
"Bagaimana keadaan ibumu?" Andres menatap Rania sekilas diantara kesibukannya memeriksa berkas-berkas perusahaan yang menumpuk diatas meja kerjanya. Dia kemudian merapikannya dalam satu tumpukan dan menatap intens Rania, menunggu jawaban yang keluar dari mulut istrinya dengan penuh perhatian.
Rania baru saja duduk dihadapan Andres setelah menempuh perjalanan beberapa menit dari kediaman ibunya.
"Sepertinya dia sudah benar-benar sehat."
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Andres merebahkan punggungnya disandaran kursi kebesarannya.
"Bicaranya sudah tegas dan angkuh. Bukankah itu cukup menunjukkan kalau ibu sudah sangat sehat?"
Andres tertawa pelan mendengar penuturan Rania.
"Kamu sedang meledek ibumu sendiri, hmm?"
"Ini kenyataan, sayang. Mana mungkin aku berani meledek ibuku sendiri." Andres terkekeh mendengar jawaban sang istri.
"Sebentar..." Andres mengambil handphone yang bergetar diatas meja. Melihat siapa yang memanggil kemudian segera mendekatkan ke telinga.
Rania hanya memperhatikan suaminya bicara serius ditelepon. Sesekali mata Andres juga menatap Rania. Tidak lama kemudian dia menyudahi panggilannya.
"Maaf aku harus pergi sekarang. Aku ada meeting mungkin sampai siang nanti. Gak apa kan kamu aku tinggal?" Andres bangkit dari duduknya. Menghampiri Rania dan menatap istrinya penuh sesal karena harus pergi saat istrinya baru saja datang untuk menemuinya.
"Pergilah. Aku ga apa-apa. Setelah ini aku juga mau keluar menemui temanku. Mungkin aku juga akan makan siang dengannya." Rania bangun dari duduknya. Merapikan dasi dan jas yang digunakan suaminya. Memberikan satu kecupan dibibir Andres dan senyuman lembut yang menyejukan. Tak menyiakan kesempatan itu Andres menangkup pipi istrinya dengan dua tangannya. Membalas kecupan dari sang istri dengan ciuman yang lebih lama.
Rania mendorong dada suaminya dan tertawa pelan.
"Kamu harus segera pergi kan?" Andres merengut menatap istrinya dengan tatapan kecewa. Dia kembali mengecup singkat bibir istrinya itu sebelum melepaskannya dengan terpaksa. Mengusap sisa ciumannya di bibir sang istri dengan ibu jarinya.
"Baiklah. Aku harus pergi. Sampai ketemu lagi dirumah." Rania mengangguk dan tersenyum. Geli melihat suaminya yang kelihatan enggan untuk berpisah dengannya.
Andres yang sudah melangkah menuju pintu kembali membalikan tubuhnya.
"Kasih tahu aku kalau kamu sudah selesai dengan temanmu. Aku akan jemput kamu nanti."
"Oke." Rania tidak ingin membantah ucapan suaminya. Walaupun sebenarnya hatinya ingin menolak karena ia tahu suaminya terlalu sibuk untuk melakukan itu. Biarlah, dia sangat suka perlakuan manis suaminya.
Setelah pintu tertutup, Rania menuju kursi suaminya. Duduk disana dan mengeluarkan handphonenya. Menekan satu nomor di daftar kontak dan menunggu panggilan tersambung.
__ADS_1
"Apa sudah ada informasi?" Tanyanya begitu panggilannya sudah tersambung.
"Aku akan kesana sekarang." Rania bangkit dari tempat dia duduk. Meraih tasnya yang berada di atas meja dan berlalu dari ruangan itu dengan langkah ringan.
*****
"Apa ini cafe tempat gadis itu bekerja?" Rania mengedarkan pandangannya disekitar cafe yang baru saja didatanginya. Sebuah cafe yang nyaman dan sejuk. Begitu tenang karena hanya ada beberapa pengunjung saja. Mungkin karena belum jam istirahat kantor jadi belum terlalu banyak pengunjung yang datang.
"Menurut informasi yang aku dapat memang ini cafenya." Pria yang sudah berada dimeja itu sebelum Rania datang mengikuti tatapan Rania yang memindai seluruh ruangan cafe. Seorang pelayan membawa dua gelas minuman diatas nampan. Sepertinya pria itu sudah memesankan minuman terlebih dahulu untuk Rania dan dia tahu minuman kesukaan Rania.
"Terima kasih." Rania tersenyum sekilas kepada pelayan wanita itu.
"Tunggu sebentar." Ucapannya menyurutkan langkah pelayan itu dan kembali menghadap kearah Rania.
"Ya bu? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.
"Apa kamu kenal dengan...?" Kening Rania mengerut.
"Mariana. Namanya Mariana." Pria itu segera menyebutkan nama yang sedang diingat-ingat oleh Rania.
"Ya. Mariana. Apa ada pekerja disini yang bernama Mariana?"
"Apa?" Rania menatap pria yang duduk dihadapannya dengan mata sedikit terbuka seolah menyalahkan pria itu karena informasi yang dimilikinya tidak akurat. Sehingga dia merasa sia-sia datang ketempat itu saat ini. Orang yang mereka maksud ternyata tidak ada di tempat.
Pelayan wanita itu berlalu dari hadapan Rania setelah dirasa dirinya tidak diperlukan lagi.
"Kita bisa kerumahnya kalau kamu mau." Tawar pria itu untuk meredam kekecewaan Rania.
Rania terdiam sejenak. Anak buahnya pernah mendatangi rumah Mariana dan menanyakan keberadaan putrinya. Tapi Mariana tidak memberikan informasi apa-apa saat itu. Rania tiba-tiba teringat sesuatu. Tatapannya berbinar menatap pria yang setia duduk dihadapannya itu.
"Aku melupakan satu hal."
"Apa itu?"
"Denis. Orang-orang selalu memanggilnya Denis. Bukan Icha." Rania menyeruput minumannya dengan cepat. Berdiri dan mengajak pria itu untuk segera meninggalkan tempat itu. Dengan patuh pria itu mengikuti langkah lebar Rania, meninggalkan minumannya yang belum tersentuh. Tentu saja tak lupa dia meletakkan selembar uang berwarna biru diatas meja.
*****
__ADS_1
Mariana membuka pintu rumahnya begitu mendengar ketukan disana. Matanya menyipit menatap dua orang yang tidak dikenalnya berdiri didepan pintu rumahnya. Lebih tepatnya rumah kostnya.
"Boleh kami masuk?" Seorang wanita berusia awal empat puluhan yang nampak sangat cantik dan anggun.
"Anda berdua ini siapa?" Tak menjawab pertanyaan wanita cantik itu, Mariana malah balik bertanya. Rasa kaget dan penasaran membuat dia terpaku di ambang pintu dan tidak segera mempersilakan kedua tamunya untuk masuk. Melihat penampilan wanita yang berada dihadapannya ini dia menduga pasti wanita ini bukan orang sembarangan. Apalagi pria yang bersamanya juga nampak sangat keren.
"Biarkan saya masuk terlebih dahulu. Saya akan memberi tahu kamu siapa saya." Rania menatap lekat gadis yang masih berdiri di tengah pintu itu. Mariana akhirnya menggeser tubuhnya, membiarkan dia orang asing itu masuk.
"Saya Rania." Wanita cantik itu mengulurkan tangannya yang disambut tangan mungil Mariana walau nampak ragu. "Mamanya Denis."
"Denis?" Mata Mariana terbelalak menatap tak percaya wanita cantik dihadapannya.
"Apa kamu kenal Denis?" Rania menatap Mariana penuh harap. Dia kemudian merogoh tasnya. Mengambil ponsel dan membuka aplikasi penyimpan foto disana. Mencari-cari sebuah foto yang hanya ada satu-satunya diantara foto-foto dirinya.
"Mungkin kamu ingat orang ini pernah bersama denganmu. Kamu adik ipar Anwar putranya pak Mijan kan?"
Mariana semakin terbeliak mendengar penuturan wanita itu.
"Anda kenal pak Mijan dan mas Anwar?"
Rania menghela napas. Matanya melirik pria yang sedang memperhatikannya dan Mariana. Pria itu tersenyum tipis. Mengerti kalau Rania mulai kehilangan kesabaran karena belum mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
"Nona Mariana, nyonya ini mantan majikan Pak Mijan. Tentu saja beliau kenal dengan pak Mijan dan keluarganya." Pria itu segera mengambil alih. Tatapannya lekat menatap dalam manik mata Mariana, seolah sedang mengintimidasi gadis itu. "Tolong jawab saja pertanyaan beliau. Apa kamu tahu dimana Denis berada sekarang?"
"Saya...saya tidak tahu. Saya memang pernah bersama-sama dia datang kekota ini. Saat itu saya juga mengantar mencari rumah kontrakan, tapi kemudian ketika saya kesana lagi untuk menemuinya, dia sudah tidak berada disana. Beberapa kali saya juga coba melihat kesana, tapi saya tidak pernah lagi bertemu dengannya."
"Apa kamu yakin?"
"Ya. Untuk apa saya berbohong. Pak Mijan juga meminta saya agar mencari Denis, tapi mau gimana lagi, saya tidak tahu dia pergi kemana."
Rania menghela napas. Sorot matanya meredup. Masih kecewa karena belum mendapatkan informasi tentang keberadaan putrinya.
"Mariana, tolong simpan nomorku agar kalau kamu punya informasi tentang Denis kamu bisa segera menghubungi saya."
"Tentu saja. Saya akan segera menghubungi anda kalau saya bertemu dengan Denis." Pria yang bersama Rania segera meminta handphone Mariana dan mengetikan nomor milik Rania disana. Kemudian dia juga menyimpan nomor milik Mariana diponsel miliknya.
"Tolong Mariana. Saya sangat berharap kamu bisa membantu saya." Rania segera pamit setelah mengatakan itu. Mariana mengantar dua orang tamunya sampai didepan pintu. Menatap mobil mewah yang membawa keduanya sampai menghilang dari pandangan matanya.
__ADS_1
"Mas Denis, kamu dimana sebenarnya?" Gumamnya sambil menutup kembali pintu rumahnya.
*****