
Alex bernafas lega. Urusannya dengan Viola sudah selesai. Walau dia tahu gadis itu pastinya sangat kecewa dan sedih, namun ini lebih baik daripada perasaannya harus dibohongi. Terasa beban dipundaknya terlepas begitu saja saat dia bisa mengatakan semuanya secara terus terang kepada Viola.
Sekarang dia menuju tempat Denis berada. Dia harus memastikan gadis itu baik-baik saja dan berada di tempat yang layak. Dia sudah menyuruh Faisal agar mengirim seseorang untuk mengawasi Denis. Dia harus memastikan gadis itu baik-baik saja dan tidak melarikan diri darinya.
Jack sedang berada di bengkel ketika Alex memarkirkan mobil menterengnya di pinggir jalan di depan bengkel Jack. Pria itu menghampiri Alex.
"Aku mau ketemu Denis." Sebelum Jack bertanya.
"Dia ada didalam." Mata Jack menyapu mobil Alex. Baru kali ini dia melihat secara langsung mobil mewah seharga ratusan juta didepan matanya. Biasanya dia hanya menangani mobil-mobil biasa saja.
Alex melewati pria itu yang masih berdiri didekat mobilnya. Terdengar beberapa orang mengomentari mobilnya yang sangat kontras dengan tempat itu. Alex tidak menghiraukan mereka. Tujuannya hanya satu. Denis.
Memasuki ruangan gudang yang merangkap sebagai markas tempat berkumpulnya Jack dan teman-teman, Alex sudah tahu tempat yang harus dia tuju. Sebuah tempat di sudut area itu. Nampak Denis terbaring beralaskan matras lusuh. Matanya terpejam dengan kedua tangannya menyilang didada.
Alex duduk disamping gadis itu. Menatap wajahnya yang pucat dan agak kemerahan. Alex mengernyitkan keningnya. Disentuhnya pipi Denis dengan punggung tangannya. Terasa panas menyengat kulitnya menandakan gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
Merasakan ada sentuhan di pipinya, mata Denis terbuka. Sayu dan tidak bercahaya.
"Kamu demam?"
Denis tidak menyahut. Kelopak matanya kembali menutup. Nampak sangat tidak berdaya walau hanya sekedar untuk membuka mata.
Alex panik.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit."
"Gak mau." Pelan suara Denis.
"Kamu sakit. Mungkin infeksi dari luka kamu."
Alex segera mengangkat tubuh Denis.
"Lepasin gue. Gue gak mau ikut sama lo."
Tubuhnya bahkan tidak bisa melakukan penolakan kepada Alex. Dia terlalu lemah. Panas tubuhnya menembus baju Alex sebanyak dua lapis.
"Mau lo bawa kemana dia?" Jack menghadangnya saat dia mau memasukkan Denis kedalam mobilnya.
"Ke rumah sakit. Dia demam."
Jack tidak berkata apa-apa lagi saat Alex mengatakan alasannya membawa Denis. Dia tidak tahu kalau Denis demam. Dia pikir Denis baik-baik saja dan hanya butuh istirahat. Sebab itu dia meninggalkannya sendirian didalam.
"Gue ikut."
"Gak usah. Badan lo kotor penuh oli begitu."
Jack meringis. Membiarkan Alex masuk kedalam mobilnya dan berlalu dari tempat itu.
*****
Beberapa perawat dengan sigap membawa Denis menggunakan brangkar rumah sakit. Melakukan pengecekan sebelum ditangani oleh dokter di ruang IGD.
"Alex?" Seorang wanita dengan seragam putihnya menegur Alex yang sedang memperhatikan Denis dengan seksama.
"Mbak Fani?"
"Lho, itu Denis? Kenapa dia?"
"Tubuhnya panas banget. Dan, kemarin, dia terkena tembakan dibahunya. Mungkin itu yang membuat dia demam."
"Apa? Tertembak? Ba..bagaimana bisa?" Mbak Fani terkejut luar biasa mendengar penjelasan Alex. Tubuhnya langsung menggeletar mendengar kata tembak. Teringat kejadian yang telah lalu yang menimbulkan ketakutan untuk dirinya dan juga keluarganya.
Mbak Fani segera memeriksa Denis. Kepanikan tidak dapat dia sembunyikan walaupun tidak lama kemudian dia dapat menguasai dirinya. Dua orang perawat membantunya mencatat dan juga menyampaikan hasil pemeriksaan sementara yang mereka lakukan.
"Lukanya baik-baik saja. Sepertinya sudah ditangani dengan baik."
"Dia baru saja keluar dari rumah sakit. Dia sangat keras kepala. Seharusnya dia masih dalam perawatan dokter." Alex menambahkan informasi.
__ADS_1
"Kita akan observasi dulu dalam tiga jam ini. Kalau demamnya tidak turun juga, kita akan rawat dia disini."
"Ya. Lakukan yang terbaik untuk dia , Mbak."
Mbak Fani tersenyum. Mengarahkan perawat untuk memasang infus dan menuliskan resep obat yang harus segera diberikan kepada Denis.
"Mbak senang ternyata kalian terus bersama-sama." Setelah selesai dengan catatan kesehatan Denis.
Alex tersenyum samar. Tidak ingin mengatakan kepada Mbak Fani kalau Denis pergi meninggalkannya selama beberapa hari ini.
"Apa yang terjadi sampai dia terkena tembakan? Siapa yang melakukannya?"
"Orang yang sama yang telah menembak saya dulu."
"Benarkah? Jadi orang itu masih berkeliaran dengan bebas?"
"Sekarang sudah ditahan polisi. Saya juga belum bertemu langsung dengannya."
Kepala Denis bergerak. Matanya terbuka perlahan dan menatap sayu dua orang yang sedang berdiri didekat ranjang tempat dia berbaring.
"Denis."
"Mbak Fani."
"Mbak akan mengambil makanan untuk kamu. Nanti kamu makan, terus minum obat."
Mbak Fani segera berlalu dari tempat itu.
Alex mendekat ke bibir ranjang. Menyentuh kening gadis itu dengan lembut.
"Gadis keras kepala. Sudah kubilang untuk tetap dirumah sakit. Tapi malah minta pulang. Habis tu malah tinggal di tempat Jack. Harusnya kamu tetap dirawat oleh dokter, atau pulang ke rumahku." Mengomel dengan nada lembut sambil mengelus kepala Denis.
Denis tidak menyahut. Dia tidak punya energi untuk membantah Alex saat ini. Kepalanya terasa sangat pusing. Kelopak matanya terasa berat dan enggan untuk terbuka.
"Apa karena kamu hujan-hujanan tadi malam ya?"
"Masa sih gara-gara kehujanan kamu jadi sakit? Kamu kan kuat orangnya." Lebih ke bergumam pada dirinya sendiri.
Usapan tangannya dikepala Denis terhenti ketika Mbak Fani datang membawa bubur untuk Denis.
"Biar saya yang suapi dia, Mbak."
Alex segera mengambil alih bubur ditangan mbak Fani. Sepertinya wanita itu berniat untuk menyuapi Denis.
"Kamu yakin?"
Alex mengangguk sambil mengulum senyum.
Mbak Fani menyerahkan bubur ke tangan Alex.
"Nanti kalau sudah selesai makan, berikan obat ini ya. Mbak tinggal dulu. Nanti mbak lihat lagi kemari."
Mbak Fani kemudian pergi untuk memeriksa pasien yang lain.
Alex mengatur posisi ranjang Denis untuk memudahkan dia menyuapi Denis.
"Ayo buka mulutnya. Aaa..."
"Gak mau makan." Suaranya sangat lemah.
"Jangan membantah. Ayo. Kamu gak mau kan lama-lama disini. Kamu punya waktu tiga jam. Kalau gak baik dalam tiga jam, kamu bakalan nginep lagi dirumah sakit." Setengah mengancam seperti sedang mengancam anak kecil.
Denis akhirnya menurut. Walaupun sambil meringis ketika mengunyah bubur yang disuapkan oleh tangan Alex, tak urung dia mau juga untuk menerimanya. Dengan telaten dan penuh kesabaran Alex menyuapi Denis. Dia tersenyum melihat gadis itu susah payah menelan makanannya. Diusapnya sudut bibir gadis itu yang menyisakan noda kecap dari bubur yang sedang dia makan.
Denis sedikit memalingkan wajahnya. Nampak salah tingkah dengan perlakuan Alex padanya. Kalau saja keadaan tidak sedang lemah begitu, entah apa yang akan dia lakukan.
"Udah."
__ADS_1
"Dikit lagi."
"Gak mau."
Alex menyerah. Lagipula Denis telah menghabiskan hampir separuh dari porsi bubur itu. Didekatkannya gelas ke bibir gadis itu. Denis menerimanya dengan patuh. Hanya saja matanya tak berani bertentangan dengan milik Alex. Sepertinya dia sedang merasa malu.
Setelah Denis minum obat yang tadi diberikan oleh Mbak Fani, Alex mengembalikan tempat tidur Denis ke posisi semula.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu disini." Alex mengusap kening Denis.
"Jangan beritahu wanita itu." Setelah agak lama terdiam.
Alex mengernyit. Menebak maksud dari ucapan Denis.
"Maksudmu, mamamu?" Denis tidak menyahut. Dia memejamkan matanya. "Dia berhak tahu keadaan kamu. Tapi kalau kamu belum mau bertemu dengannya, aku gak akan memberitahu beliau tentang keadaan kamu."
"Beliau pasti sangat cemas memikirkanmu. Apa kamu tidak mau bicara sedikitpun dengannya?"
Tetap tidak ada sahutan. Alex menghela nafas.
"Tidurlah."
Dia tetap disamping gadis itu sampai teleponnya berbunyi. Tak mau suara teleponnya mengganggu Denis, Alex segera beranjak menjauh.
"Ada apa?" Tanyanya pelan. Faisal yang telah menghubunginya.
"Polisi ingin bertemu dengan anda, Pak. Mereka ingin meminta keterangan anda tentang Bisma dan Tania."
"Aku tidak bisa." Menoleh ke arah Denis. "Hubungi saja Pak Yunus. Semuanya sudah ada pada Pak Yunus."
"Apa ada masalah Pak? Kenapa anda bicara pelan begini?"
"Aku sedang di rumah sakit. Denis demam. Aku tidak bisa meninggalkannya."
"Oh."
Terdiam sesaat.
"Bagaimana kalau saya menyuruh orang lain untuk menjaga Denis? Keterangan anda di kepolisian sangat diperlukan, Pak."
Alex membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Denis. Menatap gadis yang sepertinya sudah tertidur itu dengan bimbang.
"Apa tidak bisa diwakili oleh pengacara saja?"
Mencoba bernegosiasi. Hatinya sangat berat kalau harus meninggalkan Denis.
Faisal sepertinya memahami kegundahan atasannya.
"Akan saya coba bicarakan dulu, Pak."
Faisal memutuskan sambungan telepon.
Alex kembali menghampiri tempat tidur. Duduk dikursi tempatnya tadi dengan hati-hati. Menyentuh kening Denis, merasakan panasnya sudah mulai berkurang.
Matanya menyapu seluruh wajah Denis dengan lembut. Menyusuri setiap garisnya tanpa terlewat. Begitu manis dan damai tanpa sorot matanya yang selalu garang dan dingin.
Alex tersenyum mengingat bagaimana gadis itu tak pernah bersikap ramah sejak beberapa hari ini. Tapi keberadaannya direstoran itu dan malah melindungi dirinya dari tembakan Bisma sungguh membuat hatinya bergetar. Alex yakin, kalau saja tidak ada Denis disana saat itu, tembakan itu tak akan meleset dan pasti akan mengenainya. Mungkin itu akan menjadi akhir hidupnya.
"Gadis bodoh. Kenapa kamu malah menghadang tembakan itu." Dikecupnya pipi Denis sekilas.
"Kamu sudah mempertaruhkan nyawamu untukku. Aku tak akan pernah melupakan itu seumur hidupku." Bisiknya lirih.
Kemudian matanya jatuh ke bibir Denis yang kering. Tak tahan saat mengingat bagaimana manisnya bibir itu, Alex bangkit dan menunduk menyentuhkan bibinya pelan di atas bibir itu.
Bruk!!
******
__ADS_1