
"Siapa orang yang sudah memberikan ginjalnya buat nenek?"
"Mama gak tahu, sayang. Dokter tidak memberitahukan sama mama. Katanya orang itu gak mau kalau sampai ada yang mengetahuinya sampai operasinya selesai. Mungkin kita akan mengetahuinya setelah nanti operasinya selesai."
Mereka saling memandang. Tatapan yang sama penuh pertanyaaan dan rasa penasaran tentang siapa orang yang tiba-tiba datang dan memberikan ginjalnya untuk Aryanti. Seperti seorang hero yang datang disaat yang tidak terduga. Begitulah orang itu datang tanpa disangka-sangka. Sedangkan segala cara sudah mereka lakukan untuk mendapatkan donor.
"Bagaimana kalau kita sekarang ke ruang operasi? Kita menunggu nenek disana sambil berdoa semoga operasinya berjalan lancar." Rania mengutarakan pikirannya.
"Ayo."
Mereka kemudian beranjak keluar dari kamar tempat Denis menginap. Mereka berjalan menuju ruangan operasi yang berada di gedung yang berbeda.
Sampai didepan ruang operasi, Damian dan istrinya sudah berada disana. Duduk dengan wajah tegang dilorong yang sunyi. Dan yang membuat semua sedikit terkejut adalah kehadiran seorang anggota polisi yang ada disana.
"Damian, apa ada kabar tentang ibu?" Rania langsung duduk disamping kakaknya itu.
"Belum ada. Semua masih didalam." Damian melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Ini sudah hampir satu jam. Dokter bilang operasinya bisa sampai tiga jam atau lebih." Damian menambahkan.
"Oya? Semoga ibu kuat dan baik-baik saja."
"Ya. Kita berdoa saja untuk ibu." Ujar Damian.
"Kenapa ada polisi disini?" Bisik Rania sambil melirik kearah anggota polisi yang berdiri disebelah pintu ruang operasi.
"Aku tidak tahu. Mungkin pihak rumah sakit meminta polisi untuk menjaga keamanan disini." Damian menjawab dengan suara tak kalah pelan. Rania mengerutkan keningnya. Tidak mengerti namun akhirnya dia tidak mempedulikan keberadaan pria berseragam coklat itu.
Denis berdiri tidak jauh dari tempat mamanya duduk. Dia bersandar didinding dengan satu kaki menekuk dan menapak di dinding dibelakangnya. Kedua tangannya masuk kedalam saku celananya.
Disebelahnya ada Alex yang setia menemaninya walaupun tidak digubris sedikitpun keberadaannya oleh Denis.
"Apa kamu tahu siapa orang yang sudah mendonor untuk ibu?" Rania masih penasaran.
"Tidak ada informasi apa-apa. Tiba-tiba saja dokter bilang kalau ada orang yang sangat ingin mendonorkan ginjalnya buat ibu. Mereka bilang orang itu sudah menjalani serangkaian tes dan prosedur yang seharusnya. Jadi tidak ada alasan untuk menolaknya."
"Tapi, bagaimana bisa kita sebagai keluarganya sampai tidak tahu akan hal itu?"
"Dalam kasus seperti ini hal itu sangat mungkin terjadi. Seorang pendonor yang merahasiakan identitasnya, dalam dunia medis itu sudah biasa. Yang penting pendonor itu melakukannya dengan suka rela, tanpa paksaan dari pihak manapun. Lagian kita memang sudah sejak lama mengajukan permohonan pendonor untuk ibu."
Rania mengangguk beberapa kali.
"Semoga saja ini adalah jalan kesembuhan untuk ibu." Gumam Rania kemudian.
Damian mengaminkan. Keduanya kemudian terdiam, walau dalam pikiran mereka sama-sama masih berkecamuk berbagai pertanyaan dan kepenasaranan akan pendonor misterius yang tiba-tiba datang disaat terakhir.
Pada satu sisi hati Rania merasa lega karena Denis tidak jadi mendonorkan ginjalnya pada Aryanti. Dia merasa sangat bersyukur ada orang yang dengan suka rela mau menggantikan posisi Denis sebagai pendonor. Setelah semuanya selesai, Rania pastikan untuk menemui orang itu dan mengucapkan terima kasihnya.
Namun disisi lain, dia merasa heran kenapa ada orang yang dengan baik hati tanpa alasan apapun mau mendonorkan bagian tubuhnya untuk orang yang tidak dikenal.
Atau mungkinkah dia mengenal orang itu?
Suara telepon memecah kesunyian di lorong rumah sakit yang sunyi.
Alex segera mengambil teleponnya diikuti lirikan dari semua orang yang ada disana.
"Hallo. Pak Yunus, ada apa?"
__ADS_1
"......."
"Benarkah? Apa pak Yunus yakin?" Alex berjalan menjauh dari tempatnya semula.
"Pantaslah disini ada polisi yang menjaga." Bisiknya setelah cukup jauh dari Denis dan keluarganya.
"Ya. Operasinya baru sekitar dua jam. Semua sedang menunggu disini."
Alex menutup panggilan teleponnya dan kembali ke dekat Denis.
"Sepertinya ini masih lama. Denis belum makan sejak tadi malam. Saya mau mengajak dia ke kantin sebentar." Ucap Alex kepada Rania.
"O, iya. Kamu benar banget. Tante sampai lupa kalau Denis puasa karena mau operasi. Sekarang kan operasinya tidak jadi." Rania seakan baru tersadar akan hal itu. "Pergilah makan dulu dengan Alex." Rania menyentuh lengan Denis yang ada disampingnya.
"Aku gak lapar."
"Sayang, sejak tadi malam kamu gak makan. Mama gak mau kamu sakit. Pergilah dengan Alex."
Daripada mamanya akan terus memaksanya untuk makan, akhirnya Denis beranjak dari tempat itu diikuti oleh Alex.
Menapaki lorong rumah sakit tanpa ada yang bicara diantara mereka. Hingga akhirnya mereka berada diluar gedung.
"Ada kafe disebelah sana. Kita makan disana aja." Alex menunjuk ke seberang rumah sakit. Tak ada sahutan dari Denis, namun langkahnya menuju tempat yang ditunjuk oleh Alex.
Keduanya memasuki kafe itu dan duduk berhadapan. Setelah memilih menu Alex pergi untuk memesan makanan dan minuman. Tidak lama kemudian dia sudah kembali.
Menghenyakkan tubuhnya dikursi dihadapan Denis, matanya lembut menatap Denis dalam-dalam.
Denis melarikan pandangannya ke tempat lain. Jengah dengan tatapan Alex. Namun dia harus memperlihatkan wajah datarnya dihadapan pria itu.
"Kamu khawatir sama nenek kamu?" Alex membuka percakapan.
"Tapi aku lega karena bukan kamu yang sekarang berada di dalam ruang operasi. Aku gak tahu bagaimana perasaanku saat harus menunggu kamu disana. Syukurlah ada orang yang mau menggantikan posisi kamu saat ini."
"Seharusnya orang itu gak perlu melakukan ini."
"Dia pasti punya alasan buat ngelakuin ini."
"Gue kehilangan kesempatan untuk berbuat sesuatu buat nenek."
"Tidak seharusnya kamu mengorbankan diri kamu buat nenek. Masih ada cara lain buat nunjukkin kasih sayang kamu sama keluarga kamu. Gak harus dengan cara seperti ini."
"Lo gak tahu gimana sikap nenek sama gue."
"Aku tahu. Aku sudah melihatnya. Dan aku merasa heran, kenapa kamu tidak bisa menolak keinginan nenek kamu. Itu bukan sikap kamu yang sebenarnya."
"Gue capek buat terus menentang keluarga gue. Lagipula, gue bukan siapa-siapa buat mereka. Gue ini, kayak orang yang gak ada arti sama sekali hidup didunia ini."
"Jangan pernah bicara seperti itu." Alex meraih tangan Denis. Menggenggamnya dengan lembut diiringi tatapannya yang makin lekat diwajah gadis itu. "Kamu sangat berarti buat mama kamu. Kamu juga sangat berarti buat aku. Aku mencintaimu. Apapun keadaan kamu, siapapun kamu. Hanya kamu satu-satunya gadis yang membuat aku merasakan hal ini."
"Gue, anak dari orang yang sudah merusak keluarga lo. Gue anak dari orang yang sudah mencoba membunuh lo. Kalau lo lupa." Pelan dan bergetar suara Denis.
Alex tersentak. Dia baru menyadari fakta itu. Apakah itu yang membuat Denis menolaknya?
"Sebaiknya lo menjauhin gue. Gue gak pantes buat lo." Denis menarik tangannya dari genggaman tangan Alex. Alex tidak menahannya karena pelayan kafe datang membawa makanan yang mereka pesan. Dia menunggu sampai pelayan kafe itu berlalu dari hadapan mereka.
"Aku tak pernah mempermasalahkan itu. Lagipula, aku mencintai kamu apa adanya. Jauh sebelum aku tahu kalau kamu adalah anak dari om Bisma." Ujar Alex setelah agak lama.
__ADS_1
"Itu gak akan bagus buat lo."
Alex menghela nafas.
"Makanlah dulu."
Keduanya tidak bicara lagi. Denis benar-benar sudah lapar. Sejak tadi malam dia tidak makan ditambah lagi pagi tadi memang dia tidak diijinkan untuk mengkonsumsi apapun sampai proses operasi dilakukan.
"Pak Yunus bilang kalau kemarin dia melihatmu di depan kantor polisi." Saat Denis selesai meneguk minumannya.
"Hanya lewat saja."
Alex tersenyum tipis.
"Kamu tidak perlu berbohong kalau kamu memang ingin menemui papamu."
"Gue tidak ingin menemuinya. Gue..hanya merasa aneh aja, kenapa pria itu yang jadi bokap gue."
"Kita gak bisa memilih siapa yang akan jadi orang tua kita. Kita juga gak bisa menghindari takdir yang telah digariskan oleh Tuhan untuk kita. Seperti pertemuan kita yang pastinya sudah diatur sedemikian rupa oleh Yang Kuasa. Semuanya itu bukan karena kebetulan semata. Pastinya ada maksud dan kebaikan di baliknya."
"Lo ngomong kayak ustadz aja." Denis menyeringai tipis. Alex terkekeh pelan.
"Tapi yang aku bilang, betul 'kan?"
"Gue gak tahu. Kita itu beda banget." Denis memutar gelas minumannya diatas meja.
"Dan, yang kamu bilang kalau kamu gak suka cowok, aku gak percaya sama sekali. Aku yakin kalau kamu suka sama aku. Hmm?" Alex menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman menggoda Denis.
"Percaya diri banget lo." Denis memalingkan wajahnya menyembunyikan segaris senyuman yang nyaris tidak kelihatan. Namun Alex melihatnya, dan itu membuat senyuman Alex semakin lebar.
"Mau ya?"
"Apa?"
"Nikah sama aku."
"Gila lo."
Pipi Denis memerah. Dia segera bangkit menimbulkan bunyi kursi yang terdorong ke belakang. Dengan tergesa dia meninggalkan Alex yang bergegas menyusulnya.
Senyuman Alex tidak bisa disembunyikan sambil mencoba mensejajari langkah Denis. Dia yakin Denis sangat gugup saat ini. Ingin sekali Alex melihat wajahnya yang memerah karen malu. Pasti sangat menggemaskan.
"Hei. Jalannya pelan-pelan dong."
Alex meraih tangan Denis saat mereka menyeberang jalan. Tak urung hal itu menarik perhatian beberapa pengguna jalan yang sedang melintas. Penampilan Denis yang sangat maskulin memang membuat semua orang menyangka kalau dia itu laki-laki. Orang-orang yang melihat pasti akan menyangka kalau kedua orang itu punya perilaku menyimpang saat melihat kedua tangan mereka bertautan.
Saat menyadari tatapan beberapa orang, Denis segera menyentakkan tangannya dari genggaman tangan Alex.
"Lepasin tangan gue."
"Kenapa? Kamu malu?" Alex memiringkan kepalanya. "Aku enggak tuh."
"Lo emang gak punya malu."
"Yang penting 'kan aku masih punya...Hei! Denis!!"
Alex terbahak tanpa suara melihat Denis yang setengah berlari melintasi jalanan yang tiada hentinya dialiri kendaraan.
__ADS_1
*****