
Alex mengerjapkan matanya yang silau terkena cahaya lampu. Dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Baru pukul tiga dinihari. Gelegar petir yang menggema membuat dia terbangun dari tidurnya. Rupanya diluar hujan turun dengan lebatnya.
Alex membuka matanya lebih lebar lagi. Denis tidak ada ditempatnya. Alex bangkit dari kursi yang didudukinya. Mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
Dengan panik dia menuju pintu kamar mandi. Mengetuknya sambil mendekatkan telinganya disana. Dipanggilnya nama Denis berulang-ulang. Tak urung mendapat jawaban, dia membuka pintu kamar mandi dengan sekali hentakan. Ternyata kosong.
Alex meluru keluar. Dikursi tunggu nampak Faisal terbaring sambil memeluk tubuhnya.
"Faisal! Bangun!" Berulangkali dia mengguncang tubuh Faisal.
"Ada apa, Pak?" Faisal menggosok matanya dengan keadaan setengah sadar. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.
"Denis tidak ada dikamar. Apa kamu melihatnya?"
"Enggak, Pak. Saya kan tidur."
"Ahh!"
Alex bergegas menuju meja jaga perawat. Tidak ada seorangpun disana. Mungkin para perawat sedang tidur didalam ruangan. Alex berlari menyusuri lorong rumah sakit hingga dia berada dihalaman depan.
Hujan yang mencurah membuat suasana semakin dramatis. Rasa dingin tak lagi dirasakan oleh Alex. Fokusnya sekarang adalah menemukan Denis. Feelingnya mengatakan kalau Denis pergi dari rumah sakit secara diam-diam dan dia masih berada disekitar tempat itu.
Alex berlari menembus rapatnya air hujan menyusuri jalanan yang sepi dan gelap. Bayangan seseorang didepan sana tersorot lampu mercuri membuat langkahnya semakin cepat untuk menghampirinya.
"Denis!!" Teriakannya terbawa riuhnya suara air hujan yang turun tiada henti. Kilatan petir menerangi langit malam yang gelap. Sosok didepannya berhenti dan berbalik kearahnya.
Langkah Alex terhenti hanya beberapa langkah dihadapan gadis itu. Ya. Dia seorang gadis. Saat ini Alex dapat melihat bentuk tubuhnya yang terbalut pakaian yang kuyup karena air hujan. Baru kali ini Alex menyadari kalau sosok tegap yang disangkanya pria itu ternyata memiliki bentuk tubuh selayaknya perempuan pada umumnya. Walaupun tidak terlalu ketara.
Alex melangkah pelan dengan mata menancap dimanik yang kelam itu. Jarak mereka semakin dekat karena Denis terpaku ditempatnya berdiri. Air hujan membasahi wajah keduanya, namun tak mengaburkan pandangan mereka.
"Jadi, seperti ini Denis yang kukenal selama ini? Dia tak lebih dari seorang pengecut. Yang selalu lari dari masalah." Alex berteriak untuk mengalahkan gemuruhnya air hujan. Matanya tajam tak lepas sedetikpun dari mata Denis. "Dulu, aku salut padamu. Aku pikir kamu adalah orang yang sangat kuat dan tegar. Menghadapi kehidupan dengan penuh semangat dan pantang menyerah. Tapi ternyata semua itu palsu. Aku baru saja menemukan Denis yang asli. Denis yang hanya bisa melarikan diri dan tak pernah mau menghadapi kehidupan yang sesungguhnya."
Hanya kurang dari selangkah jarak yang memisahkan mereka. Denis terdiam mendengarkan teriakan dari mulut Alex. Matanya menatap nanar mata Alex yang kelam. Bibirnya menggeletar. Entah menahan rasa dingin atau karena sedang menahan perasaannya sendiri.
"Sekarang kamu mau lari kemana lagi? Denisha Nathania?"
Denis terhenyak. Selangkah kakinya mundur karena terkejut mendengar pria itu menyebut namanya. Sudah begitu lama tidak ada yang menyebut nama itu.
"Kenapa? Kamu terkejut? Bukankah itu nama aslimu, hmm?" Alex kembali melangkah dan Denis seolah terhipnotis oleh sorot mata pria itu. Dia terpaku ditempatnya berdiri.
Mata Alex teralihkan kebibir Denis yang menggeletar dan sedikit membiru. Sepertinya gadis itu sangat kedinginan. Tentu saja. Ini sudah dinihari dan mereka berada dibawah guyuran air hujan yang deras.
Alex menarik tengkuk gadis itu. Meraup bibir itu dengan bibirnya. Menyalurkan kehangatan dan emosi yang begitu nmenggelora didalam jiwanya. Satu tangannya yang lain melingkari pinggang Denis. Meremas bagian belakang baju gadis itu.
Tubuh Denis membeku. Matanya terbuka lebar menatap wajah Alex yang tidak berjarak lagi dengannya. Tangannya menggantung dikedua sisi tubuhnya.
Alex melepaskan pagutannya ketika dirasa nafasnya hampir terputus. Menatap sesaat mata Denis dan kemudian melakukan serangan yang kedua.
Denis mendorong dada pria itu. Namun itu tidak berpengaruh sedikitpun dan tidak menggoyahkan tubuh Alex. Sampai kemudian Alex melepaskan bibirnya, tapi tidak menjauhkannya sedikitpun dari bibir itu. Tangannya masih terasa kuat mencengkeram tengkuk Denis. Nafasnya yang hangat terasa memburu menerpa wajah Denis.
"Kamu sudah membuatku gila dan sekarang ingin lari dariku? Aku tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi." Geramnya didepan bibir Denis.
__ADS_1
Denis kembali mendorong tubuh Alex dengan tangan kanannya.
"Apa yang lo lakukan sialan." Tangan Denis melayang menampar pipi Alex. Namun tidak cukup bertenaga karena jarak mereka yang terlalu dekat dan juga mungkin karena tubuh Denis yang lunglai akibat dari serangan dadakan dari bibir Alex. Suaranya bergetar segemetar bibirnya yang basah dialiri air hujan.
Tangan Denis kemudian meraba bahunya yang terada berdenyut dan kembali mengeluarkan darah.
Alex melihat itu.
"Ayo kita kembali ke kamar kamu." Ditariknya tangan Denis tak menghiraukan gadis itu yang masih merasa kaget karena ciuman Alex. Seakan tak memiliki tenaga untuk menolak, Denis mengikuti langkah Alex.
Faisal yang berdiri diujung sana segera melakukan panggilan telepon kepada seseorang.
"Bawakan pakaian untuk Pak Alex dan Denis."
*****
Denis terduduk ditepi pembaringan rumah sakit sambil memperhatikan tangan perawat yang sedang memasang perban pada lukanya. Tidak ada raut kesakitan sedikitpun. Wajahnya begitu datar tanpa ekspresi.
Setelah drama dibawah guyuran air hujan, mereka berganti pakaian yang dibawakan oleh anak buah Alex. Cukup lama menunggu namun tak urung akhirnya mereka bisa mengeringkan tubuh mereka dan menggantinya dengan pakaian yang nyaman.
Denis masih terlihat canggung namun dia berusaha sekuat tenaga untuk terlihat biasa saja dihadapan Alex.
"Sudah selesai." Perawat yang mengganti perban Denis tersenyum manis dan merapikan peralatan yang baru saja dia gunakan. Setelah itu dia pamit dan keluar dari ruangan tempat Denis dirawat.
Alex yang sedari tadi berdiri disamping pembaringan memerhatikannya tanpa melewatkan satu detikpun. Dia melangkah mendekati Denis. Tatapannya yang tajam dan dalam terasa begitu mengintimidasi. Membuat Denis semakin merasa salah tingkah.
"Kenapa lo ngelihatin gue terus?"
Alex menghela nafas. Dipejamkannya matanya sesaat.
Alex menyentuh rambut Denis bagian depan. Denis menggerakkan kepalanya menghindari tangan Alex.
"Kamu tahu? Aku sangat senang mengetahui ternyata kamu adalah seorang gadis. Selama ini, aku sangat putus asa dan mengira aku sudah gila. Kamu tidak tahu, betapa aku tertekan dengan perasaanku sendiri. Itu yang membuat aku telah kehilangan kendali diriku."
Tubuh mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Posisi Denis yang duduk ditepi pembaringan dan Alex yang berada tepat didepannya, membuat nafas Denis sedikit sesak. Apalagi saat Alex menempatkan dirinya berada diantara kedua paha Denis yang terbuka.
"Gue gak ngerti sama yang lo katakan."
"Tapi aku merasa kalau kamu bisa merasa apa yang aku rasakan."
"Gue gak ngerti. Sudahlah. Gue ngantuk. Minggir lo." Denis mendorong tubuh Alex yang semakin mendekat. Pipinya sudah memerah akibat hawa panas yang ditimbulkan dari kedekatan keduanya.
Alex mundur dan membiarkan Denis membaringkan tubuhnya.
"Jangan pernah pergi lagi dariku, Denisha."
"Gila lo."
******
Pagi sekali Rania sudah tiba dirumah sakit. Dengan ditemani Andres dia memasuki ruangan tempat Denis dirawat.
__ADS_1
Senyuman lebar menyapa Denis yang sudah duduk dikursi sambil memakai jaketnya dengan bantuan Alex.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi." Hanya Alex yang menyahut. Denis hanya melirik sekilas orang yang baru saja memasuki kamarnya.
"Kamu sudah baik, sayang? Kenapa sudah berpakaian rapi begini? Mau kemana?" Rania menoleh kearah Alex. Menatapnya meminta jawaban.
"Tante, Denis merasa sudah tidak perlu dirawat disini. Dia ingin pulang."
"Tapi lukanya?" Rania terkejut mendengar jawaban Alex. Menatap Denis penuh rasa khawatir. Namun yang ditatapnya sedikitpun tak menghiraukannya. Dia melarikan pandangannya ketempat lain.
"Dokter bilang lukanya bisa dirawat dirumah."
Rania menoleh kepada suaminya. Andres menganggukkan kepalanya dan memberi isyarat kepada Rania agar menuruti keinginan Denis. Tentu saja, apalagi yang bisa dia lakukan. Setelah sekian lama tidak bertemu, ini bukan waktunya untuk melakukan perdebatan dengan Denis. Kalau semuanya ingin baik-baik saja, salah satu dari mereka harus mengalah.
"Baiklah, sayang. Kalau dokter sudah mengijinkan, kita pulang. Lagian kita punya dokter keluarga yang bisa merawat kamu di rumah. Mama juga sudah menyiapkan kamar kamu. Semuanya sesuai dengan kesukaan kamu."
"Maaf. Tapi saya tidak akan ikut dengan anda." Ujar Denis dengan suara datar. Bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka.
"Sorry. Gue telat."
Semua mata tertuju kearah pintu. Jack terkejut mendapati ruangan dipenuhi orang-orang yang berpenampilan sempurna. Sangat kontras dengan pakaian yang dia kenakan. Apalagi semua sedang menatapnya. Jack jadi ikut memandangi dirinya sendiri.
"Maaf. Tapi Denis menelepon saya dan meminta saya untuk menjemputnya." Jack meringis mendapati tatapan aneh dari semua orang.
Sekarang semua beralih memandang Denis.
Denis hanya mengangkat bahu dan sedikit meringis ketika merasa lukanya sedikit berdenyut.
Dia berjalan menghampiri Jack. Kemudian sedikit berbalik dan berkata dengan datar.
"Terima kasih untuk semua. Saya permisi."
Alex mengejar langkah Denis yang sudah melewati ambang pintu.
"Mau kemana kamu?" Menarik tangan kiri Denis dan seketika terdengar erangan pelan dari mulut Denis.
"Maaf." Alex melepaskan pegangan tangannya.
"Sayang, mama tahu kamu masih marah sama mama. Tapi tak bisakah kita bicara walau sebentar?"
Rania menghampiri putrinya. Matanya sudah dibayangi kaca-kaca bening yang siap untuk pecah saat itu juga.
Jack menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Justru bibirnya yang gatal ingin menjawab pertanyaan yang jelas bukan ditujukan kepada dirinya.
"Mm..Nyonya, maaf. Mungkin saat ini biarkan Denis ikut saya terlebih dahulu. Nanti kalau dia merasa siap, dia pasti akan bicara dengan anda."
"Benar begitu, sayang?"
Denis sedikit memutar bola matanya. Merasa aneh dengan panggilan sayang yang berulang keluar dari mulut Rania. Dulu tak pernah sekalipun kata itu terucap. Sekarang entah apa maksud dari wanita itu terus menerus mengatakan itu kepadanya.
__ADS_1
"Ya. Mungkin." Denis memberi isyarat kepada Jack untuk segera meninggalkan tempat itu. Tanpa menghiraukan tatapan semua orang, mereka berjalan menjauh dan menghilang dari pandangan orang-orang dibelakangnya.
******