
"Terima kasih."
Alex berbisik ditelinga wanita yang kini sudah sempurna sebagai istrinya. Bibirnya mengulum senyum kebahagiaan karena sudah bisa memiliki Denis seutuhnya. Matanya berbinar bahagia menatap wajah yang dalam pandangan matanya terlihat begitu luar biasa. Namun sayang, malam pertama yang seharusnya terjadi ditempat yang romantis, malah mereka lakukan di sofa ruang kerja Alex.
Denis memejamkan matanya. Semburat warna merah merona di kedua pipinya. Dia menyembunyikan wajahnya didada Alex yang kekar dan basah dengan keringat hasil kolaborasi mereka berdua. Alex membelai lembut rambut pendek Denis yang basah dengan keringat. Dikecupnya dalam-dalam kepala wanita itu.
"Terima kasih, Sayang. Kau sudah menjawab semua keraguanku tentangmu... " Alex menggantung kalimatnya. Tersenyum menunggu reaksi dari sang pujaan hati. Tangannya dengan nakal bermain-main dibagian tubuh Denis yang polos tanpa sehelai benangpun.
"Ragu tentang apa?" Denis ternyata terpancing dengan ucapan pria itu. Namun dia tidak mengubah posisi wajahnya. Masih tetap berada didada Alex dengan mata terpejam. Tubuhnya masih sedikit bergetar sisa pertempuran hebat antara dia dan Alex beberapa waktu yang lalu. Degupan didadanya masih terasa berdentum setelah aktifitas yang memang cukup menguras tenaga tadi.
"Awalnya aku ragu, apakah aku menikahi seorang pria atau wanita." Alex menahan tawanya. Memicingkan matanya melihat reaksi dari gadis itu.
"Apa??"
Alex segera mengeratkan pelukannya karena dirasanya Denis akan bangkit dari posisinya. Denis menggeliat, mencoba melepaskan dirinya dari pelukan pria itu. Namun untuk saat ini, posisinya tidak memungkinkan untuk dia melepaskan diri.
"Tapi sekarang aku tahu, kamu ternyata benar-benar seorang wanita."
Denis kembali berusaha untuk melepaskan dirinya dari pria itu. Namun Alex mengunci tubuh Denis dengan mengurungnya dalam pelukan dan melilitkan kakinya di kaki Denis.
"Dengarkan aku dulu." Alex mengecup telinga Denis dan sedikit memainkan ujung lidahnya disana, membuat Denis meringis dan tidak memiliki energi untuk melawan pria itu.
"Kamu ingat enggak? Saat kita berada di lembah, aku sudah merasa ada yang aneh dengan perasaanku. Aku merasa sangat frustasi karena menyangka diriku sudah mengalami penyimpangan. Saat itu aku sudah mulai suka sama kamu. Dan aku merasa itu sangat tidak wajar."
Alex merapatkan dagunya dikepala Denis sambil menerawang masa yang telah mereka lewati.
"Oiya, bagaimana kabar Pak Darman, ya? Apa beliau masih berada disana?"
Denis malah mengalihkan topik pembicaraan, karena dia tiba-tiba teringat dengan orang yang sudah menolong mereka berdua kala itu.
"Aku juga berfikir untuk mengunjungi beliau setelah aku menyelesaikan masalah disini."
"Hmm ... Ide yang bagus. Bagaimana kalau dalam waktu dekat kita pergi kesana, mumpung kamu ngambil cuti beberapa hari ini, 'kan?"
"Enggak bisa. Cuti yang aku ambil sekarang ini, bukan untuk itu. Cuti ini adalah untuk kita pergi bulan madu."
Alex menggigit kecil telinga Denis dengan gemas.
Denis meringis. Dia menjauhkan kepalanya dari jangkauan mulut Alex. Namun sofa yang sempit, membuat dia tidak bisa berbuat banyak. Apalagi tubuhnya yang berada dalam himpitan tubuh kekar Alex.
"Enggak. Siapa juga yang mau pergi bulan madu? Aku sudah bilang, kan. Aku enggak mau yang namanya bulan madu atau apalah itu. Kalau kamu mau, kamu pergi saja sendiri." Denis berujar dengan sedikit ketus.
"Kalau pergi sendiri namanya bukan bulan madu, Sayang. Atau kamu mau aku nyari pengganti kamu disana?"
"Oo .... Jadi sudah berpikir buat nyari pengganti, nih?"
__ADS_1
"Itu kan kamu yang nyuruh aku buat pergi bulan madu sendiri."
"Coba aja kalau kamu berani."
Denis mendongak dengan matanya mendelik tajam. Dia segera mendorong tubuh Alex. Kali ini pertahanan Alex sedikit berkurang hingga pria itu terjatuh dari sofa tempat mereka berada saat ini.
"Hai, Sayang.."
Alex menahan tawanya melihat Denis yang turun dari sofa dan memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai dengan wajah yang mengeras. Ditariknya tubuh polos sang isteri hingga Denis terjerembab kedalam pelukannya.
"Kamu gemesin banget kalau marah begini," Alex menciumi tengkuk gadis itu dengan gemas dan mulai melakukan serangan yang kedua kepada gadis itu.Tangannya yang nakal menggapai apapun yang bisa dia dapatkan saat itu.
Awalnya Denis berusaha menepis bibir dan tangan Alex yang bekerja sama melakukan serangan bertubi-tubi kepada dirinya. Namun akhirnya Denis takluk dalam gelora asmara yang datang bagaikan gelombang yang datang silih berganti tiada henti. Untuk kesekian kalinya, keduanya tenggelam dalam lautan cinta yang panas membara.
*****
Denis sudah terbiasa berlatih fisik dan berolahraga, sehingga pertempuran yang terjadi antara dirinya dan Alex tidak memberi efek yang terlalu berarti bagi dirinya. Wajahnya nampak segar dan berseri saat keluar dari dalam kamar yang sama dengan Alex.
Berjalan beriringan mereka menuju ruang makan yang telah menyediakan menu sarapan spesial untuk pasangan pengantin baru itu. Bi Yati asisten rumah tangga yang bertugas menyiapkan sarapan pagi tersenyum menyambut pasangan pengantin baru itu.
"Selamat pagi Mas Alex, Mbak Denis..." sapanya dengan penuh hormat.
"Selamat pagi, Bi Yati." Alex menjawab dengan ramah. Walaupun dia majikan dirumah mewah itu, namun dia tidak pernah membedakan status pekerjanya. Semuanya mendapatkan perlakuan yang sama dari dirinya. Itulah yang membuat semua pegawainya semakin hormat padanya.
"Terima kasih, Bu Yati."
Asisten rumah tangga itu segera berlalu dari ruang makan setelah memastikan semuanya tersedia pada tempatnya. Memberi ruang kepada Alex dan Denis untuk menikmati sarapannya berdua saja tanpa gangguan dari orang lain.
Kebahagiaan nampak terpancar di wajah keduanya saat menikmati sarapan bersama. Sesekali tatapan nakal Alex menyapu wajah Denis disertai senyuman bahagia pria itu. Namun semua itu ditanggapi dingin dan acuh oleh Denis.
"Kalau mamamu tahu kita sarapan dirumah saat ini, beliau pasti akan merasa heran. Harusnya kita berada di suatu tempat saat ini." Alex tertawa kecil.
"Jangan membahas itu lagi. Aku enggak mau pergi kemana-mana."
"Ok. Terserah kamu saja." Alex membuka kedua tangannya. "Kita akan melakukan itu sepanjang hari ini. Aku harap kamu punya cukup tenaga untuk melayaniku nanti." Alex sedikit berbisik saat mengucapkan kata-katanya yang terakhir.
Denis mendelik. Pipinya langsung berwarna merah mendengar ucapan nakal pria itu. Masih belum pulih rasanya apa yang dilakukan Alex sepanjang malam tadi terhadap dirinya. Dan sekarang pria itu sudah kembali membahas masalah itu.
"Apa isi kepalamu hanya masalah itu saja sekarang?" Denis mendengus kesal.
"Tentu saja. Aku tidak bisa mengenyahkan itu dari pikiranku. Sekarang yang aku inginkan hanya itu, itu, dan itu." Alex menyeringai. Digigitnya bibirnya dengan sedikit desahan keluar dari mulutnya.
"Dasar mesum."
Denis tidak menghiraukan lagi pria itu. Dia melanjutkan sarapannya dengan wajah yang menunduk dalam-dalam.
__ADS_1
Faisal datang saat keduanya masih berada di meja makan. Membuat Denis bisa sedikit bernapas lega.
"Selamat pagi. Maaf mengganggu." Faisal tersenyum melihat wajah Alex yang nampak kurang suka dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Ada kabar apa?" tanya Alex.
"Hari ini kita harus menyelesaikan masalah kepindahan Bu Tania. Apakah akan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa atau akan dirawat secara khusus oleh keluarga."
"Kalau menurutku, lebih baik di Rumah Sakit Jiwa saja." Denis mengemukakan pendapatnya. "Cukup berbahaya membawa dia ke rumah. Dia itu pernah mencoba membunuh Alex walau dengan cara menyuruh orang lain. Tapi tetap saja, sepertinya cukup beresiko jika dia berada disini."
"Tapi ... " Alex menatap Denis lekat. "Reno memohon padaku agar aku merawat mamanya."
"Reno?"
"Ya. Dia tahu keadaan mamanya seperti itu. Dia tidak mau mamanya dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa. Dia memohon padaku agar aku mau merawat mamanya."
"Kenapa kamu masih peduli sama mereka? Mereka itu bukan siapa-siapa kamu. Mereka juga sudah berbuat jahat sama kamu."
"Reno itu adik kamu. Bagaimana juga, kita tidak bisa mengabaikan kenyataan itu."
Denis mendengus kesal mendengar penuturan suaminya. Dia menggelengkan kepalanya dengan sedikit gusar.
"Kamu tahu. Tante Tania bisa berbuat nekat. Apalagi sekarang ini kondisi kejiwaannya sedang terganggu. Dia bisa memanfaatkan keadaan ini untuk berbuat apa saja dan dia bisa bebas dari jerat hukum dengan alasan gangguan jiwa."
"Denis, aku rasa kamu terlalu berlebihan. Ingat, dia itu sedang mengalami gangguan mental. Tidak mungkin dia bisa berpikir sejauh itu untuk melakukan satu tindakan yang melanggar hukum."
"Terserah kamu saja. Aku sudah mengingatkanmu akan hal ini."
"Aku tahu akan kekhawatiran kamu tentang masalah ini. Tapi percayalah. Kita akan baik-baik saja. Lagipula, aku akan menempatkan beberapa penjaga terlatih untuk terus menjaga rumah ini, siang dan malam. Jadi, kamu tidak perlu khawatir."
Denis tidak membantah lagi kata-kata suaminya. Dia bangkit dari duduknya dan segera beranjak meninggalkan ruangan itu dengan sedikit kesal. Dia tidak habis pikir, bagaimana Alex dengan begitu mudahnya mau merawat Tania yang jelas-jelas telah berbuat jahat terhadap dirinya.
"Sepertinya mbak Denis tidak setuju dengan niat anda untuk membawa Bu Tania ke rumah ini. Apa tidak sebaiknya anda pikirkan lagi, jangan sampai hubungan anda dengan istri anda terganggu gara-gara masalah ini."
Faisal mengikuti langkah Denis dengan tatapannya. Kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Alex yang nampak sedang sedikit bimbang.
"Apa menurutmu salah jika aku ingin merawat Mama Tania? Bagaimana pun juga, dia itu pernah merawatku saat aku kecil dulu. Dia yang sudah menggantikan peran mamaku yang telah pergi sejak aku bayi."
Alex berujar dengan suara lirih. Benar dia sangat marah pada Tania. Namun hati kecilnya yang paling dalam, masih menyimpan setitik kasih untuk wanita itu. Dia selalu menyayangi Tania sebagai mamanya sendiri.
"Semuanya terserah anda. Anda yang akan memutuskan apapun yang terbaik untuk Ibu Tania saat ini." Sahut Faisal.
Alex terdiam. Saat ini dia berada dalam satu dilema. Antara perasaan dan logika yang saling bertolak belakang.
********
__ADS_1