Rahasia Denis

Rahasia Denis
Sembilan Puluh Tiga


__ADS_3

Sungguh suatu keajaiban yang luar biasa. Dokter dan perawat yang menangani Reno tak henti mengungkapkan syukur dan rasa takjubnya atas sadarnya Reno saat ini.


Terlebih lagi Alex yang terus berada disisi Reno selama masa kritisnya. Dia sangat lega. Seakan ada satu beban yang terlepas dari dadanya saat melihat mata Reno yang kembali terbuka dan menyorotkan cahaya kehidupan.


Kondisi Reno yang belum sepenuhnya pulih, mengharuskan dia tetap berada dirumah sakit untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Dia sudah dipindah ke ruang rawat inap VVIP atas rekomendasi Alex. Tentu dengan penjagaan dari aparat yang selalu siaga 24 jam.


Alex hanya sesekali saja menjenguk keadaan Reno. Setelah Reno melewati masa kritisnya, Alex tidak perlu merasa khawatir lagi. Dia bisa meninggalkannya dengan menitipkan kepada perawat dan juga petugas yang selalu menjaganya.


Dia bisa fokus mengurus pekerjaannya yang semakin menumpuk saja setelah ditinggal dua hari untuk menjaga Reno. Belum lagi rencana pernikahan yang hanya tinggal beberapa hari lagi yang memerlukan perhatian extra darinya. Untunglah dia memiliki calon mama mertua yang sangat perhatian dan antusias untuk menyiapkan semuanya. Dengan senang hati Rania membantu menguruskan semua ***** bengek persiapan acara pernikahan putrinya. Dia sangat faham kalau Alex dan Denis tidak bisa menguruskan semuanya.


Dan, jangan lupakan Denis yang sejak sadarnya Reno jadi semakin sulit untuk dihubungi. Alex sangat resah dengan sikap gadis itu. Tapi pekerjaannya yang tiada habisnya membuat dia dengan terpaksa sedikit mengabaikan masalahnya dengan Denis. Dia fikir, biarlah nanti setelah dia menyelesaikan pekerjaannya dia akan mengajak gadis itu bicara.


Namun rasa rindunya pada gadis itu tak terbendung lagi. Pagi ini dia datang ke kediaman Denis. Mungkin hanya pagi harilah dia punya waktu untuk bertemu dengan tunangannya itu walau hanya sebentar. Siang nanti ada pertemuan penting dengan klien. Dan sudah dapat dipastikan dia akan pulang larut malam seperti biasanya.


Semua orang ada di meja makan kecuali Denis. Alex mengucapkan salam kepada Andres dan Rania saat memasuki ruang makan. Davin sudah siap mengambil sarapannya saat Alex datang.


"Alex. Duduklah." Rania tersenyum menatap calon menantunya. Alex hanya tersenyum sedikit dengan mata beredar mencari keberadaaan tunangan yang sangat dia rindukan.


"Denis belum turun. Dia masih dikamarnya." Celetuk Davin, seolah bisa membaca arti tatapan pria itu.


"Boleh saya menemuinya, Tante?" Tanya Alex dengan sopan kepada Rania.


"Pergilah." Rania mengangguk.


"Alex!" Panggilan Rania menghentikan langkah Alex untuk menuju tangga. Dia menoleh kearah Rania, menatap penuh tanya.


"Apa kalian sedang dalam masalah?" Tanya Rania dengan tatapan penuh selidik. Alex agak terkejut mendengar pertanyaan Rania. Namun dia berusaha menetralkan ekspresi di wajahnya. Dia sebenarnya sudah menduga pertanyaan itu akan dilontarkan oleh Rania.


"Tidak. Kenapa tante bertanya seperti itu?" Pura-pura tidak mengerti dengan maksud dari pertanyaan calon mama mertuanya itu.


"Sudahlah sayang. Kalaupun mereka ada masalah, mereka pasti bisa menyelesaikannya. Mereka sudah dewasa." Andres menyela. "Berikan mereka waktu untuk bicara." Ucapnya kemudian.


Rania menghela nafas. Jelas terlihat kalau dia belum merasa puas bertanya kepada Alex karena Andres sudah memotong pembicaraannya.


"Ya, sudah. Kalau begitu pergilah temui dia. Ajak dia turun untuk sarapan bersama." Ujar Rania akhirnya. Dengan harapan apa yang menjadi kekhawatirannya bukanlah suatu yang serius.


Alex menganggukkan kepalanya. Setelah pamit sekali lagi kepada Andres dan Rania, Alex segera melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Dibelakangnya, Rania, Andres dan Davin hanya saling memandang.


"Mama rasa sepertinya mereka memang sedang ada masalah." Ujar Rania sambil menatap punggung Alex yang sudah ada di ujung tangga.


"Sepertinya begitu. Denis juga gak mau ngomong sama aku." Ucap Davin menimpali.

__ADS_1


"Kita doakan saja semoga tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Pernikahan mereka hanya tinggal beberapa hari lagi." Ujar Andres.


Ketiganya kemudian melanjutkan acara sarapan pagi itu tanpa ada Denis bersama mereka.


*****


Alex mengetuk pintu kamar Denis. Dua kali dia mengetuk baru kemudian terdengar sahutan dari dalam kamar. Suara Denis menyuruhnya untuk masuk.


Setelah mendapat ijin dari sang empunya kamar, Alex memutar handle pintu dan mendorongnya pelan.


Denis nampak sedang menyisir rambutnya menggunakan jarinya didepan jendela kamarnya. Jangan membayangkan ada meja rias dikamarnya. Sebab itu tak akan ada gunanya untuk saat ini. Dia tidak menyukai itu.


Denis membalikkan tubuhnya saat dia melihat bayangan Alex dikaca jendela kamarnya.


"Ngapain lo kesini?"


Alex menghela nafas mendengar pertanyaan yang dingin dan sedikit kasar keluar dari mulut Denis. Ya. Sekarang ini dia merasa kalau ucapan gadis itu sedikit kasar setelah selama beberapa hari ini dia tidak ber-lo-gue kepada Alex.


"Sayang. Kenapa nanyanya begitu? Apa aku tidak boleh menemuimu? Aku kangen banget sama kamu." Alex menjawabnya dengan lembut. Langkahnya semakin mendekati gadis itu hingga mereka berjarak hanya satu langkah saja. Alex menatap gadis itu dengan hatinya yang terluka melihat sikap Denis yang kembali dingin padanya.


"Lo ga usah bersikap baik dan lembut sama gue." Denis menyeringai sinis. Dia memalingkan wajahnya dari tatapan Alex.


"Katakan sama gue. Apa tujuan lo ingin menikahi gue?" tanya Denis dengan suara rendah.


"Pertanyaan apa itu?" Alex menahan sesak yang tiba-tiba dia rasa. "Tentu saja karena aku mencintaimu. Apa kamu belum percaya kalau aku mencintaimu?"


"Setelah apa yang mereka lakukan sama lo, kenapa lo bilang kalau lo mencintai gue?"


"Denis, kenapa ini harus kembali dibahas? Kita sudah membahasnya dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Kamu tahu itu." Alex menatap lekat gadis itu dengan sorot matanya yang kelam.


"Apa yang lo lihat dari gue? Lo bisa nyari cewek yang sempurna dan sebanding sama lo." Denis memalingkan wajahnya. Dia membawa dirinya ke tepian jendela dan membelakangi Alex.


"Apa maksud ucapan kamu itu, sayang? Jangan bilang kalau kamu kembali ragu untuk menikah denganku. Ingat, pernikahan kita hanya tinggal dua hari lagi." Nafas Alex menderu. Matanya nanar menatap punggung gadis itu.


"Kita masih punya waktu kalau lo pengen ngebatalin pernikahan itu." Suara gadis itu terdengar mantap. Sepertinya dia sudah memikirkan apa yang akan dia katakan itu.


"Kamu mau membatalkan pernikahan kita? Hhh!" Alex tersenyum miring dengan mata yang mulai berkabut. "Kapan kamu akan berubah, Denis? Kamu ternyata masih sama, kamu adalah orang yang sangat suka lari dari masalah. Dibalik ketegaran kamu dan juga..kekerasan hati kamu, kamu tak lebih dari seorang yang sangat lemah dan tidak punya pendirian. Aku kecewa padamu. Kamu tidak seperti yang aku pikirkan."


"Baguslah kalau lo merasa kecewa sekarang. Daripada lo kecewa saat kita terlanjur menikah."


"Ya. Aku sangat kecewa. Dan aku tahu apa yang membuatmu begitu mudah mengatakan tentang pembatalan pernikahan, itu karena kamu tidak pernah mencintaiku. Hanya aku yang berusaha membangun cinta diantara kita. Tapi kamu tidak pernah punya perasaan yang sama denganku sedikitpun. Benar begitu kan?"

__ADS_1


Alex menarik bahu Denis sehingga tubuh gadis itu berbalik kepadanya. Mata mereka bertemu. Mata yang sama-sama menyimpan luka dan berselimutkan airmata.


"Katakan padaku kalau yang aku katakan ini benar atau salah. Kau tidak pernah mencintaiku?" Alex memaku mata gadis itu dengan bola matanya yang menggeletar.


"Lo tahu itu, lalu kenapa masih menginginkan gue?" Denis menentang mata Alex.


Dengan wajah datarnya Alex menaikan satu sudut bibirnya.


"Karena apa? Apa kalau aku mengatakannya kamu akan percaya dan hatimu akan menerima? Aku katakan sekali lagi. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Denisha Nathania Adiwijaya. Dengan seluruh jiwa dan ragaku, aku menginginkanmu." Ingin Alex berteriak saat mengatakan itu. Namun dia masih sadar sedang berada dimana dia saat ini. "Kau biarkan saja aku mati kalau kamu tidak mau menerima cintaku ini."


Alex mengangkat teleponnya yang berdering dihadapan Denis yang tertegun dengan nafasnya yang memburu. Kedua tangannya mengepal dikedua sisi tubuhnya.


"Hallo, Faisal?" Mata Alex masih lekat dimata gadis itu.


"Oke aku akan segera kesana." Alex menutup teleponnya. Tanpa berkata lagi kepada Denis dia membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar meninggalkan Denis yang masih terpaku ditempatnya berdiri.


Alex menutup pintu perlahan dan berdiri sesaat didepan kamar Denis. Mengusap sudut matanya dan barulah melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah.


"Lho? Mana Denis?" Rania yang sudah bersiap berangkat berpapasan di ruang bawah.


"Masih dikamarnya, tante. Maaf saya buru-buru. Asisten saya menelepon. Ada meeting pagi ini dan saya harus hadir."


"Kamu gak makan dulu?"


"Gampang nanti di kantor, tante. Saya permisi dulu."


Alex segera meninggalkan Rania yang masih penasaran dengan sikap Alex saat itu.


"Semoga saja mereka baik-baik saja." Gumam Rania disertai helaan nafasnya.


Sedangkan didalam kamar, Denis menjatuhkan tubuhnya diatas pembaringan. Membaringkan tubuhnya dengan kasar dan menutupkan lengan kanannya dikedua matanya. Agak lama dia dalam posisi itu dan mengatur nafasnya yang masih belum beraturan.


"Aku mencintaimu, Alex! Aku tidak mau kamu selalu terluka karena aku!" Hatinya menjerit.


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2