Rahasia Denis

Rahasia Denis
Sembilan Puluh Dua


__ADS_3

Alex dilanda kebingungan yang teramat sangat. Batinnya berperang dalam dua pilihan. Tetap menyimpan rahasia atau mengatakannya saat itu dengan resiko yang tidak dapat dia bayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Dia sangat takut kehilangan Denis. Bahkan hanya untuk menghadapi kemarahannya rasanya dia tak sanggup. Apalagi kalau seandainya gadis itu berniat mundur dari rencana pernikahannya. Itu sangat mengerikan.


Dokter telah bicara padanya tentang kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada Reno. Mereka sudah tidak memiliki cara lain lagi selain pasrah pada kehendak Yang Maha Kuasa.


Alex menerima itu jika saja Reno adalah benar-benar adiknya. Adik satu darah dari ayah yang sama. Dia akan ikhlas menerima takdirnya untuk ditinggal oleh semua orang yang disebut sebagai keluarga.


Namun saat ini berbeda. Semenjak dia tahu satu rahasia yang dimiliki oleh Bisma, ketenangan hati Alex sudah terusik. Mungkin seharusnya dia katakan saja dengan terus terang masalah ini kepada Denis. Namun, Alex terlalu takut menghadapi reaksi dari gadis itu.


"Alex.." Denis menyentuh tangan Alex. Digenggamnya dengan hangat tangan pria itu. Matanya yang sebening embun pagi menatap lembut wajah pria yang nampak sangat gelisah itu.


"Tenangkan diri kamu. Aku yakin Reno akan bisa bertahan." Suaranya sangat lembut, bagaikan air pegunungan yang merambati setiap relung hati Alex. Namun satu kenyataan yang masih disembunyikan Alex bagaikan batu penghalang yang mengganjal dan sulit untuk dienyahkan.


"Denis.." Nafas Alex tertahan. Mulutnya sudah terbuka untuk mengatakan itu, namun kembali mengatup dan menahan lidahnya yang kelu.


Remasan lembut terasa di jemari tangan Alex. Gadis itu seolah tahu kalau Alex sedang ada dalam dilema yang besar. Matanya menatap lekat wajah Alex, menunggu apapun yang akan diucapkan oleh pria itu.


"Dokter bilang, keadaan Reno sangat..sangat buruk." Alex menelan salivanya sebelum melanjutkan apa yang ingin dia katakan. "Aku..sudah menyuruh pengacara untuk memberitahu Om Bisma..tentang keadaan Reno."


"Siapa?" Denis seolah ingin meyakinkan kalau pendengarannya tidak sedang bermasalah saat mendengar nama itu disebut.


"Om Bisma.." Alex menguatkan hatinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya saat itu juga.


Denis mengerutkan keningnya. Sorot matanya berubah kelam saat ini. Wajahnya yang tenang telah berubah sedikit mengeras saat mendengar nama itu disebut.


"Kenapa?"


Alex menatap mata gadis itu bergantian. Menahan mata itu agar tetap menatapnya.


"Reno..Reno anak biologis Om Bisma.."


"Apa?!" Mata Denis melebar. Genggaman tangannya terlepas. "Kamu lagi bercanda 'kan?"


"Tidak." Alex menggelengkan kepalanya. "Aku serius. Dia putra Om Bisma. Bukan putra papaku." Alex mendesah pelan. Ada sedikit kelegaan saat hal itu lolos dari bibirnya. Sekarang tinggal menunggu reaksi dari gadis itu. Apapun itu, harus dia hadapi.


Denis tertegun. Matanya menatap nanar lorong rumah sakit yang sunyi. Hanya suara monitor dari kamar Reno yang terdengar menghiasi suasana saat itu.


"Kamu pasti bohong." Lirih suaranya. Seakan tak bisa menerima apa yang baru saja disampaikan oleh Alex. Satu sudut bibirnya terangkat. Dia tersenyum miris. Saat dia menoleh kepada Alex, nampak ada kaca-kaca bening yang menyelimuti matanya.


"Kamu bohong kan? Kenapa kamu mengatakan ini padaku?" Suaranya pelan dan dalam. Sedikit bergetar karena menahan sesak didadanya.

__ADS_1


Alex menggeleng pelan. Sorot matanya sayu dan penuh sesal membalas tatapan nanar gadis itu.


"Maafkan aku. Tapi inilah kenyataan yang sebenarnya. Aku terpaksa mengatakan ini padamu. Aku takut ini adalah akhir dari hidup Reno. Kamu harus tahu yang sebenarnya. Aku tidak mau menyesal karena telah menutupi ini dari kamu."


"Sejak kapan kamu tahu hal ini?" Tak menghiraukan ucapan Alex.


"Aku juga baru tahu belum lama ini. Percayalah, aku selalu menganggap Reno sebagai adikku. Aku tak ingin dia berakhir dengan cara seperti ini."


Denis bangkit dari duduknya dengan gusar. Seringai getir menghiasi wajahnya yang berpaling dari tatapan Alex.


"Aku tidak percaya ini."


"Maafkan aku. Jujur, aku tidak ingin mengatakan ini padamu. Lebih baik aku menyembunyikan ini darimu seumur hidupku daripada melihatmu terluka seperti ini."


"Apa menurutmu aku terluka?" Denis menatap nyalang pria itu. "Kamu yang terluka 'kan? Bukan aku. Aku bahkan tidak merasa heran jika itu memang yang sebenarnya."


"Denis.."


"Lagi-lagi kamu sudah menunjukkan kalau aku memang tak pantas untukmu. Aku terlalu rendah dibandingkan dirimu yang selalu terluka oleh pria itu. Aku..seharusnya..kita tidak menjalin hubungan ini.."


Dan kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar dengan telaknya. Itulah yang ditakutkan Alex. Dan sekarang apa yang ditakutkannya sudah terlontar dari mulut gadis itu.


"Aku perlu memikirkan lagi tentang kita.."


"Denis..jangan.." Alex tercekat. Dia sangat lemah bila menghadapi gadis ini. Kata yang baru saja diucapkan gadis itu seperti sebuah batu besar yang menghantam dadanya dan menghimpitnya hingga ia kesulitan untuk bernafas.


Mungkin orang akan berpikir kalau dia terlalu naif saat menghadapi gadis itu. Tapi itulah dia. Dia yang sangat dan terlalu mencintai gadis itu. Cinta luar biasa yang baru dia rasakan kepada seseorang. Cinta yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dan dia tidak ingin kehilangan cinta itu. Bahkan membayangkannya pun dia tak sanggup.


Tapi takdir sedang mempermainkannya. Entah apa lagi yang akan dia hadapi setelah ini. Ucapan gadis itu seperti sedang menusukkan pedang ke jantungnya secara perlahan. Sangat sakit dan perih.


*****


Kekuatan doa dari orangtua memang sangat ajaib. Sejahat apapun, sebejat apapun manusia, dia selalu inginkan yang terbaik untuk putra putrinya. Mereka akan bersungguh-sungguh mendoakan kebaikan dan keselamatan untuk putra putri mereka.


Begitu juga dengan Bisma dan Tania. Setelah mengetahui keadaan Reno yang sedang kritis dirumah sakit, dengan khusyuk mereka mendoakan yang terbaik untuk putra mereka itu. Ditempat yang terpisah, mereka menundukkan kepala mereka dihadapan Sang Pencipta. Menadahkan tangan dengan penuh harap dan merendahkan diri diatas semua kuasa dari Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang mampu memberikan kebaikan dan keselamatan selain dari-Nya.


Airmata sesal membasahi wajah mereka yang merapat dengan tempat sujud mereka.


Ingin sekali berada disamping putra mereka yang sedang berjuang menghadapi maut. Namun apa daya, keadaan mereka saat ini tidak memungkinkan.

__ADS_1


Alex sudah menyuruh pengacaranya untuk memohon agar bisa menghadirkan Bisma atau Tania dirumah sakit. Namun upayanya tidak berhasil. Pihak yang berwenang menolak permohonannya itu.


Malam itu Alex masih menemani Reno diruangannya yang dingin. Denis duduk diam disampingnya dengan wajah yang kaku. Dia tidak lagi banyak bicara sejak Alex memberitahunya tentang Reno.


Monitor yang memantau kondisi tubuh Reno masih berbunyi teratur. Begitu juga dengan tubuh Reno. Nampak tenang dengan nafasnya yang turun naik secara normal. Nampak seperti orang yang sedang tidur pada umumnya.


Rania sudah menyuruh Davin untuk mengantarkan makan malam untuk kedua orang itu. Walau hanya sedikit yang disentuh Denis, tapi setidaknya dia tidak mengosongkan perutnya sama sekali.


Alex belum menceritakan apapun pada Rania. Dia berpikir ini bukan waktu yang tepat. Reno masih butuh perhatian dari dirinya. Lagi pula dia tidak mau membuat calon ibu mertuanya itu khawatir dengan kelangsungan acara pernikahan mereka yang akan digelar beberapa hari lagi.


Alex mendesah pelan. Dia mengalihkan tatapannya dari tubuh Reno ke arah Denis yang sedang menyandar di sofa dengan matanya yang terpejam. Kedua tangannya terlipat didada. Semenjak Alex mengatakan tentang siapa Reno sebenarnya, Denis lebih memilih untuk diam tak banyak bicara.


Tangan Alex terulur menyentuh pucuk kepala gadis itu.


Mata Denis terbuka saat merasakan hangat tangan Alex dikepalanya.


"Maaf. Aku membuatmu terbangun." Ucap Alex pelan.


Denis tidak menyahut. Dia sedikit menggeserkan duduknya menjauh dari Alex.


"Sayang.."


Denis memejamkan matanya mendengar panggilan pelan penuh rasa putus asa dari bibir Alex. Hatinya terasa sakit. Namun dia tahu, sesakit apa yang dirasakan Alex akibat ulah pria yang bernama Bisma. Bukan hanya sekali pria itu menyakiti hati dan jiwa Alex. Bisma juga pernah beberapa kali mencoba membunuh Alex, bahkan didepan Denis sendiri.


Dan sekarang, satu fakta lagi yang baru diketahui Denis kalau ternyata Reno adalah anak hasil perselingkuhan Bisma dengan Tania. Itu sangat membuat rasa percaya diri Denis jatuh ke dasar jurang dimata Alex. Dia tidak bisa menerima itu.


"Kalau kamu mengantuk, tidur saja. Atau, kamu mau pulang?" Tanya Alex seraya menatap Denis yang duduk diujung sofa.


Denis tidak segera menjawab. Matanya lurus menatap ke arah Reno yang terbaring diatas brankar.


"Lihat." Dia menunjuk ke arah Reno.


"Apa?" Alex mengikuti arah pandang Denis.


Alex segera bangkit dari duduknya dan menghampiri tempat Reno terbaring. Denis mengikuti langkah pria itu dan berdiri disamping Alex.


Perhatian mereka terpusat pada Reno yang saat itu baru saja membuka matanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2