Rahasia Denis

Rahasia Denis
Tujuh Puluh Empat


__ADS_3

Keluar dari rumah sakit dengan wajah yang mengeras. Denis melajukan motor merahnya membelah jalanan ibukota yang selalu padat dengan kendaraan di siang hari. Memainkan mesin motornya saat berhenti di lampu merah. Asap kendaraan mengepul dari knalpot menambah polusi udara di siang yang semakin terik.


Handphone di saku jaketnya berbunyi. Denis merogohnya dan menjawab panggilan telepon itu.


Itu dari Rania, mamanya. Menanyakan dia sedang dimana karena tidak ada dirumah. Denis menjawab singkat kalau dia baru saja menemui neneknya di rumah sakit.


"Makan siang di rumah, ya sayang. Mama masak makanan favorit kamu."


Denis mengiyakan walaupun tidak tahu apa yang dimaksud dengan makanan favoritnya. Memasukkan lagi ponsel ke dalam saku jaketnya bersamaan dengan pergantian warna lampu kendaraan.


Melajukan lagi motornya menuju satu tempat yang tiba-tiba terlintas dipikirannya. Sebuah kafe yang pernah dia singgahi beberapa kali sebelumnya.


Denis memarkirkan motornya di pelataran parkir kafe tersebut. Membuka helmnya sebelum turun dari motor. Sesaat dia mengamati keadaan sekitar parkir yang banyak terisi kendaraan bermotor sambil merapikan rambutnya yang sedikit kusut.


Memasuki ruangan kafe dan memilih sebuah meja yang ada didekat kaca. Seorang gadis berseragam kafe tersebut segera menghampirinya.


"Mas Denis." Sapanya begitu sudah berada didekat Denis.


Denis menoleh. Bibirnya tersenyum sedikit menjawab sapaan gadis tersebut.


"Apa kabar? Lama gak datang kesini?" Suara riang dari gadis itu sepertinya sudah menjadi ciri khasnya.


Gadis itu adalah Mariana. Dia tersenyum senang ketika melihat Denis memasuki tempat kerjanya.


"Baik." Singkat saja jawaban dari bibir Denis.


"Sendirian aja? Mau aku temenin mas?" Mariana melebarkan senyumnya. Matanya mengedip dengan genitnya menggoda Denis. Mariana tahu siapa Denis. Tapi masih saja suka memanggil dengan sebutan 'mas'.


"Gue kesini mau pesen minuman. Bukan buat ngobrol sama lo." Denis mendelik tajam.


Mariana tidak marah mendapat kata-kata pedas dari tamu kafenya itu. Dia malah terkekeh tanpa merasa malu sama sekali.


"Iya deh. Mas Denis mau pesen apa?" Tanya Mariana akhirnya.


Denis menyebutkan minuman yang diinginkannya.


"Makanannya, mas?"


"Nanti aja."


"Gak ada dimenu tuh, mas."


Denis melebarkan matanya mendelik kearah Mariana. Dibalas dengan cengiran oleh gadis itu.


"Hehe. Iya, iya. Tunggu ya, mas ganteng."


"Awas kalo lama." Ancamnya saat Mariana beranjak dari hadapannya. Lagi-lagi Mariana tertawa mendengarnya.


Tidak memerlukan waktu yang lama, Mariana sudah kembali dengan membawa minuman yang dipesan Denis.


"Gak lama kan?" Mariana terkekeh.


"Ngapain lo ketawa-ketawa?"


"Ih, mas Denis galak banget. Gak laku lho nanti. Perawan dilarang galak-galak, mas." Alih-alih pergi meninggalkan Denis, Mariana malah duduk dihadapan gadis itu.

__ADS_1


"Apa lo bilang? Lo tahu gue cewek tapi lo manggil gue 'mas'?" Pelan suara Denis sambil sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Mariana.


"Habis, mas Denis kayak cowok banget. Teman-teman aku tuh yang cewek pada nitip salam noh. Mereka suka sama mas Denis. Diterima apa enggak?"


Mariana melirik teman-temannya yang memang sedang memperhatikan ke arah mereka.


"Gue gak minat sama temen-temen lo itu."


"Yeay..berarti masih normal, ya?" Mariana berseru dalam bisikan. Matanya mengedip-ngedip sambil memicing kearah Denis.


Denis menggelengkan kepalanya pelan. Baru kali ini dia ketemu sama orang yang se-absurd Mariana.


"Eh. Kebetulan ketemu mas Denis hari ini. Kemarin mas Anwar nelepon. Dia tanya apa aku ketemu mas Denis. Kalau ketemu dia titip salam gitu. Bapak juga nitip salam. Mereka kangen sama mas Denis." Mariana merubah mimik wajahnya.


"Terus lo bilang apa?"


"Aku bilang kalau mas Denis sudah ketemu sama mamanya. Mas Anwar pengen tahu, apa mas Denis baik-baik aja sekarang. Dimana mas Denis tinggal? Apa mas Denis sekarang tinggal sama keluarga mas Denis?" Mariana menatap Denis serius.


"Iya. Gue tinggal sama mama gue sekarang. Bilangin sama mereka, gue baik-baik aja." Denis menyeruput minumannya pelan. Matanya menatap gelas dihadapannya.


"Tapi kok mas Denis gak kelihatan seneng sih? Datang kesini juga sendirian. Mana mas Alex? Kalian masih sering ketemu 'kan?"


"Emang lo tahu kalau gue seneng apa enggak?"


"Ya tahu lah. Orang kalau seneng, mukanya itu berseri-seri. Sorot matanya juga bakalan kelihatan. Beda kalau orang yang sedih atau marah. Aku tahu dong ekspresi orang-orang. Yang datang ke kafe ini juga kan macam-macam. Udah kebaca deh dari mukanya juga."


"Sok tahu lo." Denis mencibirkan bibirnya.


"Yee dibilangin gak percaya. Mentang-mentang aku bukan sarjana psikologi." Mariana merengut.


"Ih mas Denis jahat. Masa Mariana yang cantik gini dibilang psikopat. Gak cocok banget."


Mariana menghentakkan kakinya saat beranjak dari meja Denis. Dia pergi meninggalkan Denis karena harus melayani pelanggan lain yang baru saja datang memasuki kafe.


Denis hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Mariana. Kembali disesapnya minuman yang tinggal separuh di dalam gelas.


Matanya menerawang menembus dinding kaca yang bening. Memikirkan kehidupannya yang tak pernah lepas dari masalah. Meredakan rasa amarahnya karena sikap Aryanti yang dirasa sangat keterlaluan kepada dirinya.


Kalau mengikutkan egonya, ingin rasanya dia kembali menentang wanita tua itu. Kalau saja dia adalah Denis yang dulu. Denis yang tidak pernah memikirkan apapun. Yang bertindak sesuai dengan egonya. Dia pasti sudah pergi meninggalkan semua yang telah membuat dirinya merasa tidak nyaman.


Namun entah mengapa, sejak mengetahui fakta siapa ayah kandungnya yang sebenarnya, Denis merasa kalau dirinya tidak sama lagi seperti dulu.


Selain merasa bahwa dirinya tidak berarti apa-apa bagi keluarganya, dia kini menyadari bahwa, dia tidak ada artinya tanpa keluarga mamanya. Saat ini Denis merasa bahwa, tidak penting apa yang dia inginkan dalam kehidupan ini. Yang penting dia ingin memenuhi keinginan dari setiap orang yang ada disekitar dirinya. Neneknya. Mamanya. Hanya mereka yang dia punya.


Menghela nafas dengan berat. Denis semakin memantapkan hati dan pikirannya. Dia tidak akan menyesal dengan keputusan ini.


Telepon di saku jaketnya berbunyi. Denis mengambilnya dan menjawabnya.


"Kamu dimana , sayang? Ini sudah waktunya makan siang. Kamu gak makan siang dirumah?"


"Aku lagi ditempat teman."


"Dokter dari rumah sakit tadi nelepon. Dia bilang kamu harus ke rumah sakit sore ini buat persiapan operasi besok."


Sedikit ragu Rania mengatakan itu. Bagaimanapun dia masih belum bisa menerima keputusan Denis untuk mendonorkan ginjalnya.

__ADS_1


"Aku akan segera pulang."


Denis menyimpan kembali handphonenya setelah selesai bicara dengan mamanya.


"Hai. Denis."


Seseorang menepuk bahunya. Denis menoleh.


"Ricko."


"Wah. Lama gak ketemu. Kemana aja lo?" Ricko mengepalkan tangannya dihadapan Denis dan disambut oleh kepalan tangan Denis yang diadukan dengan kepalan tangan Ricko.


Tanpa menunggu disuruh, Ricko duduk dihadapan Denis.


"Kenapa gak pernah lagi balapan lo?" Ricko merubah pertanyaannya.


"Belum sempat. Sama siapa lo?" Denis mengedarkan pandangannya mencari orang yang datang bersama Ricko.


"Gue sendiri. Kebetulan lewat tempat ini. Gak sengaja lihat lo." Ricko tersenyum. Tangannya melambai memanggil seorang pramusaji yang ternyata adalah Mariana.


"Mau pesan apa mas?" Dengan sigap Mariana menyiapkan catatannya. Matanya mengedip kearah Denis.


"Kenapa mata lo? Kelilipan?" Denis menatap tajam gadis itu.


"Kelilipan cowok ganteng, mas. Hehe." Mariana nyengir lebar. Ricko mengerutkan keningnya melihat dua orang itu yang sepertinya sudah saling kenal.


"Mbak? Jadi gak nulis pesanan gue?"


"Ya jadi dong mas. Mau pesan apa? Hati saya belum ada yang punya lo mas. Hehe."


Ricko menggelengkan kepalanya mendapat jawaban Mariana yang ngaco. Tanpa mempedulikan sikap Mariana, dia menyebutkan minuman dan makanan yang diinginkannya. Dia juga memesankan makanan untuk Denis. Tidak ada penolakan dari orang yang kalau di arena balap merupakan musuh bebuyutannya itu.


"Lo kenal sama pelayan itu?" Tanya Ricko setelah Mariana berlalu.


"Kenapa? Naksir lo?"


"Gila aja gue naksir sama dia. Bukan tipe gue."


Keduanya kemudian terlibat obrolan tentang balapan yang selama ini selalu mempertemukan keduanya. Di arena balap mereka memang musuh. Tapi itu hanya untuk mengasah kemampuan masing-masing dalam ajang penyaluran hobbi yang cukup ekstrim dan menantang adrenalin itu. Diluar itu mereka berdua tidak memiliki masalah yang cukup berarti.


Berbagai hal menjadi topik obrolan mereka. Utamanya tentang motor yang mereka gunakan untuk balapan. Itu adalah topik yang membuat mereka semakin seru membahasnya.


"Lo tahu. Terakhir kita ketemu itu gue kena rajia polisi. Beberapa hari gue nginep di kantor polisi."


"Oya? Hebat lo."


"Gila. Hebat dari mananya? Itu gara-gara apa ya?" Kembali keduanya terlibat obrolan tentang malam naas itu. Sesekali Ricko tertawa mengingat kekonyolan yang telah mereka lakukan hingga seringkali mereka main petak umpet dengan petugas keamanan.


Biasanya Denis jarang berinteraksi dengan seseorang dalam waktu yang lama. Tapi hari ini, dia bicara banyak dengan Ricko. Disambung saat mereka menyantap makan siang yang diselingi obrolan ringan lainnya. Tanpa terasa dia sudah menghabiskan waktu lebih dari satu jam di dalam kafe itu.


"Denis?"


Seorang pria datang dengan tiba-tiba. Matanya menatap Denis dan Ricko dengan tatapan yang tajam dan kelihatan seakan...cemburu.


*****

__ADS_1


__ADS_2