
Pembicaraan dengan Pak Yunus dilakukan secara tertutup didalam ruang kerja Arga Dinata. Viola yang sangat ingin ikut kedalam ruangan dengan tegas dilarang oleh Alex. Sedangkan Denis, lebih memilih untuk membawa dirinya ke taman belakang rumah.
Dia berjalan melewati berbagai macam bunga yang tertata dengan indah. Taman bunga yang sangat luas. Ada kolam renang yang cukup besar di sana. Beberapa gazebo kecil berdiri di tiap sudutnya. Disebelahnya merupakan tempat yang lapang dengan rumput yang menghampar terawat.
Agak jauh ke belakang ada kolam ikan dengan jembatan kayu melengkung diatasnya. Denis berdiri ditepi kolam ikan yang menjadi spot favoritnya. Matanya yang kelam menatap ikan-ikan yang bergerak lincah kian kemari.
"Ehm.." Sebuah deheman membuatnya melirik asal suara. Sosok semampai Viola datang menghampirinya dengan langkah yang anggun.
"Kamu tidak ikut bicara didalam?" gadis itu berdiri disebelah Denis.
"Itu pembicaraan intern keluarga. Gue harus menghormati mereka."
"Tapi sepertinya hubungan kalian sangat dekat."
Denis hanya menyunggingkan senyum tipis disudut bibirnya.
"Apa kamu akan tetap tinggal disini?" Tanya gadis itu lagi setelah ada jeda sejenak.
"Selama tuan rumah mengizinkan gue tinggal disini.."
"Keluarga kamu dimana?" tanya Viola setelah terdiam sesaat.
Denis melirik gadis itu tajam. Nampak dengan sangat jelas dia tidak menyukai gadis itu yang terlalu banyak bertanya. Menyadari tatapan maut Denis, Viola meringis.
"Maaf kalau aku terlalu lancang. Tapi aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Kamu adalah orang yang telah menolong Alex, dan kalian telah menjadi teman dekat. Aku juga sangat berterima kasih sama kamu, karena kamu, aku bisa bertemu lagi dengan Alex." Viola menghembuskan nafasnya pelan. Senyuman tipis tersungging dibibirnya.
Denis terdiam. Masih setia memperhatikan setiap ikan yang bergerak lincah. Tidak merasa tertarik sedikitpun untuk bicara lebih jauh dengan gadis yang berdiri disampingnya.
"Kamu tahu? Aku sangat terpukul ketika dia dikabarkan meninggal karena kecelakaan. Aku sangat sedih saat mengantarkan jasadnya ke pemakaman. Dan sekarang, dia datang lagi dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun. Ini sebuah keajaiban. Sangat sulit untuk dipercaya. Aku seakan sedang bermimpi, tapi ini nyata. Aku benar-benar bahagia sekarang." Gadis itu tersenyum dengan matanya yang berbinar. Denis hanya tersenyum tipis tanpa menoleh kepada gadis itu.
"Sekarang aku bertanya-tanya, jasad siapakah yang dikuburkan saat itu? Aku tak habis fikir, bagaimana bisa om Bisma melakukan itu sama Alex. Dia tidak pernah menunjukkan rasa tidak suka sama Alex. Begitu juga dengan tante Tania. Dia selalu menunjukkan kasih sayang yang tulus buat Alex. Tapi ternyata semua itu palsu.." Denis hanya mengangkat bahunya. Mendengarkan gadis itu bicara terus menerus membuatnya bosan. Namun tak urung juga dalam hatinya merutuki perbuatan Bisma dan ibu tiri Alex yang sangat keterlaluan. Denis tidak dapat membayangkan jika dia berada di posisi Alex yang harus menanggung semuanya.
"Apa kamu tidak bisa bicara?"
"Apa?" Denis menoleh kearah gadis yang masih berdiri disampingnya.
"Lupakan.." Viola mengibaskan tangannya.
"Ganti pertanyaan. Kamu gak mau tahu hubunganku sama Alex?" tanya Viola ketika melihat sikap Denis yang tak mengacuhkannya.
"Bukan urusan gue."
Viola menghela nafas. Bola matanya berputar jengah.
"Menurutmu, apa yang sedang mereka bicarakan?" Viola mengalihkan topik pembicaraan.
"Gue gak tahu."
Viola meniup pelan udara di mulutnya. Tak tahu lagi harus dengan cara apa mengajak bicara manusia es yang ada disebelahnya. Awalnya dia pikir Denis akan tertarik ngobrol dengannya seperti kebanyakan pria diluar sana. Tapi ternyata Denis lebih kaku dari kelihatannya.
Telepon Denis berbunyi dari dalam saku celananya. Dia merogohnya dan melihat sebuah pesan dari Alex.
"Sorry gue tinggal dulu.."
Tanpa menunggu jawaban dari Viola, Denis beranjak meninggalkan gadis itu seorang diri disana. Dibelakangnya, Viola mengikutinya dengan tatapan penuh rasa penasaran dengan kepergian Denis.
"Ganteng sih tapi sangat aneh.." Desis bibir Viola. Tentu saja tidak didengar oleh Denis yang dalam sekejap sudah menghilang dari pandangan Viola.
Denis langsung menuju kamar Alex. Disana pria itu sudah menunggunya setelah melakukan pembicaraan dengan pengacaranya dan Reno. Alex sedang berdiri di dekat pagar balkon kamarnya. Dia melambaikan tangannya agar Denis mendekat dan berdiri disampingnya.
Alex menceritakan hasil pembicaraan di dalam ruang kerja papanya kepada Denis. Dia mengatakan bahwa mamanya menghubungi pak Yunus dan menyampaikan beberapa pemintaan sebagai syarat untuk kebebasan Arga Dinata. Rupanya mereka berencana untuk pergi keluar negeri dan meminta jaminan keamanan kepada pak Yunus agar mereka bisa keluar negeri dengan lancar tanpa ada hambatan apapun. Mereka ingin semua proses dilakukan secepatnya. Selain itu, mereka juga meminta sejumlah uang yang harus disiapkan oleh Alex. Selama proses itu, mereka menjamin keselamatan Arga Dinata ditangan mereka dan juga terpenuhinya perawatan kesehatan Arga Dinata.
Denis mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan oleh Alex.
"Lo akan memenuhi semua tuntutannya?"
"Tentu saja. Apapun akan aku berikan untuk mendapatkan papaku kembali. Mereka menginginkan harta. Aku bisa mencarinya lagi dengan kerja kerasku." Ujar Alex tanpa keraguan. Matanya nampak mengelam seiring dengan amarah yang membuncah dalam dadanya. Rasa sakit hati dan kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh ibu tirinya membuat dadanya terasa sesak. Dia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Bukan sebentar dia menjadi bagian dari keluarga besar Arga Dinata. Bukan sedikit harta yang telah diberikan oleh pria itu. Namun tak membuat dia puas akan kehidupannya. Alex tidak tahu apa yang menyebabkan wanita itu berpaling dari papanya. Apa kekurangan papanya yang dimata Alex merupakan pria sempurna.
Denis menyentuh bahu Alex penuh rasa simpati. Sisi halus dalam dirinya membuat dia ikut merasakan apa yang Alex rasakan. Dia terlahir dari keluarga yang tak sempurna. Sejak lahir dia tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Begitu juga dengan mamanya. Dia tidak tahu apakah mamanya menyayanginya atau tidak. Rasa sayang itu sangat jauh dari angan Denis.
Melihat kasih sayang Alex untuk papanya, membuat Denis tahu bahwa rasa itu yang membuat seseorang rela melakukan apa saja demi orang yang tercinta. Dan Denis belum pernah merasakan hal seperti itu.
Saat ini hatinya tergetar melihat kesedihan yang dirasakan Alex. Hatinya sakit melihat kesakitan yang dirasakan Alex. Namun dia tidak mengerti apa yang menjadi penyebabnya.
__ADS_1
"Sekarang mereka ada dimana? Apa pak Yunus tahu?"
Alex menggelengkan kepalanya.
"Apa mereka memperlihatkan papa lo?"
"Ya. Tadi mereka kasih lihat keadaan papa. Kelihatannya papa baik-baik saja. Tapi tetap aku belum bisa tenang kalau belum bisa membawa papa pulang."
"Percayalah. Kita akan segera dapetin papa lo."
"Terima kasih, Denis. Kamu selalu ada buat aku." Alex merangkul bahu Denis. Tanpa dia sadari Denis terhenyak dengan yang Alex lakukan. Ada perasaan aneh yang menyeruak dari dalam dirinya. Napasnya terasa sesak seketika.
"Alex.."
Viola tertegun diambang pintu kamar Alex. Matanya terpusat ke tangan Alex yang berada dibahu Denis. Tubuh merekapun nampak berada dalam jarak yang sangat dekat. Menyadari arah tatapan Viola, Alex segera menarik tangannya. Begitu juga Denis, dia segera menjauhkan dirinya dari Alex.
"Sorry.." Suara Viola pelan. Tatapan aneh tersorot dari matanya.
"Ada apa?" Tanya Alex setelah mendehem kecil.
"Pak Yunus sudah berangkat ke kantor. Dia berpesan agar kamu juga pergi ke kantor karena ada beberapa berkas yang harus ditandatangani."
"Baiklah. Aku akan segera menyusul."
Viola mengangguk. Pelan dia undur keluar dari kamar Alex. Menutup pintu kamar dengan hati-hati dan masih terpaku didepan pintu yang tertutup itu untuk beberapa saat. Apa yang dilihatnya tadi sangat mengguncang perasaannya. Alex dan Denis. Dia melihat sesuatu yang berbeda diantara mereka berdua. Sejak berjumpa lagi dengan Alex, dia dapat melihat kedekatan kedua orang itu. Ini sangat tidak biasa. Mungkinkah Alex...Ahh!! Itu tidak mungkin. Viola menepuk keningnya. Menepis pemikiran gila yang baru saja terlintas dibenaknya.
Alex nampak terburu-buru menuruni tangga. Denis mensejajari langkahnya. Mereka menuju mobil yang sudah siap menunggu. Seorang sopir dengan sigap membuka pintu untuk Alex. Denis masuk dari pintu satunya lagi tanpa diminta.
Mobil melaju meninggalkan rumah megah itu dengan keheningan didalamnya. Dikaca spion bayangan Viola nampak semakin mengecil. Tanpa disadari Alex, gadis itu terpaku ditempatnya berdiri menatap nanar mobil yang dia kejar.
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu ditinggal sama Alex.." Reno menoleh kearah bayangan mobil Alex yang sudah menghilang ditikungan. Kemudian mengalihkan tatapannya pada wajah kecewa Viola.
"Bahkan dia gak tahu kalau aku ngejar dia.." Viola mendengus kasar.
"Atau dia sengaja karena gak mau kamu ikut sama dia." Reno tersenyum miring. Viola menatap pria jangkung dihadapannya dengan mata menyipit.
"Maksud kamu?"
"Vio..sadar dong. Dia itu tak pernah melirik kamu sedikitpun. Kamu mau ngapain dia apa aja, gak akan berpengaruh sama sekali. Kapan sih kamu bisa menerima kenyataan itu. Apalagi sekarang ada siapa itu namanya? Yang selalu nempel sama Alex?"
"Ya. Denis. Kamu bisa lihat sendiri. Mereka itu sudah seperti pasangan yang tidak bisa terpisahkan lagi. Kamu mengerti kan maksudku?"
"Apa maksud kamu Reno? Apa kamu mau bilang kalau Alex...?"
"Aku gak mau bilang apa-apa. Kamu bisa menyimpulkan sendiri. Bertahun-tahun kamu selalu berusaha mendekati Alex. Apa kamu pernah melihat Alex dekat dengan seorang perempuan? Bahkan matanya tidak pernah bisa melihat kamu. Sekarang kamu tahu jawabannya apa." Reno tersenyum sinis.
"Tapi gak mungkin kalau Alex sampai..Ahh! Aku gak percaya hal itu." Viola menggelengkan kepalanya dengan gusar. Bibirnya bisa saja mengatakan hal itu, tapi hatinya justru meyakini hal lain. Apalagi sekarang didukung oleh argumen dari Reno. Dia dan Reno ternyata memiliki pemikiran yang sama. Sebelum dia mengungkapkan kecurigaannya, ternyata Reno telah lebih dulu mengatakannya walaupun tidak secara jelas. Namun Viola tahu arahnya kemana.
"Vio..kamu hanya sedang menyangkal apa yang kamu yakini dengan hati kamu sendiri. Kamu sedang mencoba menyangkal sesuatu yang hampir nyata kebenarannya." Reno menatap iba gadis itu. Gadis yang sangat dia inginkan. Namun sayang, gadis itu justru menginginkan orang lain. Dan parahnya, orang itu adalah Alex, saudara Reno sendiri. Sangat miris memang.
"Aku belum yakin sepenuhnya sebelum aku melihat bukti nyata."
"Aku berani bertaruh kalau tebakanku benar. Aku sangat yakin. Aku bisa melihat bagaimana cara mereka saling menatap. Itu sangat menjijikan." Reno meringis menunjukan ekspresi geli ketika membayangkan Alex dan Denis memiliki hubungan tidak wajar.
"Sudahlah Reno. Kamu hanya sedang memprovokasi aku 'kan? Aku gak akan terpengaruh oleh kata-kata kamu. Aku tetap dengan perasaan yang sama untuk Alex. Aku akan tetap memperjuangkan cintaku padanya."
Viola menghentakkan kakinya meninggalkan Reno diiringi seringai tipis diwajah pria itu. Sesaat Reno tersadar jika gadis itu telah berjalan meninggalkannya.
"Vio! Tunggu..!"
*****
Suara ponsel Denis memecah keheningan didalam mobil seketika.
"Ya bang?"
"......."
"Oke. Gue segera kesana."
"Siapa?" Tanya Alex begitu Denis mengakhiri panggilannya.
"Bang Jack. Kayaknya ada info penting. Gue akan menemui dia. Gue turun didepan aja." Denis menunjuk tempat agar mobil itu bisa menepi dan menurunkannya.
__ADS_1
"Biar aku ikut sama kamu menemui bang Jack." Alex memberi isyarat pada sopir agar terus jalan. Sang sopir hanya mengangguk mengerti dengan perintah dari Alex.
"Tapi lo kan harus ketemu pengacara lo itu?"
"Gak papa. Itu bisa ditunda sebentar."
Mobil melaju membelah jalanan ibukota yang selalu sibuk sepanjang hari. Denis mengarahkan sopir untuk menuju alamat yang diberikan oleh Jack.
Sebuah kawasan perumahan yang belum berpenghuni, agak jauh dari jalan utama. Pembangunannya nampak belum seratus persen jadi. Sebagian masih berupa rangka bangunan yang ditinggalkan oleh pekerjanya. Tidak ada pegawai bangunan disana. Entah karena sedang libur atau memang pembangunan disana tidak dilanjutkan.
Menyusuri kawasan itu yang lumayan memiliki area yang cukup luas memerlukan waktu yang lumayan lama. Sampai diujung jalan ada sebuah bangunan yang mirip sebuah kantor dengan beberapa lantai menjulang jadi satu-satunya bangunan tertinggi dikawasan itu.
Sampah-sampah berserakan menunjukkan tempat itu dalam waktu yang lama tidak tersentuh manusia.
"Tempat apa ini?" Tanya Alex entah ditujukan pada siapa. Denis tidak menyahut. Matanya bagai radar menyorot sekeliling tempat itu.
"Kamu yakin Jack menyuruh kamu datang ke tempat ini?" Mata Alex sama mengitari seluruh tempat itu.
Mobil masih bergerak dengan perlahan. Belum ada instruksi dari Denis maupun Alex untuk menghentikan kendaraan itu.
Denis menekan nomor telepon Jack yang langsung dijawab pada deringan pertama.
"Lo dimana?"
"......."
"Oke."
Denis mematikan handphone-nya. Menyuruh sopir untuk menepikan mobil dan berhenti. Sebuah motor menghampiri mobil yang ditumpangi Denis dan Alex. Jack dan Nerrow membuka helm yang menutupi wajah mereka dan memberi isyarat pada Denis agar mengikuti mereka.
Mobil mengikuti pelan motor yang dikendarai Jack. Melewati jalan diantara benteng tembok yang menjulang membatasi kawasan perumahan dan pemukiman penduduk dibelakangnya. Motor Jack berhenti disebuah tempat yang agak jauh dari jalan utama kawasan itu. Suasana sangat sepi jauh dari keramaian penduduk. Hanya semilir angin yang terasa meniup dedaunan yang merimbuni tempat itu dan samar suara kendaraan dari jalanan yang berjarak cukup jauh dari sana. Gedung-gedung yang menjulang tinggi di kejauhan sana menjadi latar pemandangan dibelakang kawasan itu.
Denis turun dari mobil dan menghampiri kedua temannya.
"Mana?" Tanyanya begitu sampai didekat dua orang itu. Tidak lama kemudian Alex ikut gabung dengan mereka.
Jack membawa Denis dan Alex berjalan menuju rimbun pepohonan. Menyeruak diantaranya dan memperlihatkan sebuah rumah besar yang nampak kurang terawat dibagian halamannya. Rumah itu agak jauh dari tempat mereka berada.
"Rumah siapa itu?" Tanya Denis sambil terus memperhatikan rumah yang nampak sepi itu.
"Gue melihat orang yang mencurigakan masuk kedalam rumah itu. Gue rasa dia ada hubungannya sama orang yang sedang lo cari." Jack memperlihatkan beberapa foto yang menunjukan adanya aktifitas dirumah tersebut. Dengan serius Denis dan Alex melihat satu persatu foto yang ditunjukkan oleh Jack. Walaupun jarak pengambilan foto itu agak jauh, namun itu cukup membuktikan kalau rumah itu tidak kosong seperti kelihatannya.
"Darimana lo tahu kalau orang itu ada hubungannya sama yang lagi kita selidiki?"
"Gue terus ngikutin mereka. Dan anak buah gue juga ada dimana-mana. Mereka ngasih info yang valid banget. Jadi gue ngerasa yakin, kalau rumah ini tempat persembunyian mereka." Ujar Jack dengan yakin. "Gue juga dapat info kalau mereka sedang mempersiapkan dokumen palsu buat pelarian mereka ke luar negeri."
Denis menoleh ke arah Alex. Alex mengangguk seolah tahu apa arti tatapan mata Denis.
"Mereka memang mau keluar negeri." Kata Denis sambil kembali memperhatikan rumah itu.
"Sekarang gimana? Apa kita langsung masuk kesana atau gimana? Lo tahu berapa orang didalam sana?"
"Perkiraan gue ada lima orang dibagian luar. Belum tahu pasti didalam ada berapa orang. Tapi gue pernah lihat ada seorang perempuan masuk kedalam rumah itu."
Jack kembali menunjukkan beberapa foto. Diantaranya ada foto seorang wanita yang baru turun dari sebuah mobil. Dari postur tubuh dan gaya rambutnya, wanita itu sangat mirip dengan Tania. Namun jarak pengambilan foto yang cukup jauh membuat wajahnya samar untuk dikenali.
Alex yang terus memperhatikan foto itu membenarkan bahwa wanita itu mirip dengan ibu tirinya. Namun dia belum bisa memastikannya.
"Aku gak mau kalian bertindak gegabah. Kalau memang papaku ada disana, keselamatannya harus diutamakan." Alex menatap Denis dan Jack bergantian. Nampak jelas kekhawatiran tersorot dimatanya.
Suara telepon milik Alex terdengar nyaring ditempat yang sunyi itu. Alex segera merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya itu. Ternyata pesan dari pak Yunus yang memintanya untuk segera datang ke kantor karena ada hal yang harus diselesaikan.
"Gimana nih? Pak Yunus memintaku untuk segera ke kantor.." Alex menatap Denis seolah meminta pendapat dari sahabatnya itu.
"Pergilah. Gue disini sama bang Jack."
Alex nampak sedikit ragu. Hatinya terbagi dua, antara ingin mengetahui kebenaran tentang penghuni rumah itu atau menuruti permintaan pak Yunus untuk segera ke kantor.
"Lo gak usah khawatir. Gue akan terus ngawasin rumah itu."
Alex mengangguk.
"Langsung hubungi aku kalau ada apa-apa."
__ADS_1
Alex menepuk pundak Denis sebelum berlalu dari tempat itu. Denis hanya mengangguk dan kembali memperhatikan rumah yang diyakini sebagai tempat persembunyian Bisma dan Tania.
******