Rahasia Denis

Rahasia Denis
Lima Puluh Lima


__ADS_3

Motor yang dikendarai Denis melaju dengan kecepatan sedang ditengah barisan kendaraan lainnya di jalanan ibu kota. Sesekali lajunya tersendat karena kemacetan yang memang sudah menjadi ciri khas jalanan ibu kota diwaktu menjelang malam. Apalagi ketika lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah, otomatis semua kendaraan mau tidak mau harus berhenti. Walaupun begitu, ada saja pengendara yang gatal tangan untuk membunyikan klakson kendaraannya. Entah dengan tujuan apa. Yang jelas, hal itu justru meningkatkan stress setiap orang.


Kendaraan Denis terhimpit kendaraan lainnya. Matanya memperhatikan kendaraan lain didekatnya, jangan sampai jaraknya terlalu dekat dengan motornya. Bagaimanapun, dia tidak mau motor kesayangan satu-satunya akan tergores oleh kendaraan lain. Atau yang lebih fatal lagi, kalau sampai membahayakan keselamatannya.


Tiba-tiba matanya tertarik dengan sebuah mobil yang kaca bagian belakangnya terbuka perlahan. Hanya sedikit, namun mampu membuat mata Denis menajam memperhatikan dua orang yang duduk dikursi belakang. Dalam keremangan lampu jalan, dia dapat mengenali kedua orang itu. Namun dia harus memastikannya bahwa benar itu orang yang selama ini dia cari.


Ketika lampu berubah menjadi hijau, semua kendaraan kembali bergerak perlahan mengikuti arus didepannya. Denis menggerakkan motornya merapat kearah mobil yang telah mencuri perhatiannya. Tanpa terlalu ketara, dia mengikuti mobil itu hingga keluar dari jalur yang padat.


Sekarang mobil itu melaju dengan lancar dijalanan yang agak lengang dari kendaraan lain. Denis menjaga jarak dari mobil itu namun tetap bisa menjangkaunya dengan pandangannya.


Mobil itu berbelok ke sebuah kawasan yang disepanjang tepinya berjejer ruko yang masih ramai dengan pengunjung. Beberapa diantaranya sudah ada yang tutup.


Mobil yang diikuti Denis merapat kesebuah ruko yang nampak sudah tutup. Berhenti di tempat yang terlindung oleh bayangan pilar ruko yang kelam. Cahaya disekitarnya hanya remang-remang saja karena lampunya telah dimatikan.


Kedua orang yang duduk dikursi belakang, keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju bagian samping dari ruko tersebut. Ternyata ada pintu kecil disana dengan tangga menuju ke lantai atas.


Denis terus memperhatikan sambil mencari cara untuk bisa mendekati tempat itu.


Mobil yang ditinggalkan kedua orang itu masih menyisakan sopir didalamnya. Posisinya yang lebih kedepan menjadikanya membelakangi pintu tempat kedua orang tadi masuk.


Denis melepaskan helmnya. Memasang masker diwajahnya dan mulai berjalan mendekati mobil itu. Sang sopir nampak keluar dari mobil itu mulai menyalakan sebatang rokok. Dia berdiri disamping mobilnya sambil menghisap rokoknya.


Dengan sangat hati-hati, Denis mendekati pintu tempat kedua orang tadi menghilang. Matanya mengawasi sopir yang sedang asik merokok sambil memainkan handphonenya.


Akhirnya Denis bisa mencapai pintu kecil itu. Dia segera menaiki tangga yang sempit itu menuju ke bagian atas. Ternyata tangga itu membawa Denis ke lantai atas ruko. Ada sebuah pintu yang sepertinya mengarah kedalam ruangan ruko dari arah samping. Pintu itu tertutup.


Perlahan Denis memutar handle pintu itu dan mendorongnya. Ternyata tidak dikunci. Denis memasukinya tanpa menimbulkan suara.


Baru beberapa langkah dia memasuki ruangan itu, dia dapat mendengar percakapan dari dalam sana. Denis merapatkan tubuhnya didinding dan mulai menajamkan pendengarannya.


"Kamu yakin tempat ini aman?"


"Mereka tidak akan menyangka kalau kalian bersembunyi disini. Ini hanya untuk sementara saja. Sampai putramu bisa menyelesaikan semuanya."


"Apa dia sudah memberi kabar?"


"Dia bilang Alex akan segera melamar Viola." Terdengar suara perempuan yang menjawab.


"Kasihan sekali anak kita itu, dia tidak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan.."


Denis mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari sang pria yang berada disana, yang dia yakini sebagai orang yang selama ini sedang dia cari. Apa dia bilang tadi? Anak kita? Siapa yang dimaksud dengan anak kita? Ataukah dia yang salah dengar?


"Kita harus menyusun rencana yang matang. Jangan sampai semuanya gagal lagi seperti kejadian yang sudah lalu."


Suara perempuan kembali terdengar samar-samar.

__ADS_1


"Kamu sedang menyindirku, hmm?"


"Bukan seperti itu. Hanya saja, kita harus jadikan kegagalan kita sebagai pelajaran. Jangan sampai kita tidak mendapatkan hasil apa-apa setelah mengorbankan segalanya."


Hening untuk sesaat.


"Jadi, kapan kita akan menyelesaikan semuanya?" Suara pria lainnya terdengar bertanya.


"Tunggulah waktu yang tepat. Putramu akan mengabarkan hal itu." Pria pertama yang menjawab.


"Aku sudah tidak sabar.."


Setelah itu tidak terdengar ada yang berbicara untuk beberapa saat. Denis menahan nafasnya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sepertinya ketiga orang itu sudah berpindah tempat. Karena terdengar suara pintu yang dibuka dan kemudian menutup.


Denis segera keluar dari tempat itu. Dengan hati-hati dia menutup pintu dibelakangnya. Menuruni anak tangga secepat mungkin sebelum orang-orang menyadari ada dirinya yang menyusup ke dalam ruko.


*****


"Kamu yakin mereka ada ditempat itu?"


"Gue yakin, bang. Lo punya anak buah disekitar situ?"


Denis menceritakan apa yang dia temukan kepada Jack. Ya, hanya Jack yang dia percaya. Dia juga tinggal ditempatnya Jack dan bekerja disana setelah keluar dari rumah Alex.


"Gue akan menyuruh anak buah gue buat ngawasin tempat itu dua puluh empat jam. Lo gak perlu khawatir. Lo tahu, tukang parkir disana masih orang kita.."


Denis mengangguk lega. Dia harus terus mengawasi kedua orang itu. Jangan sampai dia kehilangan jejak dari dua orang yang paling dicari oleh Alex selama ini.


*****


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Alex kembali menjejakkan kakinya di sebuah klub malam. Kalau bukan karena suasana hatinya yang sedang gundah, dia tidak akan mau menginjakkan kakinya disana. Atas bujukan teman-temannya, akhirnya Alex setuju untuk menghabiskan malam ini di tempat hiburan para anak muda ibu kota.


Sebotol minuman menjadi pelengkap acara reuni para pria yang masih jomblo hingga hari ini. Ketiga sahabat yang sempat terpisah karena berbagai peristiwa yang menimpa Alex. Setelah kepulangan Alex kerumahnya, dia tidak punya kesempatan untuk sekedar hang out bersama teman-temannya. Waktunya dia habiskan untuk mengurus perusahaan dan mengurus papanya. Juga menyelesaikan masalahnya dengan Tania dan Bisma.


Sekarang dia benar-benar memerlukan teman-temannya untuk melepaskan semua kegundahan hatinya. Dia butuh teman untuk hanya sekedar mendengarkan dia berbicara. Setelah kepergian Denis, dia merasa hidupnya menjadi asing dan hampa.


Alex meneguk minumannya.


"Kamu kelihatan kacau banget, Lex. Biasanya kamu nolak buat minum ginian." Marvel menatap sahabatnya itu dengan tatapan miris. Dia tahu Alex sedang dalam masalah. Namun dia tidak tahu masalah apa yang sedang melanda sahabatnya itu. Lagipula, dia juga sudah mendengar sedikit tentang temannya itu. Tentang masalah yang sedang dihadapinya. Namun dia tidak mau menanyakan langsung karena dia melihat Alex tidak ingin mengumbar masalahnya. Atau dengan kata lain, dia berusaha menutupi masalahnya.


"Kalau ada masalah kamu cerita aja sama kita. Jangan kamu simpan sendiri." Derry menimpali.


"Aku akan bertunangan dengan Viola." Seharusnya kabar bahagia diucapkan dengan penuh semangat dan ceria. Namun Alex mengucapkannya seolah itu adalah suatu malapetaka.

__ADS_1


Kedua temannya terpana mendengar kalimat Alex yang terdengar sangat menyedihkan itu.


"What?? Kamu gak salah kan?"


Marvel mencondongkan tubuhnya merapat ke meja. Matanya bulat menatap Alex. Derry ikut memasang telinga untuk mendengar informasi penting yang akan disampaikan oleh Alex.


Alex memutarkan gelas diatas meja. Matanya mengikuti gerakan gelas yang dibuat oleh tangannya. Tatapan kosong dan putus asa.


"Kamu serius?" Derry menatap intens temannya itu.


"Aku serius. Aku harus melakukan ini."


"Kenapa harus? Aku tahu kamu tidak mencintai dia."


Alex tersenyum dingin. Alih-alih menjawab pertanyaan Derry, dia kembali meneguk minumannya.


Setelah beberapa gelas dia menghabiskan minuman itu, tubuhnya terasa sedikit melayang dan kepalanya terasa pusing. Dia berharap, beban pikirannya akan ikut melayang seperti yang dirasakan oleh beban tubuhnya.


"Aku harus menikahi seorang wanita, karena apa? Karena aku adalah lelaki sejati..Haha.." Suaranya mulai tidak fokus. Derry dan Marvel ikut tertawa mendengar ucapan Alex dalam keadaan yang sudah setengah sadar.


"Ya kamu benar. Tapi aku sudah membuktikan diriku lelaki sejati walaupun tidak menikah. Haha.." Marvel melayani kegilaan temannya. Dia ingat bagaimana dia telah menghabiskan malam bersama Viola suatu masa dulu. Saat Viola sedang sangat kecewa terhadap Alex yang telah mengabaikannya.


Mungkin hanya Alex pria yang tidak menyukai Viola. Marvel sendiri sudah menyukai Viola sejak lama. Tapi wanita itu hanya menyukai satu pria saja, yaitu Alex. Hanya saja malam itu, entah apa yang terjadi. Mungkin karena tingkat frustasinya yang telah melebihi batas, hingga Viola bersedia menghabiskan malam bersama Marvel. Namun hal itu tidak berlanjut. Viola tidak pernah mau menerima ajakan Marvel berikutnya. Seakan malam itu tidak berarti apa-apa bagi gadis itu.


Derry meninju bahu Marvel sambil tertawa keras. Merasa lucu dengan tingkah Alex yang mulai hilang kendali. Disatu sisi dia juga merasa miris melihat temannya dalam keadaan frustasi. Derry tidak tahu, apa alasannya hingga Alex mau melamar Viola yang jelas-jelas tidak pernah dia inginkan.


"Aku mau pulang." Alex bangkit dengan sedikit kesusahan.


"Kamu gak bisa nyetir dalam keadaan begini." Marvel membantu temannya itu berjalan meninggalkan tempat mereka duduk.


"Aku mau telepon Faisal, biar dia jemput." Derry mengeluarkan handphonenya. Dia sendiri merasa sedikit pusing efek dari minuman yang dia konsumsi. Namun tidak separah Alex.


Mereka menuju tempat parkir dimana mobil Alex berada.


Derry terus berusaha menelepon Faisal. Namun entah kenapa, nomornya sangat sulit untuk dihubungi.


Marvel mencari kunci mobil Alex disaku jaketnya. Setelah menemukannya, dia membuka pintu mobil itu dan memasukkan Alex ke kursi penumpang.


"Hai, aku mau nyetir sendiri. Kenapa masuk dari sebelah sini?" Hanya sebuah racauan, karena setelahnya, Alex langsung ambruk dan terkulai ditempat duduknya.


"Kenapa dia?" Seseorang datang dan menatap Alex khawatir.


Marvel dan Derry menoleh ke arah orang yang baru datang.


"Kamu siapa?"

__ADS_1


*****


__ADS_2