Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tigabelas


__ADS_3

Seorang wanita dangan dandanan yang sangat elegan dan nampak anggun, duduk dikursi kebesarannya. Tangannya memegang ponsel yang sedang ditempelkan ditelinga kanannya. Senyuman manis terukir dibibirnya yang disapu gincu warna merah darah.


"...Ini baru kabar bagus. Aku sangat menghargai jerih payahmu ini. Kau memang selalu bisa kuandalkan...." katanya sebelum menutup telepon.


Seorang pemuda yang duduk diseberang meja dihadapannya, menatapnya penuh rasa ingin tahu dengan isi pembicaraan wanita setengah baya yang nampak masih sangat cantik dan energik itu.


Nampak sekali pemuda itu sangat tidak sabar. "Dia bilang apa?" tanyanya.


"Semuanya sudah beres. Orang-orang suruhanmu itu gak ada yang becus kerja. Selalu harus om-mu yang turun tangan. Baru bisa beres." wanita itu bangkit dari tempat duduknya.


Pemuda itu tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya mendengar kabar itu. Senyum mengembang dibibirnya.


"Mama memang selalu yang terbaik." katanya memuji wanita itu. Wanita itu yang tiada lain adalah mamanya, tersenyum bangga dengan pujian yang diberikan oleh putra kesayangannya itu.


"Kita harus merayakan ini." Reno, pemuda itu, bangkit dari duduknya dan merengkuh bahu mamanya dengan bahagia.


"Kita tunggu om Bisma pulang." wanita itu melangkah menuju sofa. Mendudukan tubuhnya disana dengan santai. Reno mengikuti mamanya dan duduk disamping wanita itu.


Ketukan dipintu membuat mereka menoleh kearah datangnya suara secara bersamaan. Belum menyuruh masuk tapi seseorang telah mendorong pintu dari luar hingga memunculkan sesosok wanita cantik disana.


Reno bangkit dari duduknya dan merapikan jasnya. Senyumanya mengembang menyambut wanita cantik itu.


"Viola.Selamat datang." Serunya . Tangannya melebar seolah siap untuk sebuah pelukan penyambutan. Gadis itu tersenyum lebar. Dia berhambur kedalam pelukan Reno. Menempelkan pipinya bergantian dari yang kiri ke bagian kanan. Kemudian beralih kepada wanita yang nampak tak sabar ingin memeluknya.


"Vio. Apa kabar, sayang?" Tania, mamanya Reno, merangkul gadis cantik itu. Memberikan ciuman dipipi kiri dan pipi kanan gadis itu.


"Aku baik tante. Tante gimana?"


"Seperti yang kamu lihat, sayang. Kapan kamu pulang?"


"Kemarin. Dan aku gak sabar pengen ketemu sama kalian. Terutama sama Alex tentunya." Mata gadis itu mengedar mengitari ruangan. Mencari seseorang yang menjadi tujuan utama dia datang ketempat ini. " Dimana dia tante?"


Reno menyilangkan tangan didadanya. Memindai gadis cantik itu dari ujung kepala ke ujung kaki. Nampak selalu mempesona. Dengan outfitnya yang mahal dan bermerk, dia nampak sangat luar biasa dimata Reno. Sayang sekali, orang yang dicari Viola bukanlah dirinya. Tapi Alex, kakaknya.


Tania tidak segera menjawab pertanyaan Viola yang sangat langsung itu. Terlebih dahulu ia mempersilakan gadis itu untuk duduk disampingnya.


"Alex sedang tidak ada. Ada aku disini. Kenapa tidak mencariku saja." Reno yang menjawab pertanyaan itu mendengus kesal. Matanya tajam menatap Viola. Gadis yang ditatapnya mengerling manja. Tidak tersinggung dengan sikap yang ditunjukan cowok itu.


"Aku kangennya sama Alex. Gimana dong?"

__ADS_1


"Sama aku gak kangen?" Reno dengan suara merajuk. Viola terkekeh melihat Reno.


"Kangen sih. Kamu tuh lucu ya kalau marah. Bikin gemes." Viola mencubit pipi Reno gemas. Tania tertawa melihat kelakuan dua orang muda mudi itu.


"Ya udah. Untuk menyambut kedatangan Viola hari ini, tante akan ajak kamu makan siang spesial. Gimana?"


"Mau banget tante. Tapi, Alex kemana tante?" Kembali dia menyebut nama Alex. Membuat Reno kesal sebenarnya. Tapi dia berusaha untuk tidak terlalu menunjukannya di hadapan gadis itu.


"Sayang sekali, dia sedang mendapat tugas keluar kota. Nanti tante akan ngasih dia kabar kalau kamu sudah pulang ke Indonesia." Tania tersenyum menatap Viola.


"Vio nelepon dia kenapa nomornya gak aktif ya? Apa dia ganti nomor?"


"Mungkin dia sengaja offkan handphone dia. Akhir-akhir ini dia memang sangat sibuk, sampai lupa untuk komunikasi sama kita. Kamu coba lagi aja. Siapa tahu nanti bisa nyambung."


"Kamu pasti bisa ngehubungin dia, Ren." Vio beralih kepada Reno yang hanya menyimak pembicaraan Vio dan mamanya.


"Aku juga sama, Vio. Kalau bukan dia yang nelpon duluan, ya aku gak tahu kabar dia." Reno mengangkat kedua bahunya.


"Ya udah. Sekarang kita makan siang dulu yuk. Nanti kita coba nelpon Alex. Siapa tahu tersambung kalau lagi jam makan siang." Tania meraih tasnya. Menggandeng tangan Viola beranjak meninggalkan ruangan presiden direktur. Reno melangkah dibelakang mereka dan menutup pintu yang ditinggalkannya.


*****


Dua tahun sudah dia berada disana. Pulang ke Indonesia hanya sekali-kali saja. Sekedar untuk melepas kerinduan kepada keluarga tercinta. Juga kepada orang yang selama ini dia harapkan akan menjadi persinggahan terakhir hatinya.


Dia adalah Alex. Kakak dari Reno. Pemuda yang sudah sejak lama dia inginkan. Mereka tumbuh bersama. Alex, pemuda yang sangat tampan dan baik hati. Selalu melindunginya dan selalu ada setiap dia mendapatkan masalah. Oleh sebab itu dia telah jatuh cinta kepada pemuda itu. Entah sejak kapan. Tapi satu hal yang pasti, hanya Alex lah satu-satu cowok yang membuat dia merasa nyaman dan dia percaya sepenuh hati.


Namun sayangnya, justru Renolah yang selalu menunjukan perhatian lebih kepadanya. Bukan Alex. Selama ini Alex bersikap biasa-biasa saja. Dia hanya menganggap Viola sebagai teman biasa. Teman yang sejak kecil telah dikenalnya. Bahkan mungkin dia hanya menganggap Viola sebagai adik saja.


Setelah selesai makan siang, Tania kembali ke kantornya dan menyuruh Reno untuk mengantar pulang Viola.


Reno mengemudi mobilnya dengan wajah penuh kebahagian. Disampingnya, gadis cantik pujaan hatinya duduk manis dengan tatapan lurus kedepan. Reno meliriknya, mengagumi diam-diam wajah yang sangat cantik. Bulu matanya yang lentik nampak jelas jika dilihat dari samping. Hidung mancung dan bibir tipis dibawahnya. Sudah sejak lama dia merindukan wajah itu. Walaupun dia tahu, bukan dirinya yang dirindukan oleh gadis itu.


"Sudah berapa hari Alex pergi?" suara lembut itu memecah keheningan. Reno menatap lurus kejalan yang akan dilaluinya. Siang hari di jalanan ibu kota rasanya tak pernah terlepas dari kemacetan. Beruntung kendaraannya masih bisa melaju dengan lancar walaupun harus beriringan dengan ribuan kendaraan yang lain.


"Seminggu. Terakhir aku ketemu dia waktu dia jenguk papa di rumah sakit. Habis itu dia pergi buat ngurus perusahaan yang baru di luar kota."


"Oh." Viola mengangguk pelan. "Sekarang gimana keadaan om Arga?"


"Ya..gitu. Belum ada perkembangan yang berarti. Masih dirawat dirumah sakit." Sahut Reno. Dia membelokkan mobilnya memasuki halaman sebuah rumah yang megah. Menghentikannya tepat didepan pintu rumah itu.

__ADS_1


"Terima kasih ya Ren. Kamu udah nganter aku pulang." Viola menatap Reno lembut. Tangannya bersiap untuk membuka pintu mobil disampingnya.


"Kamu gak nawarin aku mampir?" Reno tersenyum menatap gadis itu. Viola terkekeh mendengar pertanyaan Reno.


"Aku yakin kamu masih banyak kerjaan. Jadi aku gak akan nyuruh kamu buat mampir."


Reno ikut tertawa mendengar jawaban gadis itu.


"Baiklah. Tapi boleh kita ketemu lagi sebelum kamu kembali ke Paris?"


"Sure." gadis itu mengedipkan matanya." Aku juga masih lama disini kok."


Membuka pintu mobil dan melangkah turun. Reno begitu gemas melihat gadis itu. Ingin rasanya dia menahan agar gadis itu tidak pergi meninggalkannya. Kalau boleh, dia ingin membawa gadis itu pulang ke rumahnya. Tapi dia sadar diri. Dia harus bersabar menghadapi gadis itu.


Satu telepon masuk ke handphone Reno memaksa Reno untuk mengalihkan perhatiannya dari gadis cantik itu. Dia mengangkat telepon itu setelah sedikit tersenyum kepada Viola yang baru menutup pintu mobil.


"Ya, Om?" sapanya ketika pintu mobil sudah menutup. Dia melambaikan tangannya kearah Viola. Menganggukan kepalanya dan mulai menjalankan mobil pelan meninggalkan halaman rumah Viola.


"Iya. Aku udah dengar dari mama tadi. Kapan om pulang?"


".........."


"Aku tunggu dirumah ya Om."


".........."


"Iya om."


Reno mengarahkan mobilnya menuju kantor tempat mamanya berada. Senyuman tipis tersungging dibibirnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*****


__ADS_2