Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tujuh Puluh Dua


__ADS_3

Alex menarik tangan Denis menjauh dari Rania dan Andres. Sebuah bangku taman di halaman rumah sakit menjadi pilihannya.


"Apa yang membuatmu berpikir untuk membahayakan dirimu sendiri?"


"Kenapa? Masalah buat lo? Ini hidup gue. Lo gak usah sok peduli dengan hidup gue." Denis ketus menjawab.


"Apa? Kamu bilang aku sok peduli?" Alex melebarkan matanya. "Aku benar-benar peduli sama kamu. Apa kamu tidak bisa merasakannya? Dan ya, berhenti dengan lo-gue antara kita."


Denis mendengus pelan.


"Aku mencintaimu. Dan aku tahu kaupun merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadamu. Seperti kamu yang selalu melindungiku, maka akupun akan melakukan hal yang sama kepadamu."


"Gue gak pernah ngelakuin apapun buat lo."


Cup!


"Alex! Lo.."


Cup!


"Oh my God." Denis memundurkan kakinya dengan panik. Wajahnya merah padam karena kecupan dari Alex yang tanpa diduganya. Matanya liar ke sekeliling tempat itu takut ada yang melihat apa yang diperbuat oleh Alex kepada dirinya. Mereka sedang berada ditempat umum, kalau Alex lupa.


"Sudah ku bilang jangan ada 'lo-gue' diantara kita. Itu akibatnya kalau kamu gak mau nurut sama aku." Tidak ada ekspresi bercanda di wajah Alex. Matanya tajam mengintimidasi.


"Gg.." Denis menelan lagi kata-katanya. Refleks tangannya menangkup bibirnya. Tak urung hal itu membuat senyuman tertahan di bibir Alex. Merasa lucu melihat tingkah Denis. Orang yang selama ini terlihat dingin dan kaku ternyata memiliki sisi lain dalam dirinya yang benar-benar belum pernah dilihat oleh siapapun sebelumnya.


Kakinya melangkah mendekati Denis. Menarik tangan Denis untuk duduk dibangku taman dekat mereka.


"Aku akan menelepon mbak Fani. Mungkin dia bisa membantu kita mendapatkan pendonor yang cocok untuk nenek." Sebelah tangannya mencari kontak mbak Fani. Sedangkan tangan yang lain memegangi erat tangan Denis. Seolah takut kalau gadis itu akan melarikan diri sementara dia sibuk dengan ponselnya.


Tanpa mempedulikan Denis, Alex mulai bicara dengan mbak Fani. Dia menceritakan secara singkat kondisi neneknya Denis. Diakhiri dengan pertanyaan untuk mbak Fani.


"Mbak bisa bantu saya buat nyari info tentang pendonor ginjal?"


"Mbak akan coba. Ini mungkin akan memerlukan waktu sedikit lebih lama. Tapi kita harus yakin kalau apapun masalah yang kita hadapi pasti akan ada jalan keluarnya."


Mbak Fani menjawab dari seberang telepon.


"Baiklah mbak. Tolong kasih kabar secepatnya."


Alex mendesah pelan setelah menutup teleponnya. Matanya beralih menatap Denis lekat. Ditautkannya jemarinya disela jemari Denis.


Sesaat keduanya saling menatap.


"Aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan yang akan terjadi kepadamu."


Berhenti sesaat untuk melihat reaksi gadis itu.


"Pikirkanlah lagi niatmu untuk mendonorkan ginjal pada nenekmu. Itu sangat beresiko. Aku tidak mau kamu menyesal nantinya."


"A..aku sudah yakin dengan keputusanku ini." Lidahnya sudah terbiasa dengan kata 'lo-gue' saat bicara dengan Alex. Dan sekarang tiba-tiba harus berubah. Tentu saja rasanya sangat aneh.


"Kenapa? Kamu tahu tidak, mendonor itu tidak boleh terpaksa atau karena paksaan. Dokter tidak boleh melakukan transplantasi ginjal dari pendonor yang dipaksa melakukannya."


"Tidak ada yang memaksaku. Aku melakukannya atas keinginanku sendiri." Denis menunduk. Jarinya terasa meremas jari Alex. Alex melihat jari mereka yang bertautan.


"Tapi kamu mendapat tekanan dari mereka. Kamu tidak harus mengikuti apapun keinginan mereka."


"Aku tidak mau egois. Aku tahu nenek sangat membutuhkan ginjalku saat ini. Biarlah aku memberikan sebagian dari diriku asalkan aku mendapatkan keluargaku kembali. Selama ini aku tidak pernah berjuang untuk mendapatkan keluargaku. Aku asik dengan duniaku sendiri dan aku tidak peduli dengan mereka. Itu yang membuat mereka semakin tidak menyukaiku. Seharusnya aku berusaha lebih baik sejak dulu sehingga aku akan mendapat perhatian dan kasih sayang semua orang." Parau suara Denis.


"Kamu benar, aku adalah seorang pengecut yang selalu lari dari masalah. Aku bahkan bersembunyi dari keluargaku untuk menghindari semuanya. Aku membiarkan jati diriku tidak diketahui oleh semua orang. Seharusnya aku tidak melakukan itu."


Giliran Alex yang mengeratkan tautan tangannya saat mendengar kata-kata Denis.


"Kamu adalah gadis yang sangat hebat yang aku kagumi. Aku menyukai apa adanya dirimu. Aku bisa merasakan sedalam apa kesedihanmu saat kamu jauh dari orang yang kamu sayangi. Aku juga dapat melihat alasan apa yang membuatmu harus melarikan diri dari keluargamu. Aku bisa memakluminya. Kamu tidak bersalah sama sekali. Kamupun tidak perlu bertanggung jawab atas sakit yang diderita oleh nenekmu. Semua orang bisa mengalami itu. Dan siapa saja bisa menjadi pendonor ginjal asalkan memenuhi syarat tertentu. Tidak harus kamu yang melakukannya."

__ADS_1


"Ya. Sekarang kamu dapat melihat seperti apa keluargaku. Itu yang membuat aku pergi dari rumah. Pertengkaran demi pertengkaran. Semua orang saling menyalahkan satu sama lain. Ditambah dengan sikap nenek yang sangat otoriter. Aku sangat muak saat itu."


"Sepertinya semua orang dalam keluargamu memiliki sifat yang sama. Keras kepala dan sama-sama tidak mau mengalah. Aku dapat melihat itu walau hanya sekilas. Termasuk kamu." Alex mengusap kepala Denis. Gadis itu melirikkan matanya dengan senyuman tipis dibibirnya.


Alex terpana. Hampir tidak pernah dia melihat Denis tersenyum. Dan itu benar-benar senyuman yang sangat manis.


"Kamu cantik."


"Pembohong"


"Sangat manis."


"Diamlah bodoh."


Cup!


"Alex!!"


"Ya ampun mas. Kalau mau berbuat mesum jangan disini dong. Menjijikkan banget. Masa jeruk makan jeruk sih." Seorang ibu-ibu mencebis dengan seringai diwajahnya. Denis dan Alex saling menatap dan pipi Alex memerah menahan tawa.


"Pak satpam!" Wanita itu memanggil seorang petugas keamanan yang kebetulan melintas tidak jauh dari tempat itu. Pria berseragam biru gelap itu segera menghampiri orang yang memanggilnya.


Alex dan Denis terkejut melihat keseriusan wanita itu melaporkan mereka.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Pria itu bertanya sopan.


"Coba lihat Pak. Ini pasangan gay bermesraan di kawasan rumah sakit ini. Mereka bisa mencemarkan nama baik tempat ini. Tolong amankan mereka Pak. Tak seharusnya tempat umum dijadikan tempat untuk berbuat tak senonoh. Apalagi mereka pasangan homo begitu. Sangat memalukan." Wanita itu nyerocos tanpa henti. Bibirnya sampai menyon-menyon saking bersemangatnya dia dalam mengadukan Alex dan Denis yang dia yakini sebagai pasangan sesama jenis.


"Betul anda berdua berbuat mesum disini?" Pria penjaga keamaan itu berbalik kepada Alex dan Denis.


"Tidak, Pak. Kami hanya sedang ngobrol disini." Alex tentu saja menyangkal.


"Alah..mana ada maling yang mau ngaku."


"Kami bukan maling, Bu." Alex menyela.


"Ibu benar. Memang gak ada perempuan yang mau sama dia." Denis memprovokasi. Alex melotot kearah Denis. Nampak ada binar jenaka dimata gadis itu. Dan percayalah, Alex semakin merasa gemas melihatnya.


"Sayang.."


"Bapak dengar?" Wanita pengadu itu memekik saat mendengar kata yang terucap dari mulut Alex kepada Denis. "Dia memanggil sayang sama pacar homonya ini."


"Baik. Baik. Ayo kalian semua ikut saya ke kantor keamanan."


"Tapi kami tidak berbuat apa-apa pak satpam." Alex memelas. Sedangkan Denis nampak sedang menahan senyumannya.


"Sudah, Pak. Bawa saja mereka berdua."


"Anda juga ikut saya , Bu."


Dan mereka berakhir dikantor security dengan tatapan aneh dari semua orang yang mereka lalui. Wanita itu tak segan untuk terus mengomel sapanjang jalan sampai mereka berada di dalam ruangan.


Alex segera menelepon Andres dan Rania agar menjadi saksi tentang mereka berdua. Tak ada yang percaya saat dia mengatakan bahwa Denis adalah seorang perempuan.


Awalnya Denis sangat percaya diri saat mereka digelandang masuk kedalam kantor keamaman. Namun saat dia disuruh unuk membuktikan bahwa dirinya perempuan, disitu dia baru menyadari kalau ternyata dia tidak membawa kartu identitas apapun. Dompetnya tertinggal di kamarnya karena awalnya di keluar kamar hanya untuk sarapan saja, dan tidak ada niat sama sekali untuk keluar dari rumah.


Hal itu membuat wanita pelapor itu semakin yakin bahwa kedua orang itu adalah penyuka sesama jenis. Keributan di ruang sekuriti tak urung memancing keingintahuan beberapa orang lainnya sehingga membuat sedikit kegaduhan.


Dengan terpaksa, akhirnya Alex menelepon Andres dan Rania untuk segera datang membantu mereka memberi kesaksian.


"Ada apa ini?" Rania datang dengan sedikit panik saat Alex mengatakan mereka sedang terkena masalah dan butuh bantuan Rania dan Andres secepatnya.


Andres dan Damian ikut datang karena penasaran dengan apa yang terjadi kepada Alex dan Denis.


"Begini bu. Wanita ini memergoki kedua orang ini sedang berbuat mesum di taman rumah sakit."

__ADS_1


"Apa?" Rania terperanjat. Matanya melotot menatap Alex dan Denis bergantian.


Alex menggelengkan kepalanya, begitu juga Denis.


"Saya hanya sedang mengobrol dengan Denis, bu Rania."


"Ibu itu yakin kalau mereka adalah pasangan sesama jenis yang akan berbuat mesum di tempat umum." Petugas keamanan itu menambahkan.


"Aa..apa?" Rania terkejut untuk kedua kalinya.


"Apa ibu mengenal mereka?"


"Bapak menyebut mereka apa? Pasangan sesama jenis?"


"Ibu itu yang bilang." Petugas sekuriti itu menunjuk ibu pelapor yang nampak puas karena sudah berhasil membawa dua orang yang menurutnya sangat pantas untuk diamankan.


"Tapi bapak juga lihat sendiri kan kalau kedua orang itu memang pasangan yang gak wajar. Masa sama lelaki panggil-panggil sayang segala?"


"Kamu panggil Denis 'sayang'?" Rania berbalik kepada Alex.


"Saya mencintainya, bu Rania."


"Kalian semua dengar?" Wanita pelapor itu kembali nemekik. "Dengan tidak tahu malunya dia mengakui kalau dia mencintai pria itu."


Rania tidak mendengarkan pekikan wanita itu. Dia fokus pada Alex dan Denis. Bibirnya perlahan tersenyum menatap kedua orang itu.


"Dan tidak mungkin hanya dengan panggilan 'sayang' wanita itu melaporkan kalian kan?" Nada menggoda pasangan itu.


"Lelaki ini mencium lelaki yang satunya lagi ini. Sangat menjijikkan." Wanita pelapor itu yang menjawab dengan didukung oleh mimik wajahnya.


Pipi Denis memerah saat mamanya menatapnya dengan tatapan menggoda. Alex hanya meringis saat mendapati mata Rania tertuju padanya.


"Betul, Alex? Kamu mencium Denis?" Rania semakin tergoda untuk menggoda Alex dan Denis.


"Tidak..Itu hanya.." Alex menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Andres dan Damian tidak bisa menahan tawa mereka. Melihat Alex yang salah tingkah diinterogasi oleh Rania didepan semua orang.


"Baiklah. Saya mencintai Denis. Dan disini, didepan semua orang, saya memohon kepada anda agar merestui hubungan kami. Saya ingin menikahi gadis cantk ini." Tanpa ragu Alex menggenggam tangan Denis. Menatapnya penuh perasaan cinta yang besar sebesar dunia.


Semua yang berada disana tercengang dengan pernyataaan Alex. Rania terkejut diikuti ekspresi bahagia. Sedangkan orang-orang yang masih meyakini kalau Denis itu pria benar-benar terkejut dan merasa itu adalah sesuatu hal yang tidak wajar.


Denis lain lagi. Wajahnya merah padam menahan rasa malu karena tingkah Alex. Namun ada rasa bahagia yang memenuhi dadanya saat Alex mengatakan itu dengan tanpa keraguan sedikitpun kepada Rania.


"Maaf. Apa hubungan ibu dengan kedua orang ini?" Perugas keamanan menyela. Semuanya terasa membingungkan untuknya saat ini.


"Dia adalah putri saya." Rania menunjuk Denis. "Putri ya. Artinya dia seorang gadis." Dia menekankan kata 'putri' sambil melihat kearah wanita pelapor yang nampak terpana dengan ucapan Rania.


"Dia memang berpenampilan seperti itu karena itu adalah kepribadiannya sendiri. Tolong jangan ada yang merendahkan putri saya."


"Dd..dia putri ibu?" Wanita itu benar-benar tidak percaya dengan informasi yang baru saja dia dapatkan.


"Ya. Saya yang mengandungnya selama sembilan bulan dan melahirkannya kedunia ini. Saya menyayanginya apapun keadaannya. Dan saya rasa itu bukanlah sesuatu yang aneh jika seorang perempuan berpenampilan seperti seorang laki-laki." Rania menatap tajam wanita itu.


"Ini adalah papanya. Dan itu adalah omnya." Rania menunjuk Andres dan Damian untuk meyakinkan semua orang.


"Jadi semuanya sudah jelas sekarang? Silakan semuanya untuk bubar." Petugas keamanan itu mengedarkan pandangannya kepada semua orang. Terutama kepada ibu pelapor yang nampak sangat shock dan belum cukup puas dengan apa yang baru saja dia ketahui.


Orang-orang mulai membubarkan diri dengan gumaman antar mereka. Berbisik-bisik menyatakan pendapat mereka masing-masing setelah mengetahui orang yang berpenampilan maskulin itu ternyata seorang perempuan.


"Ini semua gara-gata lo." Denis melengos dengan muka masam.


"Eits..Tunggulah, Aku akan mengigitmu nanti." Bisik Alex ditelinga Denis.


"Alex! Denis!"


Sekarang mereka harus menghadapi interogasi dari Rania untuk babak yang kedua.

__ADS_1


*****


__ADS_2