
Terik sinar matahari membakar apa saja yang ada dipermukaan bumi. Dengan penuh kesabaran setiap makhluk menjalani kehidupan melakukan perannya masing-masing yang telah digariskan Yang Maha Kuasa. Tidak ada gunanya mengeluhkan panas yang menyengat. Toh hidup harus tetap berjalan. Suka atau tidak suka. Mau atau tidak mau, semua harus dijalani dan dinikmati.
Begitu juga dengan Denis. Sekuat apapun dia menolak takdirnya, akhirnya dia harus menyadari bahwa dia tidak bisa memilih siapa yang harus jadi orangtuanya. Dia tidak bisa menolak bahwa Bisma adalah ayah kandungnya.
Rasa terkejut dan tak percaya dengan apa yang baru saja diketahuinya, bagaikan batu yang menimpa diatas dadanya. Begitu berat dan sakit untuk menerima kenyataan ini. Namun dia tak bisa menyalahkan siapapun saat ini. Kalaupun dia tidak mengenal ayah kandungnya sendiri, mungkin seperti itulah seharusnya.
Dia memang pernah memimpikan memiliki seorang ayah seperti teman-temannya yang lain. Tapi seiring berjalannya waktu, dia menjadi terbiasa dengan kehidupannya yang jauh dari sentuhan orang tua. Wataknya yang keras, telah mampu mengabaikan keinginannya untuk memiliki keluarga yang utuh.
Denis muda yang tak pernah dikenalkan dengan arti kasih sayang keluarga, hanya bisa menatap iri teman-temannya yang memiliki keluarga yang sempurna. Namun dia tidak bisa menuntut untuk memiliki keluarga utuh untuk dirinya. Itu sangat tidak mungkin.
Saat ini dia sedang duduk diruang tunggu kantor polisi tempat Bisma ditahan. Entah kekuatan dari mana yang telah membawa langkah kakinya menuju ke tempat itu.
Seorang anggota polisi datang menggiring seorang pria berbaju oren. Setelah memberitahu Denis berapa lama ia boleh bicara dengan orang yang dibawanya, polisi itu meninggalkan mereka berdua. Memberi ruang privasi untuk keduanya.
Dengan ragu pria itu duduk dihadapan Denis. Tak ada kata yang terucap. Bahkan ia tak berani menatap Denis. Kedua tangannya saling bertaut diatas meja. Kelihatan dia sedikit gugup saat berhadapan dengan Denis.
"Bagaimana keadaanmu?" Pria itu akhirnya membuka suara. Kegundahan nampak jelas tercetak diwajahnya yang kusut tak bercahaya.
"Seperti yang anda lihat." Datar saja Denis menjawab.
"Saya senang karena kamu baik-baik saja. Maafkan saya yang tidak sengaja melukaimu." Bisma menunduk. Mencari kata-kata yang tepat untuk bicara dengan Denis. Kecanggungan menerpanya. Sangat aneh rasanya saat mengetahui gadis berpenampilan maskulin ini sebagai putri kandungnya.
Denis menatap pria itu dengan wajah datarnya. Tajam menusuk dan tidak menunjukkan ekspresi yang sebenarnya. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan dia saat ini.
"Katakan kalau apa yang orang bilang itu gak benar. Bahwa anda adalah ayah kandung saya." Suara Denis pelan namun penuh penekanan.
Bisma mendongak. Ada kesedihan dimatanya saat mendengar apa yang dikatakan Denis.
"Sayangnya itu adalah benar. Saya minta maaf kalau sudah mengecewakanmu."
"Apa anda merasa bahwa saya adalah anak anda?"
Bisma menelan salivanya dengan susah payah. Hatinya tertusuk begitu dalam oleh pertanyaan yang disampaikan dengan nada yang datar itu. Pedih sekali. Apalagi saat mengingat kalau sudah dua kali dia mencelakakan gadis yang sekarang berada dihadapannya.
Kalau saja bukan karena kemurahan dari Sang Pencipta, tentu dia tak akan pernah melihat putrinya untuk selama-lamanya. Saat dia dengan teganya mendorong tubuh itu kedalam jurang bersama Alex, saat itu seharusnya dia sudah kehilangan putri yang tidak dikenalnya sama sekali.
Sungguh luar biasa cara Tuhan mempertemukan dia dengan putrinya. Kenapa harus dengan cara yang hina seperti ini? Mungkinkah ini adalah hukuman untuk dirinya karena sudah mengabaikan keluarganya? Bahkan dia tidak memiliki ikatan batin sama sekali dengan gadis itu.
Bisma mengusap sudut matanya yang basah.
"Maafkan saya." Desisnya dengan suara bergetar. "Saya yang bersalah dalam hal ini. Saya adalah ayah yang brengsek dan tidak bertanggung jawab. Saya tidak pantas untuk mendapatkan kata maaf darimu dan juga dari mamamu."
Tidak ada sentuhan sedikitpun dalam pertemuan yang singkat itu. Bahkan mata mereka tidak beradu dalam waktu yang lama. Tatapan yang dingin dan tanpa ekspresi diwajah Denis, membuat ciut nyali Bisma dan menghilangkan semua harapannya untuk dapat menyentuh gadis itu.
Cukuplah untuk hari ini dia merasa puas karena bisa bertemu dengan gadis itu tanpa dia memintanya. Banyak yang ingin dia katakan namun semuanya tertahan diujung lidahnya.
__ADS_1
Denis melangkahkan kakinya meninggalkan kantor polisi dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan.
Pria itu, yang sudah membuat dirinya berada didalam jurang bersama Alex. Pria itu, pria yang selalu dia cari bersama dengan Alex karena perbuatan jahatnya terhadap keluarga Alex. Pria itu, yang sudah membidik Alex dengan senjatanya dalam usahanya untuk membunuh Alex untuk kesekian kalinya. Pria jahat itu adalah ayah kandungnya.
Hari sudah semakin sore membiaskan cahaya mentari dari balik awan yang mulai membayang di batas cakrawala. Kicauan burung dipepohonan seirama dengan semilir angin senja yang meniup perlahan. Riak air danau berkilauan tertimpa cahaya matahari yang mulai berkurang sengatnya.
Sosok itu masih duduk ditempat yang sama sejak lebih dari dua jam yang lalu. Dia hanya duduk diam dan menatap air danau dengan pandangan kosong.
Lamunannya tersentak saat seseorang menjatuhkan tubuh disampingnya. Dia menoleh dengan mata yang tajam. Merasa terusik dengan kehadiran pria tampan disampingnya yang datang tiba-tiba.
Alex melemparkan sebuah batu mendatar diatas permukaan air. Namun batu itu langsung tenggelam ke dasar danau.
Merasa penasaran dia bangkit dan berjalan mendekati tepian danau. Kembali memungut batu dan melemparkannya. Lagi-lagi dia tidak berhasil melempar batu itu. Namun sebuah lemparan dari arah sampingnya berhasil membuat dia takjub. Batu itu melompat-lompat diatas permukaan air beberapa kali sampai jauh dan baru tenggelam saat berada di tengah danau.
"Wow.." Alex bertepuk tangan. "Luar biasa."
"Apa yang luar biasa. Semua orang bisa melakukan itu. Lo aja yang gak bisa." Decihan sinis terdengar merdu ditelinga Alex. Dia terkekeh pelan.
"Aku mau coba lagi. Kalau aku sampai berhasil melakukan seperti yang kamu lakukan, kamu harus memberi aku hadiah."
"Kenapa minta hadiah sama gue?" Denis memicingkan matanya.
"Pokoknya kamu harus kasih hadiah."
"Gak penting banget lo." Denis membalikkan tubuhnya meninggalkan Alex. Alex meliriknya melihat kemana arah langkah gadis tomboy itu. Takut kalau gadis itu akan pergi meninggalkannya.
Denis yang duduk sambil menopang siku dikedua lututnya, tersenyum tipis melihat itu.
"Lihat? Aku berhasil. Kau harus memberiku hadiah." Alex kembali duduk disamping Denis. Senyumnya mengembang sangat indah dikedua sudut bibirnya.
"Lo yang lempar lo yang pengen hadiah. Lo cari sendiri hadiah lo." Ujar Denis ketus.
"Oke. Nanti aku akan ambil hadiahku." Alex tersenyum penuh arti.
Denis menggerakkan kepalanya. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke tengah danau.
Hening untuk sesaat. Keduanya sama-sama menikmati suasana senja yang damai.
"Aku mencarimu kemana-mana tadi." Alex memecah keheningan. Ujung matanya memperhatikan ekspresi Denis.
"Kamu menemui pria itu?" Tanyanya kemudian saat Denis tidak menanggapi ucapannya.
"Ya."
"Apa berjalan dengan baik?"
__ADS_1
"Ya."
"Apa kalian berbaikan?"
"Tidak."
Alex membuang nafas. Menyandarkan punggungnya disandaran bangku kayu yang sedang mereka duduki.
"Kau ingin aku membebaskannya?"
"Kenapa?"
"Karena dia papamu kan?"
"Memangnya kenapa kalau dia papaku? Dia harus tanggung jawab untuk semua kejahatannya. Lagi pula, aku tidak merasa kalau dia itu memiliki hubungan darah denganku." Tatapannya masih lurus ke tengah danau. Ada gelenyar kesedihan dari sorot matanya. Namun dia berusaha keras untuk menutupinya. Hanya saja, Alex sudah terlanjur melihatnya.
"Jangan mengasihaniku untuk nasib buruk yang menimpaku." Denis melirik Alex sekilas. Dia tahu kalau pria itu sedang menatapnya dari arah samping.
Alex menyentuh tangan Denis.
"Bahkan kehidupanku lebih memprihatinkan." Tukas Alex pelan.
"Kamu pasti sangat membenci pria itu. Dia memiliki andil besar dalam meninggalnya papamu dan juga sudah mengacaukan kehidupanmu."
"Aku sangat marah padanya. Tapi semua yang sudah terjadi tidak akan bisa diulangi lagi. Kita hanya perlu untuk menjalani kehidupan ini dan memperbaiki diri kita sendiri. Mungkin memaafkan akan membuat kita merasa lebih baik."
Denis terdiam. Sesaat dia menunduk. Kembali mengangkat wajahnya dan masih melempar pandangnya jauh ke tengah danau.
"Kamu juga harus mulai membuka hatimu untuk mamamu. Tidak ada gunanya menyimpan dendam didalam hati. Itu hanya akan membuat kita kehilangan segalanya."
Lagi-lagi Denis tidak menyahut. Namun dapat Alex lihat bibir gadis itu bergerak-gerak pelan. Mungkin dia sedang menggigit bibirnya sendiri menahan gejolak rasa didalam hatinya. Itu artinya dia mendengarkan apa yang Alex katakan dan dia mulai terpengaruh.
"Kamu belum merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang tua. Rasanya sangat menyesakkan. Aku bahkan sangat menyesal karena mereka pergi saat aku belum bisa berbuat apapun untuk mereka. Saat mereka meninggalkanku, aku baru menyadari, seburuk apapun orang tua kita, mereka tetaplah menjadi orang yang tak akan tergantikan didunia ini. Melalui merekalah kita hadir didunia ini."
"Gue gak pernah minta dihadirkan didunia ini."
"Tidak ada seorangpun yang meminta untuk dihadirkan didunia ini. Dan tidak ada seorangpun yang bisa memilih orang tua mana yang akan menjadi orang tua kita didunia ini. Semua sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa."
"Dan ya, kalau bukan karena om Bisma berbuat begitu padaku, apa mungkin kita akan bisa bertemu? Semuanya tidak terjadi secara kebetulan. Tapi sudah ada yang mengaturnya. Tuhanlah yang telah mengaturnya." Sambung Alex.
Denis tidak menyahut. Namun dia mendengarkan semua penuturan Alex yang begitu meresap kedalam hatinya. Seperti gurun pasir yang gersang dan mendapat siraman air hujan yang menyejukkan. Begitulah ucapan Alex yang mendinginkan hati Denis. Semuanya bisa dia terima dan membuat hatinya melunak.
Sementara matahari semakin turun. Sinarnya semakin redup. Cahaya lampu menggantikan fungsinya dimalam yang mulai datang menyelimuti.
Angin malam dari arah danau terasa dingin menerpa kulit. Namun kedua insan itu masih duduk ditepi danau hingga waktu yang cukup lama. Menikmati suasana syahdu yang sangat membuai jiwa.
__ADS_1
*****