
Rumah megah yang berdiri mentereng dikawasan elit itu seakan kehilangan serinya. Tidak ada cahaya kebahagiaan yang terpancar dari dalam rumah itu. Penghuninya sedang kembali berduka. Berita sebelumnya adalah berita tentang kematian Alex, putra kesayangan sang pemilik rumah. Dan sekarang, berita menghilangnya Arga Dinata menyebar dari mulut ke mulut antar pekerja yang ada dirumah tersebut. Entah siapa yang menyebarkan untuk pertama kali. Yang jelas, Alex membatasi orang-orang yang mengetahui masalah ini demi keselamatan sang ayah.
Tapi berita sudah terlanjur menyebar, walaupun belum ada pernyataan resmi dari Alex. Meski begitu, mereka sepakat bahwa berita itu jangan sampai menyebar melewati dinding pembatas rumah itu. Semua membicarakannya sambil saling berbisik dan tidak ada yang berani sama sekali untuk membicarakannya secara terbuka.
Dibalik itu, kabar bahagia kembalinya putra pertama pemilik rumah itu dalam keadaan selamat membuat semua orang tak ingin berhenti untuk membicarakannya. Rasa penasaran bagaimana kisah dibalik berita meninggalnya Alex dan bagaimana pria itu bisa selamat hanya menjadi desas desus diantara mereka.
Yang mereka tahu hanyalah, sosok yang selalu berada tidak jauh dari Alex adalah dewa penolong bagi sang majikan. Semua orang ikut menunduk hormat kepada Denis ketika dia memasuki rumah besar itu. Dia mendapatkan fasilitas yang sama mewahnya dengan yang didapat Alex. Alex memperkenalkannya kepada seluruh penghuni rumah sebagai seorang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Dia menunjukkan sebuah kamar yang terletak berdampingan dengan kamar miliknya untuk ditempati oleh Denis. Awalnya Denis merasa enggan untuk menerima kebaikan Alex. Namun Alex memaksa dan dia berada disana sebagai sahabat Alex.
Alex sendiri sedang tidak ingin membahas mengenai dirinya. Fokusnya sekarang adalah tentang keselamatan papanya. Setelah meminta pihak rumah sakit untuk menunjukkan rekaman CCTV, dan juga meminta keterangan dari Yoni, pertama-tama yang dia lakukan adalah mencoba menghubungi nomor Bisma dari ponsel Yoni.
Namun sebelum dia dapat menghubungi pria itu, sebuah pesan telah terlebih dahulu masuk dan mengatakan kalau Arga Dinata akan baik-baik saja jika tidak ada polisi yang terlibat. Itu jelas sebuah ancaman. Dan Alex tidak bisa mengabaikan ancaman itu. Papanya berada di tangan Bisma. Dan Alex pernah merasakan kekejaman pria itu. Pria itu tidak akan bermain-main dengan ucapannya. Segera Alex memerintahkan anak buahnya untuk bersiap dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Alex menghubungi pengacara keluarganya yang dia yakini masih setia kepada papanya. Dia juga mulai mendata orang-orang penting dan orang-orang yang loyal terhadapnya. Sangat penting dalam keadaan seperti sekarang ini dia mengenali siapa kawan dan siapa lawan. Namun untunglah, ternyata Bisma dan Tania tidak banyak melibatkan orang lain dalam menjalankan rencana jahatnya. Orang-orang didalam perusahaan dan sahabat Arga Dinata tidak ada yang terlibat sama sekali. Setidaknya itu yang Alex ketahui untuk saat ini.
Setelah mendapatkan dukungan penuh dari semua pihak dan menjelaskan beberapa hal kepada pengacara pribadinya, Alex mengadakan pertemuan dadakan yang diadakan diruang kerja papanya dengan dihadiri beberapa orang terdekatnya. Dia menjelaskan situasi yang sedang terjadi saat ini. Dia mengatakan kepada semua orang bahwa dia selamat dari kecelakaan itu dan sekarang dia kembali untuk melanjutkan tugasnya sebagai pewaris tahta kerajaan bisnis papanya. Dia juga menjelaskan keterlibatan Bisma dalam semua kejadian yang menimpanya dan juga yang sekarang sedang dialami oleh papanya.
Semua orang sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Hampir saja mereka tidak bisa percaya kalau bukan Alex yang mengatakannya. Kehadiran Alex saja sudah membuat semua orang terkejut. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Bisma, orang kepercayaan Arga Dinata telah berkhianat. Rasanya sangat sulit untuk dipercaya. Terutama bagi yang mengetahui sejarah persahabatan Bisma dan Arga Dinata.
Sebuah mobil berhenti dihalaman rumah besar ketika masuk waktu makan malam. Sesosok pria muda turun dari dalam mobil diikuti seorang gadis cantik keluar dari pintu penumpang. Dengan langkah lebar mereka masuk kedalam rumah itu langsung menuju ruang keluarga yang berada di bagian tengah rumah itu. Ruangan yang sangat luas dengan dua set sofa besar ditengahnya. Dikedua sudutnya ada ujung tangga yang menghubungkan ke lantai dua rumah tersebut.
Alex sedang menuruni anak tangga dari sebelah kanan. Itu adalah arah dimana kamarnya terletak dibagian atasnya. Dibelakangnya Denis mengikuti langkahnya dengan pakaian yang sudah berganti. Wajah mereka nampak lebih segar setelah membersihkan diri di kamar masing-masing.
Mata Alex jatuh kepada dua orang yang baru saja memasuki ruang keluarga. Kedua manusia itu terpana melihat siapa yang sedang menapaki satu demi satu anak tangga menuju ke lantai dasar.
"Alex?!" Hampir bersamaan, dua orang yang sedang menatap Alex memekik tak percaya dengan penglihatan mereka. Kabar tentang kemunculan Alex memang telah mereka dapatkan sejak siang tadi. Tapi ketika sosok itu telah berada dihadapan mereka, itu justru membuat mereka shock luar biasa.
Gadis cantik yang tak lain adalah Viola, segera sadar dari keterkejutannya. Dia meluru menyambut Alex yang sudah menginjakkan kakinya dilantai dasar. Dengan penuh kerinduan gadis yang sejak lama mendamba cinta dari Alex itu memeluk tubuh Alex. Wajahnya terbenam didada bidang Alex.
"Alex?? Ini sungguh kamu? Ya Tuhan..Ini kamu.." Gadis itu menitikkan airmata. Wajahnya mendongak menatap Alex, menyentuh wajah Alex dengan kedua tangannya. Netranya menggeletar menahan keharuan yang menyeruak tanpa bisa dicegah. "Aku sangat merindukanmu, Alex.."
Kembali Viola mendekap tubuh Alex, seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
Alex terpaku sesaat menerima perlakuan dari gadis itu. Tangannya menggantung dikedua sisi tubuhnya. Ada satu rasa tidak nyaman ketika mendapat pelukan dari gadis itu. Dia memang tidak memiliki rasa khusus pada gadis itu. Bahkan sejak lama, dia selalu menghindari interaksi yang berlebihan dengan Viola. Dia tahu persis perasaan gadis itu terhadapnya. Tapi dia tidak bisa membalas perasaan gadis itu. Selain karena dia tidak mencintai Viola, dia juga tahu, kalau Reno menginginkan gadis itu. Alex tidak mau menyakiti perasaan adiknya.
"Kak Alex.." Reno sudah berada tepat dihadapannya. Matanya menyiratkan sesuatu yang tidak bisa ditafsirkan. Tangannya menyentuh bahu Alex. "Aku senang kamu masih hidup dan kembali ke rumah."
Viola merenggangkan pelukannya. Tapi tangannya masih melingkar dilengan kekar Alex. Dia menghapus airmata yang membasahi kedua pipinya.
Alex menatap adiknya dengan sedikit senyuman menyungging dibibirnya.
"Aku juga senang karena bisa kembali ke rumah.."
Reno merangkul bahu Alex sebelah kiri, sedang disebelah kanannya Viola menggelayut manja seolah tidak ingin melepaskan Alex.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kejadian yang menimpa papa. Harusnya aku yang menjaga papa, tapi.."
"Sudahlah. Ini bukan salah kamu. Aku juga rasanya tidak percaya dengan semua ini kalau saja tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri.." Alex menukas ucapan adiknya. Suaranya sama-sama terdengar sendu.
Mereka kemudian duduk disofa dengan Viola yang terus menempel. Alex mencoba melepaskan belitan tangan gadis itu. Tapi Viola benar-benar tidak ingin menjauh dari pria itu. Tak peduli tatapan Reno yang nampak sangat terluka melihat pemandangan dihadapannya.
Tanpa mereka sadari, ada satu orang lagi yang merasa jengah melihat kedekatan Alex dan Viola. Diam-diam Denis melengos melihat Viola yang tak ingin jauh dari Alex. Dia membelokkan langkahnya keluar dari ruangan itu. Sebuah taman dibelakang rumah menjadi tujuannya. Dia duduk disebuah gazebo yang ada ditengah taman. Sebuah kolam penuh dengan ikan koi berwarna-warni mengalihkan tatapan matanya. Dia duduk diam sambil terus menatap ikan-ikan itu.
Diruang keluarga, Reno nampak menundukkan kepalanya. Meminta maaf pada Alex atas nama mamanya yang telah melakukan kesalahan fatal dengan cara berkhianat bersama Bisma.
"Aku benar-benar tidak tahu dengan hubungan mereka. Apalagi sampai berniat jahat seperti itu. Aku tidak percaya mama bersikap seperti itu. Dia pasti sudah dipengaruhi oleh om Bisma.."
__ADS_1
"Kamu betul tidak tahu hubungan mereka?" Alex menatap lekat adiknya. Mencari kebenaran diwajah Reno yang nampak pucat dan gugup.
"Aku tidak tahu sedikitpun. Kalau saja aku tahu, aku pastikan akulah yang pertama menghajar pria brengsek itu. Apalagi dia sudah mencoba membunuhmu. Itu sangat keterlaluan..." Reno mengepalkan tangannya. Alex sudah menceritakan secara singkat semua kejadian yang menimpa dirinya sehingga berita kematiannya menyebar dan dipercaya oleh semua orang. Apa yang sudah dilakukan oleh Bisma untuk melenyapkannya. Semua itu tak luput dari decakan penuh ketidakpercayaan yang diperlihatkan oleh Reno.
"Sekarang apa yang akan kak Alex lakukan? Apa kakak akan melapor ke polisi?"
"Aku tidak akan melapor ke polisi. Bisma mengancamku dengan keselamatan papa sebagai taruhannya. Tapi aku akan pastikan penghianat itu mendapat balasan yang setimpal atas perbuatannya.."
"Apa kakak sudah tahu posisi mereka sekarang dimana?"
"Aku belum tahu. Tapi sebentar lagi, aku pasti akan mengetahuinya."
Kemudian Alex menyadari kalau tidak ada Denis didalam ruangan itu. Tadi mereka berjalan beriringan dari lantai atas. Tapi sekarang dia tidak ada disini. Alex mengedarkan pandangannya.
Seorang pembantu membawa minuman dan menyimpannya diatas meja dihadapan mereka.
"Mbak Arni, apa melihat Denis?" Tanya Alex pada wanita yang nampak masih muda itu.
"Saya lihat ada ditaman belakang, Mas." Wanita itu menjawab sopan. Berdiri sambil mendekap nampan yang dia pakai untuk membawa minuman tadi.
"Oh. Terima kasih mbak." Alex tersenyum kecil. Wanita itu mengangguk dan segera berlalu dari ruang keluarga setelah memberitahukan bahwa makan malam sudah siap.
"Kalian makanlah dulu. Aku permisi.." Alex bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?" Viola menatap Alex, tak rela dirinya ditinggalkan begitu saja oleh pria itu. Dia ikut berdiri.
"Maaf Viola. Aku ada urusan sebentar. Reno, kamu tidur dirumah kan? Aku butuh kamu untuk sama-sama menghadapi masalah ini. Kamu sebaiknya antar Viola pulang dulu setelah makan, lalu kembali kesini." Alex menatap adiknya.
"Aku mau nginap disini saja. Aku masih kangen sama kamu. Boleh ya?" Viola merengek manja. Matanya mengerjap menatap Alex, berharap pria itu mengijinkannya untuk tetap tinggal dirumah itu.
Alex menghela napas. Dia tahu bagaimana Viola yang keras kepala dan tidak menyukai penolakan. Gadis itu memang sudah biasa berada didalam rumah itu. Dia sering merayu mamanya Alex agar diijinkan menginap dirumah ini dengan alasan tidak ada teman dirumahnya. Kedua orang tuanya memang jarang berada dirumah. Dan dia adalah anak tunggal. Sehingga dia seringkali merasa kesepian tinggal dirumahnya sendiri.
"Terima kasih Viola. Untuk saat ini, aku tidak mau melibatkan orang luar. Keselamatan papaku sedang dipertaruhkan. Jadi tolong, jangan beritahu siapapun mengenai masalah ini."
"Papaku bukan orang luar, Lex. Beliau sahabat om Arga. Kamu tahu bagaimana hubungan mereka."
"Aku tahu. Tapi untuk saat ini, aku tidak mau terlalu banyak orang yang mengetahui tentang papa. Biarlah aku menyelesaikan dengan caraku. Makanlah dulu. Reno akan mengantarmu pulang."
Alex berlalu dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Viola.
Langkahnya menuju halaman belakang rumah. Disana ada taman yang ditumbuhi berbagai macam tanaman. Ada sebuah gazebo dibagian tengahnya. Disana dia dapat melihat Denis yang sedang duduk menatapi kolam yang penuh dengan ikan koi yang bergerombol kesana kemari.
"Denis." suara Alex mengalihkan tatapan Denis dari ikan-ikan didalam kolam yang berair jernih itu.
Alex duduk dikursi kayu yang ada diseberang Denis.
"Ada kabar dari bang Jack dan anak buahnya?"
"Belum. Tapi mereka terus menelusuri semua tempat yang biasa didatangi oleh pria itu. Semua informasi tentang pria itu sudah dipegang bang Jack. Lo tenang aja. Gue yakin, sebentar lagi mereka pasti akan dapat info."
"Anak buahku juga semua sudah bergerak."
"Semoga saja papa lo segera ditemukan dan dalam keadaan selamat."
"Terima kasih, Denis. Kamu selalu membantu aku dalam keadaan apapun. Aku terlalu banyak hutang budi sama kamu."
__ADS_1
"Gak ada hutang budi. Gue cuma pengen bantu lo aja."
Sesaat keduanya terdiam. Merasakan desir angin malam yang berhembus membawa wangi bunga sedap malam.
"Oiya..tadi itu..siapa mereka?" Suara Denis memecah keheningan diantara mereka.
"Tadi itu adikku lain ibu. Namanya Reno. Dan gadis itu, namanya Viola. Dia temannya Reno. Maksudku, Reno menyukai gadis itu."
Denis mengernyitkan keningnya. Matanya menyipit menatap Alex.
"Maksud lo, dia anak dari wanita yang sudah bawa kabur papa lo itu?"
"Ya, begitulah."
"Apa lo percaya sama anak itu? Maksud gue, mungkin gak kalau dia itu terlibat dalam skandal mama tiri lo itu?"
Alex menghela napas pelahan. Matanya menatap jauh kedepan, entah menatap apa.
"Aku tidak tahu. Aku rasa, tidak mungkin 'kan dia bekerja sama buat mencelakakan papanya sendiri. Aku tidak bisa menuduhnya begitu saja."
"Tapi gue rasa, ada baiknya lo waspada sama semua orang. Bahkan sama adik lo sendiri."
Alex tersenyum getir. Dia tahu kalau selama ini dia sangat bodoh sehingga percaya mentah-mentah kepada orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Namun untuk mencurigai Reno, hatinya menolak sama sekali. Dia tidak mungkin menuduh adiknya sekongkol dengan Tania dan Bisma untuk menghancurkan papanya dan dirinya.
Dia menggelengkan kepalanya sambil bergumam pelan.
"Dia gak mungkin melakukan itu. Sangat tidak mungkin."
Denis menarik sedikit sudut bibirnya. Hatinya berkata sebaliknya. Dia harus mencurigai Reno. Walaupun dia adik dari Alex, tapi bukan tidak mungkin anak itu mempunyai niat jahat terhadap kakaknya sendiri. Mengingat mereka berbeda ibu. Dan Reno pastinya lebih dekat dengan ibunya dan akan memihak kepada ibunya.
Diam-diam, Denis merencanakan sesuatu dalam benaknya. Dia tidak akan mengatakannya pada Alex sebelum semuanya terlihat jelas dan dia memiliki bukti yang nyata.
"Alex.."
Alex dan Denis menoleh serentak kearah sumber suara. Viola berjalan kearah mereka dengan senyuman dibibirnya.
"Kenapa kamu kesini?" Alex menatap gadis itu datar.
"Kamu belum makan malam kan? Ayo kita makan sama-sama. Reno udah nunggu di meja makan."
Gadis itu menatap Denis sesaat kemudian mengalihkan tatapannya kepada Alex seolah bertanya mengenai orang yang sedang bersama Alex itu.
Seakan mengerti tatapan gadis itu, Alex segera memperkenalkan Denis kepada Viola.
"Oiya Vio, ini adalah Denis, orang yang berkali-kali menolongku dari serangan om Bisma. Karena dialah, aku masih hidup hingga hari ini."
"Hai. Aku Viola." Viola mengulurkan tangannya untuk menyalami Denis. Mau tidak mau Denis menyambut tangan itu sambil menyebutkan namanya.
Viola tersenyum manis kepada Denis. Setelah tangannya terlepas dari tangan Denis, dia meraih tangan Alex dan menariknya untuk beranjak menuju rumah.
"Vio.."
"Ayolah Alex. Lama sekali kita tidak makan malam sama-sama. Aku kangen banget sama kamu.."
Viola menyeret tangan Alex dan pria itu tidak bisa menghindar lagi. Dia menoleh kearah Denis dan memberi isyarat agar mengikutinya masuk kedalam rumah. Denis melarikan tatapannya. Tak ingin melihat pemandangan yang ada didepan matanya. Dia masih terdiam ditempatnya semula. Hingga Alex menghilang dibalik pintu rumah besar itu.
__ADS_1
Dia tersadar ketika seorang pembantu datang tergopoh-gopoh dan memberitahukan kalau Alex dan semua orang sedang menunggunya untuk makan malam. Denis beranjak dari tempat duduknya. Mau tidak mau dia harus masuk kedalam rumah itu dan bergabung dengan semua orang untuk makan malam bersama.
*****