Rahasia Denis

Rahasia Denis
Delapan Puluh Enam


__ADS_3

Keesokan harinya Alex memaksa untuk pulang. Walaupun Denis memaksanya untuk tetap menjalani perawatan diklinik itu hingga sembuh, namun Alex tetap ingin segera pulang. Padahal dia belum sepenuhnya sembuh.


Lebam di wajahnya dan beberapa bagian tubuhnya karya tangan Reno dan anak buahnya tidak menghilang dalam waktu semalam. Sakitnya pun masih terasa sangat ngilu dan lumayan membuat dia tidak bisa tidur semalaman.


Denis tidak bisa memaksanya lagi untuk lebih lama tinggal di klinik. Akhirnya dia membawa Alex pulang. Ke rumah mamanya. Karena Rania merasa khawatir kalau Alex harus tinggal sendirian dirumahnya. Juga tidak adanya orang yang akan merawat Alex jika Alex pulang ke rumahnya. Jadi mau tidak mau Denis membawa Alex ke rumah mamanya untuk mendapat perawatan lebih lanjut.


Dengan dipapah oleh Denis dan Davin, Alex dibawa ke kamar tamu yang ada dilantai bawah. Dengan hati-hati dibaringkannya tubuh lemah Alex diatas tempat tidur. Alex meringis kecil saat dia meluruskan kakinya.


"Bagaimana hasil Rontgen kemarin, apa ada yang serius?" Andres menatap penuh prihatin pria yang tidak lama lagi akan menikahi Denis itu.


"Dokter bilang sih gak ada. Cuma memar biasa aja. Nanti juga sembuh asalkan minum obat dengan teratur." Denis yang menjawab.


"Ya sudah. Denis, kamu temani Alex. Mama mau bikinkan makanan buat Alex." Rania menyela.


"Terima kasih, tante, om. Kalian sudah mau membantu saya. Dan maaf kalau saya sudah merepotkan tante dan om disini." Ujar Alex dengan rasa haru yang tidak bisa disembunyikan.


"Jangan bilang begitu. Kamu sudah menjadi anggota keluarga kami. Kamu gak perlu sungkan sama om dan tante. Sekarang fokus saja pada kesembuhanmu. Kalian 'kan harus menyiapkan pernikahan kalian." Rania tersenyum tulus.


"Aku mau kekamar dulu, ma. Semalam aku gak tidur." Davin memasang wajah letihnya. Setelah perkelahian tadi malam dan ikut menjaga Alex di klinik tentu dia belum mengistirahatkan tubuhnya dengan baik. Dia kemudian keluar dari kamar yang kini ditempati Alex diikuti Rania yang akan ke dapur untuk menyiapkan makanan.


"Kamu istirahatlah. Jangan memikirkan adik kamu itu. Dia sudah kita serahkan ke polisi." Andres menepuk pelan kaki Alex kemudian keluar dari kamar itu. Tinggallah Denis yang masih berdiri tidak jauh dari pembaringan.


Alex terdiam. Hatinya berkecamuk. Masalah dia dengan Bisma saja bikin Denis susah payah menerima dirinya. Sekarang Reno malah menambah masalah antara dirinya dengan Denis. Seandainya Denis tahu siapa Reno sebenarnya, Alex tidak tahu apa reaksi dari gadis itu.


Alex menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Diliriknya Denis yang masih berdiri di tempatnya semula.


"Kamu tidak mau dekat denganku?" Alex menatap lembut gadis itu.


Pelan Denis berjalan mendekat. Duduk disebelah tubuh Alex yang bersandar pada tumpukan bantal.


"Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan untukku." Alex menggenggam tangan gadis itu. Kedua pasang mata mereka beradu.


"Untuk kesekian kalinya, kamu menjadi malaikat penyelamat untukku. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa. Mungkin dengan cinta yang akan kuberikan kepadamu seumur hidupku. Apa itu cukup?"


Pipi Denis memerah. Senyuman samar terukir diwajahnya.


"Tidurlah. Kamu butuh istirahat." Denis membalas tatapan pria itu. Tak ingin menyembunyikan semburat di wajahnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku."

__ADS_1


"Apa?"


"Apa kalau aku memberimu cinta seumur hidupku itu cukup untuk membalas semua kebaikanmu padaku?" Wajahnya boleh saja lebam, tapi mata itu masih memiliki sorot yang sama nakalnya seperti sebelumnya dan mampu membuat Denis salah tingkah.


Denis hampir saja berdiri kalau saja Alex tidak segera mengeratkan pegangan tangannya.


"Dan, jangan ingkar janji untuk memakai gaun apapun yang akan aku belikan untukmu."


Mata Denis membelalak. Wajahnya sekarang semakin merah seperti tomat masak. Bagaimana Alex bisa mengatakan hal itu? Apa itu artinya saat itu Alex tidak benar-benara pingsan?


Alex menahan tawanya dan diikuti ringisan akibat rasa sakit yang masih dia rasakan disekitar wajahnya.


*****


Denis makan malam dikamar tamu bersama Alex. Walau sedikit kesulitan mengunyah makanannya, namun Alex menolak untuk makan bubur.


Dengan manjanya dia meminta Denis untuk menyuapinya. Tanpa membantah Denis memenuhi keinginan pria itu. Lagipula ini bukan pertama kalinya dia menyuapi Alex. Jauh sebelumnya, dia sudah pernah beberapa kali menyuapi Alex. Namun saat ini rasanya jauh berbeda. Sekarang Alex adalah tunangannya.


"Maaf aku sudah bikin kamu khawatir." Ujar Alex disela suapan dari gadis itu. Denis tidak menyahut. Dia menyendokkan lagi nasi dan menyuapkannya ke mulut Alex.


"Aku tidak tahu kalau kamu tidak datang tepat waktu, mungkin aku.." Denis menjejalkan sendok berisi nasi ke mulut Alex.


"Kalau kamu ingin aku mati, kenapa kamu menolongku semalam." Gerutu Alex dengan maksud bercanda. Namun dia tidak menyangka candaannya membuat Denis sangat marah.


Gadis itu meletakkan piring yang sedang dipegangnya diatas meja kecil dengan sedikit kasar. Matanya tajam menatap Alex.


"Aku sudah melarangmu bicara sembarangan, kenapa kamu masih mengatakannya? Kamu pikir aku tidak ketakutan tadi malam melihat keadaanmu seperti itu? Kamu pikir aku merasa tenang saat tahu kamu menghilang begitu saja tanpa ada kabar apapun?"


Alex tertegun. Matanya lekat menatap gadis itu. Mata gadis itu berembun. Sorot matanya melemah menunjukkan sisi lain dari dirinya yang selama ini nampak tidak peduli kepada Alex. Alex tahu, dibalik sikap dinginnya Denis sangat peduli padanya. Alex tahu, gadis itu memiliki rasa yang sama seperti yang dia rasakan kepada gadis itu. Dia juga tahu, gadis itu tidak pandai mengekspresikan semua perasaannya. Namun saat ini, pertama kalinya dia mengungkapkan perasaannya secara langsung. Selain waktu dimobil kemarin malam saat menyangka Alex masih belum sadarkan diri.


Alex sangat mendengar semua yang dikatakan Denis kemarin malam, walaupun dalam keadaan setengah sadar. Dan dia sangat bahagia mendengarnya.


Kini gadis itu mengungkapkan isi hatinya dengan kesadarannya sendiri. Yang walaupun dia tidak mengatakannya, Alex tak pernah meragukan perasaan gadis itu sedikitpun.


Alex menarik tangan Denis hingga gadis itu terduduk kembali disampingnya. Didekapnya tubuh gadis itu erat-erat.


"Maaf." Bisiknya. Dibenamkannya kecupannya dikepala gadis itu. Denis memejamkan matanya. Tanpa diduga, perlahan kedua tangannya melingkar di tubuh Alex.


Giliran Alex yang memejamkan mata. Dia sangat terkejut sebenarnya, namun dia merasa sangat bahagia. Terasa suatu kehangatan merambat keseluruh tubuhnya yang berasal dari belitan tangan Denis.

__ADS_1


"Maaf." Bisiknya lagi.


*****


Pagi sekali Faisal datang mengantarkan pakaian ganti untuk Alex. Bukan pakaian formal. Hanya pakaian casual yang biasa dipakai pria itu disaat santai. Itu artinya dia tidak akan pergi ke kantor. Lagipula seandainya dia memaksa untuk pergi, tentu akan menimbulkan kehebohan diluar sana melihat memar diwajahnya yang belum menghilang.


Hari ini dia hanya akan diam dirumah Denis tanpa melakukan aktifitas apapun.


Seperti biasa sarapan merupakan rutinitas wajib bagi seluruh anggota keluarga sebelum melakukan aktifitas yang lain.


Alex berkeras untuk ikut sarapan dimeja makan walaupun Denis sudah melarangnya. Faisal ikut sarapan bersama keluarga Denis karena Rania yang memaksa. Walaupun pria itu sudah menolaknya karena merasa segan, namun akhirnya dia ikut duduk bersama keluarga Denis.


"Pengacara saya sudah memasukkan laporan tentang Reno ke kepolisian. Mungkin kamu akan sedikit tidak nyaman jika nanti polisi memanggil kamu untuk memberi keterangan di kantor polisi." Andres berbicara kepada Alex.


Alex terdiam. Dia melirik Faisal yang sedang menunduk fokus pada makanannya. Pura-pura tidak melihat majikannya sedang menatap ke arahnya.


"Dia harus dihukum seberat-beratnya karena sudah menculik Alex, mengintimidasi, melakukan kekerasan fisik dan bukan tidak mungkin dia akan melakukan lebih dari itu." Davin menimpali perkataan papanya. Denis hanya diam, seperti biasa. Apa yang ingin dia katakan sudah terwakili oleh adiknya.


"Tapi bagaimanapun juga, dia adik kandung Alex. Dia melakukan itu karena ada sebabnya. Dia pasti merasa frustasi atas apa yang menimpa mamanya." Rania memberikan pendapatnya. "Sebaiknya kamu pikirkan lagi tentang hubungan darah diantara kalian berdua."


"Saudara tetaplah saudara. Tapi kalau yang dia lakukan sudah keluar dari jalur hukum, sebaiknya biarkan hukum yang berbicara. Dia akan mengulangi perbuatan itu kalau dia tidak mendapat pelajaran dari perbuatannya." Andres membalas ucapan istrinya.


"Kebencian tidak perlu dibalas dengan kebencian. Kekerasan jangan dibalas dengan kekerasan. Bagaimanapun juga, darah lebih kental daripada air." Tentu saja Rania berpikir dari sudut pandang seorang wanita yang penuh perasaan.


"Tapi setidaknya, biarkan dia dipenjara untuk sementara waktu. Biar dia merasakan akibat dari perbuatannya. Apa mama tidak melihat akibat dari perbuatan Reno? Dia sendiri tidak memikirkan kalau Alex ini kakaknya. Dengan sadis dia memperlakukan Alex. Kalau saja aku dan Denis tidak segera datang, entah apa yang akan dia lakukan pada Alex." Davin menyela perdebatan mama dan papanya.


"Om, tante, Davin, maaf kalau gara-gara saya kalian jadi berdebat seperti ini. Terima kasih atas perhatian kalian pada saya. Saya juga bingung dalam menyikapi ini. Betul kata tante, bagaimanapun juga, dia itu adik saya satu-satunya. Walaupun mamanya sudah berbuat jahat pada saya, begitu juga dengan dia, namun tentu saya tidak bisa mengabaikan fakta kalau dia itu masih memiliki hubungan darah dengan saya. Saya akan memikirkan baik-baik apa langkah saya selanjutnya." Alex mengedarkan tatapannya kepada semua yang ada disana. Terakhir dia menatap Denis agak lama.


Gadis itu membalas tatapan Alex, seolah mengatakan bahwa dia akan selalu mendukung apapun keputusan Alex.


Davin mendehem melihat kedua orang itu tak memutuskan tatapannya.


"Apa masih kurang semalaman kalian berduaan dikamar? Sekarang masih saling menatap begitu."


Denis mengerjap. Dibawah meja kakinya menendang kaki Davin membuat adiknya itu mengaduh dengan penuh drama.


"Davin. Jangan menggoda kakak kamu terus." Mulut Rania menegur Davin, namun matanya mengerling menggoda Denis. Pipi Denis memerah.


"Oya, Ma. Apa mama terbayang bagaimana kakakku ini kalau memakai gaun pengantin?" Davin menyipitkan matanya melirik Denis. Gadis itu melotot kepada adiknya dengan giginya yang merapat.

__ADS_1


*****


__ADS_2