan ucapannya. Mariana semakin ketakutan.
"Kalian mau membawaku kemana? Lepaskan aku!!"
"Katakan dimana temanmu itu!!"
Mariana merasa tidak punya pilihan lain. Memikirkan keselamatan dirinya, dia akhirnya setuju untuk menunjukan tempat tinggal Denis.
Mobil kembali berhenti dan mereka berjalan kaki untuk sampai ke tempat kos Denis. Namun ketika mereka tiba disana, ternyata Denis tidak ada di tempat itu. Pintunya terkunci dan ketika Mariana bertanya kepada pemilik kos, dia bilang kalau dua penghuni baru itu sudah meninggalkan tempat kos.
Kedua pria yang menyekap Mariana nampak sangat gusar.
"Kamu tidak sedang membohongiku kan?" Pria itu masih setia memegangi tangan Mariana.
"Sebenarnya siapa yang kalian cari?" Tanya Mariana kesal.
"Kami mencari nona Icha."
"Apa? Siapa nona Icha? Aku tidak kenal dengan orang itu."
Kedua pria itu saling menatap. Kemudian sama-sama mengalihkan tatapannya pada Mariana.
"Aku benar-benar tidak kenal dengan yang kalian maksud. Tolong lepaskan aku." Suara Mariana memelas.
*******
"Thanks. Gue gak masalah tempatnya kayak apa. Yang penting ada buat tidur." Denis meletakkan tas ransel yang berisi beberapa potong pakaian miliknya. Matanya beredar memindai tempat itu.
"Kalau lu udah istirahat, lu bisa nemuin gua di basecamp."
"Oke."
Nerrow berlalu dari tempat itu. Tinggallah Denis kembali berdua dengan Alex.
"Bagaimana kamu bisa kenal sama orang-orang itu? Apa mereka tidak berbahaya?" Tanya Alex setelah kepergian Nerrow.
"Mereka teman-teman gue. Lu gak perlu takut sama mereka. Tenang aja. Mereka orang-orang baik. Gue percaya sama mereka."
Alex terdiam. Ini adalah pengalaman pertama dia berinteraksi dengan orang-orang seperti itu. Dia sama sekali tidak pernah membedakan status siapapun. Tapi lingkungan dan pergaulan Alex selama ini memang tak pernah mempertemukan dia dengan orang-orang dari kalangan bawah.
Semua yang dia alami beberapa hari belakangan ini, membuat matanya terbuka lebar dan dapat melihat sisi dunia lain. Seolah dia baru tahu semua itu. Sangat mengagetkan dan benar-benar tak pernah menyangka semua ini ada didunia yang sama dengan yang dia pijak selama ini.
Apa yang dialaminya juga membuka matanya bahwa tidak semua orang yang dia anggap baik ternyata sesuai dengan perkiraannya. Orang yang kelihatannya buruk belum tentu juga bersikap buruk.
Seperti Denis misalnya. Pakaian dan sikapnya sangat bertolak belakang dengan sifat aslinya. Walaupun Alex merasa belum begitu mengenal Denis. Tapi setidaknya, dia dapat menilai dari sikap Denis selama ini.
Jam delapan malam, Denis mengajak Alex untuk pergi ke markas tempat Nerrow dan teman-temannya berada. Tempat yang berada dibalik dinding gang itu. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat yang ditinggali Denis sekarang. Hanya beberapa puluh meter saja.
Kamar yang ditinggali Denis pun berada dibalik dinding gang itu. Sebuah ruangan sempit yang berhimpitan dengan bangunan lain. Kalau dari jalan utama kota tidak akan kelihatan ada bangunan tempat tinggal disana karena terhalangi tembok tinggi pembatas dengan sebuah rel kereta api. Tidak jauh dari sana memang terdapat sebuah stasiun kereta api.
__ADS_1
Denis dan Alex masuk dari pintu yang sama dengan yang mereka masuki siang tadi. Seorang pria berjaga dibagian dalam pintu. Dia langsung mengenali Denis dan membuka pintu lebar-lebar untuk mempesilakan Denis masuk.
Suara bising terdengar dari mesin motor yang sedang diuji coba. Terdengar juga suara musik berdentum dari bagian ruangan lain.
Alex memperhatikan semua orang yang ada disana. Ada sekitar sepuluh orang pria dengan gaya pakaian hampir mirip. Celana jeans belel dan jaket kulit dengan berbagai aksesories yang digunakan. Rata-rata dari mereka bertato dan rambut gondrong berwarna-warni. Kulit mereka gelap terbakar sinar matahari.
Mereka menyambut baik kedatangan Denis. Semua menunjukan sikap seolah merindukan Denis karena cukup lama tidak bertemu. Mereka juga menyapa Alex setelah diperkenalkan oleh Denis.
"Lama lu gak ikut balapan, Den. Lu harus ikut kita malam ini." Jack menepuk bahu Denis.
"Gue gak punya motor bang."
"Tenang aja. Lu tinggal pilih noh. Mau yang mana lu?"
Jack menunjuk kearah dimana beberapa motor balap berjajar siap untuk digunakan.
Mata Denis berbinar takjub. Melihat motor yang sudah lama tidak dia sentuh. Dengan penuh antusias dia mendekati motor-motor itu. Mengusap salah satunya dengan penuh kekaguman.
"Gila. Ini cantik banget, bang."
"Lu boleh pake yang mana pun lu mau."
"Beneran nih?" Denis seakan tak percaya. Matanya yang menyiratkan kegembiraan beredar memandangi semua yang ada disana.
"Lu mau coba?"
Denis mengangguk. Jack memberi isyarat pada teman-temannya yang lain agar bersiap. Mereka membubarkan diri menghilang dari tempat itu. Jack menyalakan satu motor yang ada didekat motor yang sedang dimainkan Denis. Memberikan satu helm pada Denis, dan satu lagi pada Alex. Agak ragu Alex menerima helm itu. Matanya menatap Denis penuh tanya.
Denis menyuruh Alex untuk naik dibelakangnya. Melajukan motornya perlahan mengikuti Jack yang terlebih dulu sudah meninggalkan tempat itu.
Mereka keluar dari arah samping bangunan. Alex memperhatikan semuanya dengan takjub. Ternyata bagian depan dari gudang yang dia masuki dari arah belakang itu menghadap jalan raya. Sebuah bengkel yang sudah tutup karena sudah larut malam berada dibagian luar gudang.
Motor Denis melaju mengikuti motor Jack dan teman-temannya yang lain yang telah lebih dulu melaju. Meliuk-liuk melewati kendaraan lain dengan kecepatan yang disesuaikan dengan keadaan jalanan yang cukup ramai.
Dibalik punggungnya, Alex merapatkan tubuhnya di tubuh Denis. Kedua lututnya berada disisi pinggang Denis. Denis tidak mempedulikan itu. Walaupun awalnya dia merasa sedikit kaku.
Motor berhenti disebuah lampu merah. Bersamaan dengan itu, sebuah mobil berhenti tepat disamping motor Denis. Alex menoleh kearah mobil itu.
Matanya terpaku menatap orang dibalik kaca jendela mobil yang sedikit terbuka. Seorang pria sedang mengendarai mobil itu dan seorang gadis cantik duduk manis disampingnya.
"Reno.." Desis Alex pelan.
Seolah mendengar suara panggilan itu, pria dibalik kemudi menoleh kearah Alex. Segera Alex memalingkan wajahnya. Walaupun tertutup kaca helm yang berwarna gelap, namun tetap saja dia takut Reno akan menyadari kehadirannya disana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
******