
Dalam sebuah gudang yang pengap dengan pencahayaan yang minim, dua orang pria dan satu orang wanita berada didalamnya dengan keadaan gelisah. Mereka adalah Bisma, Reno, dan Tania.
Dengan susah payah mereka berhasil menghindar dari kejaran Denis dan anak buah Alex. Hampir saja mereka tertangkap kembali oleh Denis yang begitu gigih dalam mendapatkan mereka.
"Aarghh!!" Reno berteriak dengan penuh amarah. Matanya menatap tajam Bisma yang duduk terdiam disebelah Tania.
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya mama harus minta maaf sama Alex!" Tangannya mengepal dengan penuh amarah. Tatapannya beralih kepada wanita yang nampak berusaha untuk bersikap tetap tenang.
"Mama tidak bisa melakukan itu, Reno. Kamu tahu, Alex pasti tidak akan mau memaafkan mama." Tania menyahut.
"Alex pasti mau memaafkan mama, kalau mama bersungguh-sungguh minta maaf sama dia. Dan kita akan selamat."
"Dia tidak akan pernah memaafkan Bisma, Reno."
"Kenapa mama masih saja memikirkan orang lain. Gara-gara dia.." Reno menunjuk pria yang masih terdiam disamping mamanya. "Gara-gara dia hidup kita jadi kacau."
"Jangan bicara seperti itu, Reno. Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia."
"Dia adalah pria serakah yang menginginkan harta papa dengan memanfaatkan mama!" Rahang Reno mengeras dengan tatapan yang menusuk wajah pria yang sekarang amat dibencinya itu.
"Pergi kau dari kehidupan mamaku! Gara-gara kamu, aku kehilangan keluargaku. Kau pria b******k yang tidak pantas untuk berada dekat dengan mamaku!!"
Plak!!
Sebuah tamparan mendarat telak dipipi kiri Reno. Membuat pria itu tertegun dan menatap orang yang baru saja menampar pipinya dengan penuh rasa tidak percaya.
Itu adalah tamparan dari mamanya. Mata Reno terbuka lebar demi melihat mamanya sendiri melakukan hal itu terhadap dirinya. Hanya untuk membela Bisma, lelaki yang diketahuinya sebagai selingkuhan mamanya.
"Mama nampar Reno?"
"Maafkan mama, Reno. Mama tidak mau kamu bersikap kurang ajar sama Bisma."
"Kenapa Ma? Sebegitu pentingnya pria ini bagi mama hingga mama tega menampar anak mama sendiri?"
"Mama tidak bermaksud seperti itu, Reno. Tapi Bisma memang telah berbuat banyak untuk kita. Kamu harusnya berterima kasih kepadanya karena dia yang selalu membela kamu. Kamu tahu kan bagaimana papamu sangat pilih kasih antara kamu dan Alex? Dia lebih percaya Alex daripada kamu. Dan Bisma, berkat dia kamu ada diposisi penting diperusahaan. Kamu tidak bisa mengabaikan itu, Reno."
Reno mendecih sambil memalingkan wajahnya. Diurutnya rahangnya yang terasa kaku karena tamparan dari sang mama.
"Suka tidak suka, kamu memang sangat tergantung sama Bisma, Ren. Kamu ingat 'kan semua yang dilakukan Bisma buat kamu?"
"Tapi bukan berarti mama harus berselingkuh dengannya kan? Mama juga berniat pergi keluar negeri dengannya. Mama berniat buat ninggalin aku demi dia?" Suara Reno kembali meninggi. Dia belum bisa menerima semua perlakuan mamanya.
"Itu semua karena Alex! Kalau saja Alex tidak kembali ke rumah, semuanya pasti akan sangat sempurna. Kau akan menjadi pewaris Arga Dinata satu-satunya. Alex yang sudah mengacaukan semuanya! Seharusnya dia mati dan tidak kembali!"
__ADS_1
"Apa maksud mama? Apa kematian Alex saat itu ada hubungannya dengan mama?"
Reno menatap tajam mamanya. Bergantian dia menatap dua orang dihadapannya itu dengan intens.
Tania hanya menggerakkan kepalanya dengan frustasi.
"Jadi, benar kata Alex kalau kalian telah mencoba membunuh Alex?"
"Jangan bersikap bodoh seperti itu Reno. Mama dan Bisma melakukan itu demi kamu. Mama tidak rela kalau kamu selalu tersisih dikeluarga Arga Dinata. Kamu harus menjadi satu-satunya pewaris seluruh harta Arga Dinata."
"Tapi sekarang apa hasilnya? Kalian sudah menghancurkan semuanya. Aku bahkan tidak akan mendapatkan apapun. Itu semua karena kalian! Apa mama lupa kalau aku adalah putra Arga Dinata? Dia itu papaku, Ma."
"Dia bukan papamu, Reno."
"Tania..." Suara Bisma seakan mengingatkan Tania untuk tidak mengatakan hal itu. Namun sudah terlanjur. Reno mendengar apa yang mamanya katakan.
"Apa maksud mama? Katakan sekali lagi ma!"
"Jangan dengarkan dia Reno. Mamamu sedang kacau." Bisma menyela. Matanya menyorot wajah Tania. Tapi wanita itu memejamkan matanya. Nafasnya nampak tersengal menahan beban rasa yang kian terasa berat dan memaksa untuk dilepaskan.
"Arga Dinata bukan papa kamu, Reno. Dia hanya memiliki satu putra. Yaitu Alex. Itulah kenyataannya." Suara Tania terdengar sangat putus asa. Sudah terlanjur dia mengatakannya pada Reno. Maka lebih baik dia mengatakan yang sebenarnya.
"Mama pasti bohong 'kan? Mama sedang bercanda 'kan?"
"Tania. Hentikan." Dia mengerang. Mencoba menghentikan Tania dari mengatakan lebih jauh tentang sesuatu yang selama bertahun-tahun mereka rahasiakan.
"Reno harus tahu yang sebenarnya. Dia sudah dewasa sekarang." Tania menatap Reno dengan matanya yang kabur karena genangan airmata yang memaksa keluar. Dia sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berterus terang pada Reno saat itu juga.
"Apa lagi yang harus Reno tahu, Ma? Katakan, Ma!" Bergetar suara Reno menuntut mamanya untuk bicara. Hatinya berdebar menanti apa kebenaran yang dirahasiakan oleh mamanya selama ini. Suatu kenyataan yang pastinya akan mengguncang perasaanya.
"Kalau papa Arga bukan papa Reno, lalu siapa papa Reno yang sebenarnya? Katakan, Ma!"
Tania terisak perlahan. Dia berusaha keras menahan tangisannya. Namun dia adalah wanita. Sekeras apapun hatinya, tangisan adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan untuk menunjukkan sisi kelembutan hatinya.
"Reno, jangan memaksa mamamu untuk mengatakan hal yang tidak ingin dia katakan. Dia cukup terbebani dengan masalah dia saat ini. Sekarang kita fikirkan bagaimana kita bisa pergi dari sini dengan aman." Bisma mencoba mengalihkan perhatian Reno dari keingintahuannya tentang ayah biologisnya.
"Om Bisma sebaiknya tidak ikut campur. Ini adalah masalahku dengan mamaku. Om tidak berhak untuk mengatur hidupku!!"
"Cukup Reno. Jangan bicara kurang ajar pada Bisma!" Tania menyergah ucapan Reno. Matanya yang basah menatap Reno dengan gusar. "Karena dia..dia papamu. Bisma adalah papamu, Reno."
"Apa??" Reno terbeliak. Tubuhnya bergetar dan kakinya nyaris tak bisa menopang berat tubuhnya yang lunglai seakan baru saja disambar petir. Ucapan mamanya cukup jelas didengar oleh kedua telinganya. Tidak perlu ada pengulangan kata, namun tetap saja dia butuh penegasan dari mamanya.
"Bisma adalah papa kandungmu, Reno." Hanya desisan keluar dari mulut Tania. Namun cukup untuk menegaskan bahwa yang diucapkannya tadi adalah benar.
__ADS_1
Hening untuk sesaat. Didetik berikutnya terdengar tawa Reno.
"Lelucon apa lagi ini, Ma? Mama sedang ngeprank Reno? Iya, Ma?" Dia tertawa miris. Tubuhnya limbung dan dia terjatuh dilantai yang penuh dengan debu.
"Maafkan mama, Reno. Itulah kenyataannya."
"Katakan padaku kalau ini bohong, Om Bisma. Mamaku sedang berbohong 'kan, Om?"
Bisma menggelengkan kepalanya. Tatapannya terpaku diwajah Tania. Seolah memberi kesempatan pada Tania untuk menarik kembali kata-katanya. Namun Tania sudah memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Reno. Dia berfikir kalau inilah saatnya untuk Reno mengetahui kebenarannya. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk menyimpan rahasia yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
"Maafkan mama, Reno. Mama sudah mencintai Bisma sejak sebelum kenal dengan Arga Dinata. Dia adalah cinta sejati mama. Namun keadaan yang memaksa kami untuk tidak bersatu secara wajar. Mama harus terpaksa menikah dengan Arga Dinata. Dan saat itu Bisma sudah bekerja diperusahaan Arga Dinata. Mama sudah mengandung kamu ketika menikah dengan Arga Dinata.."
Lirih suara Tania melepaskan semua beban yang selama ini ditanggungnya. Airmata terus mengiringi setiap kata yang terucap dari bibirnya. Namun segera dia menghapusnya begitu dia menyelesaikan kalimat panjangnya.
Bisma menyentuh tangan wanita yang sangat dicintainya itu. Menatap begitu dalam wanita yang sudah mengerahkan segenap keberaniannya untuk mengungkapkan rahasia yang selama ini mereka simpan rapat berdua. Berharap wanita itu tidak akan menyesali apa yang telah dia lakukan.
"Jadi, benar? Aku anak dari laki-laki ini?" Lagi Reno tertawa parau. Masih tidak ingin mempercayai apa yang baru saja diketahuinya. Namun dia tahu mamanya mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kamu harus bisa menerima ini, Ren. Dialah papa kamu yang sebenarnya. Dia yang selama ini selalu ada buat kamu. Bukan Arga Dinata."
"Apa papa Arga tahu tentang ini?"
"Dia tahu tanpa sengaja satu tahun lalu. Dia sudah curiga dengan hubungan mama dan Bisma sejak lama. Tapi dia berusaha mengabaikannya. Hingga suatu hari, tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan mama dan Bisma saat mengatakan bahwa kamu adalah anak Bisma. Saat itu dia sangat marah dan mengancam akan menceraikan mama. Namun saat itu juga, Bisma berhasil mengancam dia balik akan menghancurkan perusahaannya dan akan mencelakai Alex kalau sampai dia menceraikan mama dan mengusir kita berdua. Sejak saat itu, mama memberi dia obat yang membuat dia jatuh sakit dan akhirnya lumpuh tidak bisa berbuat apa-apa. Kami melakukan itu untuk mempertahankanmu dirumah itu, Ren. Termasuk menyingkirkan Alex. Mama ingin yang terbaik untuk kamu, Reno."
Reno menyeringai mendengar semua penuturan mamanya. Tidak disangka mamanya selicik itu. Tidak dipungkiri kalau dirinya pun sering bertindak licik terhadap Alex. Namun ternyata mama dan Bisma telah melangkah lebih jauh lagi. Reno menggelengkan kepalanya.
"Sekarang, apa rencana kalian?"
Tania dan Bisma saling menatap. Kemudian sama-sama menatap Reno.
"Kamu, mau maafin mama?"
"Apalagi yang harus aku lakukan? Tapi mama bener 'kan mama kandung Reno? Bukan memungut Reno dijalanan dan ngaku-ngaku sebagai mamanya Reno?"
"Reno!! Jangan bersikap keterlaluan sama mama kamu!!" Bisma menegakkan tubuhnya. Menatap Reno dengan sorot mata yang tajam.
"Kenapa? Mungkin saja 'kan kalau aku sebenarnya.."
"Reno." Lemah suara Tania menyela ucapan Reno. Matanya menyiratkan kesakitan akibat ucapan yang dilontarkan oleh putranya. "Kamu adalah anak kandung mama. Mama yang mengandung kamu selama sembilan bulan. Mama yang ngelahirin kamu dan membesarkan kamu dengan tangan mama sendiri. Dan papa kamu adalah Bisma. Dia yang sudah membantu mama membesarkan kamu. Arga Dinata tidak pernah sedikitpun peduli sama kamu. Dia hanya menyayangi Alex. Karena Alex adalah anak dari wanita yang sangat dicintainya."
Reno mendengus. Senyuman miring masih tersungging dibibirnya. Sangat sulit dia menerima kenyataan ini. Dia bangkit menegakkan tubuhnya.
"Sekarang, apa rencana kalian?" Dia mengabaikan ucapan panjang lebar mamanya. Hatinya belum sepenuhnya menerima semua ini. Sesungguhnya otaknya perlu waktu untuk mencerna semua informasi yang baru saja diterimanya. Namun keadaan yang memaksanya untuk menerima begitu saja semuanya tanpa banyak penolakan.
__ADS_1
*****