
Rumah besar dan mewah berdiri angkuh ditengah taman yang tertata rapi. Pintu gerbangnya yang besar menunjukan tingkat sosial yang tinggi dari penghuni rumah tersebut. Bahkan orang biasa akan sangat segan dengan hanya memandangi pintu gerbang itu. Ada penjaga yang selalu siap siaga menunggu secara bergiliran didalam pos jaga yang ada disebelah kanan dalam gerbang tersebut. Pagarnya yang menjulang tidak memungkinkan siapapun bisa masuk sembarangan kedalam halaman rumah yang cukup luas itu.
Sebuah sedan mewah memasuki halaman rumah itu setelah pintu gerbangnya terbuka segera sebelum mobil itu sampai ke depan gerbang. Nampaknya pemilik mobil itu merupakan penghuni dari rumah mewah itu karena para penjaga dengan sangat sigap membuka pintu gerbang.
Mobil itu berhenti didepan pilar besar penyangga rumah. Seorang wanita cantik turun dari dalam mobil tersebut dan melangkahkan kakinya dengan anggun menuju pintu rumah yang terbuka seketika.
Seorang pelayan wanita sudah menyambutnya dengan hormat dipintu masuk.
"Nyonya sudah menunggu anda di kamar utama." Wanita paruh baya yang menyambutnya dipintu membungkukan sedikit badannya. Wanita cantik yang baru datang hanya mengangguk sedikit dan berlalu melewati wanita itu begitu saja.
Menapaki anak tangga yang berjenjang setengah melingkar menuju lantai dua rumah megah itu. Melanjutkan langkahnya menyusuri lantai dua, melewati beberapa kamar dengan pintunya yang tertutup rapat. Langkah kakinya berhenti didepan pintu kamar utama. Mengetuk pintu sebelum tangannya memutar handle dan mendorong daun pintu itu.
Dia langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam.
Seorang perawat sedang menyuapi seorang wanita tua yang berbaring dengan kepalanya menyender pada bantal yang ditinggikan. Wanita cantik yang baru masuk berdiri agak jauh dari pembaringan. Menunggu hingga perawat selesai menyuapi wanita tua itu dan memberinya minum air putih.
Perawat itu membungkukan badannya dan tersenyum kepada wanita cantik yang masih berdiri ditempatnya sejak tadi. Dia kemudian keluar dari kamar itu dengan membawa peralatan yang dia gunakan untuk merawat wanita tua itu.
"Kemarilah." Wanita tua itu menganggukan kepalanya pelan, memberi isyarat agar wanita cantik itu datang mendekat padanya. Menepuk kasur disebelahnya, menyuruh agar wanita itu duduk dekat dengannya.
"Ibu apa kabar?" sapa wanita cantik itu ketika dia sudah dalam posisinya yang nyaman.
"Seperti yang kamu lihat. Tidak lebih baik dari sebelumnya." wanita yang dipanggil ibu itu bersuara dengan lirih.
"Jangan terlalu banyak berfikir. Ibu fokus saja pada kesehatan ibu."
"Bagaimana dengan pencarian Icha? Sudah ada kabar belum?"
"Itu.."
"Sebaiknya kamu jangan menemui ibu kalau belum berhasil menemukan Icha."
"Buu.."
"Kamu nyuruh ibu untuk tidak banyak fikiran. Tapi kamu sendiri yang bikin ibu jadi kefikiran terus tentang Icha."
Wanita cantik itu menghela nafas pelan. Bola matanya sedikit berputar tanpa disadari oleh sang ibu.
"Kenapa sekarang ibu sangat ingin menemukan Icha? Bukankah seharusnya ibu senang karena anak yang ibu benci itu sekarang sudah tidak ada disini?"
"Ibu tidak pernah membenci Icha. Ibu hanya tidak suka caramu mendapatkan Icha. Juga pria arogan itu. Kenapa kamu masih bertahan dengan pria itu?"
"Ibu tolong jangan mulai.."
"Kamu tahu ibu tidak pernah menyukai pria itu.."
"Ibu memang tidak pernah menyukai apapun tentang diriku." Suara wanita itu mulai parau. Matanya bergetar menahan emosi yang mulai mempengaruhinya. "Dulu ibu menentang hubunganku dengan Bisma. Sehingga aku menikah dengannya, ibu masih saja tidak merestui kami. Bahkan ketika anakku lahir, ibu tidak menunjukan rasa suka ibu sedikitpun. Sekarang aku sudah menikah dengan pria yang ibu tentukan. Namun belum juga membuat ibu puas. Apa sebenarnya yang ibu inginkan?"
Rania, wanita cantik itu, menahan sekuat tenaga agar tidak berteriak kepada ibunya. Walaupun sebenarnya dia ingin melakukannya.
"Diujung usia ibu sekarang ini, ibu ingin meminta maaf pada Icha. Ibu tahu, ibu sudah bersikap tidak adil padanya. Ibu yang sudah membuat dia pergi dari rumah. Tolong temukan dia untuk ibu. Ibu ingin bertemu dengannya." Aryanti, wanita tua itu, terisak diatas tempat tidurnya. Mata tuanya mengucurkan airmata sesal. Dia benar-benar sedih mengingat semua yang terjadi dimasa lalu.
Rania hanya bisa membiarkan ibunya meluapkan kesedihannya. Sangat jarang wanita itu menunjukan itu kepada orang lain, walaupun itu kepada anaknya sendiri. Wanita itu terkenal sangat tegas dan keras dalam mendidik putra-putrinya. Semua kata yang diucapkannya adakah perintah yang tidak bisa dibantah lagi. Semua orang harus mematuhinya. Bahkan mendiang suaminya dikenal sebagai suami yang takut istri.
Aryanti menghapus airmata yang masih saja mengalir dipipinya yang bergaris halus. Matanya yang sendu menatap putri bungsunya itu dengan sorot penuh penyesalan dan kesedihan.
"Berjanjilah Rania. Kamu akan membawa Icha kembali sebelum ibu meninggalkan dunia ini."
"Ibu jangan bicara seperti itu. Ibu akan berumur panjang dan akan bertemu dengan Icha. Saya yakin itu."
__ADS_1
"Kamu jangan menghibur ibu. Ibu tahu, umur ibu tidak akan lama lagi. Ibu juga ingin segera bertemu dengan ayah kamu. Ibu sangat merindukannya."
"Ibu.." Mau tidak mau Rania terbawa arus kesedihan sang bunda. Matanya berkaca-kaca melihat kesedihan mendalam yang dirasakan ibunya.
"Ibu jangan bicara yang bukan-bukan. Anak buah kita sebentar lagi pasti akan membawa kabar gembira untuk ibu. Sekarang ibu sebaiknya istirahat."
Rania membetulkan posisi ibunya agar lebih nyaman. Ditariknya selimut hingga menutupi dada ibunya. Tatapannya lembut memandang wajah tua itu. Wajah yang dahulu sempat ia takuti karena kegarangannya jika menyangkut dirinya. Saat ini, dia tahu, semua yang dilakukan ibunya adalah memang untuk kebaikannya. Itulah cara ibunya mendidik dia dan kakak-kakaknya. Dan hanya dialah yang menjadi si pembangkang. Sedangkan ketiga kakaknya, semua penurut dan patuh kepada setiap kata ibunya. Walaupun dibelakangnya, dia tahu persis, kakaknya kadang melakukan hal yang sebenarnya dilarang oleh ibu mereka. Sangat berbeda dengan dirinya. Dia selalu mengatakan apapun yang dia rasakan. Dia akan menolak apa yang dia tidak suka dengan terus terang. Itu yang membuat ibunya sering meradang kepada dirinya.
Kemarahan ibunya semakin bertambah ketika dia berhubungan dengan seorang lelaki saat dia masih dikelas dua SMA. Ibunya sangat menentang hubungan itu namun dia justru semakin tertantang untuk melawan ibunya. Dia bahkan melakukan perbuatan terlarang bersama pria itu sehingga dia hamil akibat perbuatannya itu.
Ibunya sangat marah dan sempat mengusirnya. Namun karena pembelaan ayahnya saat itu, sehingga ibunya setuju untuk menikahkannya dengan pria itu.
Setuju putrinya menikah bukan berarti merestui. Setelah melahirkan putrinya, Rania dipaksa untuk bercerai dari pria itu. Dia kemudian harus mengikuti kehendak ibunya dengan melanjutkan studinya di luar negeri. Untuk hal itu, Rania tidak memiliki energi lagi untuk melawan ibunya. Dia pergi keluar negeri sesuai dengan titah sang bunda. Dia tinggalkan putrinya dengan hanya diurus oleh seorang pengasuh.
Dia kembali beberapa tahun kemudian dan dijodohkan dengan seorang lelaki pilihan ibunya. Dia harus menerima pernikahan itu walaupun dia sama sekali tidak kenal dengan calon suaminya.
Dengan berat hati dia menjalani pernikahan itu. Pria itu ternyata sama angkuhnya dengan ibunya. Sama-sama berwatak keras dan tegas. Dia sering bertentangan dengan ibunya dan membuat wanita itu semakin tidak menyukai menantunya itu. Namun apa daya, dia harus menelan pil pahit, karena pria itu adalah orang yang dia pilihkan sendiri untuk putrinya.
*****
Rania baru saja menutup pintu kamar ibunya ketika handphonenya berbunyi. Dia merogoh tasnya dan mengambil benda pipih itu.
"Hallo."
"Sepertinya kami memiliki kabar baik untuk anda nyonya."
"Cepat katakan."
"Anak buah saya melihat orang yang mirip nona Icha berada dirumah mantan pengasuhnya."
Rania terperangah. Icha ada dirumah mantan pengasuhnya? Dia memang pernah menduga akan hal itu. Sejak awal putrinya meninggalkan rumah, dia sudah menyuruh anak buahnya untuk mengecek keberadaannya disana. Namun saat itu hasilnya nihil. Putrinya tidak berada disana. Bahkan dia menyuruh seseorang untuk terus memantau rumah itu dan selalu melapor padanya jika ada yang mencurigakan. Hingga berbulan-bulan bahkan hampir satu tahun, tidak ada kabar tentang putrinya itu.
"Selidiki dengan jelas. Jangan sampai kehilangan jejak." Titahnya dan setelah itu ia menutup sambungan telponnya. Sesaat Rania terdiam didepan pintu kamar ibunya. Hatinya sedikit bergejolak. Walau bagaimanapun juga, Icha tetaplah putrinya. Putri yang telah dikandungnya selama sembilan bulan. Dia yang melahirkannya dengan penuh perjuangan. Bahkan sejak dia hamil, dirinya terus berjuang untuk mempertahankan bayi itu.
Kemurkaan ibunya saat itu membuat dirinya dipaksa untuk melakukan aborsi. Namun sikapnya yang selalu menentang ibunya, membuat dia tetap dengan pendiriannya untuk mempertahankan janin yang sedang dikandungnya. Segala sumpah serapah ibunya saat itu tidak dia hiraukan.
Rania mengusap dadanya yang terasa nyeri. Dia memang tidak begitu dekat dengan putri yang telah dia lahirkan itu. Dia meninggalkannya setelah melahirkan putrinya. Bukan keinginannya. Namun lagi-lagi paksaan dari ibunya yang terus mengancamnya jika dia tidak mau menuruti kehendak ibunya. Ibunya mengancam akan membuang jauh putrinya itu jika dia tidak mau melanjutkan studinya diluar negeri. Dia akhirnya setuju. Dengan syarat, ibunya membiarkan putrinya dirawat dengan baik di mansion mereka.
Namun kekecewaan harus dia rasakan saat dia pulang ke Indonesia dan mendapati putrinya tidak berada di rumah besar itu. Putrinya memang dirawat dengan baik oleh pengasuh, tapi berada di rumah yang terpisah.
Bertahun-tahun dia terpisah dengan putrinya membuat sang putri tidak begitu mengenalinya. Sifat Rania sendiri yang kurang hangat membuat putrinya semakin menjauh. Namun satu hal yang pasti, putrinya mewarisi semua sifat Rania. Pembangkang dan selalu terus terang dengan apapun yang dia inginkan. Terlalu jujur dan tidak suka diatur. Untuk hal itu, Rania tidak bisa berbuat banyak.
Namun hal itu justru menjadi senjata yang digunakan oleh ibunya untuk selalu memojokannya. Selalu membandingkan putrinya dengan cucu-cucu ibunya yang lain. Membuat Icha semakin tersisih dan semakin menjauh dari keluarga besar. Icha yang labil semakin tidak terkendali. Dia berseragam sekolah tapi jarang sekali dia ada dilingkungan sekolah. Dia bergaul dengan orang-orang yang tidak disukai neneknya. Orang-orang dengan tingkat sosial yang rendah dimata neneknya. Dia akrab dengan anak jalanan. Dia mulai kenal dengan geng motor.
Berulangkali dia membuat masalah yang membuat neneknya naik pitam. Dan puncaknya adalah ketika Icha ditangkap polisi bersama teman-teman berandalannya. Neneknya sangat murka. Pertengkaran sengit tak bisa dihindari lagi. Sehingga sang nenek mengungkit tentang status Icha yang merupakan anak hasil hubungan diluar pernikahan.
Setelah kejadian hari itu, Icha pergi dari rumah. Aryanti yang masih sangat murka saat itu melarang siapa saja untuk mencari Icha. Dia yakin suatu hari nanti Icha akan kembali pulang ke rumah. Namun hari itu tidak datang hingga sudah lewat satu tahun semenjak kepergian gadis itu.
*****
Rania menatap jalanan yang dilaluinya dengan tatapan hampa. Mobil yang membawanya melaju lancar membelah jalanan utama ibukota. Sesekali helaan nafas keluar dari rongga hidungnya, melepaskan beban yang mengganjal didadanya.
Deringan telepon menyadarkan dari lamunannya.
"Gimana?" Tanyanya setelah melihat siapa yang menelepon.
"Maafkan saya , Nyonya. Kami terlambat. Nona Icha sudah pergi dari rumah itu."
"Kemana dia pergi?"
__ADS_1
"Dari informasi yang kami dapat, nona Icha kembali ke Jakarta."
Rania menghembuskan nafasnya dengan sedikit keras. Memasukan lagi handphone ke dalam tasnya setelah memberi instruksi kepada anak buahnya. Ada sedikit senyuman diwajahnya. Jantungnya berdegup sedikit cepat. Membayangkan wajah putrinya yang selama ini dia cari.
Mobil yang membawanya memasuki pelataran sebuah gedung perkantoran yang tinggi menjulang. Dia turun didepan lobi dan melangkahkan kakinya dengan anggun melewati meja resepsionis menuju pintu lift. Para karyawan yang dilewatinya tersenyum ramah dan mengangguk hormat.
Rania memasuki sebuah ruangan yang bertuliskan Presiden Director diatas pintu. Seorang pria tampan mengangkat wajahnya melihat siapa yang masuk kedalam ruangannya tanpa permisi. Dia nampak sedang sangat serius dengan berkas-berkas yang ada diatas mejanya.
"Dari mana kamu?" Tanya pria itu sambil kembali memeriksa beberapa lembaran penting.
"Dari rumah ibu." Rania menghempaskan tubuhnya diatas sofa didepan meja kerja suaminya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Cukup baik. Tapi dia kelihatan sangat putus asa. Ibu selalu menyesali apa yang sudah terjadi."
"Dia pantas untuk mendapatkan itu."
"Andres, dia itu ibuku."
"Dia juga bersikap buruk padamu."
"Aku tahu. Tapi tidak seharusnya kita membalas dengan sesuatu yang buruk juga."
"Kelihatannya kamu sudah berubah.." Andres mencebikkan bibirnya. Matanya melirik tajam istrinya.
"Aku kasihan sama ibu. Dulu aku memang membencinya. Tapi melihat keadaannya sekarang, aku jadi tidak tega. Dia merasa kalau usianya sudah tidak lama lagi. Dia sangat memprihatinkan."
Andres menghela nafas. Dia meletakan berkas yang sedang dipegangnya. Beranjak mendekati istrinya dan duduk disamping Rania.
"Kamu tidak perlu merasa sedih seperti itu. Tetaplah semangat dan tetap kuat. Kamu pasti bisa melalui semua ini, seperti sebelumnya." Jemarinya menyentuh lembut anak rambut yang menjuntai dikening istrinya. Disusul dengan sebuah kecupan hangat penenang jiwa.
Rania mengerjapkan matanya. Perlakuan manis suaminya cukup mengobati kegundahan hatinya saat ini.
"Terima kasih. Kamu selalu membelaku dihadapan ibu. Kamu selalu memberiku dukungan. Kamu selalu ada untuk aku."
Andres menghela nafas. Matanya masih memaku wajah cantik istrinya. Diusianya yang menjelang empatpuluh tahun, wanita itu semakin memancarkan kecantikannya. Sikapnya yang semakin dewasa, membuat inner beauty-nya semakin menguar. Diusianya yang tidak lagi muda, Rania masih menjadi pusat perhatian mata-mata lelaki penyuka kesempurnaan.
Andres merasa bangga menjadi pemilik wanita cantik itu. Walaupun awal pernikahan mereka harus melalui hal-hal yang tidak dikehendakinya. Dia bukanlah pria yang suka bermain perempuan. Bahkan dia tidak memiliki pacar sampai dia dijodohkan atas nama bisnis dengan seorang wanita putri seorang konglomerat ternama.
Tidak ada penolakan sedikitpun dari dirinya. Dia menerima perjodohan itu dan menjalani pernikahan dengan terus belajar menerima wanita itu yang sudah memiliki seorang putri dari pernikahannya terdahulu. Andres tidak mempermasalahkan itu. Begitu juga dengan keluarganya. Yang penting dari pernikahan itu adalah keuntungan bisnis diantara kedua belah pihak.
Setelah dua tahun menjalani pernikahan, mereka dikaruniai seorang putri yang cantik. Kehadiran putri mereka semakin mengeratkan ikatan kasih sayang diantara mereka. Cinta datang dengan begitu saja.
Namun kedekatannya dengan istrinya tak lantas hubungannya dengan sang mertua menjadi lebih baik. Sikap arogan ibu mertuanya yang selalu bersikap sewenang-wenang terhadap Rania memaksanya selalu berkonfrontasi dengan sang ibu mertua. Tak jarang dia dan ibu mertuanya harus saling melempar kata-kata sengit bahkan untuk hal yang sepele.
Dan sekarang, Rania nampak sangat sedih memikirkan keadaan ibunya. Andres merasa kasihan melihat sang istri berada dalam keadaan seperti itu. Bukannya dia tidak berusaha untuk membantu istrinya yang terus mencari putrinya. Namun usaha mereka belum berhasil. Karena orang yang mereka cari, tidak pernah ingin ditemukan.
.
.
.
.
.
*****
__ADS_1